Sudah hampir sebulan bang kirno tidak bekerja. Tabungan ku pun sudah mulai menipis. Gara-gara pandemi yang mempora-porandakan ekonomi dunia. Akhirnya berimbas juga dengan kehidupanku.
Aku kira menjadi buruh di pabrik gula lantas akan menjamin kehidupan kami lebih baik. Tetapi ternyata tidak. Selain gajinya yang cuma satu juta sebulan sekarang di tambah lagi bang kirno harus kena PHK. Lengkap sudah ujian hidupku.
"Mak, Anto tidak mau makan kalau tidak ada lauk! Makan nasi saja itu tidak enak Mak!" celetuk anto, bocah laki-laki yang tahun ini genap berusia 7 tahun itu.
"Makan saja dek, lihat ni Abang juga makan." Bujuk Slamet anak sulungku yang kini telah duduk di kelas enam sekolah dasar. Terlihat bocah itu menyuapkan nasi kedalam mulutnya dengan lahap.
"Pokonya Anto tidak mau, bang! Ini tuh tidak enak." Bocah kecil itu terus saja mengerutu dengan wajah kesal.
"Ya sudah, mamak buatkan sambal saja ya," sahutku.
Aku masih ingat jika aku masih memiliki pohon cabe dibelakang rumahku. Biasanya aku memetik cabe cabe itu untuk ku jadikan lauk dengan di campur garam. Lumayan bisa mehilangkan rasa nasi sisa kemarin yang terasa anyep.
"Sambel lagi, sambel lagi! Setiap hari kita makan sambel terus Mak. Perut anto jadi menceret gara-gara makan sambel." protes anto dengan suara serak.
Kulihat bocah kecil itu sedang menahan tangis di pelupuk matanya.
"Sabar dek, tidak boleh kamu ngomong begitu sama mamak." Slamet menasehati Anto yang masih memasang wajah kesal menatap sepiring nasi dihadapannya.
Akhirnya bulir bening yang sedari ia tahan berjatuhan membasi pipinya.
"Dengarkan emak, besok bude Siti pulang dari Jakarta pasti bude bawa banyak oleh oleh untuk Anto." bujukku yang kini duduk disebelah Anto.
Ku usap lembut rambut keriting putra bungsuku itu. Ku amati bajunya yang lusuh, baju bekas pemberian bude Siti beberapa tahun yang lalu. Tetapi bocah itu sangat menyukainya. Katanya baju baju bekas dari bude Siti itu masih seperti baru. Apalagi baju dari Jakarta, pastinya dikampung ini tidak akan ada yang menyamai.
"Benarkan Mak? Bude Siti mau pulang." Sekejap saja raut wajah putra bungsuku langsung berubah. Ada gurat rasa bahagia terpancar dari wajahnya.
"Iya nak!" Sahutku haru. Rasa sesak kian memenuhi rongga dadaku. Andikan aku bisa memberikan apapun yang anakku inginkan?
"Yes, bang besok bude Siti pulang! Setiap hari kita bakalan makan enak." cerocos Anto menyeka airmata yang membasahi sudut netranya.
"Ya sudah, sekarang kita makan nasi sama garam ini aja dulu ya dek. Besok kita makan sama ayam dirumah nenek bersama bude Siti." sahut Slamet yang tidak kalah hebohnya.
Hari itu aku dan kedua anakku hanya makan nasi kemarin yang sudah aku hangatkan lagi dengan lauk garam yang selalu ku sediakan dirumah. Berjaga jaga jika aku tidak memiliki uang untuk membeli lauk.
Hari yang ditunggu telah tiba. Bude Siti telah tiba di rumah ibuku. Bude siti adalah kakak perempuan pertamaku. Ia telah menjadi orang sukses di Jakarta. Usahanya membuka toko kelontong begitu lancar. Hingga ia mampu menyekolahkan Kedua anaknya sampai sarjana. Sementara suaminya adalah seorang kontraktor proyek. Sudah dipastikan pundi pundi keuangannya melimpah ruah. Jika tidak banyak tidak mungkin bude Siti suka membelikan baju dan makanan untuk kedua anakku beserta anak Atun, adik bungsuku.
Atun masih tinggal bersama ibuku dengan satu anaknya yang seumuran dengan Anto. Suaminya yang hanya tukang parkir dipasar sudah dipastikan ia tidak mampu menyewa rumah tinggal. Tetapi lagaknya selalu saja sombong kepada siapapun.
Meskipun begitu ibu selalu menutupi hal itu. Kata ibu, ibu sudah tua jika Atun meninggalkan rumah ini lalu ibu dengan siapa. Selalu begitu, ibu sangat memanjakan Atun dari kecil hingga saat ini. Mungkin karena Atun adalah anak paling terkahir. Semua kebutuhan atun telah ditanggung oleh ibu. Bahkan biaya sekolah anaknya ibu ku pun yang menanggungnya. Memang ibuku hanya tukang jualan nasi rames dipasar, tapi karena rasa masakan ibu yang lezat membuat ibu selalu kelarisan.
Rumah tua itu kembali ramai setiap bude situ pulang. Aku dan kedua anakku selalu berkumpul disana. Rasanya rindu sekali dengan kakakku yang begitu menyayangiku itu. Aku masih teringat masa kecil kita selalu mandi bersama dikali. Ia adalah kakak yang sangat menyayangiku. Disaat ibu lebih menyayangi Atun justru bude Siti yang mengantikan kasih sayang itu.
"Ini punyaku, bukan punya mu,"
Suara anto dari ruang tengah terdengar masuk kedalam telingaku yang sibuk mencuci piring di dapur.
'ah, sengaja aku membiarkan anakku disana. Lagipula disana ada Atun dan juga Slamet yang sedang menonton televisi. Pastilah akan ada yang melerai jika mereka ribut.
Plak!
Hua ... Hua ...
Suara pukulan itu terdengar jelas olehku, kemudian diikuti suara tangisan Anto yang menjadi jadi. Aku segera mencuci tanganku dan berlari ke ruang depan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ayo dasar anak rakus ya kamu. Tidak pernah makan enak kan kamu?" Atun menarik telinga Anto yang terus menangis ke teras rumah.
Kulihat anak Slamet ketakutan disudut ruangan. Aku segera mengejar Atun di teras rumah.
"Ada apa ini tun?" pekik ku melihat Atun yang menyiram tubuh Anto hingga basah kuyup.
"Lihat ini anak mbak yu, sudah rakus main nyolong lagi. Masak ayam Adit di colong sama Anto." sahut Atun dengan wajah merah menyala.
"Bener Anto?" tanyaku kesal.
"Ngak Mak, Anto ngak ngambil. Justru itu ayam Anto yang diambil Adit." jelas anto berlinang air mata.
"Dasar ya, masih kecil sudah pintar bohong." Ucap Atun memukul betis anto dengan gagang sapu bekali kali hingga membuat Anto semakin mengeraskan tangisannya.
"Cukup tun, jangan sentuh anakku." pekik ku kepada atun. Andaikan dia bukan adikku sudah ku hajar habis wanita itu.
"Makanya kasih makan yang enak anak mbak yu itu. Biar tidak rakus dirumah orang. Dasar orang miskin, sukanya dikasihani terus." bentak Atun kepadaku namun terasa sakit dihatiku.
Wanita itu benar benar berani denganku. Rasanya aku ingin sekali membalas hardikan Atun padaku. Justru dialah orangg miskin yang sesungguhnya. Hidup masih numpang sama ibu saja berlaga kaya raya. Kalau saja aku tidak takut ibu marah sudah aku hajar itu anak kesayangannya.
Aku segera membawa kedua anakku pulang kerumah. Tidak ku bawa sedikitpun oleh-oleh dari bude siti yang sengaja ia berikan padaku. Manahan hinaan Atun selama ini saja telah membuatku jengah.
"Tadi itu adek tidak ngambil ayamnya adit Mak," cerita Slamet kepadaku.
Anak bungsu ku itu masih terjaga melingkarkan tangannya pada pinggang ku, sementara aku masih memeluk tubuh anto, malangnya kamu nak.
"Terus," sahutku masih setia mendengar cerita Slamet.
"Tadi itu adek sengaja makan nasinya dulu, baru setelah nasinya habis adek akan makan ayamnya. Nah tiba-tiba Adit ngambil ayam adek. Kan adek jadi marah. Pas Ade mau ngambil ayam nya lagi dari piring adit, Bulek Atun datang terus marahin adek dan mukulin adek."
Mendengar cerita Slamet hatiku terasa begitu perih. Kupeluk kedua anakku erat erat. Tidak terasa butiran bening itu jatuh membasi pelipisku hingga kebantal yang Ku pakai bersama kedua anakku.
"Mak, jangan nangis ya, nanti Kalau Slamet sudah besar. Slamet akan cari uang yang banyak biar emak bisa makan yang enak enak setiap hari."
"Iya, nak!" Tak mampu lagi aku menahan tangis. Airmataku bak menganak sungai terus mengalir semakin deras.
Ku dengar dengkuran halus dari suamiku yang tidur disebelah anto. Sehari bekerja sebagai buruh tani pasti membuatnya kelelahan.
***
Pagi itu aku masih tetap datang kerumah ibu. Bagaimana pun juga aku harus menghargai kepulangan kakakku berserta suaminya. Toh aku datang kesitu bukan untuk bertemu dengan Atun. Melainkan untuk membantu ibu dan menjamu bude Siti.
"Loh, kok sendirian Sri? Mana Anto dan Slamet?" ucap bude Siti yang sibuk memilah oleh-oleh di ruang televisi.
Kulihat disitu sudah ada Atun dan juga Adit. Wanita dengan rambut keriting itu sesekali melirik ke arahku dengan wajah tidak suka.
"Dirumah mbak, biar main sama Slamet saja!" sahutku melirik Atun yang acuh kepadaku.
Sengaja aku tidak mengajak Anto dan Slamet datang ke rumah ini. Rasa sakit atas hinaan Atun kepada Anto membuatku meradang hingga detik ini. Cap orang miskin yang rakus bagaikan sembilu yang mencacah hatiku hingga remuk. Bisa-bisanya Atun setega itu kapada anak anakku.
"Nih, oleh-oleh kasih anto dan Slamet, ya!" ucap bude Siti menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna putih kepadaku.
Belum sempat aku meraih Kantong plastik itu, dengan cepat tangan Atun telah meraihnya terlebih dahulu.
"Mbak, ini buat Adit saja ya. Kan Anto dan Adit ukurannya sama. Lagipula Anto itu ngak pantes dapat baju mahal kaya ini mbak! Anaknya mbak Sri itu pantasnya pakai baju bekas aja," celetuk Atun melirik sinis ke arahku.
Aku masih diam tak bergeming. Meskipun dadaku kali ini bagaikan terbakar amarah namun aku masih bisa menahannya. Aku tidak mau bude siti akan kecewa jika diantara kami terjadi pertengkaran.
"Sesama saudara itu harus saling menjaga, saling mengasihi dan saling berbagi. Karena saudara itu bagaikan kisah Lima jari. Yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda. Olo olo dulur tuo malati (seburuk apapun saudara tertua itu harus dihormati jika tidak maka akan kualat)"
Itulah petuah yang almarhum bapak ceritakan kepada kami sewaktu kecil setiap kali kami hendak tidur dan aku yakin bude siti masih mengamalkan petuah itu hingga detik ini.
"Hust! Kamu kan sudah mbak kasih banyak itu. Tidak boleh begitu tun!" ujar bude Siti lembut. Wanita itu benar-benar seorang panutan penuh kasih sayang.
Atun diam tidak bergeming, ia segera meraih kantong plastik itu kemudian melemparkannya kasar kearahku.
"Nih! Makan tuh, dasar orang miskin pasti tidak bisa beli baju barukan?" hardik Atun semakin menyulut amarahku.
"Tutup mulutmu tun! Biar miskin tapi aku tidak serakah sepertimu." balasku melempar kembali' kantong plastik itu hingga mengenai wajah Atun.
Kulihat wajahnya kali ini menjadi merah padam menatapku. Atun bangkit dari duduknya kemudian memelototkan netranya kepadaku dengan berkecak pinggang.
"Uwes Sri uwes!" cegah bude Siti bangkit dari duduknya menghampiriku.
"Tidak bude, selama ini aku sudah cukup diam dengan hinaan atun pada keluargaku. Anak manja seperti Atun itu harus diberikan pelajaran." Bentakku dengan dada bergemuruh hebat.
"Dasar kamu itu memang bisanya nyusahin ibu dan mbak Siti. Pantas saja ibu tidak suka denganmu." celetuk Atun semakin membuat nyeri dalam hatiku.
Apakah benar ibu yang telah melahirkanku begitu membenciku?
Airmataku telah memenuhi pelupuk mata, Namun hatiku sama sekali tidak ingin menumpahkannya didepan Atun. Adik durhaka yang selalu menghardik keluargaku karena kemiskinan kami yang begitu setia menemani.
"Coba ulangi apa katamu tadi?" tatangku dengan membusungkan dada.
"Ibu itu tidak suka sama mbak sri dan keluarga mbak Sri yang miskin itu." teriak Atun dengan suara nyaring.
Tubuhku benar-benar kehilangan tenaga. Lututku seolah terpisah dari persendiannya. Ingin sekali saat ini aku tersungkur dilantai dan mengakui kekalahanku.
Aku hanya menatap ke arah Atun tanpa bisa berucap. Seolah seluruh kata yang telah aku susun untuk melawan Atun sirna sudah. Ternyata ibu yang melahirkan diriku saja begitu membenciku karena kemiskinanku. Pantas saja selama ini ibu teramat dingin kepadaku dan anak-anakku.
Duhai, ibu!
Andaikan Allah mengabulkan doaku.
Aku ingin memberikanmu banyak harta dan segalanya yang mampu membuatmu bahagia.
Tapi, apalah dayaku ibu
Semua ini adalah bagian dari suratan takdirku.
Butiran embun itu jatuh berurai menebasahi pipiku. Kulihat bude siti meraih tubuhku dan menjatuhkannya kedalaman pelukannya.
"Sudah Atun!" Bentak bude Siti yang masih sibuk menenangkanku.
"Biarin mbak! Biar mbak Sri itu tahu kalau dirinya itu miskin dan sangat miskin. Biar dia dan anak anaknya juga tahu diri." kembali cacian bagaikan sembilu itu menghujam jantungku.
"Cukup tun! selama ini aku sudah cukup sabar dan tahu diri. Aku tau, kamu yang melarang bude siti meminjamiku uang saat Slamet masuk rumah sakit. Dan aku juga tahu, kamu juga yang melarang pakde Darno menerima suamiku untuk ikut bekerja dengannya." balasku dengan berurai air mata.
Seketika bude siti melepaskan pelukannya dari tubuhku. Kulihat raut wajah bersalah terpancar dari tatapnya. Selama ini sengaja aku menyimpan kebusukan saudara-saudaraku itu sendiri. Karena aku tidak ingin bertengkar dengan mereka. Biarlah aku yang mengalah, karena memang aku hanyalah orang miskin.
"Bagus kalau mbak Sri tau. Toh mbak Siti juga setuju dengan saranku. Jadi mbak Sri tidak bisa menyalahkanku." balas Atun semakin sinis.
"Iya kalian memang tidak pernah salah. Yang salah itu adalah aku, karena aku adalah orang miskin. Kalian pasti takut jika aku tidak mampu mengembalikan uang kalian yang aku pinjam." kuhina diriku didepan Atun agar wanita itu semakin puas mencaciku.
Aku segera beranjak dari rumah ibuku. Ku ambil sepeda gunung yang ku parkir dihalaman rumah ibu. Ku abaikan panggilan bude Siti yang sepertinya mengejarku hingga ke teras rumah. Rasanya terlalu sakit dan percuma.
Secepat kilat ku goes sepedahku menuju rumah. Berkali-kali aku menyeka airmataku yang tak kunjung usai. Rasa sakit dan nyeri kian memenuhi dadaku hingga membuat nafasku semakin sesak.
Akhirnya aku tiba dihalaman rumah sederhana milikku. Rumah dari anyaman bambu dengan atap ilalang. Pantas saja kedua saudaraku begitu membenciku ternyata aku memang sangat miskin sekali.
Aku menangis tergugu diatas ranjang tanpa kasur yang biasa ku gunakan untuk tidur bersama kedua anakku dan bang kirno. Ranjang yang terbuat dari anyaman bambu dengan alas pelepah daun pandan yang Ku anyam sendiri. Ku tumpuk tikar dari daun pandan itu hingga beberapa susun. Agar sakitnya anyaman bambu tidak begitu terasa menyentuh tulang-tulang kami.
"Mak, kenapa emak menangis lagi?" tanya Slamet yang duduk ditepi ranjang beserta anto yang mematung menatapku.
Aku sudah tak mampu menjawab pertanyaan kedua anakku. Yang aku tau saat ini aku ingin memeluk erat tubuh kurus kedua anakku.
"Mak, Anto sudah tidak nakal lagi Mak. Anto kan sudah nurut sama mamak untuk tetap tinggal dirumah. Tapi kenapa mamak masih menangis?"
Rasa sakit ini kian mencabik-cabik hatiku. Kiciumi wajah kedua anakku tanpa dosa itu. Mereka begitu lugu untuk mengerti kejamnya hidup ini.
"Mamak dirumah saja, tidak usah mamak kerumah nenek lagi ya! Nanti bulek Atun pasti menghina keluarga kita lagi." ujar Slamet mengangkat wajahnya dari pelukanku.
Tangan kecilnya menyeka lembut airmata yang memenuhi kedua pipiku.
"Iya nak!" sahutku lirih.
"Lihatlah ini mak, Anto dan Abang dapat upah bersih-bersih dikebun mang untung." bocah kecil itu menyodorkan dua lembar uang lima ribuan kepadaku.
"Beliin anto telur ya Mak! Anto pengen sekali makan telur dadar. Cukupkan uangnya, Mak?" titah bocah kecil itu dengan ulasan senyum diwajahnya membuatku semakin tergugu.
Setelah kejadian itu, beberapa harii kemudian bude Siti, Atun dan ibu datang kerumahku.
Kulihat wanita dengan rambut penuh uban itu memeluk tubuhku erat. Air matanya terus berderai dengan segala permintaan maafnya kepadaku. Begitu juga dengan bude Siti, kakakku yang penyayang namun membungkus rapi kebenciannya kepadaku itu menangis sejadi-jadinya dihadapanku. Sementara Atun hanya mengucapkan kata maaf dengan wajah terpaksa.
Biarlah, aku sudah begitu lelah selama ini dengan mereka.
Beberapa tahun berlalu aku lebih sibuk dengan kehidupanku sendiri. Meskipun setiap kali aku berkunjung kerumah ibu selalu saja mulut tajam Atun yang ia suguhkan kepadaku. Seoalah lambat laun itu menjadi hal yang biasa untukku. Bagiku, kedatanganku kerumah itu adalah untuk ibu. Meskipun ibu membenciku atau tidak ia tetap adalah ibuku dan kewajibanku adalah berbakti kepadanya.
Kedua anakku kini telah tumbuh dewasa, meskipun aku dulu tidak bisa menyekolahkan mereka hingga SMA. Akhirnya atas kerja keras mereka berdua, Anto dan Slamet mampu melanjutkan kejar paket C. Hingga suatu hari ada seorang yang berbaik hati mau membiayai pendidikan kedua anakku hingga mereka saat ini menjadi seorang polisi dan Dokter.
Setiap minggu Anto yang menjadi seorang polisi akan pulang mengunjugi ku dan suamiku. Disela tugasnya anto masih sering menyempatkan mengabarkan keadaannya kepadaku. Terlihat jelas ia begitu sangat menyayangiku.
Sementara Slamet telah menikah dan memiliki rumah bersebalahan dengan rumah kami. Dia menjadi Dokter di rumah sakit milik ayah angkatnya yang membiayai semua pendidikannya hingga kini ia telah menjadi orang yang sukses.
Sementara aku dan suamiku, kami masih hidup dengan sederhana. Aku membuka warung kelontong didepan rumah kami. Sementara suamiku lebih suka berternak sapi. Tetapi setidaknya hidup kami saat ini lebih dari cukup.
Dan ibuku, sekarang memilih tinggal bersamaku. Sakit struk yang ia derita membuat aktivitasnya terbatas. Ia hanya mampu berbaring diatas ranjang setiap hari. Sehingga akulah yang harus mengurus segala kebutuhannya.
Sementara Atun, Hampir setiap minggu ia datang ke rumahku untuk memijam uang. Hidup menjadi seorang janda memanglah tidak mudah. Beberapa tahun yang lalu suami Atun ketahuan berselingkuh dengan istri orang. Hingga akhirnya Atun memilih untuk mengakhiri rumah tangganya dan membiarkan suaminya menikahi wanita itu.
Adit anak Atun, kini hanya bekerja sebagai karyawan bengkel. Sekolahannya yang tidak terlalu cerdas membuatnya harus mencari uang dengan cara mengandalkan bakatnya sebagai montir.
Sementara bude Siti, ia masih tetap sama. Tutur katanya yang lembut serta pembawaannya yang kalem. Ia masih sering mengirim uang untuk ibu, meskipun tidak setiap bulan. Tapi dia sama sekali tidak pernah melupakan ibu, aku dan Atun. Meskipun ia juga sudah jarang pulang ke kampung. Kata suaminya bude Siti saat ini sedang menderita sakit jantung.
"Mak, emak mau makan sama apa?" tawar Anto kepadaku.
"Emak makan sama sayur asem aja, nak!" sahutku.
"Masak sayur asem sih Mak! Ni ada ayam, redang, telur' glundung atau sama chicken crispy. Emak pilih lauk yang mana?" desak anto masih siaga dengan sendok ditangannya.
"Ngak lah, emak takut darah tinggi makan kaya gitu." ujarku menyendok sayur asem dari dalam mangkuk.
"Hehe ... Mak emak!" Terulas senyum simpul disudut bibir Anto.
"Emak itu pengen makanan sehat dek," celetuk Slamet mengusap lembut rambut Anto.
"Wah, pasti Abang ini yang ngajarin emak." Ledek Anto dengan tawa berderai.
"Sudah-sudah, makanlah! Kalau makan tidak boleh sambil bicara. Jangan lupa berdoa dulu!" titahku kapada kedua anakku.
"Siap Mak!" jawab mereka serentak.
Tamat.
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar) (QS Al Baqoroh:153).
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-insyiroh)
La Tahzan Inallaha Ma'ana.☺️