Hidupku berubah semenjak semenjak kehadiran dirinya. Seorang remaja berumur 18 tahun, tepatnya 5 tahun lebih muda dari umurku.
Aku tidak tahu dia itu sebenarnya apa, dikatakan manusia tapi hanya aku saja yang bisa melihat dirinya. Dikatakan hantu, tapi aku bisa menyentuh dirinya.
Aku sudah berulang kali menanyakan padanya, siapa dirinya? dimana asalnya? dan kenapa hanya aku yang bisa melihat dirinya.
Namun sayang, dia bilang dia tidak mengingat apapun semenjak awal pertemuan kami, itu membuatku heran.
Hal-hal aneh juga menimpa diriku setelah kehadiran dirinya, aku jadi bisa melihat hal-hal yang bisa dikatakan sangat diluar nalar.
Itu membuat diriku semakin risih dan sangat tidak nyaman!
Aku berulang kali menyuruh dirinya untuk pergi dari kehidupanku, barangkali semua masalah yang menghampiri diriku bisa ikut pergi.
Tapi, gadis itu tetap keukeh tidak mau meninggalkan diriku, dan terus mengikuti kemanapun aku pergi.
Mulai dari makan, jalan-jalan, kerja, dia juga selalu tidur disampingku setiap malam, dan parahnya lagi! dia samapi mengikuti aku saat mandi, itu membuat diriku sangat tidak nyaman.
"Aku takut jika sendirian." Itulah kalimat yang selalu ia ucapkan saat aku menyuruhnya berhenti mengikutiku.
Karena kasian padanya, aku memutuskan untuk membiarkan dirinya terus bersama dengan diriku kemanapun aku pergi.
Setiap waktu, setiap hari, ia selalu berada disampingku dan mengikuti kemanapun aku pergi.
Hari ini tepat sebulan semenjak hari pertaman aku bertemu dengan dirinya di tengah jalan.
*Flashback*
Hari ini aku pulang sangat larut, tak seperti biasanya. Wajar saja, kantor tempatku bekerja sedang berkembang pesat, membuat pekerjaanku bertambah dari hari ke hari.
Mataku sangat mengantuk sekarang, sangat sulit untuk ditahan. Namun, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan makin menambah kecepatan mobilku.
Ciittttt!! Brakkk!!...
Aku mengerem mendadak dan membanting setir hingga menabrak sebuah pohon besar, hingga membuat suara ban ku bergesek kasar dengan asapal hingga membuatnya berdecit sangat keras.
"Akh... Kepalaku sakit sekali.." Aku memegangi kepalaku, yang terasa seperti ingin pecah, aku benar-benar sial Hari ini, batinku.
Deg!!... Deg!!... Deg!!...
Jantungku semakin berdegup kencang saat aku menyadari sepertinya tadi aku baru saja menabrak seseorang. Aku sangat takut! bagaimana jika aku masuk penjara?
Aku memberanikan diri untuk keluar dan memeriksa orang yang kutabrak barusan, sebenarnya aku bisa saja kabur karena jalanan sedang sepi! tapi entah kenapa batinku terus berkata, Tidak!!
"Akh..." Suara seorang gadis remaja yang duduk tersungkur dijalan raya. Tapi, untung saja gadis itu baik-baik saja.
Aku melangkahkan kakiku untuk menghampirinya dan berniat untuk menolong dirinya.
Aku menggendong tubuh mungilnya untuk masuk kedalam mobilku, karena kupikir ia sedang terluka meskipum tidak ada bekas ditubuhnya sedikitpun.
"Dimana rumahmu? Biar ku antar" Ucapku padanya, namun dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku juga bertanya siapa namanya, namun dia bilang dia tidak ingat sama sekali. Jadi, kuputuskan untuk membawanya kerumahku untuk beristirahat dan akan mencari tahu keberadaan rumah dan keluarganya keesokan hari.
Keesokan harinya
"sudah ingat sesuatu?" Tanyaku, namun lagi-lagi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
Ting...Tong...
Aku berjalan bergegas menuju kearah pintu, untuk membuka pintu saat kudengar ada seseorang yang membunyikan belku.
Ternyata Doni, dia sahabatku. Dia datang berkunjung hari ini, seperti biasanya.
Dan aku menceritakan semuanya pada Doni, dari awal hingga Akhir tanpa ada satupun yang terlewatkan.
Doni memegang keningku, aku menepis kasar tangannya.
"Apa kau bermimpi? tidak ada siapapun disini!" Bisik Doni, hingga membuatku nergidik ngeri mendengarnya.
Aku menoleh kearah gadis itu yang dari tadi duduk tepat disampingku. Gadis itu hanya menunduk, dan tampak butir-butir bening membasahi pipinya.
Flashback Off
Hari ini aku memutuskan untuk memulai pencarian identitas gadis itu, aku bahkan samapai meminta cuti di kantor demi membantu dirinya.
Setelah pencarian yang cukup lama, bahkan memakan waktu sebulan lebih. Aku berhasil menemukan data-data tentang gadis itu.
Dia adalah seorang siswi kelas tiga sekolah menengah atas di salah satu sekolah ternama dijakarta.
Gadis ini mengalami kecelakaan saat sedang mengikuti study tour untuk acara perpisahan
sekolahnya. Busnya terguling hingga jatuh di dasar jurang.
Semua penumpang meninggal karena ledakan dahsyat beberapa menit setelah mobil itu menyentuh dasar jurang.
Gadis itu terpental keluar dari bus, sehingga dirinya bisa selamat. Namun sayang, harapan hidupnya sangat rendah.
Dia ditemukan oleh seorang warga didarah sekitar situ dan dibawa kerumah sakit kota. Gadis itu berhasil terselamatkan namun dia mengalami koma beberapa bulan.
Aku menceritakan semua padanya, dan dia bilang dia perlahan berhasil mengingat semua tentang dirinya, termasuk pada hari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya itu.
"Akh... Kepalaku sakit sekali!!" Gadis itu jatuh tersungkur dilantai, dia memegangi erat kepalanya yang terasa ingin pecah itu.
Jeritannya membuatku bergidik ngerik, terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
Aku menggendong dirinya dan membawanya masuk kedalam kamarku. Aku membaringkan tububnya diatas ranjang.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan selimut" Ucapku sembari mengelus rambut panjangnya, dan gadis itu hanya tersenyum disela-sela tangisnya.
"Istirahatlah..." Aku menyelimuti tubuh mungil gadis itu, yang masih berbaring diatas ranjangku.
"Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Aku sangat panik ketika menyadari roh gadis itu semakin memudar, aku memeluk erat dirinya
Entah mengapa aku sudah sangat nyaman saat dia berada disisiku, aku tidak mau kehilangan dirinya. Aku terus memeluk roh gadis itu semakin erat.
Namun semakin erat aku memeluknya, semakin kurasa kosong dekapanku. Tubuhnya semakin memudar dan perlahan lenyap dalam pelukanku.
Tanpa kusadari air mataku tumpah saat kurasakan pelukanku hampa, aku masih tidak berani melihatnya! aku sangat takut jika dia menghilang dan tak akan pernah kembali.
"Tidak! kumohon jangan tinggalkan aku! Aku tidak akan memarahi dirimu lagi! kumohon..." Aku menjerit seperti orang gila, saat kusadari dia benar-benar menghilang dari hidupku.
>>>
Sudah 3 tahun semenjak kepergian gadis itu, aku selalu menunggu dirinya didepan pintu, berharap suatu hari dia kembali dalam hidupku.
Aku juga sudah mengunjungi rumah sakit tempat tubunya dirawat, namun dokter bilang gadis itu dibawa pergi oleh keluarganya kesingapura untuk menjalankan perawatan medis.
Aku hanya terpaku saat itu, tubuhku sangat lemas hingga tidak bisa kugerakkan. Hatiku sangat sakit!
"Sudahlah, aku harus bisa melupakannya!" Aku berkata pada diriku sendiri.
Sebulan berlalu, aku benar-benar berusaha keras agar bisa melupakan gadis itu walaupun sangat berat.
Aku juga memutuskan untuk pindah dari rumah lamaku karena tidak ingin terus mengingat dirinya. Terlalu banyak kenangan bersama dirinya didalam rumah itu
Ting...Tong...
Aku bergegas berjalan menuju pintu, saat mendengar bel rumahku berbunyi.
"Eh..." Aku tersentak saat tiba-tiba seorang gadis berumur 20 tahunan memeluk erat tubuhku.
Sontak aku mendorong keras tubuhnya hingga ia mundur beberapa langkah dari hadapanku.
"Kau tidak mengingatku?" Aku memicingkan mata melihat gadis itu, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan dirinya.
"Aku masih ingat ada sebuah tanda lahir berbentuk hari dipaha sebelah kirimu!" Ucapnya sembari menyunggingkan senyum sinis menatapku.
Aku berusaha keras mengingat gadis itu, namun aku belum bisa mengenali siapa dia?
"Kau?" Aku tersenyum sumringah dan langsung memeluk erat tubuh mungilnya, Saat kusadari dia adalah gadis yang kutunggu selama beberapa tahun terakhir.
"Kenapa kau meninggalkan aku tanpa kabar? Kau tahu, aku selalu menanti dirimu sepanjang waktu!" Aku tanpa sadar menangis dalam pelukan seorang gadis.
"Apa kau merindukanku?" Gadis itu melepaskan pelukanku dan tersenyum sinis mengejek diriku.
"Lebih dari itu, aku bahkan sangat merindukanmu hingga membuatku tanpa sadar mencintai dirimu!" Ucapku tanpa malu, karena aku tak mau kehilangan dirinya lagi, jika tak mengungkapkannya sekarang.
>>>
Selang beberapa minggu kemudian, aku menemui orang tuanya untuk meminta izin untuk mempersunting dirinya.
Aku tidak ingin berpacaran dengannya, karena kurasa aku sudah cukup mengenalnya sejak lama.
Untunglah orang tuanya menerima lamaranku, dan bulan depan aku akan langsung memperistrinya.
Kuharap keluarga kami akan menjadi keluarga yang bahagia....
Tamat...