Aku tergesa-gesa melangkah, sejak turun dari bis. Ya, selain waktu semakin larut, aku sungguh resah merasa ada yang mengikuti sejak keluar dari kantor.
"Andai tadi aku menghubungi Krisna untuk menjemputku." gerutuku, menyesali tindakan bodohku. Krisna, pacarku, sudah menawarkan menjemput. Namun, aku menolaknya karena aku tidak menduga hari ini kembali lembur dan pulang pukul sembilan malam dari kantor.
Tok ... tok ... tok ....
Suara sepatuku beradu dengan trotoar. Seperti menggema, ada suara langkah dari belakangku.
Awalnya, aku postif thingking. Mungkin ada orang yang searah dengan apartemenku.
Namun ....
Saat aku mencoba melangkah dengan pelan, langkah kaki di belakangku juga ikut pelan. Dan saat aku mempercepat langkah, langkah itu pun seakan memburuku.
Deg deg deg ....
Takut. Aku takut sekali. Suara detak jantungku semakin kencang. Bagaimana kalau itu penjahat? Atau perampok?
Aku berjalan lebih cepat.
Berjalan lebih cepat!
Hingga seperti setengah berlari. Aku benar-benar tidak berani menengok kebelakang.
Hingga aku harus melewati gang kecil nan gelap, sebelum sampai apartemenku. Aku sangat gugup dan takut karena sosok itu masih mengikuti. Segera kuraih pisau kecil di dalam tasku.
Ya, aku selalu menyembunyikan benda itu untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi. Aku menggenggam erat pisau kecil itu.
Lalu, saat sosok itu menyentuh pundakku, aku lekas menusuk-nusuk dengan membabi buta. Aku memejamkan mata dan mencoba melawan. Hingga akhirnya, cairan berwarna merah itu berada dimana-mana.
Aku ketakutan. Aku lekas berlari sekencang mungkin ke apartemen. Setelah masuk ke kamar, aku membersihkan pisau dan tanganku yang terpecik darah.
"Ahh, sial! Bagaimana kalau orang itu mati? Nanti aku jadi tersangka." gumamku pada diri sendiri.
Aku pun segera meraih botol obat yang beberapa waktu ini kuminum untuk meredakan kegelisahan berlebihku. Kali ini, aku meminumnya tiga kali lipat dari dosis yang dokter anjurkan. Aku pun tertidur pulas.
Keesokan harinya ....
Seluruh apartemen heboh dengan penemuan mayat di gang kecil, akses satu-satunya ke apartemen. Aku pun mengingat samar-samar kejadian semalam. Bergegas aku meraih handphoneku. Aku mencoba menghubungi Krisna.
Nomer yang Anda tuju sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi. Tut ... tut ... tut ....
"Hallo, Krisna? Kalau sudah aktifkan handphone hubungi aku, ya!"
Aku semakin panik karena handphone Krisna tidak aktif. Aku pun mengecek kembali chat Krisna kemarin.
Krisna: [ Sayang, pulang jam berapa? Aku jemput ya. ]
Aku: [ Nggak usah, Kris. Aku belum tahu pulang jam berapa. ]
Krisna: [ Ya udah, aku tungguin gimana sayang? ]
Aku: [ Nggak usah, Kris. Aku pulang sendiri aja. ]
Krisna: [ Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, sayang. ]
Aku: [ Besok 'kan bisa, Kris. ]
Krisna: [ Aku ingin hari ini. Nanti aku tunggu, ya, di depan kantor. ]
Itu chat terakhir yang Krisna kirim dan aku tak sempat membalasnya. Aku pun sangat ketakutan. Handphoneku terjatuh.
Aku keluar apartemen dan melihat kerumunan orang di dekat gang. Polisi sedang mengevakuasi mayat itu, serta mengamankan beberapa barang bukti yaitu sebuah surat, kotak merah kecil yang diduga berisi cincin, serta sebuah coklat berbentuk hati.
Bucin banget! Persis seperti Krisna! Hah? Berarti yang tadi malam kutusuk?
Aku bergegas lebih mendekat melihat kantong mayat sebelum ditutup. Seketika pandanganku mulai memudar. Aku kehilangan kesadaran ketika melihat wajah orang yang kucintai di dalam kantong mayat itu.
Ya, Krisna, kekasihku yang malang. Andai kamu tidak mencintaiku, seorang skizofrenia.