Suatu pagi, ketika Lina hendak mencuci pakaian di tepi sungai. Ia tak sengaja mendapati seorang lelaki tidak sadarkan diri dibawah pohon. Merasa aneh juga penasaran, Lina perlahan mendekati lelaki itu.
"Oh Tuhan...tampan sekali lelaki ini, nampaknya dia bukan berasal dari desa kami. Tapi mengapa dia bisa tak sadarkan diri disini?" gumam Lina.
Awalnya Lina berusaha membuat lelaki dihadapannya sadar. Segala usaha yang dilakukan Lina sia-sia, padahal ia telah menampar dengan keras wajah lelaki itu. Akhirnya Lina memutuskan akan membawannya pulang setelah selesai mencuci pakaiannya.
Beberapa saat kemudian, Lina selesai mencuci bersih seluruh pakaian yang dibawanya. Lina memastikan sekali lagi, baru saja Lina akan menyiram lelaki itu dengan air. Lelaki itu bersuara, "Jangan coba-coba." Namun lelaki itu bersuara tanpa membuka matanya, lelaki itu menggerang kesakitan dan memegangi dadanya yang bidang.
"Eh...ka...kau kenapa?" tanya Lina panik sambil menyentuh tangan lelaki itu.
"Ah! panas sekali tubuhnya!" teriak Lina kaget.
Lina semakin bingung juga panik. Lina juga sempat bingung mau menolong lelaki itu atau meninggalkannya sendirian. Kini lelaki itu telah terbaring di tempat tidur Lina. Lina membawa lelaki itu berkat pertolongan adik laki-lakinya, Riko. Lina hidup bersama Riko dan ayahnya, Aldo. Namun saat ini ayahnya sedang tidak berada di rumah.
"Kak apa kau yakin mau merawat orang asing ini? bagaimana kalau orang ini orang jahat atau mungkin dia perampok yang habis dikejar warga lalu dipukuli hingga tak sadarkan diri?" berondong Riko.
"Kau benar...tapi jika ia perampok, seharusnya ia membawa hasil jarahan bersamanya" jawab Lina sambil melihat lelaki itu.
"Hm...yasudah kalau begitu, terserah kakak saja. Aku pergi dulu membantu ayah menangkap ikan." Lanjut Riko yang kemudian berjalan pergi.
Kini tinggal Lina dan lelaki itu. Lina meletakkan telapak tangannya pada kening lelaki itu. "Masih sama, apa dia demam tinggi?" gumam Lina yang kemudian berjalan pergi mengambil baskom berisi air dingin dan kain bersih.
Lina menjaga lelaki itu hingga petang. Ayah dan adiknya juga sudah kembali ke rumah. Ayahnya telah mengetahui bahwa Lina menolong seorang lelaki dan membawanya pulang dari Riko, ia tidak marah bahkan setuju dengan tindakkan Lina.
Tengah malam. Lina yang tertidur di sofa ruang tamu merasa ada hawa dingin yang hendak menyentuh lehernya. Lina pun terbangun. "Ah...!" jeritan Lina yang langsung dicegah oleh lelaki yang ia selamatkan. "Diam...aku haus" bisik lelaki itu datar.
Lina mengangguk dan lelaki itu pun melepaskan tangannya dari bibir Lina. Tangan Lina yang tadinya tenang menjadi gemetar akibat tatapan dingin dari lelaki itu yang terus menatapnya tanpa berkata apapun. Mata lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi ungu gelap dan seketika itu Lina tak sadarkan diri.
Lina perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat. Selain itu ia merasa tidak bertenaga, bahkan mengangkat tangannya sendiri hampir tidak mampu ia lakukan. Dengan sekuat tenaga Lina menggerakkan tangannya. Lina memegang lehernya yang terasa nyeri dan membuatnya meneteskan air mata.
Aku kenapa? mengapa pandanganku tidak jelas? apa yang sebenarnya terjadi? aku dimana? terakhir kali aku tak sadarkan diri akibat lelaki itu! matanya, benar! aku melihat matanya berubah memancarkan sinar ungu yang membuatku seketika tak sadarkan diri? apa jangan-jangan...ucap Lina dalam hati.
"Kau sudah sadar..." ucap lelaki itu sambil mengusap lembut air mata Lina.
orang ini! aku sudah menyelamatkannya tapi apa yang ia perbuat padaku! batin Lina.
***
"Cari tuanku sampai dapat! jika tidak...akan aku habisi seluruh keluarga kalian!" ucap seorang pria berjubah hitam dengan nada tinggi.
"Baik!" jawab sekelompok pria lainnya yang berpenampilan sama.
"Tuanku...mengapa kau menghilang begitu lama? mengapa kau lari dari kami?" gumam pria itu sambil mengepalkan tangannya.
***
Lina kini telah sadar sepenuhnya. Ia juga telah bertenaga karena susu segar dan ikan bakar pemberian lelaki itu. Lina duduk sedikit jauh dari lelaki itu, Lina terus menatap lelaki itu penuh kebencian. Lina mengajukan banyak pertanyaan, namun tak satupun terbalaskan.
Lelaki itu duduk dengan mata terpejam sambil menundukkan kepalannya. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya sambil mengendus. "Mereka telah dekat." Ucap lelaki itu lalu bangkit dari duduknya.
"Apa! apanya yang telah dekat?" tanya Lina kaget.
"Hei...lepaskan aku!" teriak Lina karena lelaki itu mengangkat tubuh Lina begitu saja.
Lelaki itu memberi tatapan dingin yang membuat Lina seketika terdiam. "Bukan hei, tapi Jack." Ucap Jack datar. Jack kemudian berlari dan melompat dari dua dataran yang terpisah. Tentu saja, larinya sangat cepat bagaikan kilat dan lompatannya tidak seperti orang biasa, Jack mampu melompat hingga ketinggian 10 meter.
"Aaa.....makhluk apa kau sebenarnya...." jerit Lina dengan kedua mata tertutup.
Jack tidak menjawab. "Turunkan aku, kau makhluk aneh! aku telah menolongmu namun kau malah memperlakukanku dengan buruk!" teriak Lina lagi dengan nada kesal.
Jack berhenti. Jack menatap Lina sekilas lalu menurunkannya. Lina merasa perkataannya keterlaluan, tapi itulah kebenarannya. Jack membelai rambut pirang Lina dan berkata, "Kau cantik, aku suka." Perkataan itu membuat jantung Lina berdetak kencang, "Jantungmu...sangat cepat." Ucap Jack lembut. Lina terkejut, Jack bisa mengetahui detak jantungnya. Lina berlari menjauh dari Jack.
Jack mengejarnya dan menangkapnya dengan mudah. Lina tak bisa berkutik akibat mantra yang diberikan jack. Jack yang merasakan aroma klannya telah dekat, memutuskan bersembunyi pada goa yang tak jauh dari sana. Ketika masuk Jack terkejut, begitu juga dengan Lina. Lina terkena mantra, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya namun masih bisa berbicara dan melihat.
"Yang mulia pangeran, pulanglah bersama kami" ucap seorang pria jubah hitam, Lorin penasihat pangeran sambil membungkukkan badan memberi hormat.
"Hahaha...aroma manusia..." tawa sekelompok pria dibelakang Lorin.
"Jangan ada yang berani menyentuhnya!" ucap Jack tegas.
"Aroma manusia! siapa kalian sebenarnya?" tanya Lina dengan nada tinggi dan melihat sekelilingnya.
Lorin tersenyum sinis lalu berkata, "Kami bangsa vampir..." kemudian melepaskan jubahnya dan tersenyum lebar.
Mata Lina melotot sejadi-jadinya melihat taring pada gigi Lorin, kulit pucat dan telinga yang aneh. "Va...vampir?! apakah?!" tanya Lina gugup.
"Benar...orang yang memelukmu adalah seorang vampir. Yang mulia, Jack" ucap Lorin membenarkan.
"Ternyata benar dugaanku! seharusnya aku biarkan kau mati dan tak akan pernah membawamu!" seru Lina dengan nada tinggi penuh penyesalan.
Jack menatap Lina yang mulai meneteskan air mata. Jack mengerutkan dahinya lalu melihat kearah lorin dan anggota klan yang mengelilingi Jack dan Lina. "Kalian...membuat pengantinku menangis." Ucap Jack dengan nada datar dan tatapan membunuh. Jack mengangkat tangannya dan menyerang Lorin dengan kekuatan sihirnya. Seketika Lorin dan yang lainnya terhempas hingga mengeluarkan darah.
"Yang mulia! apa anda akan menjadikan manusia sebagai ratu vampir?!" bentak Lorin.
"Diam! kau beraninnya membentakku!" sela Jack tegas.
"Apa maksudmu...siapa yang pengantinmu?" sahut Lina.
Jack membelai wajah Lina, ia juga tersenyum penuh arti dan berkata, "Jadilah pengantinku..."
"Tidak aku tidak..." potong Lina, belum selesai ia berbicara,
"Atau adik dan ayahmu akan kujadikan vampir dan ku jadikan makanan hewan peliharaanku" lanjut Jack dengan serius.
"Kau..." Lina tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia menangis dan memukuli dada bidang Jack.
"Aku beri waktu 3 detik...3...2..."
"Baiklah! baiklah, aku akan menjadi pengantinmu. Tapi jangan siksa ayah dan adikku." Jawab Lina sambil menahan air matanya yang hendak keluar lagi.
Jack tersenyum penuh kemenangan. Ia langsung menancapkan taringnya dan membuat Lina menjerit kesakitan. Gigitan itu akan mengubah dirinya menjadi seorang vampir. Lina akan hidup abadi dan menjadi penghisap darah. Lina benar-benar tidak menyangka bahwa takdir nya adalah seorang vampir.
Tamat...