Aku Ameliana,umurku 23 tahunan.Suatu saat aku pergi hiking bersama teman-temanku.
Jalan yang berelok-elok,berbatu,terjal kita lalui dengan hati-hati.Namun sayang aku terpisah dari grombolan teman-temanku
Malam pun tiba,aku sudah mencari mereka cukup lama.Bukannya bertemu dengan mereka justru aku makin tersesat ke dalam hutan.
Hujan pun tiba,karena aku yang takut sakit nantinya.Terpaksalah aku mencari goa untuk berteduh.
Hujan itu deras sekali,tak kunjung reda.Sampai aku tertidur pulas.Bahkan seseorang mengendongku dengan cepat tapi aku tak merasakan apapun.
Ke esokan harinya,kudapati aku tidur diatas ranjang.Ruangan yang gelap tanpa ada lampu.Hanya saja terdapat 6 lilin yang menyala.
Nuansa yang susah untuk ditebak.Seseorang mengetuk pintu mengalihkan pikiranku.Pria itu datang membawakan beberapa makanan untukku.
Ia memakai pakaian yang sangat kuno,setelan panjang berjas hitam.Makanan yang ia sajikan pun cukup aneh itu sangat membuatku semakin bingung.
Ia lalu memperkenalkan dirinya.Namanya Mathelio biasa dipanggil Lio.
Ia bilang aku terdampar dinegerinya ketika malam.
Aku menjelaskan bahwa aku tidur digoa tidak mungkin pula aku bisa sampai ke negeri aneh ini.
Jendela yang tertutup rapat,lubang ventilasi yang kecil.Ia menjelaskan padaku bahwa ia membawaku karena aku terluka parah.
Ia menunjukan luka dikakiku yang cukup parah.Entah kenapa,aku tidak merasakan sakit sama sekali.Itu karena Lio memberikan obat khusus kepada lukaku.
Lio bilang aku terserang babi hutan ketika aku tidur nyenyak jadi ia membawaku ke rumahnya.
Ia menawarkanku untuk menginap dirumahnya agar lukaku bisa cepat sembuh.Aku menerimanya sebagai ungkapan berterima kasih.
Berhari-hari aku dirawat olehnya,lukaku sudah cukup membaik.
Pagi itu aku membuka jendela kamar.Ia datang membawakan susu untuk ku minum.
"Lio,aku ingin pergi keluar" ucapku meminta belas kasihan dari Lio.Karena selama ini aku seperti dikurung dirumahnya.Tidak keluar dari rumah sama sekali.
"Tidak" ucapnya singkat merubah raut senangnya.
"Kenapa? aku butuh udara segar Lio" ucapku dengan nada lebih berbelas kasihan.
"Baiklah,tapi dengan satu syarat" ucapnya seperti muslihat agar aku tak bisa keluar.
"Apa?" tanyaku.
"Kau mau gak jadi pacar aku?" tanya Lio kepadaku.
Karena mungkin aku akan pergi,jadi aku menerima dirinya sebagai ungkapan terima kasih kepadanya karena telah merawatku.
Aku berjalan dengan senang disiang hari,Lio membelikanku beberapa macam makanan.Juga mengajakku pergi menonton
Aku heran sekali,dalam ingatanku.Wilayah ini jauh dari perkotaan bagaimana bisa ada sebuah kota dipinggiran gunung.
Sorepun tiba,ia bergegas mengajakku untuk balik kerumah.Padahal aku masih ingin jalan-jalan.Ia bilang ia ada urusan.Jadi kami kembali dengan cepat.
Aku tanya ada apa,tapi ia tak menjawab.Langsung saja ia mengunciku rapat-rapat kembali dikamar.
Aku kaget dan berusaha untuk membukanya tapi tidak berhasil.Aku berteriak memanggil Lio tapi ia tak kunjung membukanya sampai tenagaku terkuras habis.
Mata merah mengintipku dari lubang ventilasi.
Matanya menunjukan ekspresi senang kala ia menatapku.Aku takut sekali diruang gelap dan hanya ditemani 6 lilin saja.
Terdengarlah suara pertengkaran diluar kamar.Suara yang samar tapi aku mengenalinya,bahwa itu adalah Lio.
Aku mencoba membuka melihat ada apa yang sedang terjadi.
Suara dari luar.
"Mathelio berani-berani kau menyembunyikan seorang manusia tapi tidak memberi tahu kepada kami" ucap salah satu dari mereka.
"Lalu kenapa?tidak ada urusannya dengan kalian" ucap Lio menantang.
"Kurang ajar,kalia ayo serang Lio" ucapnya lalu segrombolan mata merah berhantaman menyerang Lio bertubi-tubi.
Tapi mereka bukan apa-apa bagi Lio.
Aku akhirnya bisa membuka pintu tapi sesuatu mengerikan yang aku lihat.Lio,bajunya telah sobek dan berganti menjadi tubuhnya berubah membesar karena otot dan kekuatannya.
Matanya merah menyala,kuping meruncing dengan gigi taring yang cukup panjang.Kuku tangan yang memanjang pula.
Mencabik mereka yang ingin mendekatiku.Hingga hanya ada darah dan pembunuhan keji nan sadis yang kulihat.
Aku merinding melihatnya.Sekilas aku berubah ketakutan sekali aku berjalan mundur ketika Lio menatapku dan melangkahkan kakinya menuju ke arahku.
Keadaan tubuhnya mulai kembali normal.
Pikiranku bercampur aduk.Luka yang sebenarnya tidak diterjang babi hutan.Kota yang aneh,tempat tinggal yang seluruh ruangannya gelap gulita.Mata merah dengan taring.Ini bukan duniaku!
"Jadi selama ini,kau adalah vampir?!" ucapku bertanya-tanya seakan tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Amelia dengarkan aku" ucap Lio mendekatiku.
Aku sampai ke titik dinding tak bisa lari lagi.Aku didekapnya erat-erat.
"Jangan takut,aku tak akan menyakitimu" ucap Lio menenangkanku.
Aku mendorongnya dengan sekuat tenaga namun tak berhasil.
"Tolong kembalikan aku Lio aku tak mau ada disini" ucapku merintih sedih.
"Tidak,kau adalah kekasihku.Kekasihku tak boleh jauh dariku" ucap Lio menahanku.
"Kita berbeda Lio,aku ingin kembali hiks...hiks..hiks" ucapku nangis memohon agar ia mengembalikan diriku.
"Jika kita berbeda,maka mari kita hilangkan berbedaan ini" ucap Lio.Keadaan tubuhnya mulai kurang normal kembali.Kuku Lio mulai memanjang,gigi taring.Kata merah kembali terlihat.
"Apa maksudmu" tanyaku seakan membodohinya.
"hilangkan perbedaan?!"
Lio mencengkram lenganku kuat-kuat.
"Hei apa yang kau lakukan,jangan seperti ini padaku" bentakku namun dihiraukannya.
Ia merobek baju bagian bahuku.Aku tahu apa maksudnya,ia ingin mengubahku menjadi vampir.
"Lio jangan" larangku berteriak setengah menangis.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan niatnya.Namun sudah terlambat.
Ia menusukkan 2 taring tajamnya ke bahuku .Menghisap darahku,aku hanya bisa pasrah karena tenaga dirinya terlalu kuat hingga sulit untuk dikalahkan.
Setelah itu aku tak sadarkan diri,hingga ia menggendongku kembali ke ranjang.Merenggut hak suciku,sampai mataku merah menyala seperti dirinya.
~Tamat~