Seorang gadis terdiam di halte bis sembari memegang hasil ujiannya. Sebuah nilai yang harusnya jadi kebanggaannya kini lenyap sudah, nilainya menurun dengan drastis hingga ia berada di urutan paling bawah. Faktor utamanya adalah malas, ia malas membaca buku bahkan tidak lagi fokus memperhatikan guru ketika sedang menerangkan.
Amira, menatap lekat-lekat selembar kertas yang sedang ia pegang dari tadi. Sebuah nilai matematika terlihat jelas berwarna merah di sudut kanan kertas tersebut. Amira menghela napas, ia takut Ibunya akan marah saat melihat nilai tersebut.
Amira di landa kebimbangan sekarang, ia memutuskan untuk berbohong jika kertas hasil ujiannya telah hilang waktu ia akan pulang dan Amira mendapatkan nilai 90. Amira menganggukkan kepalanya, cara itu sepertinya akan berhasil. Ibunya mudah mempercayainya karena Amira tidak pernah berbohong. Tapi sekarang ia memutuskan untuk membuat kebohongan, Amira takut sebuah sapu melayang di tubuhnya yang kecil. Ibunya kadang-kadang sangat keras kepadanya jika menyangkut tentang nilai yang ia dapat dari sekolah.
Amira memutuskan untuk pulang, setelah ia melipat kertas itu menjadi kecil dan menyimpannya di dalam tas. Ibunya tidak akan memeriksa tasnya, ia hanya akan memeriksa buku tugasnya saja.
Amira dengan ragu membuka pintu rumah, Ibunya pasti sedang berada di ruang tamu sembari menonton tv. Amira masuk ke dalam bersamaan dengan Ibunya menoleh karena suara pintu terbuka.
Ibunya menghampirinya. “Mana lihat?” Ibunya menyodorkan tangan dihadapan Amira. Gadis itu terdiam, tangannya memainkan tangan satu lagi. Amira tampak gugup saat Ibunya terus saja menatapnya dengan tajam.
Amira menghela napas sebelum mengawali kebohongannya, dengan gugup ia menjawab. “Em … kertasnya hilang, Bu.”
Ibunya menatap Amira yang gugup itu setengah mati. Buku jari gadis itu mendingin, kakinya bergetar ia takut Ibunya curiga kalau ia sedang berbohong.
Ibunya menghela napas lalu mengelus pucuk rambut anaknya. Amira menatap Ibunya yang pergi, menghela napas panjang. “Nilainya 90 kok, Bu," dustanya.
Kebohongannya terulang lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Amira lagi-lagi menghela napas saat Ibunya sudah tidak ia lihat di netranya, Amira lolos kali ini. Gadis itu tersenyum bangga selagi berjalan menuju kamarnya.
Kejadian itu tidak membuat Amira sadar, gadis itu malah semakin malas membaca karena terlalu sibuk mengurusi sosial media miliknya.
Amira bahkan tak lagi mengerjakan PR yang guru perintahkan, ia menganggap bahwa dirinya sudah pandai dan tidak perlu lagi belajar.
Satu semester berlalu dengan cepat, hari-hari Amira hanya di hiasi dengan sosial media. Amira tidak lagi belajar kelompok seperti biasanya, ia hanya terdiam di kamar.
Orang lain sibuk dengan buku pelajaran dan kelas onlinenya, sedangkan Amira fokus pada media sosial dan juga game di ponselnya.
Amira masih bermalas-malasan, ia tidak mau belajar bahkan sering bergadang. Semua guru tampak bingung dengan perubahan nilai Amira yang semakin lama menurun bukannya naik lebih baik.
Hari ini, hari di mana ujian kenaikan kelas di mulai. Biasanya Amira menghapal dengan giat tapi malam tadi ia hanya membuka buku pelajaran di atas nakas tanpa membacanya. Cara itu supaya Ibunya percaya bahwa, Amira sedang belajar seperti biasanya.
Amira mengerjakannya dengan asal-asalan menebak, karena menurutnya instingnya sangat kuat dan pasti ia akan mendapatkan nilai yang bagus tanpa belajar. Hingga di penghujung hari ujian selesai, Amira masih malas dan tampak tidak bersemangat untuk belajar.
Hasil ujian keluar, nilai Amira semua ada di bawah 50. Membuat Amira terkejut saat menerima hasil ujiannya, tapi ia memutuskan lagi berbohong pada Ibunya.
Di tempat yang lain, Ibunya menyadari ada yang salah dengan anaknya. Ia tidak lagi mendengar Amira membaca buku dengan keras dan hasil ujian milik anaknya selalu hilang tanpa sebab.
Telepon rumah berdering, ibunya mengangkat telepon tersebut bertepatan dengan Amira yang berada di rumah. Telepon tersebut dari wali kelas tempat anaknya belajar, gurunya mengatakan bahwa nilai Amira menurun drastis hingga peringkatnya ikut menurun.
Ibunya baru menyadari bahwa anaknya sedang berbohong tentang nilai yang selalu anaknya bicarakan. Wanita parubaya itu tampak terlihat marah, ia membuka pintu kamar anaknya dengan keras.
Membuat Amira yang sedang memegang ponsel sontak menjatuhkan ponselnya. Amira seketika gugup, ia belum pernah melihat Ibunya marah seperti ini. Pasti Ibunya mengetahui bahwa ia berbohong tentang nilai, Amira menunduk.
“Amira sudah berani, berbohong sama Ibu?” tanya Ibunya, Amira hanya terdiam lalu menangis.
Ibunya menghela napas lalu memeluknya. Sebenarnya ia pun tidak akan marah jika Amira mendapatkan nilai kecil, ia marah karena Amira tidak bertanggungjawab dengan kewajibannya sebagai pelajar.
Semua itu membuat Amira tersadar, bahwa bermalas-malasan tidak akan membuat seseorang pintar tapi malah akan semakin bodoh. Dan berbohong itu tidak baik apalagi tentang nilai kepada orang tua.
Amira menyadari bahwa Ibunya tidak segalak yang ia bayangkan, seorang Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Amira sekarang berubah, tidak lagi bermain ponsel dan pokus belajar.