Matanya yang Semerah darah dan tanduknya yang lebih runcing daripada tombak bambu, bukanlah penyebab dari tubuhku yang gemetaran bak anak kecil yang tersesat diswalayan begini..
Tetapi, Darah ditangannya...
Darah yang menetes melewati jari jemarinya, dan segumpal daging, ah tidak, itu jantung yang ia genggam dengan penuh nafsu ingin memakannya.
aku tidak bisa berbicara ataupun bergerak. ketakutan sudah sedari tadi memakan keberanianku yang bekerja sebagai seorang polisi wanita di kota ini. Sesaat setelah cahaya kilat yang sebelumnya muncul, runtutuan guntur yang dahsyat memperlihatkan wajahnya dibawah sinar rembulan yang diselimuti awan mendung. saat itulah aku tahu..
Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri.
Ini semua bukanlah karena ia adalah satu-satunya lelaki yang menyatakan cintanya dan memberikan cincin pertunangan ini kepadaku, ini semua karena ia melihatku dengan tatapannya yang putus asa sembari memegang jantung itu dengan air matanya yang terus mengalir seakan mengatakan bahwa...
Aku tidak seharusnya melihat sisi mengerikannya yang seperti ini.
Jika ia berpikir seperti itu, maka aku akan menjadi orang pertama yang menghentikannya atau mati ditangannya.
Karena aku tahu, saat semua orang berpaling dan mengabaikan kehadiranku, ia adalah satu-satunya orang yang datang dan memberikan segelas chocolate signature saat aku adalah satu-satunya orang yang gagal dalam penerimaan polisi waktu itu.
***
[31 Oktober 2012]
Aku tidak pernah melupakan siang itu.
pengumuman mengenai kelulusanku, aku percaya dan yakin dengan kelulusanku pada percobaan ke 5 ini. Namun, saat semuanya disebutkan dan aku satu-satunya orang yang duduk dibangku plastik ini dengan penuh pengharapan kalau-kalau mereka melupakan namaku.. Tapi, sayangnya itu semua hanyalah harapan belaka.
Aku yang terus menunggu dan diperhatikan oleh banyak mata dengan tatapan tidak menyenangkan, bahkan bisikan mereka yang bisa kudengar tidak membuat air mataku keluar.. tidak.. yah, tidak..
Sampai akhirnya salah satu polisi yang membantu membersihkan ruangan itu menanyakan apa aku tidak dijemput oleh seseorang.
Saat itu juga tangisanku pecah, aku berusaha untuk tidak menimbulkan suara didalam ruangan ini. Tapi aku tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi tertahan dibalik kelopak mataku.
Saat aku keluar dari ruangan itu, aku sangat bersyukur bahwa siang itu hujan. Yah, setidaknya hujan ini adalah satu-satunya hal baik yang terjadi selama 20 tahun hidupku..
Hidup sendiri membuatku bingung dimanakah tempat yang layak kau sebut pundak tempat bersandar.
Aku berjalan dibawah hujan dengan punggung yang berat, air tawar yang menerpa bak ribuan peluru membersihkan air mataku.
Hari itu aku berpikir,
Bahwa ini adalah akhir dari cerita yang menjadi alasanku tetap bertahan sampai sekarang. Sejak kecil aku berpikir bahwa dunia dibalik pagar panti asuhan adalah dunia yang membuatku dapat menulis 'The book of Life' milikku sendiri.
Namun aku terlalu naif, dunia ini... Bukanlah dunia dimana kau dapat berfantasi mengenai impian dan cita-cita, dunia ini adalah tempat dimana kau tahu keputusasaan yang sebenarnya.
Saat kakiku melangkah dengan berat menginjak setiap genangan air didepanku, Seseorang menepuk pundakku dari belakang.
"Syukurlah anda belum pergi jauh." ucapnya lega dibawah payungnya yang transparan. Lelaki ini, dia panitia yang menanyakanku diruang pengumuman sebelumnya. "Anda meninggalkan tas ini diruang pengumuman tadi." senyumnya.
Senyumannya lebar dan terlihat tulus. Aku membencinya. Karena senyuman itu membuat dadaku semakin terasa sakit dan sesak.
Aku ingin sekali menjadikan nya pelampiasan atas amarah dan rasa kecewaku pada sistem perekrutan mereka yang buruk. Tapi yang kulakukan malah lari darinya.
Lagi-lagi air mataku mengalir dan menyatu dengan air hujan yang tak henti-hentinya menetes.
Langkah seringan bulu, namun hatiku seberat baja. Seharusnya aku tidak pernah datang ketempat itu, seharusnya aku tidak memberanikan diriku pergi kesana, seharusnya.. Aku tidak pernah bermimpi.
Seandainya saja aku tidak pernah melakukan hal itu maka--
"a-ada apa? kenapa anda lari?" Tanganku? kulirikkan mataku kebelakang dan mendapati bahwa itu si lelaki panitia tadi. Bagaimana bisa dia menyusulku sampai kemari?
Aku sudah memastikan bahwa aku berlari begitu cepat sampai keatas bukit ini. tapi.. bagaimana bisa ia..
"Apa saya telah melakukan kesalahan?"
Sial. Orang ini benar-benar membuatku kesal sejak tadi.
"Pergilah!" tepisku dan menarik pergelangan ku yang digenggam olehnya, "jangan dekati aku!" Ada apa denganku? kenapa aku berkata kasar padanya. Ia tidak salah apa-apa, "kembali saja kamu dengan orang-orang busuk disana!"
Apa yang kau lakukan ANI??! "Kalian itu!" kenapa kau harus menotok dadanya dengan kasar?? Aku juga seharusnya tidak mengatakan hal ini kepadanya. "Hanya karena aku yatim dan tidak ada yang membawa namaku kesana, apa itu berarti aku tidak layak menjadi salah satu bagian dari kalian?!!"
Aku pasti kehilangan akal sehatku, tidak, ini bukan berasal dari kepalaku.. ini berasal dari hatiku.
"kalau begini!!" aku menarik kerah bajunya dengan kasar dan membuat tubuh tingginya membungkuk menyamai tinggi badanku, menyebalkan sekali, dadaku terasa sesak lagi. "kalau begini.. aku tidak bisa menulis 'The book of Life' ku sendiri.."
Kulepaskan genggamanku, dan melihat kerah bajunya yang membentuk genggamanku sebelumnya.
Mendapati perasaan menyesal didadaku, saat itu juga aku berpikir bahwa akal sehatku telah kembali.
"maaf, seharusnya saya tidak melakukan hal itu kepada anda." Aku mengambil tas rajut Kumal digenggamannya, "saya sangat berterima kasih atas bantuan anda karena sudah rela mengantarkan benda ini kepada saya."
Aku tahu, saat ini tidak ada rasa menyesal dari semua ucapan yang kulontarkan padanya, semuanya terdengar datar dan penuh formalitas. Tapi jika aku (berpura-pura) berterima kasih dan memberikannya senyuman (palsuku sebelumnya), maka aku tidak yakin dapat kembali lagi ke akal sehatku.
"sekali lagi saya--"
"Adriani" Nama itu, "Danurada." rasanya seperti ada panah yang menusuk saat seseorang memanggil nama itu dengan lengkap.
Bagaiamana ia..
ah, tentu saja.
Aku masih mengenakan nametag di dada kananku. seketika kucabut nametag itu, sangking kasarnya peniti itu bahkan tak sengaja melukai jariku telunjukku.
"Sesuai dengan namanya.." kali ini ia tersenyum, tidak seperti sebelumnya yang terlihat penuh paksaan, sekarang senyumannya nampak seperti ia mengapresiasi sesuatu, "kau tangguh sekali, ya."
Hujan mulai berhenti dan cahaya mentari yang memaksa melewati celah awan mendung itu menyinari wajahnya, "ohya, tadi rencananya aku membawakan coklat ini keatasanku, tapi sepertinya beliau sudah pulang, dan lagi aku juga tidak bisa meminum dua gelas sekaligus.. jadi" tawarnya sembari memberikan plastik yang membungkus segelas coklat yang bertuliskan 'chocolate Signature' pada gelasnya itu.
saat itu aku berpikir bahwa, orang aneh mana yang meminum segelas es yang dingin setelah diterpa air hujan. Namun melihat wajahnya yang diterpa oleh cahaya dan menampilkan senyuman diwajahnya itu, entah mengapa hari itu aku melihat kehadirannya tampak seperti malaikat yang selalu mereka ceritakan saat masa sekolah dahulu.
"maukah anda minum bersamaku?"
***
[Sekarang]
"Aku ini iblis." ucapnya lirih sembari memegang jantung yang masih berdetak itu didalam genggamannya. matanya sayu dengan kepalanya yang menunduk melihat darah yang mengalir dari dari genggaman nya. "aku minta maaf karena tidak mengatakannya langsung padamu.." senyumnya.. aku benci senyuamnnya yang seperti itu.
"padahal aku berencana untuk melamarmu, dan memiliki keluarga kecil yang bahagia denganmu... walaupun aku sudah tahu kalau iblis itu tidak seharusnya hidup bersama dengan manusia..."
padahal malam ini hujan begitu deras dan mati lampu membuatku seakan buta dan tuli, namun entah mengapa aku bisa mendengarnya dengan jelas, dan tanpa sulit melihatnya dibawah sinar rembulan yang entah mengapa
"aku ini.. bodoh ya," ia melihat kearahku, dengan senyumannya yang bergetar, air matanya mulai menetes. "bodoh, karena telah jatuh cinta denganmu hari itu."
"maaf sudah membuatmu takut, Ani."
melihatnya begitu putus asa dan tidak memiliki tenaga seperti ini, membuatku tak kuasa menahan kepalaku untuk langsung menonjok wajah tampannya itu. membuatnya tersungkur dilantai marmer apartemen yang sudah kami beli bersama ini.
"Ani.. kena--"
"Iya!! kamu itu bodoh!!" bentakku, "kamu itu bodoh karena meragukan dirimu sendiri!!" (sekali lagi) kutarik kerah bajunya dan melihatnya kesal, "kenapa kau berpikir bahwa aku takut padamu, hah?!!"
"hanya karna ada tanduk muncul dikepalamu dan darah ditanganmu, bukan berarti aku harus takut denganmu!" aku memang membentaknya seperti itu, tapi aku memang sedikit takut dihadapannya saat ini, dan tanganku yang bergetar hebat adalah buktinya.
melihat tanganku yang bergetar ia menatapku lirih ia menghela nafas pelan, "kau tidak perlu memaksakan dirimu, Ani. sejak awal aku melihat mu dan jatuh cinta denganmu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melukaimu.. jadi kau tidak perlu melakukan hal ini hanya untuk menyemangati ku.." ia memalingkan pandangannya dariku, "aku sudah mempersiapkan diriku pada kemungkinan terburuk seperti ini."
Tidak, tidak, tidak!
aku tidak takut denganmu, aku tidak ingin kau berpikir bahwa aku takut padamu..
"Lepaskan tanganmu, Ani.. aku tidak bisa berada didekatmu lagi." Tidak. aku tidak ingin kau pergi dariku, kenapa aku tidak bisa mengatakannya?! kenapa aku tidak bisa menghentikan rahangku yang terus-terusan gemetar ini, kenapa?!!
"A--"
jika aku tidak bisa mengatakannya, maka yang perlu kulakukan adalah melakukannya. Aku memeluknya erat, karena terburu-buru melakukannya tanduknya tidak sengaja melukai pipi kiriku.
"Ani?!!"
"Kau tahu.. aku sudah putus asa saat semua mimpiku hancur, dan berpikir untuk mengakhiri hidupku dibukit itu.. " akhirnya aku bisa membuka mulutku tanoa harus bergetar, "lalu kau muncul dengan wajah bodohmu itu dan mengatakan bahwa namaku itu tangguh, saat itu aku berpikir bahwa.. kenapa malaikat sepertimu datang kepada anak yatim yang miskin dan jelek sepertiku, aku kira kau adalah suruhan Tuhan untuk manusia-manusia payah sepertiku, namun..."
kueratkan pelukanku dan kutempelkan kedua mataku dipunggungnya, "aku dengan egois mengambil punggung ini hanya untukku seorang.. harusnya kamu yang takut padaku," kukecilkan suaraku berharap agar ia tidak mendengar suaraku yang memalukan dibalik derasnya hujan malam ini, "karena harus hidup bersama dengan orang sepertiku. jadi tolonglah.."
JDAARRR!!!
"jangan meninggalkanku sendirian didunia ini, iblis jelek."
banyak film horror yang kutonton, hujan badai dan mati lampu seperti ini hanya membawa sial bagi si tokoh utama..
Degub jantung yang berdetak tak karuan dan nafas yang tak teratur ini benar-benar mirip sekali dengan banyak film-film horror yang kutonton, namun yang berbeda adalah karena semua kejadian itu disebabkan oleh sebuah kecupan di kepalaku.
"huh?" aku yang kebingungan pun seketika mengangkat kepalaku dan melihatnya, ia lalu (sekali lagi) memberikan kecupan di keningku.
ia kembali tersenyum, "padahal rupaku ini dapat membuatmu takut seumur hidup, loh." tapi aku tidak membenci senyuman itu. "tapi jika itu maumu, jadi apa boleh buat, bukan?"
apa itu artinya dia... tetap disini?
" kenapa aku harus tak-- Astaga ada apa dengan dadamu, Kael?!!"
ia lalu menundukkan kepalanya dan melihat dadanya yang berlubang dengan santai seakan lubang itu tidak pernah ada disana.
"Ah, ini.. aku mengeluarkan jantungku dari sana."
"APA?!!" bagaimana bisa si bodoh Mikael ini mangatakan hal itu dengan entengnya, "jantung? maksudmu yg ini?" aku menunjuk ke tangannya yang saat ini menggenggam jantung yang masih berdetak.. tunggu dulu, berdetak?
"iya, sebagai bangsa iblis, kami bisa hidup abadi tanpa makan dan minum didunia bawah. namun, lain hal jika hidup didunia tengah dimana manusia berada, kami harus memakan makanan mentahan yang masih segar demi mengisi tenaga dan hidup lebih lama didunia tengah." cengirnya, "tentu aku bisa mengendalikan nafsu makanku itu, tapi kadang kesadaran ku suka hilang dan ingin memakan apapun yang hidup disekitarku. karena kau satu-satunya mahluk hidup di dekatku, akupun menghentikan rasa lapar itu dengan menyakiti diriku sendiri, seperti ini."
"Tapi.." aku masih tidak bisa menghentikan tatapan ngeri diwajahky saat melihat darah itu terus mengalir dari lubang yang ada di dadanya.
"Tenang saja, Ani." melihatku khawatir, ia (dengan mudahnya) memasukkan jantung itu kembali masuk kedalam dadanya, "lihat jantungnya sudah tidak ada kan?"
mulutku menganga dan melihatnya dengan penuh tidak percaya, "ba-bagaimana bisa kau.."
"aku juga tidak pernah membunuh siapapun, sejak aku pertama kalinya menapakkan kakiku didunia ini." ia memegang daguku lembut, "dan semua itu berkat kehadiran mu."
"aku?"
"yah, apa kau ingat saat pertemuan pertama kita saat pengumuman?"
aku mengangguk. "hng."
"aku memanipulasi semuaa ingatan orang yang ada di ruangan itu dengan sihirku, dan memberikanku tempat didunia pada hari itu. walau saat itu adalah hari pertamaku ada didunia tengah."
"manipulasi?? sihir?? jadi kamu dan aku..." aku melihatnya kesal dan siap kapan saja menonjok wajahnya untuk yang kedua kalinya
"Ahahaha, tenang saja.. aku hanya memanipulasi ingatan mereka tentang pekerjaanku disana, semua hal yang berkaitan dengan perasaan dan apapun itu masih terlalu sulit untukku, Karena perasaan manusia terlalu sulit untuk dipahami."
"Namun saat melihatmu yang begitu rapuh terus menarik perhatian ku, dan membuatku berpikir bahwa perasaan manusia tampak begitu menarik.."
"lalu saat kau seketika berubah menjadi dingin dalam selang beberapa detik, membuatku berpikir bahwa manusia memiliki perasaan yang tangguh."
"melihatmu yang terus berubah dan berkembang, membuat jantungku tanpa sadar selalu berdetak kencang saat bersama, jadi aku memutuskan untuk perlahan menjauh, namun.." Kael lalu menarik tanganku dan mendekapku dengan pelukannya yang hangat ditengah malam yang dingin ini, "aku selalu memikirkanmu, selalu ingin bertemu denganmu dan ingin melihat ekspresi wajahmu yang lainnya... apakah itu yang manusia sebut sebagai cinta?"
jantungku masih berdegub dengan kencang, dan bahkan bersaing dengan jantung Kael yang baru saja ia masukkan sebelumnya.
"apa yang kau katakan, Kael. itu bukan cinta namanya.. " aku mengangkat kepalaku dan tersenyum dengan lepas kearahnya, "tapi obsesi."
malam itu kami tertawa dengan lepas tanpa saling melepaskan pelukan, bahkan saat aku membantunya menjahit luka didadanya.
setelah sekian lama aku ragu, akhirnya aku bisa yakin.. sepertinya aku bisa kembali melanjutkan 'The book of Life' yang sebelumnya ku abaikan.
semua itu berkat si iblis berkulit malaikat ini.
[•]