#kekasihkubukanmanusia
Minggu ini aku dan tiga orang teman ku berencana mendaki sebuah gunung yang angker . Kami menyiapkan perlengkapan mulai hari ini banyak yang harus dibawa .
Kita berempat adalah teman sepermainan sejak kecil , aku adalah yang paling tua dari teman-teman ku . Usiaku kini sudah dua puluh satu tahun sedangkan mereka bertiga dua puluh tahun .
Rencana Ini sebenernya sudah direncanakan sejak dua tahun lalu , namun baru bisa dilakukan sekarang karena izin dari orang tua . Adhi teman ku yang paling pendiam yang sulit mendapatkan izin .
Aku dan Dani tak sulit karena kami sudah sering menaklukkan gunung-gunung pulau Jawa bersama pencinta alam . Satu lagi temanku adalah seorang cewek namanya Siwi dialah yang memiliki ide gila ini .
****
Rencananya kami akan naik lewat jalur tengah , jalur yang agak sepi dari pendaki lainnya . Jalur ini lebih dekat dengan puncak namun sangat terjal .
Kami tak mempedulikan itu karena kami ingin cepat melihat sunrise esok pagi , pukul dua pagi kami sudah mulai memasuki jalur tengah tanpa pemandu padahal gunung ini masih hijau bagi kami .
Pukul tiga kami sudah melewati hutan pertama , hutan ini berisi durian dan karet . Karena Siwi mengeluh capek aku sebagai pemimpin rombongan memutuskan untuk istirahat sebentar .
Dan kami membagi bawaan Siwi satu-satunya cewek di rombongan ini , lima belas menit istirahat kami melanjutkan perjalanan dengan formasi paling depan Dani.
Sebagai orang yang telah beberapa kali naik gunung aku berani memercayainya di depan . Posisi kedua adalah Siwi , aku menempatkan dia di depan agar mudah memantaunya dari belakang .
Kedua anak baru ini ditaruh ditengah dan aku paling belakang , Dani yang membuka jalan tak hentinya mengoceh tentang keadaan hutan yang kelihatannya lama tak dilewati .
Setelah hutan pertama tadi kami memasuki hutan yang lebih lebat dan heterogen . Cahaya rembulan tak bisa menembus rapatnya dedaunan sehingga menambah seram keadaan .
Dengan berbekal lampu senter aku hanya bisa melihat satu langkah di depan ku , tak ada pendaki lainnya yang kutemui sepanjang perjalanan ini . Brukkk....,aku menabrak Adhi di depan ku .
Ternyata Dani yang berada paling depan berhenti entah apa yang ia pikirkan , sebagai pemimpin aku langsung menanyakan ada masalah apa ?
Sekarang di hadapan Dani ada dua jalan sehingga ia bingung memilih mana yang akan dilalui . Keputusan beralih ke tanganku aku menyuruh Dani mengambil jalan yang lebih sering dilewati orang .
"Pilih yang udah bersih dari semak , itu pasti sering dilewati orang !" Teriakku dari belakang karena tekanan membuat telinga kami tuli . Dani tak bisa memilih karena kedua jalan itu sama ,
"Semuanya nggak ada semak nya , aku bingung kanan apa kiri ?" Dengan insting pemimpin aku menyuruh Dani memilih jalur kanan . Pikirku jika kedua jalan itu sama pastilah ujungnya sama .
Kami lanjutkan pendakian , kira-kira jam lima kami sudah bisa melihat cahaya yang menembus dedaunan di hutan ini . "Pasti bentar lagi pagi sob , ayo cepetan tembusin ke puncak." Aku membakar semangat kawan-kawanku ini .
Gerakan kami terus merangsang ke puncak yang semakin sulit dan terjal . Sekarang tidak ada lagi tanah hanya batu dan akar yang menjadi pijakan . Beratnya beban dipunggung dan lelahnya malam ini hampir terbayar .
Setelah melewati jalur ekstrim tersebut kami sampai di sebuah tanah lapang seluas satu hektar . Kami mengeluarkan alat masak dan menyiapkan tripod untuk menyambut arunika .
Aku mulai mengintip dari balik kamera memastikan sudut pengambilan gambar ku sesuai , aku tediam tubuhku kaget tapi aku tetap diam dan merahasiakan ini .
Aku melihat seorang gadis muda sedang memetik beberapa buah di ujung sana . Dari sini dia sangat cantik dan diam-diam aku memotretnya , dua gambar bisa aku amankan .
Sunrise benar-benar muncul , namun terdengar suara gemuruh orang-orang berteriak-teriak seperti ada acara . Kami sempat takut namun suara itu hilang dan beberapa saat kemudian muncul lagi .
Aku dan Dani memutuskan untuk melihat apakah ada pendaki lain di bawah tanah lapang ini yang sedang bermain . Ternyata di bawah sana ada sebuah suku dan rumah-rumahnya .
Mereka bernyanyi dan menari dengan riang , aku memanggil kedua teman ku tuk melihat mereka menari . Aku berfikir gadis yang aku potret itu anggota suku tersebut .
Jadi setelah puas dengan sunrise kami mencoba turun ke suku tersebut , mereka kaget melihat kami dan berlarian ke rumah mereka . Namun tetua mereka keluar dan menanyakan tujuan kami kesana .
Dengan bahasa Jawa yang amat kuno , aku hanya bisa mengerti sebagian saja . Setelah aku jelaskan tetua itu menyuruh warganya tidak usah takut dan bisa melanjutkan acaranya .
Kami diajak untuk ikut menari , sampai saat itu kami tak memiliki rasa aneh sekalipun . Padahal tidak pernah kami dengar ada suku yang mendiami gunung ini .
Gadis yang aku potret tadi muncul , dia mengenalkan dirinya pada kami . Dia sudah pandai berbicara seperti mereka sehingga dia membantu kami berkomunikasi dengan suku tersebut .
Namanya adalah Dina , dia juga seorang pendaki namun terpisah dengan kelompoknya dan ditemukan oleh suku tersebut . Dina bercerita jika suku ini sangat baik padanya sehingga ia tak tega meninggalkan mereka .
Dalam hati aku berfikir bagaimana bisa dia tak kangen orang tuanya dan memilih tetap di sana . Tapi aku diam dan terus mendengarkan cerita darinya .
Dina juga mengetahui jika kami telah mengambil gambarnya , bahkan dia tau kenapa kami bisa tersesat di wilayah suku ini . "Kalian pasti kebingungan saat di jalan yang bercabang itu kan ?" tanya Dina pada kami .
Kami mengangguk membenarkan kalimat Dina , sejak pertama kali melihatnya aku telah jatuh hati pada Dina . Ingin rasanya aku mengajaknya turun dan memiliki hatinya .
Namun ia memilih tetap berada di gunung . Anehnya semua alat kami seperti kompas dan jam tak berfungsi dan Dina mengatakan jika daerah ini memang seperti itu .
Kami percaya dan tak terasa mentari mulai turun , kami berpamitan pada tetua suku . Dengan bantuan Dina sesungguhnya kami pamit .
Tanpa ada yang tau saat aku meminta bantuan Dina aku juga mengutarakan perasaan ku padanya , dia tak menjawab perasaanku Dina hanya memberikan senyuman entah apa artinya .
Bahkan tetua menyuruh dua anak muda untuk mengantarkan kami sampai ke jalan bercabang esok tadi . Dina juga ikut mengantar kami , jadi saat itu kami menjadi tujuh orang dalam perjalanan turun .
Saat menuruni tanjakan terjal esok tadi tiba-tiba angin berhembus kencang , bahkan suara teriakan ku untuk tetap rapat tak bisa didengar oleh teman-teman ku .
Setelah tanjakan itu , angin mulai reda namun salah satu pemuda itu menjadi korban . Dia terperosok dalam jurang yang tak bisa terlihat dalamnya .
Dina menuruh kami tak perdulikan pemuda itu karena kami harus segera sampai di jalan bercabang dengan cepat . Tangan kami saling terkait dengan posisi paling depan pemuda suku tadi .
Aku paling belakang di depan ku adalah Dina , dalam keadaan seperti itu aku berusaha menikmati genggaman tangan Dina yang begitu erat .
Hujan turun dan membuat pijakan kaki kami menjadi licin , Dina terus memerintahkan pemuda di depan untuk tetap berjalan . Aku yang sebelumnya menjadi pemimpin kelompok sekarang hanya bisa menuruti kata Dina .
Tiba-tiba dari arah depan tebing di atas kami melepaskan batu-batuan , pemuda di depan sempat berhenti . Dina kembali menyuruhnya cepat karena jika jalan itu tertutup kami tak bisa lewat .
Aku merasa Dina sangat perhatian pada kami , dalam kondisi seperti itu aku takjub dengan jiwa kepemimpinannya . Dia sungguh luar biasa bagiku , entah karena aku memang suka atau apa...
Sebuah batu berukuran kepala manusia langsung menghujam ke arah badan pemuda suku tersebut . Tubuhnya roboh dan jatuh ke dalam jurang . Sekali lagi kami hanya bisa menutup rapat mulut kami .
Dina tetap menyuruh kami segera sampai di jalan bercabang sebelum kejadian terulang . Dani mengambil alih posisi dan menarik kami semua melewati tebing yang terus menyasar kami dengan batu.
Syukurnya setelah tebing itu kami bisa melihat jalan bercabang tadi , meski kini dipenuhi semak belukar . Perasaan senang mengelora dalam hati , Dani dan Siwi yang terus mengucapkan doa mulai berhenti dan tersenyum .
Dani orang pertama yang berhasil melewati jalan bercabang tadi , disusul Siwi dan Adhi . Sekarang tinggal aku dan Dina yang tersisa dibelakang .
Dina melepaskan genggamannya dari Adhi , membalikkan badannya untuk mengahdpaku langsung . Aku bisa merasakan sebuah hal baik yang akan ia ucapkan .
Dia mulai dengan sebuah senyuman , jantung ku berdegup kencang berharap dia bisa menerima ku .
Namun ia tak kunjung bicara , Dina terus saja tersenyum . Perlahan senyum itu semakin lebar menampakkan giginya yang putih dan panjang .
Seketika saat aku menatap wajahnya aku melihat sesosok wanita tua menyeramkan . Wajah cantik Dina hilang dan membuat aku ketakutan , tiga temanku yang sudah melewati jalan bercabang itu berteriak kaget dnegan wujud Dina .
Aku berusaha lepas darinya tapi tetap saja tak bisa , perlahan jalan bercabang yang menjadi portal menghilang . Teman-teman ku berusaha menariku namun gagal karena ia memiliki lebih dari tiga tangan .
Tubuhku seperti diserap oleh nya , tinggal kulit dan tulang yang tersisa setelah portal itu tertutup . Ketiga temanku yang menyaksikan peristiwa itu pinsan bersamaan , aku bisa melihat mereka .
baca juga novel ku judulnya-psikopat cantik -menanti cinta prajurit -anak roda -mencintai bayangan thx 😄