Aku tak tahu apa itu artinya cinta? Dan bagaimama rasanya jatuh cinta? Hmm, entahlah. Karena aku berpikir, aku hanya gadis berusia 12 tahun, dan baru saja lulus sekolah dasar.
Namun, semua pertanyaanku terjawab. Saat melaksanakan Masa Orientasi Siswa. Ada seorang laki-laki, usia di atasku setahun. Membuat duniaku tentang tidak percaya teralihkan. Dia adalah kakak kelas sekligus ketua OSIS di SMP dimana aku bersekolah.
"Jangan lama - lama lihat Mas Benteng, Rae. Nanti ada yang marah," ucap teman satu kelompok.
Hatiku awalnya, berbunga-bunga dan membayangkan kalau dia ada di dekatku. Namun semua hancur, karena dia sudah ada yang memilikinya.
"Siapa yang marah, put?" tanyaku heran.
Teman setimku bernama putra, hanya mendongakkan kepalanya menunjukkan seseorang yang sedang membimbing tim lain.
"Mbak Ayang?" tanyaku terkejut.
Ayang Dorowarti, seorang gadis cantik dan idola semua anak - anak di sekolah SMPku. Sekaligus, dia masih sepupu Ibuku alias dia cucunya Mbah buyut Kakung yang usianya di atasku satu tahun.
Melihat hal itu, akhirnya aku memutuskan hanya bisa melihat ketua osis itu dari jauh. Karena ada yang bilang, mencintai seseorang tidak harus memiliki.
***
Entah ada angin apa, setelah beberapa bulan MOS. Aku mulai menyadari, rasa kagumku kepada ketua osis sekolah. Lebih dari rasa seorang adik ke kakak. Namun, semuanya aku tahan. Karena aku, tidak mau menyakiti hati Mbak Ayang. Akhirnya, aku memilih mencintai dalam diam. Aku selalu bersikap, biasa saja kepada ketua osis itu tanpa menunjukkan rasa sukaku kepadanya.
"Kamu suka sama Benteng?" tanya Mbak Ayang saat aku berkunjung ke rumahnya.
"Maksudnya, mbak?" tanyaku tak mengerti.
"Kamu jangan ngeles, Rae. Kamu tahu enggak banyak yang bilang kamu suka sama Benteng. Kamu mau merebutnya dari aku?" cercahnya membuat aku tersentak.
Siap yang berani menyebarkan gosip murahan itu? Padahal, aku mencintai dalam diam tanpa ada kata.
***
Setelah pertengkaranku dengan Mbak Ayang. Seminggu kemudian, aku mendapat kabar kalau mereka putus. Dan banyak yang bilang, mereka putus karena aku. Jelas, itu tidak mungkin bagi anak introvert sepertiku yang secara blak-blakan mengatakan ingin merebut milik orang. Aku selama ini, selalu menghindar jika Ketua Osis itu mendekatiku, dan aku selalu mengalihkan topik jika dia selalu mengajakku pulang bersama.
***
Singkat cerita, saat pengumuman kelulusan. Mbak Ayang minta maaf ke aku, sebelum dia sekolah SMA di luar kota. Namun tidak dengan Mas Benteng, si mantan ketua Osis sekolah dulu.
"Kamu tahu gak, kenapa aku putus dengan Ayang karena apa?" ucapnya di kanton bersama denganku dan teman-temannya.
"Sudahlah, mas. Jangan di bahas, yang jelas kalian semua sudah lulus, dan masuk SMA." ucapku berusaha tidak mengatakan sesuatu.
"Aku putus denga saudaramu itu, karena sejak awal kita bertemu. Aku suka dengan kamu, Rae." Ucapan Mas Benteng membuat aku terkejut.
"Tapi, karena komitmen kamu masih memikirkan belajar. Aku lebih baik memendamnya, karena aku tidak mau mengganggu konsentrasi belajar kamu." Jelasnya penjang lebar kepadaku.
"Namun sayangnya, kamu enggak peka ketika Benteng memberi kode kepadamu, Rae." Ucap Kak Eky sambil menonyor keningku.
Aku hanya terdiam, mendengar penjelasannya dan hatiku lega karena selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku mungkin, tidak bisa menemani sekarang. Karena aku sudah lulus SMP, dan lanjut SMA. Pesanku, kalau kita ketemu lagi. Jangan menghindari lagi, ya?" ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, dan menatapnya dengan sendu. Karena itu, ucapannya yang terakhir sebelum dia pergi keluar kota bersama keluarganya. Jujur, aku sedih dia pergi tanpa pamit. Namun cintaku kepadanya, tak pernah aku lupakan hingga menemani setiap langkahku.
*****
Tamat...