Aku sangat mencintainya, dia adalah kekasih ku, namanya Iyan nama yang cukup bagus untuk nya yang amat tampan. Bibirnya yang seperti busur, kulitnya yang putih seperti tak berdarah, tinggi, kurus, dan memiliki gaya rambut yang keren. Namun Iyan adalah seorang laki-laki yang cukup dingin untuk beberapa orang. Terkadang , ia juga agak cuek terhadap ku, namun itulah yang aku inginkan dari SMP, sosok laki-laki yang tidak romantis.
"Kenapa kamu tidak sekolah dua hari kemarin?" Tanya ku saat melihatnya berdiri di depan pintu kelasku.
"Ada hal yang harus aku kerjakan" Katanya dengan nada datar.
Entahlah apa yang ia lakukan, setiap bulannya ia tidak akan sekolah selama dua hari. Itu bertepatan dengan sehari sebelum bulan purnama, dan sehari setelah purnama berakhir.
"Ayah dan ibuku ingin bertemu dengan mu." Kata ku padanya saat pulang sekolah.
"Tentu, aku akan kesana besok"
"Kenapa harus besok? Nanti malam saja, aku sudah cukup besar untuk berpacaran dengan serius, adik ku terus saja mengejek ku tentang hal ini. Jadi aku ingin ini segera berakhir, yaitu anggota keluargaku mengenal mu."
"Baiklah, aku harus kembali secepatnya. Hubungi aku jika ada apa-apa di jalan" Kata nya lalu pergi ke lorong sekolah.
Jika dia benar-benar hawatir tentang aku, kenapa ia tidak pernah menemaniku sampai di gerbang sekolah untuk pulang. Dia selalu saja mengambil jalan yang sepi, sunyi, dan juga gelap seperti itu untuk pulang.
Pukul 20.00
"Dimana pacar kakak? Kok belum datang?" Tanya adikku yang nomber tiga, dia benar-benar menyebalkan.
"Diem kamu! Kalo papa kesini awas aja nanya dia lagi." Ancam ku padanya.
Tak lama setelah ayah dan ibuku duduk, seseorang terdengar mengetuk pintu. Aku sangat senang, ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di rumah ku.
Dan ketika aku membuka pintu, aku melihat wajah yang aku nantikan. Aku menyuruhnya untuk masuk dan memperkenalkannya pada ayah, ibu, dan ketiga adik ku.
Kami berbincang-bincang sambil menyantap makanan kami. Terlihat raut wajah Iyan yang tidak pernah sebahagia itu. Untuk pertama kalinya, aku melihat hidungnya yang pesek tertekan karena mulutnya yang ngakak.
"Aku pulang dulu ya" Kata Iyan saat itu kami berada di luar gerbang rumah. Karena makan malam telah berakhir.
"Ia, terimakasih sudah mampir"
"Sayang....." Kata Iyan yang membuat langkah ku menuju rumah terhenti.
"Keluarga mu sangat baik dan ceria, aku benar-benar menyukainya." Kata Iyan saat aku menghadap ke arahnya.
"Hmm ia, ibu ku adalah orang yang pengertian, sedangkan ayahku orang yang tegas tetapi sangat humoris. Aku ingi bertemu dengan keluarga mu juga" Kata ku.
"Aku pulang dulu." Katanya lalu pergi dengan ketus tanpa menjawab kata-kata ku.
Aku beranjak menuju pintu rumah ku. Tanpa aku sadari, dua orang adikku mengintip dari jendela kamarnya.
"Dua hari lagi adalah bulan purnama. Aku yakin Iyan pasti tidak akan sekolah. Bagaimana ini, aku penasaran hal apa yang ia lakukan dua hari itu." Kata ku sambil berjalan menuju sekolah ku. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah ku.
Jam istirahat berbunyi, semua anak berhamburan keluar kelas. Hari itu entahlah, aku tidak merasa lapar sedikit pun. mungkin karena sarapan tadi lumyan banyak.
"Gak kekantin?" Tanya teman dekatku, ia bernama Sri ayu, namun aku sering memanggilnya dengan nama Dek. Entahlah sejak pertama aku ingin memanggilnya dengan nama itu.
"Gak, aku gak tau kenapa hari ini aku merasa tidak bergairah." Kata ku sambil menyilangkan tanganku di meja.
"Besok malam, kan bulan purnama ya? Aku yakin kekasihmu tidak akan sekolah lagi" Kata Sri ayu terhadap ku.
"Aku tau.... Makanya bagaimana caranya agar aku bisa tau yang ia lakukan besok."
"Ayo ke perpustakaan." Ajaknya sambil mendepak tangan ku.
"Ngapain?"
"Sejak kapan kamu goblok? Ya nyari alamat rumah Iyan lah. Kita kan sudah selas sebelas, pasti data-data siswa sudah di taruh di sana." Kata nya dengan bijak. Padahal dia tidak terlalu pintar dalam pelajaran.
Aku pun pergi ke perpustakaan bersamanya. Namun saat berjalan menuju kesana. Seseorang menarik tanganku, hingga membuat Sri ayu yang juga menarik ku dari arah yang berlawanan terhenti.
"Mau kemana?" Tanya Iyan yang memandang mataku dengan misterius.
Aku menatap ke arah Sri ayu yang juga takut dengan raut wajah Iyan yang seperti itu.
"Kami akan ke perpustakaan." Kata Sri ayu yang membuat ku sangat marah dalam hati. Bisa-bisanya ia mengatakan yang sebenarnya saat dirinya takut.
"Ngapain?"
"Ada tugas sastra yang harus di selesaikan di sana." Lanjut Sri ayu yang membuat ku benar-benar ingin memasangkan mahkota di kepalanya.
"Ohh, baiklah. Aku akan membawakan makanan untuk mu, kamu belum makan kan?" Tanya Iyan yang membuat mata ku dan mata Sri ayu melotot
"Tidak usah, nanti di istirahat kedua aku akan ke kantin. Untuk saat ini aku benar-benar tidak lapar, sarapan ku tadi benar-benar banyak."
Sri ayu melihat jam tangannya. ia kemudian menarik tanganku karena menyadari jam istirahat akan segera berakhir.
"Kami pergi dulu ya, calon ipar. Kami takut telat." Kata Sri ayu, aku mendepak tangannya karena ia menyebut calon ipar lagi. Entahlah aku agak canggung jika ada orang yang mengatakan aku adalah calon istrinya.
Aku duduk di salah satu kursi perpustakaan tersebut. Saat itu, dilantai atas agak sepi, dan malah ramai di lantai bawah, yaitu tempat buku cerita dan Novel.
"Nah ini, pacar mu klas apa vi?" Tanya nya sambil mengambil salah satu buku dari beberapa keranjang yang ada di rak.
"MIPA 2" Sahut ku dan mendekatinya.
"Samsul
Krisna
Mia
Radit
Yulan
Iyan. Nah... Ini" Kata Sri ayu dengan girang.
Kami pun meletakkan dokumen tersebut dan membukanya. Tetapi aneh, dokumen tersebut tidak lengkap, karena nama ayah dan ibunya tidak tercantum. Tetapi untunglah alamat rumah nampak jelas tertulis di salah satu kertas dalam dokumen tersebut.
"Besok, temenin aku ke rumah ini!" Kata ku sambil berjalan menuju kelas karena bell masuk kelas sudah berbunyi.
"aku bilang apa ke ortuku?"
"Bilang saja kita menginap di rumah Lusi, nanti kita kasi tau dia dulu." Sungguh rencana yang baik.
Keesokan harinya, seperti yang di duga, Iyan tidak sekolah. Aku makin bersemangat dan yakin pasti ada hal yang ia sembunyikan.
Pukul 22.30
Kami berdua berada di depan rumah Iyan. Namun kami bersembunyi di semak. Tiba-tiba, pintu rumah tersebut terbuka dengan sendirinya. Terlihat banyak orang keluar dari rumah tersebut. Tangan ku gemetaran, sama halnya dengan Sri ayu. Karena orang-orang tersebut berpakaian serba hitam, Iyan tampak berada di tengah kerumunan orang tersebut. Tetapi yang membuat ku dan Sri ayu tidak bisa berkedip adalah.... Dari sekumpulan orang itu, semua bola matanya berwarna hitam.
"Saya mencium kehadiran darah yang kuat di sekitar sini." Kata salah satu dari mereka.
aku dan Sri ayu benar-benar takut, manusia apa yang bisa mencium bau darah yang tidak keluar dari tubuh.
Iyan menatap tepat di tempat kami bersembunyi. Aku tidak terlalu yakin ia menatap ke arah kami, karena matanya yang seperti tidak memiliki arah.
"Purnama sudah menunggu kita. Ayo cepat" Kata Iyan dengan suara serak basahnya. Kemudian orang-orang tersebut berbah menjadi sebuah bayangan dan menghilang.
"Ayo pulang......." Rengek Sri ayu karena sudah ketakutan.
"Bagaimana ini? Apa sebenarnya dia? Diam dulu, aku tidak bisa berjalan, kaki... kakiku kaku." Kata ku yang ngos-ngosan.
"Ini rencana kalian?" Terdengar seseorang berkata kepada Kami. Namun kemana kemari kami menoleh tidak ada siapapun. Hingga Aku merasakan hawa dingin di belakang ku. Dengan cepat aku menoleh ke belakang.
Jantung ku dan nyaliku terasa pecah, Sri ayu tidak ada di sebelah ku. Namun aku fokus pada mata hitam yang menatap ku dengan amarah.
"Cepat pergi dari sini atau hal lain akan aku lakukan." Kata Iyan pada ku.
"Cepat pergi!!!!!!" Bentaknya dengan sangat keras hingga aku ingin mati. Untuk pertama kali aku di bentak oleh seseorang yang sangat aku sayangi.
"Gak bisaa" Kata ku dengan tenaga yang hampir tidak bisa untuk mengeluarkan kata-kata.
Iyan mengangkat tubuhku dan seketika aku berada di atas ranjang ku.
Dimana dia? Aku sama sekali tidak melihatnya. Nafasku tidak bisa di atur aku benar-benar tidak menyangka kalau kekasihku adalah seorang Vampir.
Setelah kejadian itu, aku beserta keluarga ku pindah dari kota tersebut. Letaknya sangat jauh dari tempat itu lagi. Aku juga harus pindah sekolah, kontak Iyan aku blokir agar ia tidak bisa menghubungi ku atau bertanya apapun. Aku benar-benar purua Kontak dengan semua orang yang ada di sana
Dua bulan kemudian.
Seseorang mengetuk pintu. Saat itu ayah, ibu, dan ketiga adikku sedang pergi ke rumah kakek, aku tidak ikut karena sedang Ulangan.
Aku beranjak membuka pintu. Ternyata orang tersebut adalah seorang laki-laki yang sangat aku kenal, ia tersenyum ramah kepadaku
"Apa kabar? Aku sangat merindukanmu." Kata laki-laki tersebut. Dan dia adalah Iyan.