Selasa, 31 Maret 2019 musim semi di London. Tunas-tunas bunga mulai bertumbuh menghiasi pagi hari.
Rheina telah merampungkan kuliahnya dan mendapat gelar sarjana designer di salah satu universitas di London. Hari ini Rheina memutuskan untuk pulang ke negara kelahirannya, Indonesia.
"Haaah, siap juga packing dari semalem, penerbangan masih 4 jam lagi, berangkat ke bandara sekarang aja deh, sekalian nunggu disana aja, biar nanti ga rempong buru-buru" (ucap Rheina yang baru saja selesai mengemas barang-barangnya).
Rheina sudah berada di depan apartemennya menunggu taxi datang menjemputnya, 10 menit Rheina menunggu, akhirnya taxi datang.
"Selamat tinggal apartemenku, selamat tinggal musim semi, maafin aku ya, aku ga bisa nemenin kalian tumbuh, tapi aku harap kalian tetap tumbuh menjadi bunga-bunga cantik yaaa... Indonesiaaa aku pulaaang" (ujarnya di dalam taxi sambil melihat jalan di kanan dan kiri)
Rheina memang sangat bahagia, karena disamping dia akan bertemu dengan keluarganya, dia akan bertemu juga dengan kekasihnya itu.
Setelah tiba di bandara, Rheina menerima telfon dari Zean, kekasihnya.
"Haloo sayang, kamu jadi pulang hari ini kan? " (tanya Zean di telfon itu).
"Jadii doong, aku udah di bandara nih, penerbangannya masih 3 jam lagi" (jawab Rheina).
"Loh masih lama tapi kok kamu udah di bandara?" (tanya Zean).
"Biar ga rempong aja yaang, tau sendiri kan aku suka klewat telat hahaha" (jelas Rheina).
"Hahaha dasar kamu ini, yasudah hati-hati ya, kabarin nanti kalau udah nyampe Jakarta, nanti aku jemput, aku mau lanjut kerja dulu, ada pasien masuk UGD barusan" (ucap Zean).
"Okeii, semangat kerjanya sayang i love you ❤️" (ucap Rheina).
"I love you too" (balas Zean lalu menutup teleponnya).
Kurang lebih 16 jam 20 menit Rheina di pesawat, akhirnya pesawat itu tiba di Indonesia.
"Yhaaaa... Bau-bau soto, rendang, nasi padang... Aaa aku kangen banget sama Indonesia" (ucapnya sambil memandangi sekeliling bandara internasional Soekarno-Hatta).
"Sayaaaaanggg!!!" (ucap Rheina yang berlari ketika melihat Zean menjemputnya).
Tak perduli dengan suasana, Rheina dan Zean berpelukan melepas kangen satu sama lain.
"Kamu mau makan dulu atau langsung pulang?" (tanya Zean pada Rheina).
"Aku mau makan soto deh, udah laper banget hehe" (ujar Rheina sedikit manja).
"Yaudah yukkk" (ajak Zean).
Sejak hari itu mereka sering menghabiskan waktu bersama, seperti jalan-jalan, nonton film di bioskop, dinner romantis di restoran mewah, namun semuanya kembali pada kesibukannya masing-masing, Zean yang sudah sibuk dengan jadwalnya yang padat sebagai dokter, dan Rheina yang sekarang membuka bisnis butiknya.
Pada suatu hari di butik Rheina kedatangan tamu/pelanggan, seorang wanita seusia Rheina.
"Selamat siang, bolehkan saya bertemu dengan designer Rheina, saya sudah membuat janji sebelumnya" (ujar Intan kepada salah satu pegawai Rheina).
"Baik, mari ikut saya" (jawab pegawainya Rheina yang mengantar Intan ke ruangan Rheina).
"Oh, noona Intan, mari masuk" (suruh Rheina yang melihat Intan datang).
"Rheina, saya ingin memesan baju untuk pernikahan saya bulan depan, apakah bisa?" (tanya Intan).
"Waah, bisa-bisa, buat bulan depan ya, yasudah saya ukur sekarang aja gimana? Supaya bajunya bisa langsung di buat?" (jawab Rheina).
"Boleehhh, tapi calon suami saya tidak datang, dia sibuk bekerja" (ucap Intan).
"Tenang saja, kamu tinggal kasih tau tinggi badan sama berat badannya saja, emm ngomong-ngomong kerja dimana calon suaminya?" (tanya Rheina sambil mengukur badan Intan).
"Calon suami saya dokter di salah satu rumah sakit Jakarta" (jelas Intan).
"Wahhh, pacar saya juga dokter tuh" (saut Rheina).
"Benarkah? Berarti mungkin saja mereka saling mengenal? Kalau gitu nanti kalian datang ya ke pernikahan ku" (ajak Intan).
"Baiklah, pasti akan ku usahakan" (jawab Rheina).
Setelah pekerjaannya di butik selesai. Rheina pulang ke rumahnya. Selesai membersihkan badan dan lain-lain, Rheina mengambil handphonenya mengabari Zean untuk mengajaknya ke pesta pernikahan Intan.
Sudah lama pesan itu terkirim, namun tidak ada balasan dari Zean.
"Sibuk banget ya, sampe jarang banget ngabarin aku sekarang" (batin Rheina).
Hari-hari berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Intan, tapi Rheina tidak bisa datang karena tidak ada respon dari Zean. Kini Rheina menikmati hari liburnya bersama dengan teman sekolahnya di salah satu cafe Jakarta.
"Rhein, kamu diundang ke nikahannya si Zean ga?" (tanya Arum, teman Rheina).
"Zean???" (tanya balik Rheina).
"Iya, Zean mantan kamu" (jelas Arum).
"Apaan sih hahahaha orang aku sama Zean belum putus juga, amit-amittt jangan sampe putus" (sangkal Rheina).
"Ha? Serius belum putus??? Tapi kok, coba deh liat nih, aku dikirimin undangan sama calon istrinya, tapi aku ga bisa dateng" (jelas Arum sekali lagi sambil menunjukkan undangan kepada Rheina).
Di undangan itu tertulis hari ini dan terdapat nama Intan dan Zean.
"Intan?" (tanya Rheina masih tak mengerti).
"Iya, ceweknya namanya Intan, dia anak pemilik saham di rumah sakit Zean bekerja, mereka dijodohin sama orang tua mereka" (jelas Arum).
Bagai disambar petir, guntur, badai, Rheina sama sekali tak menyangka hari ini akan menjadi bencana baginya.
Tanpa terasa air mata Rheina jatuh tanpa henti.
"Hei, Rhen, kamu kenapa? Apa ada yang salah? Rhenn..." (ucap Arum yang berusaha menyadarkan Rheina).
Tak berkata apa-apa, Rheina langsung beranjak dari duduknya dan berlari mencari taxi menuju ke pesta pernikahan itu.
"Ternyata ini alasan kamu jadi ga peduli sama aku, apa salah aku, kenapa kamu ga cerita dari awal. Aku pasti bakal ngerti kalo kamu jujur Zean" (ucapnya sendiri dalam tangisnya).
Setelah sampai didepan gedung resepsi, Rheina memberanikan diri untuk masuk dan melihat faktanya. Dan benar saja, Zean dan Intan sedang duduk di pelaminan. Rheina tak menyangka, jadi baju yang waktu itu dia rancang, itu adalah baju pernikahan kekasihnya.
"Selamat ya" (ucap Rheina singkat yang kini sudah berada tepat di depan Zean dan Intan).
"Rheina?? Kapan datang, mana pacarmu?" (ucap Intan polos yang juga tidak mengetahui cerita dibalik semua ini).
Rheina dengan tatapan kosong menjawab pertanyaan Intan dengan menunjuk ke arah Zean.
"Diaa, dia kekasihku, seorang dokter, yang menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba berada di pelaminan, tanpa mengucapkan kata selamat tinggal" (ucap Rheina gemetar namun masih berusaha tegar).
Bingung seakan tidak mengerti apa maksud Rheina, Intan hanya menatap Rheina dan Zean.
"Rhen, Rheina tunggu, aku bisa jelasin" (ucap Zean sambil memegang tangan Rheina).
Spontan Rheina mengibaskan tangan Zean dan berjalan mundur menjauhi Zean.
Semakin berusaha Zean mendekati Rheina, semakin menjauh Rheina darinya.
Rheina langsung berlari keluar gedung.
"Rheinaaa!!!!" (teriak Zean memanggil lalu mengejar mengikuti Rheina).
"Zeaaannn!!!" (teriak Intan memanggil Zean, Intan ingin mengejar Zean, tapi tidak bisa karena baju yang tengah ia pakai).
Rheina berlari sampai berhenti pada perempatan jalan.
"Jangan mendekat! Kamu tega Zean, aku ga ngerti lagi, aku bodooohhh, aku bodoh aku udah percaya sepenuhnya sama kamu" (ucap Rheina sambil menangis).
"Ini bukan kehendak aku Rhein, ini sudah perjanjian dari orang tua kami, aku gabisa nolak" (Zean berusaha menjelaskan).
"Bohoooongg!!!" (teriak Rheina)
"Sumpahh Rhein, tolong dengerin..." (ucap Zean terpotong karena menyadari ada mobil yang melaju ke arah Rheina).
"Rheina awaaassss!!!" (Zean berlari ke arah Rheina).
Dann "brakkkkkk" semuanya sudah terlambat, kini Rheina tergeletak di jalan dengan darah yang keluar dari belakang kepalanya.
"Rheinaaaaa!!!" (ucap Zean yang tengah memeluk Rheina yang berlumuran darah, dan menangis menyesal atas perbuatannya).
"CUTTTTTT!!!! Yakkk beri applause semuanya, kerja bagus hari ini. Akhirnya syuting episode terakhir hari ini selesai juga" (ucap sutradara).
"Wahhh akting mu tadi keren banget Jingga" (ucap Yohan/nama asli Zean)
"Hahaha, kamu juga keren tadi pake jas dokter, Dr. Zean hahaha" (saut Jingga/nama asli Rheina).