"Rasanya benar- benar sakit..., seperti inikah rasanya patah hati..., sedih.., hatiku rasanya perih, bagaikan disayat-sayat oleh pisau, ingin rasanya aku mati saja, aku tidak kuat menghadapi cobaan ini." Bathinku terus mengeluh merasakan sakit yang bertubi-tubi.
Bukan hanya jiwaku, ragaku_pun seakan tak mampu lagi untuk berdiri tegak, apalagi memandang langit, memandang bumi pun seakan sangat malu.
Aku tahu, seisi dunia sedang mengejekku, sebab aku tidak jadi menikah, karena tunanganku... ternyata lebih memilih menikah dengan sahabat karibku sendiri.
Hanya ini yang bisa aku lakukan setiap hari, merantapi nasib di malam hari, duduk di bawah jendela, di temani oleh cahaya bulan dan angin sepoi- sepoi malam.
Burung hantu sudah menjadi teman bagiku, apalagi kelelawar yang katanya makhluk pembawa racun, bahkan suara lolongan serigala tak jadi masalah buatku, biar lah...aku tak takut jika kelelawar itu menggigitku,...biar saja aku mati...daripada aku harus terus berpura - pura tersenyum dikala sinar matahari mulai terbangun dan menyinari seisi dunia .
Seakan kejadian memalukan ini hanyalah kejadian yang wajar wajar saja bagiku, padahal bathinku menangis pilu....merasakan malu, sedih, kecewa,bercampur sakit hati.
Jika saja bunuh diri adalah halal, mungkin dengan senang hati sudah ku tancapkan pisau tepat di jantungku.
***
Hingga pagi hari tiba,... aku menyadari, diriku ketiduran di atas kursi dengan jendela yang terbuka sejak tadi malam.
Hembusan angin pagi membelai kulitku, membuat bulu romaku merinding, karena hawa dingin yang menyelimuti.
" Lyra....." Suara ibuku memanggilku...
Aku menutup kembali jendela kamarku, sebelum menyahuti penggilan ibuku untuk menyuruhku sarapan.
" Iya bu..." jawabku sambil membukakan pintu kamar untuk beliau.
" Rupanya kamu begadang lagi lyra..., lihat mata pandamu, ck..ck..." ucap ibu, dengan menggelengkan kepalanya, mendecakkan lidah, menyayangkan tindakanku yang terus menerus bergadang setiap malam.
"wajahmu juga kelihatan kusut..., mau sampai kapan kamu seperti ini lyra....?" lanjutnya lagi, mengomeliku.
Hoamm...
aku menguap, berpura- pura mengabaikan ibu.....padahal aku juga sedih atas diriku sendiri.
" Aku mandi dulu bu..." ucapku, sembari berjalan mengambil handuk di gantungan lalu cepat - cepat ke kamar mandi.
Dari dalam kamar mandi, ku dengar ibu menutup pintu, yang berarti beliau sudah keluar dari kamarku.
***
Aku berusaha menampilkan senyum se ceria mungkin, ketika berpapasan pada siapa saja yang aku kenal di jalan dan juga di tempat kerja. Aku ingin terlihat tegar atas tragedi yang menimpaku, batalnya pernikahanku.
" Laporan ini kamu kerjakan! , besok kamu serahkan kepada saya!"
Pak Burhan, atasanku memberikan pekerjaan,siang itu.
Aku bekerja di sebuah departemen store, sebagai tenaga manajemen keuangan. Hari hariku hanya berkutat di dalam kantorku saja, bahkan makan siangku di antarkan ke kantorku juga.
Dulu aku bertemu dengan Johan, tunanganku, ketika aku masih di tempatkan di bagian pemasaran , dulu kami sering bersama setiap waktu, dan akhirnya saling jatuh cinta, lalu memutuskan mengikat satu sama lain dengan cincin. Sampai dia di angkat sebagai manajer pemasaran dan aku sebagai tenaga keuangan.
Lalu akhirnya kami berpisah, tanpa aku tahu penyebabnya, tiba- tiba saja dia membatalkan pertunangan kami dan menjalin hubungan dengan Sinta, sahabat sekaligus teman masa kecilku.
Membayangkan penderitaanku rasanya tak ada habisnya, aku sengaja menghibur diri dengan mengerjakan semua laporan dari pak Burhan, yang membuat kepalaku senut - senut akibat berpikir terlalu keras.
Dan akhirnya aku menjadi pulang malam ,gara gara merampungkan laporan yang pak Burhan berikan.
Sampai di rumah, sudah larut malam, kedua orang tuaku dan juga adik- adikku nampaknya sudah tertidur pulas, untunglah ibu selalu mengingatkanku untuk membawa serta kunci rumah yang katanya " jaga-jaga" di kala aku pulang malam, ternyata ibu ada benarnya juga", ucap bathinku.
***
Malam ini aku tertidur lebih awal dari biasanya, mungkin karena hari ini aku kelelahan, hingga seluruh saraf sarafku menuntutku untuk segera membaringkan badan, mengembalikan saraf saraf yang lelah.
Sebuah mimpi yang aku alami yaitu bertemu dengan sosok makhluk misterius yang belum pernah aku temui sebelumnya, mata itu terlihat tajam dan bulat, nampak sangar, seolah sedang mencari mangsa.
Aku terbangun dengan jantung berdebar cepat dan keringat dingin membasahi sekujur badanku.
***
Seminggu berlalu, hari - hari seperti biasa yang aku alami, tidur, bekerja, pulang dan tidur lagi. Rutinitas itu membosankan , membuat pikiranku jenuh, hingga aku putuskan untuk pergi ke sebuah tempat rekreasi dan itu kali pertama aku bertemu dengan dia.
Berkulit coklat, dengan mata tajam dan hidung mancung, perawakan sempurna dan ada satu yang menjadi ciri khasnya, dia selalu berpakaian warna hitam dan terus memakai jaket yang panjang hingga ke lutut.
Kami berkenalan, dan dia mengerti semua akan diriku, kebiasaanku, warna favorit baju yang aku pakai, bahkan tahu kebiasaan waktu tidurku.
Awalnya aku sempat curiga, tapi dia berkata bahwa rumahnya tidak jauh dari rumahku, dan dia mengaku kalo dia seorang yang spesial (indigo).
Pengakuannya membuatku percaya dan mengesampingkan rasa ingin tahuku padanya.
Seratus hari kami menjalin hubungan, Orang tuaku menyuruhnya untuk segera menikahiku, karena pengalaman di masa lalu, kedua orang tuaku ingin hubungan kami langsung cepat menikah , tidak diperlukan lagi mengikat hubungan (tunangan)seperti dulu.
Atas kehendak orang tuaku, kami pun menikah, pernikahan berlangsung ramai, semua senang , pesta selesai dan kami memutuskan untuk berbulan madu di sebuah pulau.
" Abang....kapan travelnya akan menjemput?" tanyaku.
" Nanti malam...sayang...kita akan berangkat." jawab suamiku.
" Kalo begitu aku perlu mempersiapkan baju- baju dan barang- barang penting kita." lanjutku.
" Tidak perlu....!." jawab suamiku dengan membentak
aku terkejut dengan kata-katanya, tidak biasanya dia membentak seperti ini padaku, karena sejak pertama kami berkenalan, nada bicaranya selalu lembut. Tapi aku segera memakluminya, mungkin dia kecapaian dengan pesta satu hari yang lalu yang kami selenggarakan.
Sesuai perintahnya, aku hanya membawa satu baju ganti, dan peralatan mandi. Malam pun tiba, aku sudah bersiap menunggu travel yang akan menjemput kami. Lalu kami berpamitan pada keluargaku.
" Jaga diri kamu lyra.." ucap ibuku saat memberikan kata- kata pelepasan untukku dengan air mata menetes dari kedua matanya. Ibu nampak sedih dan berat hati, seakan perpisahan ini adalah terakhir untuknya. Sebetulnya aku pun tidak tega meninggalkan mereka( keluargaku), tapi aku harus menyenangkan suamiku dengan pergi berbulan madu.
Travel datang setelah kami berpamitan, kulihat wajah suamiku, sebelum masuk ke dalam travel tersebut, dia terlihat sangat bahagia. Aku melambaikan tangan pada keluargaku, perasaan sedih membuat air mataku mengalir membasahi pipi, kenapa aku merasa sangat sedih, seakan tidak akan bertemu mereka kembali.
Aku menghapus kedua air mataku, lalu bersandar pada suamiku. Kurasakan tubuh yang keras seperti sebuah kayu, dan tubuhku merinding membuat bulu bulu rambutku berdiri.
ku tengok wajahnya dan dia sedang tersenyum miring melihat keluar.
" Kenapa dia berbeda, nampak bukan seperti orang yang selama ini aku kenal" bathinku merasa aneh dan asing.
Perjalanan terhenti tiba- tiba,..
" Apakah kita sudah sampai?" tanyaku..
" ya.." Jawab suamiku singkat.
Aku memastikan keadaan sekitarnya dari dalam mobil, suasana gelap, tidak ada satupun lampu di sekitarnya.
" Dimana tempatnya?" tanyaku yang menjadi takut juga penasaran.
" Turunlah..nanti kamu akan tahu..." sahut suamiku.
Dengan berat hati akhirnya aku turun , dengan suamiku membantuku untuk turun dari travel itu.
Aku sudah berhasil turun dan berdiri di samping suamiku..
sebuah kabut tiba tiba muncul di hadapanku, dan kulihat travel itu sudah menghilang.
" Hah?" pekik ku, syok menyadari sekitarnya.
Suasana alam sekitar terlihat semakin berkabut dan mencekam, tiba tiba di balik kabut tersebut muncul banyak sosok aneh dan mengerikan. ular berkepala manusia, manusia berkaki serigala, dan burung hantu yang menjelma menjadi manusia.
" Ka...ka..mu...ka..mu adalah siluman?". ucapku tergagap, menyadari ternyata suamiku adalah bangsa siluman.
**** selesai...
author ;
Saya belum pandai menulis genre horor atau misteri...menulisnya juga merasa takut sendiri...karena saya orangnya takut sama hantu hantu dan sejenisnya...😁🤭