Stella adalah siswi SOPA, sekolah yang menggunakan kesenian sebagai fokus utama. Di sekolah itu, siswa dan siswi dibekali dasar dari berbagai cabang seni seperti menari, menyanyi, melukis, memahat dan lainnya.
Stella adalah siswi yang sangat suka menari. Dia memantapkan hatinya untuk bisa menjadi penari profesional. Meski begitu, Stella memiliki bakat lain yaitu bernyanyi dan bisa menulis lirik.
Selain aktif dalam pembelajaran, dia juga aktif dalam berorganisasi. Dia mengikuti OSIS dan juga ekstrakurikuler basket serta karate.
Pada suatu hari, ketua OSIS yang akan segera purna memberi informasi bahwa akan diadakan seleksi menjadi ketua OSIS untuk periode berikutnya. Stella sangat bersemangat mengenai hal ini, dia sudah menunggu pengumuman ini lebih dari satu bulan yang lalu.
Begitu pengumuman ini keluar Stella dengan penuh semangat belajar siang dan malam. Mungkin untuk beberapa orang tidak terlalu tertarik menjadi ketua OSIS karena akan sibuk, seperti membuat proposal kegiatan, menjadi panitia, dan menjadi teladan yang baik untuk siswa lain.
Tapi bagi Stella, menjadi ketua OSIS bukan hanya sekedar itu. Menurutnya manfaat yang akan didapat sangat besar dan berpengaruh untuk kedepannya.
Pada malam hari saat Stella sedang belajar, ibunya datang dengan senampan makanan ditangannya. Ibunya bertanya,
"Nak,kamu belajar siang dan malam sampai tidak istirahat. Apa yang membuatmu menjadi sangat rajin?"
Stella tersenyum, dia menjelaskan semuanya. Ibunya mensupport apa yang akan dilakukan Stella, tetapi dia harus tetap memperhatikan kesehatannya, jangan sampai karna terlalu bersemangat dia menjadi sakit.
Mengenai hal ini Stella juga tau, dia juga menjadi lebih banyak diam daripada bergerak yang membuat tubuhnya cepat lemah.
Singkat cerita seleksi ketua OSIS pun diadakan, peserta yang mengikuti seleksinya berjumlah 15 orang. Stella yakin dia akan menjadi salah satu kandidat karna dia sudah belajar.
Begitu seleksi selesai, pengumuman akan dilakukan setelah bel istirahat ke-dua berbunyi. Namun ternyata, hal yang Stella harapkan tidak terjadi. Dia tidak menjadi salah satu kandidat. Dia merasa sangat kecewa dan hampir menangis, dia berpikir usahanya sia-sia.
Stella kembali ke kelas, dia melihat teman-teman yang sudah mendukungnya. Air mata yang dia tahan dari tadi keluar begitu saja saat dia hampir duduk. Kecewa, lelah, merasa gagal membuat hati kecilnya sakit.
Violet yang merupakan teman sebangkunya merangkul Stella dan mengucapkan kata-kata penenang,
"Tak apa, kamu sudah berusaha keras. Kami sudah sangat bangga kamu mau mengikuti seleksi itu. Sudah, jangan menangis"
Mendengar temannya mengatakan itu membuat suasana hatinya menjadi semakin sedih, dia tidak bisa menghentikan tangisannya.
Pulang sekolah, Stella bergegas pulang kerumah dan menghindari bertemu siapapun. Dia ingin menenangkan dirinya. Ibunya menyadari sikap tak biasa dari Stella. Putrinya itu sudah mengunci diri dikamarnya selama tiga jam, membuatnya sangat khawatir.
Saat malam hari tiba, ibunya masuk ke dalam kamar Stella dan melihat dia sedang menangis. Bergegas ibunya mendekat dan memeluknya untuk menenangkan, setelah beberapa menit Stella berhenti menangis dan menceritakan apa yang terjadi.
Ibunya merasa kasihan dan memberinya sebuah nasehat,
"Nak, terkadang memang kata-kata 'usaha tidak akan menghianati hasil' tidak terjadi. Itu hanyalah kata penyemangat, namun perlu kamu ketahui ada kata lain yang lebih hebat dibandingkan kata itu. Apa kamu tau?"
Stella menggelengkan kepalanya, dia tak sanggup lagi untuk berpikir disaat perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Ibunya pun melanjutkan,
"kata-kata itu adalah 'Rencana tuhan lebih baik'. Pada dasarnya apapun yang kita lakukan sudah direncanakan oleh Tuhan, jika yang kita lakukan tidak sesuai dengan keinginan maka sudah pasti hal itu bukanlah yang seharusnya. Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk hambanya"
Stella tersadar, meski awalnya berat, dia harus tetap bertahan dan melanjutkan perjalanannya. Dia tidak boleh berhenti disaat Tuhan masih memberinya kesempatan yang terbaik.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Stella kembali aktif ke hobinya yang dulu yaitu menari. Dia semakin berkembang setiap harinya sampai suatu ketika seorang pencari bakat melihatnya sedang menari di acara sekolah. Orang itu mengajaknya bergabung dengan perusahaan entertainment dimana orang berbakat akan dijadikan sebagai idol.
Stella menerima tawaran itu, yang kemudian menghilang untuk menjalani masa trainee. Enam bulan kemudian dia diperkenalkan menjadi seorang soloist yang menciptakan lagu dan koreografinya sendiri.
Stella kemudian teringat kata-kata ibunya, jika dia menjadi ketua OSIS maka dia akan sibuk dan jarang melatih keterampilan menarinya. Maka dia tidak mungkin akan menjadi seperti sekarang.
'Rencana Tuhan lebih baik' menjadi kata-kata yang selalu dipegang oleh Stella, sekarang hatinya semakin kuat karena kata-kata itu. Dia sangat bangga dan berterima kasih kepada ibunya.