Lelaki berperawakan kurus itu tiba-tiba berdiri ketika mendengar suara bayi menangis dari dalam kamar. Lelaki itu bernama Dani, dan saat itu dia sangat bahagia bisa menyambut anak pertamanya. Namun, dia langsung merasa bingung ketika mendengar keributan yang dibuat bidan dan ibunya di dalam kamar.
Dengan diliputi perasaan khawatir Dani mencoba memasuki kamar untuk memeriksa apa yang terjadi pada anak dan istrinya.
Dia kaget melihat kedua telinga anaknya yang terlihat runcing seperti telinga peri-peri di negeri dongeng, warna iris di matanya berwarna biru toska, ditambah dengan kulit putihnya yang bening membuat kulitnya berwarna putih kemerahan.
Sejenak Dani terpana melihatnya anaknya sendiri, namun juga dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya?. Dani juga dibuat kaget ketika melihat Sina istrinya sedang terbaring pingsan.
Rena ibunya Dani segera mencengkram tangan Dani dan membawanya keluar kamar.
"Sudah Ibu bilangkan dari awal ada yang aneh dari wanita itu, tapi kamu tetap ngelotot mau nikahin dia!" bentak Rena pada Dani.
"Ibu jangan berprasangka buruk sebelum mendengar yang sebenarnya dari Sina!" balas Dani mengernyitkan dahinya.
"Apa? . . . Sudah jelas kalau ada yang aneh dari anak itu kamu lihat sendiri kan!" sahut Rena matanya bergetar.
"Bu lebih baik kita dengar dulu penjelasan dari Sina," ucap Dani mencoba meyakinkan ibunya sambil memegangi pundak ibunya dengan lembut.
"Nggak!, Ibu nggak mau punya cucu keturunan iblis!, terserah kamu mau apa tapi Ibu akan pergi!"
"Hal aneh lain yang terjadi setelah kau menikahi wanita itu, kau semakin kurus dan sakit-sakitan," Rena melepas tangan Dani dari pundaknya dan segera bergegas pergi ke kamarnya.
Dani mencoba mencegah ibunya yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, namun baik Dani maupun Rena masih keras kepala dengan pilihannya masing-masing.
"Baik, Ibu beri kesempatan terakhir, kamu mau ikut Ibu?" tanya Rena sambil memegang kopernya. Dani hanya terdiam, di dalam pikirannya dia memikirkan istrinya Sina yang sangat dia cintai, dan dia sama sekali tidak berniat untuk meninggalkannya.
Rena mengangguk-anggukkan kepalanya dengan diliputi perasaan kecewa dan segera beranjak pergi dari rumah.
"Pak Dani, istri anda sudah sadar!" bidan yang masih berada di dalam kamar tiba-tiba memanggil. Dani segera berlari memasuki kamar dan mendekati istrinya.
"Sayang kamu nggak papa?" tanya Dani lembut.
"Iya. ." balas Sina lirih.
"Pak saya harus segera pergi!" ucap bidan tiba-tiba sambil mengambil peralatannya.
"Tapi kami masih memerlukan bantuan Mba!" tegur Dani.
Tanpa mengucapkan sepetah kata bidan itu segera pergi meninggalkan rumah Dani dengan perasaan yang ketakutan. Dani segera berdiri untuk mengejar bidan itu, namun Sina memegang tangan Dani untuk mencegahnya mengejar bidan itu.
"Sudahlah biarkan saja . . . Lagi pula bukankah aku harus menjelaskan semuanya padamu kan!" ucap Sina dengan suara parau.
"Kau lebih baik istirahat dulu. ." balas Dani khawatir.
"Tidak Dan aku harus cerita sekarang!" Sina bersikeras. Sina mengangkat anaknya dengan perlahan dan tersenyum lebar. Dani yang melihatnya ikut tersenyum lebar.
"Dan sebelum aku ceritakan semuanya, aku ingin meminta maaf lebih dulu padamu" sambung Sina lagi. Dani tertegun, menatap Sina karena tak sabar menunggu penjelasan darinya.
"Aku adalah seorang peri. . ." ucap Sina lirih.
"Kau memang selalu menjadi seorang peri bagiku," balas Dani lembut.
"Dan, aku tidak bercanda. Kau bisa lihat buktinya dengan melihat apa yang terjadi pada anak kita!" ucap Sina sambil memperlihatkan anaknya yang sedang dia gendong. Ekspresi Dani pun mulai terlihat serius.
Sina mengatakan bahwa dirinya adalah peri penjaga yang ditugaskan untuk menjaga bunga framosa kedua yang tersembunyi di bumi.
Bunga framosa sendiri adalah bunga yang sangat penting untuk bangsa peri. Di setiap planet tertentu terdapat bunga framosa yang tersebar dan tersembunyi. Setiap satu bunga framosa harus di jaga oleh peri penjaga.
Bunga framosa adalah bunga yang sangat ajaib, bunganya tidak pernah layu dan jika dalam kegelapan bunganya akan bersinar terang seperti lampu. Tetapi, jika ada seseorang yang memetiknya maka otomatis kekuatan bunga framosa akan bepindah kepada orang yang memetiknya. Selain itu, jika bunga itu dipetik akan menyebabkan kekuatan para peri menghilang.
"Bunga itu adalah sumber kekuatan untuk para peri, peri mungkin tidak akan mati meskipun kamu beberapakali membunuhnya, tapi jika kamu bisa memetik bunga framosa maka kau juga akan bisa membunuh peri," jelas Sina pada Dani yang diam mendengarkan.
"Jika peri yang memetik bunganya, apa yang terjadi?" tanya Dani penasaran.
". . . Peri itu akan menjadi penguasa para peri lainnya, dan menurutku inilah yang paling bahaya, karena yang mengetahui keberadaan bunga framosa itu hanya peri."
"Tapi sekarang satu manusia juga mengetahuinya" balas Dani tersenyum tipis.
"Iya, itu karena aku percaya padamu Dan . . ." sahut Sina lembut, dia menyentuh pipi suaminya perlahan sambil tersenyum menatap suaminya yang tampan.
"Tapi kenapa fisikmu terlihat seperti manusia, sampai aku pun juga tidak tahu!" ucap Dani mulai cemberut.
"Sudah kubilang kami punya kekuatan Dan . ." balas Sina singkat.
***
Sina tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mendengar suara keributan dari luar rumahnya.
"Sina!, ayo kita harus berkemas!" ucap Dani terlihat tergesak-gesak.
"Ada apa Dan?" tanya Sina penasaran.
"Itu para warga!, sepertinya berita tentang kelahiran anak kita sudah tersebar di desa ini,"
"Benar Dan, kita harus pergi dari sini, kau harus ikut denganku!" Sina meyakinkan Dani. Dani pun menganggukkan kepala untuk menyetujuinya.
Sina segera mengangkat anaknya yang sedang tertidur pulas dan menggendongnya dengan erat. Sedangkan Dani terlihat mengambil barang-barang yang dibutuhkan saat dia pergi.
Mereka keluar diam-diam lewat pintu belakang dan berlari menyusuri hutan. Tiba-tiba Sina berhenti berlari, yang membuat Dani juga ikut berhenti.
"Oh tidak. . ." ucap Sina sambil menunjuk ke depan. Dani yang bingung langsung menengok sesuatu yang ditunjuk Sina. Betapa kagetnya dia melihat ada dua peri bersayap yang mencoba menghalangi jalan mereka. Mereka menatap tajam Sina yang sedang menggendong anaknya.
"Ternyata ini yang membuatmu memilih tinggal di bumi Sina?" ucap salah satu peri yang bernama Fersya.
Sina hanya terdiam, matanya terlihat bergetar. Dani yang tidak tau apa-apa berusaha melindungi Sina.
"Pergi kalian!, jangan ganggu kami!" bentak Dani sambil berusaha melindungi istri dan anaknya.
"Hey manusia!, apa kau tahu hal buruk yang akan terjadi jika peri menikahi manusia?" Ziana salah satu peri bermata kuning menyahut. Dani mengernyitkan dahinya, masih berdiri di depan istri dan anaknya.
"Peri itu akan menyerap energi manusia yang dinikahinya, apa kau menyadarinya?" ucap Fersya.
"Cukup Fersya!, ini adalah pilihanku kau tidak perlu ikut campur!" Sina berjalan maju.
"Pilihan yang bodoh menurutku, kau tahukan anak yang ada digendonganmu itu harus mati!" Fersya minyalangkan kedua tangannya.
"Dia tidak akan diterima dimanapun, baik itu di dunia peri maupun dunia manusia!" sambung Ziana.
"Diam!, aku sudah punya rencana untuk mengatasinya!" Sina mengernyitkan dahi.
"Sin. . ." Dani mencoba membuat Sina tenang.
"Rencana apa?, para peri sudah tidak menganggap kebaradaan dirimu lagi sejak kau memilih menikahi manusia, dan lihat para manusia juga ingin kau pergi dari sini," ucap Fersya terkekeh.
"Satu-satunya peri yang mengetahui keberadaan bunga framosa itu hanya aku!" ucap Sina percaya diri.
"Sebab itulah kami menemui kamu, karena para tetua menyuruh kami untuk menggantikanmu menjadi penjaga bunga framosa kedua disini," jelas Fersya.
"Oh iya, sebenarnya sebelum kami di suruh untuk menggantikanmu. Para peri memberimu waktu untuk melihat pilihanmu tapi ternyata setelah anak itu lahir, kami yakin kau lebih memilih manusia itu," sahut Ziana yang terlihat kesal.
"Cepat beritahu kami dimana bunga framosanya!" bentak Fersya.
"Nggak akan pernah!" Sina membalas membentak.
"Pergi kalian!" Dani tiba-tiba melayangkan batang kayu ke arah Fersya dan Ziana.
Fersya mengangkat sebelah tangannya ke arah Dani dan seketika membuat Dani jatuh dan terguling menabrak pepohonan.
"Dani!" teriak Sina khawatir. Sina terlihat marah, telinganya perlahan meruncing dan mengeluarkan sayap di punggungnya.
Sina langsung mengerahkan kekuatannya untuk menyerang Fersya dan Ziana, karena tidak sempat mengeluarkan kekuatannya Fiersya dan Ziana langsung jatuh terpental dan seketika pingsan.
Sina menggunakan kesempatan itu untuk menolong suaminya, sekuat tenaga dia mengepakkan sayap sambil membawa anak dan suaminya yang sudah terlihat sekarat itu. Sejak itu Sina dan keluarganya bersembunyi agar tidak ada siapapun yang menemukan mereka.
***
17 tahun telah berlalu, Sina dan anaknya Cecilia masih hidup layaknya manusia. Mereka hidup seperti keluarga pada umumnya, ditemani Dani yang satu-satunya manusia tulen di keluarga itu. Mereka membangun rumah di tempat yang dekat dengan keberadaan bunga framosa. Di sebuah tempat yang sangat terisolasi, bahkan manusia tidak pernah menjejakkan kakinya di tempat itu.
Syutt
Cecilia melepas busur panahnya, kali ini dia kembali mengenai sasaran.
"Hebat sekali Cecilia!" tegur Sina pada anak semata wayangnya itu.
"Bu, kenapa sih kita nggak pernah pergi dari sini?" tanya Cecilia penasaran.
"Sudah Ibu bilang, ini agar kita selalu bisa bersama," jawab Sina singkat.
"Jujur Bu aku masih nggak ngerti," sahut Cecilia dengan wajah sendu.
"Percayalah, jika salah satu dari kita pergi dari tempat ini akan membuat kita dalam bahaya, jadi jangan pernah coba-coba kamu ya!" sahut Sina pelan.
Cecilia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Sina.
"Aku cari ayah dulu ya Bu!" ucap Cecilia sambil melepaskan alat pemanahnya dari bahunya. Cecilia pun menengok ayahnya yang sedang berada di kamar.
"Udah ganteng kok Yah!" tegur Cecilia pada Dani yang saat itu sedang bercermin.
"Ah bisa aja kamu," balas Dani sambil mengelus rambut Cecilia.
"Sudah sudah! Ayo kita makan malam dulu!" tegur Sina pada suami dan anaknya.
***
Uhuk uhuk!
Cecilia terbangun dari tidurnya sambil terbatuk, dia membuka matanya secara perlahan dan melihat asap yang sudah mengepul di kamarnya. Dia segera berlari keluar untuk mencari kedua orang tuanya.
"Cecil!, kamu harus ikut Ayah!" ucap Dani yang tiba-tiba datang dari luar rumah.
"Kenapa Yah?, mana ibu?" balas Cecilia khawatir. Tanpa menjawab pertanyaan Cecilia, Dani langsung menarik tangan anaknya itu untuk segera keluar rumah yang sudah terbakar.
"Ayah!, itu Ibu!, kenapa banyak sekali peri Yah?" ucap Cecilia yang saat itu melihat ibunya dikelilingi oleh rombongan peri. Dani masih terdiam sambil menyerat anaknya untuk berlari.
"Yah kita mau kemana!" Cecilia melepaskan cengkraman ayahnya karena merasa ibunya dalam bahaya.
"Cecilia kamu harus ikut Ayah dulu, setelah itu baru Ayah akan ceritakan semuanya!" jawab Dani mencoba meyakinkan.
Cecilia hanya terdiam menatap ke belakang melihat rumahnya yang sudah dilalap oleh api. Cecilia pun akhirnya mengangguk dan mengikuti arahan ayahnya.
***
"Aku tidak menyangka Sina, kau lebih memilih meninggalkan kaummu dan tinggal bersama manusia itu!" ucap Jordan sang tetua peri, yang sengaja datang untuk melihat sendiri pengkhianatan yang dilakulan oleh Sina.
"Kalian tidak akan paham, meski aku menjelaskannya!" sahut Sina yang saat itu duduk bersimpuh dihadapan kaum peri.
"Bunga framosa sekarang bukan wewenangmu lagi, dan karena kau berkianat kau akan di hukum mati di quille!" ucap Jordan.
"Kumohon jangan sakiti suami dan anakku!" rengek Sina.
"Dasar egois!"
"Cepat bunuh saja dia Jordan!"
"Tidak tahu terima kasih"
Para peri marah mendengar rengekan Sina. Sina beberapakali di sakiti oleh para peri yang merasa kesal dengannya. Beberapa bagian tubuhnya terlihat lebam dan lecet-lecet.
***
"Kau tunggu di sini ya!, Ayah akan menjemput Ibumu dulu!" ucap Dani pada Cecilia.
"Tapi Ayah jelaskan dulu semuanya padaku!" desak Cecilia pada ayahnya sambil memegang tangan ayahnya.
"Ayah tidak punya waktu Cecilia!, kau ingin ibumu mati?" Dani mengernyitkan dahinya, Cecilia pun perlahan melepaskan pegangannya dari tangan ayahnya itu, sambil menatap ayahnya yang berlari menjauh.
***
"Cukup!, aku bilang kita harus membunuhnya di quille!" Jordan memarahi kaumnya yang berusaha menyakiti Sina. Tiba-tiba mata para kaum peri tertuju pada seorang lelaki yang berjalan ke arah mereka.
"Oh tidak!"
"Lihat dia memetik bunga framosa!"
Kaum peri tampak ketakutan ketika melihat Dani yang berjalan mendekat sambil membawa setangkai bunga framosa di tangannya.
"Dani?" gumam Sina bingung.
Para peri melangkah mundur saat Dani berjalan melewati mereka.
Jordan mengambil belati di sakunya, dengan berani dia mengarahkannya pada Dani saat itu.
"Dani!", teriak Sina, Dani pun langsung tergeletak di tanah. Sina langsung menghampirinya dengan isakan tangisnya.
"Sina. . Aku memetik bunga ini untukmu. . Ka. . kau harus melindungi anak kita. ." ucap Dani dengan beberapa hembusan nafas terakhirnya. Darah terus mengalir dari tubuhnya, perlahan kulitnya mengeriput karena kekuatan bunga framosa yang selama ini terus membuatnya sehat dan awet muda tidak berfungsi lagi untuknya. Sebab ketika Dani memetik bunga framosa, bunga itu tidak diperuntukkan untuk dirinya sendiri tapi untuk Sina istrinya.
"Aku mencintaimu Sina . ."
Perlahan Dani menyerahkan bunga framosa ke tangan Sina. Seketika sinar putih langsung menyala, kekuatan bunga framosa sudah berpindah kepada Sina.
Sinar itu perlahan redup, dan kaum peri langsung melihat Sina yang berdiri dengan raut yang marah. Dani suaminya sudah tergeletak tidak bernyawa.
Sina terlihat marah besar, dengan kekuatan bunga framosa yang luar biasa dia bisa membunuh siapapun dengan tangan kosong. Saat itu Sina membunuh kaumnya sendiri tanpa ampun.
***
Cecilia duduk bersandar di batu, sambil menatap bintang-bintang di langit. Dia berharap ayah dan ibunya selamat.
Tak tak tak
Cecilia langsung berdiri sambil memegangi pemanahnya untuk berjaga-jaga, karena mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Cecilia memasang busur panahnya dan mengarahkannya ke sumber suara.
"Cecilia!" Ternyata itu Sina, ibunya. Cecilia pun meletakkan kembali busur panahnya dan langsung memeluk erat ibunya.
"Ayah?" tanya Cecilia menatap ibunya yang terus meneteskan air mata. Sina pun menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan anaknya. Cecilia langsung menangis dan memeluk Sina dengan erat.
"Sekarang tinggal kita berdua Cecilia, dan kita harus pergi dari sini sebelum kaum peri datang lagi. . ." ucap Sina masih berpelukan erat dengan anaknya.
~TAMAT~
*jangan lupa berkunjung ke karya baruku, cerita chat mengerikan "Jangan Sendirian Di Rumah"