"Kamu tahu? Kadang aku berfikir kamu itu terlalu sempurna, dan hal itu bikin aku merasa kalau aku nggak pantas buat kamu"
Aska terdiam begitu mendengar perkataan kekasihnya.
Ya...Aska, dan Tiara sudah menjadi kekasih selama kurang lebih 3 tahun, bukan waktu yang sebentar, dan hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus, ada saja masalah yang datang, tapi mereka bisa melewatinya.
Dan sekarang, satu masalah kembali datang, bukan masalah besar, tapi tidak bisa dianggap sepele.
Tiara kini kembali merasa down, Aska tahu betul sifat, dan sikap kekasihnya ini, overthinking, sensitif, tidak percaya diri, hal itu lah yang menjadi masalah sekarang.
"Kamu pintar, rajin, baik, tampan, banyak orang yang suka sama kamu...sedangkan aku... aku ceroboh, canggung, penampilanku juga biasa saja, orang-orang kebanyakan tidak mengharapkan keberadaanku..." suara Tiara mulai bergetar, tanda ia akan segera menjatuhkan air matanya.
Tidak, Aska tidak kehabisan kata-kata, atau bingung harus berkata apa, justru Aska sudah menyiapkan cara untuk mengatasi situasi ini.
Tapi untuk sekarang Aska memilih untuk membiarkan Tiara mengeluarkan semua yang membebaninya terlebih dahulu, Tiara bukan tipe orang yang biasa mengeluarkan pendapatnya, jika memang ia sudah berani, itu artinya beban yang ada di pikirannya itu sudah terlalu berat untuk ia tahan.
"Selain aku...pasti banyak hiks yang lebih pantas untuk kamu...hiks, aku pasti hanya beban untukmu kan selama ini? Hiks...kalau memang kamu sudah lelah denganku...hiks kamu boleh kok...boleh kok bilang ke aku... aku...aku hiks" tangis Tiara pecah, ia tak mampu lagi menahannya, semua perkataannya benar-benar membuat hatinya sakit.
Aneh bukan? Ia yang mengatakannya, tetapi ia sendiri yang tersiksa oleh kata-katanya.
Aska menghela nafasnya pelan, tersenyum lembut, mengelus puncak kepala Tiara, lalu menariknya kedalam sebuah pelukan hangat, Tiara tak membalas pelukan itu, ia hanya menenggelamkan wajahnya didada bidang milik Aska, menghirup aroma mint khas parfum Aska yang membuatnya sedikit rileks.
"Sayang...kita sudah pernah membahas ini bukan? Kamu bilang kalau kamu cinta aku tanpa memandang apapun, kamu tidak butuh alasan untuk mencintai aku... lantas kenapa kamu tidak berfikir aku memiliki alasan yang sama seperti yang kamu punya?" Suara Aska lembut, tangannya tak berhenti mengelus rambut milik Tiara, Aska ingin agar Tiara bisa merasakan kalau ia sangat mencintainya.
"Dengar...aku cinta kamu, karena kamu adalah kamu, kamu adalah Tiara, perempuan yang sederhana, baik hati, dan selalu berusaha untuk tegar, kamu tidak perlu untuk menjadi orang lain agar bisa mendapat cinta dariku, karena...tanpa kamu berbuat apapun, aku tetap akan mencintai kamu" setiap kata yang ia keluarkan, Aska bersungguh-sungguh, itu bukanlah sekedar bualan agar Tiara berhenti menangis, andai Tiara saat ini menatap mata Aska, ia akan melihat betapa seriusnya Aska.
Aska melepaskan pelukannya, ia sedikit menunduk untuk menyetarakan tingginya dengan Tiara, lalu menggenggam kedua bahu milik perempuan itu.
"Baby...look into my eyes, and you'll see how serious i am" ujar Aska, sambil mengusap jejak air mata di pipi Tiara.
Dibalik mata indah itu, Tiara bisa melihat keseriusan Aska, hilang sudah keraguan yang ia rasakan tadi, lega... Tiara merasa lega, bebannya seolah hilang begitu saja.
"I love you...Baby" sambung Aska sambil berikan ciuman lembut di dahi Tiara, tanda kalau ia mencintainya sepenuh hati.
Tiara tersenyum tipis, ia bersyukur memiliki kekasih seperti Aska.
"I love you too" balas Tiara.
...
"Kamu perlu bantuan dengan itu?" Tanya Aska.
Aska, dan Tiara baru saja keluar dari supermarket, hari ini mereka membeli keperluan bulanan, dan belanjaan mereka cukup banyak.
"Aska, kamu udah bawa 2 kantung besar belanjaan kita, aku bisa bawa ini kok, lagi pula ini ringan" jawab Tiara.
"Oke" balas Aska.
Keduanya berjalan beriringan, sesekali melempar canda tawa, jarak antara supermarket, dan apartment Aska lumayan jauh, tapi mereka tetap menikmati perjalanan ini, lagi pula kalau berjalan bersama orang yang disayang tidak akan terasa lelah bukan?.
Lampu merah untuk pejalan kaki, mereka harus menunggu sejenak, membiarkan kendaraan berjalan.
Lumayan ramai, sehingga tanpa ada yang sadar, seseorang mendorong Tiara, cukup kuat untuk membuat posisinya berpindah ke tengah jalan, dan mobil melaju kearahnya.
Semua berteriak kaget, Tiara yang masih syok serta kaki nya terkilir, membuat gadis itu tak bergeming dari tempatnya.
Mobil semakin mendekat, suara orang-orang terdengar makin panik, Tiara menutup erat matanya, pasrah dengan rasa sakit luar bisa yang akan ia terima nanti.
...tapi...
Tiara tak merasakannya, ia tidak tertabrak, justru ia merasa tubuhnya diangkat, lalu Tiara memberanikan diri untuk membuka matanya, dan mendapati sang kekasih yang sedang menggendong dirinya dengan gaya bridal style.
Sosok sang kekasih, dengan mata emasnya, Tiara sangat suka warna mata Aska, dan juga...sayap putih dibelakang tubuh Aska?, tunggu...sayap?.
Aska mendudukkan Tiara di kursi taman yang tak jauh dari tempat ia hampir tertabrak tadi.
"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Aska.
...
"Lutut kamu berdarah, pasti karena tadi kamu terjatuh, sebentar aku obati" sambung Aska.
Cahaya putih keluar dari tangan Aska, iris Tiara melebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Tak butuh waktu lama, Aska pun menjauhkan tangannya dari lutut Tiara, dan luka yang Tiara punya...hilang.
Tunggu...bukan hanya itu yang aneh, kenapa orang-orang tidak bergerak? Apa mereka sedang mengikuti mannequin challenge bersama?.
"Maaf aku yakin kamu kaget sekarang, nanti begitu kita sampai di apartment akan aku jelaskan oke" ujar Aska, lalu memejamkan matanya, menggumamkan sesuatu, dan orang-orang kembali bergerak.
Begitu tiba di apartment, sesuai janjinya Aska menjelaskan semuanya pada Tiara.
"Jadi...aku harus mulai dari mana ya?" Aska terdengar ragu.
"Tunggu, aku sedang bermimpi ya? Pertama aku mengira aku akan mati, tapi ternyata aku diselamatkan oleh kekasihku, dengan cara menghentikan waktu, lalu aku melihat ia memiliki sayap putih, dan dia menghilangkan luka yang ada di lutut ku" Tiara benar-benar bingung, ia masih memproses kejadian yang ia alami barusan.
Aska tertawa canggung, rahasianya terbongkar, dan ia harus menjelaskan hal ini pada kekasihnya.
"Tiara, kamu tidak bermimpi, ini benar-benar terjadi, aku...sebenarnya..Ughh bagaimana menjelaskannya ya?" Aska bingung bagaimana caranya agar ia bisa menjelaskan kalau ia adalah malaikat penjaga pada kekasihnya?
"Kamu...malaikat penjaga yang pernah nolong aku waktu aku masih kecil kan?" Tanya Tiara.
Aska terdiam, jadi Tiara masih ingat? Iya... meraka memang menjadi kekasih sudah sejak 3 tahun yang lalu, tapi Aska mengenal Tiara sudah sejak lama.
"Haaa...oke, nggak ada gunanya lagi berbohong, iya aku malaikat penjaga yang pernah menyelamatkan kamu saat itu" jawab Aska.
"Dari awal aku memang diberikan tugas untuk menjaga mu, ya awalnya aku menyelamatkan kamu saat kamu hampir tenggelam karena ingin menyelamatkan kucing, tapi lama kelamaan, timbul perasaan lain, bukan hanya perasaan ingin melindungi, tapi juga ingin selalu berada didekatmu, dan ya...ini lah aku seorang malaikat penjaga yang jatuh cinta pada manusia" jelas Aska.
Tiara memeluk kekasihnya itu, tentu dengan senang hati Aska membalas pelukannya.
"Terima kasih, karena selalu ada didekatku, terima kasih" ujar Tiara.
"Aku juga berterima kasih padamu, karena mau menjadi kekasihku" balas Aska.
...Flashback...
Terlihat Tiara kecil sedang berusaha menyelamatkan kucing yang hampir tenggelam, tangan kecilnya berhasil meraih kucing itu, dan menariknya keluar dari air, tetapi karena tangannya yang licin, Tiara terjatuh dari dermaga, dan tercebur kedalam air.
Ia hampir kehilangan kesadarannya, lalu melihat cahaya putih mendekatinya, dan samar-samar melihat pria dengan iris mata berwarna emas.
Ia terbangun di pinggir sungai, keadaannya yang basah kuyup, cukup membuktikan kalau yang tadi bukanlah mimpi.
Beberapa tahun kemudian...
Tiara berjalan menunduk, tak berniat untuk menatap kedepan, hingga akhirnya tanpa sengaja menabrak seseorang,
Pandangan mereka bertemu, dan Tiara terpesona dengan warna iris pemuda itu, warna emas, mengingatkannya akan penyelamatnya saat kecil.
"Maaf, saya tidak melihat jalan"
"Tidak masalah, ngomong-ngomong nama saya Aska, kamu?"
"Tiara"
...
"Kami menitipkan dia padamu, tolong jaga dia"
"Baiklah, saya akan menjaga putri kalian, siapa namanya"
"Namanya Tiara"
"Tiara? Nama yang indah"
.
.
.
End~