Kami bertemu lagi. Di sebuah tempat tongkrongan gaul bernama Plengeh. Tempat es jus dan cemilan lain. Dia memesan es jus cokat dengan choco chipz kesukaanku tanpa menawari dulu. Dia…. Masih hafal seleraku. Kami duduk canggung menghadap jalan.
Debaran dada ini masih sama. Aku sampai bolos les tambahan kelas tiga hanya untuk menemui dia. Parfumnya masih sama. Seragamnya juga masih sama. Sebuah STM swasta ternama di kota ini. Waktu merubah dia semakin tampan.
"Apa kabar?" tanya kami bersamaan. Kemudian saling tersenyum. Jantungku…… rasanya melompat dari dada. Kenapa cinta monyet ini masih ada? Padahal hampir setengah tahun kita tidak bertemu. Katanya cinta monyet gampang terlupa. Akan tetapi melupakannya terasa mustahil. Aku juga masih melihat tatapan cinta dari dirinya. Andai…. Kami tidak terpisah restu. Andai…. Penjahat dan malaikat tanpa berbatas. Andai cinta kami masih bisa berlanjut tanpa berbatas restu. Hah….. dadaku sesak.
Dia bukan penjahat seperti yang orang kira. Dia baik padaku. Cukup! Titik! Cuma itu yang mau aku dengar. Dia mengeluarkan gitarnya. Memetik lagu kesukaan kami berdua. Aku senang masih mendengar merdu suaranya. Beberapa pemudi menoleh. Hah, aku jengah dengan lirikan mereka pada dia.
"Suaramu masih bagus. Apa bandmu masih jalan?" tanyaku setelah dia usai menyanyi.
"Masih, walaupun jarang latihan. Beberapa sibuk kuliah. Jadwal mereka semakin padat," jawabnya. Aku manggut manggut. Canggung lagi…. Hening lagi….. ada banyak kalimat yang seharusnya aku sampaikan. Terutama kalimat cinta dan rindu yang menyumbat hatiku setelah putus darinya. Akan tetapi aku sadar kami di tempat umum. Tentu saja tidak mungkin mengatakannya.
Kami diam memandangi tembok keraton dan pintu gerbang besar di seberang sana. Ya, kami sedang berada di alun alun kota. Terdapat keraton peninggalan pecahan kerajaan mataram disana. Kami duduk di lawang gapit. Atau bisa disebut pintu masuk area keraton. "Kamu bawa baju ganti?" tanyanya sambil menoleh padaku. Aku mengangguk sambil menyedot es coklat choco cipz yang mau tandas. "Let's go kalau begitu!" ajaknya sambil menarik tanganku.
"Hei, mau kemana?" tanyaku heran.
Ternyata dia menyuruhku ganti baju. Dia juga ganti baju di toilet umum dekat situ. Kemudian menitipkan tas kami pada tukang parkir alun alun. Dia mengajakku mengamen di lapangan kota!!! Yap!!! Mengamen!!! Entah ide dari mana. Kami pun mengamen di lapangan kota yang penuh orang nongkrong. Tentu banyak yang menatap heran pada kami. Penampilannya yang bersih dan wangi. Aku yang berkulit putih dan berkacamata. Seperti anak band dan gadis kutu buku yang kurang kerjaan. Atau mungkin sudah gila!!! Hahahaha. Yang jelas sore itu aku dapat tertawa kembali. Mengikis jarak canggung antara kami. Uang recehan hasil ngamen itu diberikan pada seorang tukang tambal ban dekat parkiran.
"Sampai ketemu lagi Put. Andai waktu masih mengizinkan kita bertemu," katanya sambil tersenyum. Mengusap pelipisku yang berantakan dengan rambut ikalku. Hah….. iya…. Andai waktu mengizinkan kita bertemu kembali. Aku akan bahagia. Akan tetapi….. jika kita bertemu lagi… bagaimana caraku melupakanmu?? Aku tersenyum. Dia mencium tanganku. "Tidak masalah kalau kau tidak mau bertemu lagi. Carilah lelaki yang baik, yang dari keluarga baik baik, bukan penjahat sepertiku," katanya kemudian menaiki motor besarnya. Tidak berani mengantarku pulang, walaupun sampai ujung gang rumah. Seperti awal kita pacaran dulu.