Desa seruni adalah desa yang asri,damai dan sejuk. Pepohonan terlihat disetiap sudut desa, damai itulah kata yang cocok untuk desaku ini.
Masyarakat di desaku bermatapencaharian sebagai petani, kita hidup rukun dan damai.
Namaku putri Cantika biasa dipanggil putri oleh orang-orang sekitar. Aku anak tunggal artinya aku tidak memiliki saudara, keluargaku bekerja sebagai petani sebab desa yang berada di kaki pegunungan.
Usiaku sudah 20 tahun, sehari hari aku membantu orang tuaku dalam berkebun.
Kulitku yang bersih dan bentuk muka yang lumayan cantik membuatku di sebut sebagai bunga desa. Namun hal itu tak membuatku besar kepala karena menurutku aku gadis biasa.
Ayahku bernama Budi dan ibuku bernama Murti.
Apakah ayah hari ini akan ke kebun? Tanyaku kepada ayah
Tidak nak, hari ini ayah ada keperluan lain. Saut Budi ayah putri
Ya sudah yah aku mau ke kebun sendiri saja.
Baiklah hati-hati jangan terlalu sore untuk pulang.
Baik ayah.
Setelah itu aku berpamitan kepada ibu dan ayah untuk ke kebu. Kebun keluargaku lumayan jauh dari rumah yaitu didaerah sekitar lereng gunung, namun aku tak merasa takut sedikitpun karena sedari kecil aku biasa ikut ayah ke kebun.
Errrr...srek...srek...
Suara apa itu? Pikirku, pelan-pelan kulihat asal suara itu yang berada di bawah pohon bambu yang cukup rimbun.
Kuberanikan diri melihat karena rasa penasaranku yang menggebu.
Saat sudah dekat ternyata ada seorang laki-laki sedang terluka, karena tidak tega aku berniat untuk menolongnya.
Hey...maaf kamu sedang terluka? Tanyaku
Namun tak ada jawaban darinya, kulihat ia sedang menahan sakit terlihat sekali dari mukanya yang terlihat pucat. Terlihat badannya penuh luka, tapi yang paling parah adalah di daerah dadanya.
Kuberanikan diri untuk mendekat, saat aku berada di dekatnya laki-laki tersebut dak bergerak karena tak ada penolakan aku memeriksa lukanya dan ternyata cukup parah, aku berkeliling daerah lereng gunung untuk mencari tumbuhan-tumbuhan obat. Tak ada waktu untuk kembali ke rumah untuk mengambil obat luka keburu orang ini benar-benar mati nanti.
Setelah kejadian itu kami sudah akrab entah bagaimana kami bisa berteman. Dia bernama Angga begitulah dia mengatakan padaku, rumahnya dia bilang ada di desa sebelah.
Dan untuk luka tempo hari dia tidak mengatakan apa-apa seakan ada yang di sembunyikan. Karena tak mau terlalu ikut campur aku tak bertanya lagi.
Hubungan ku dengannya semakin dekat aku merasa nyaman dengannya. Dia selalu datang tiap aku ke kebun, entah kebetulan atau disengaja aku pun tak tau.
Orangtuaku juga sudah tau kalau aku mempunyai teman laki-laki bernama Angga karena mereka sempat bertemu dan berkenalan.
#####
Disisi lain
Angga kamu dari mana saja? Panggil seorang paru baya pada Angga
Aku dari bermain ayah. Jawab Angga
Ayah sudah bilang jangan terlalu dekat dengan manusia. Apa kamu mengerti?
Selalu ayah bilang begitu? Kenapa ayah Angga sudah besar sudah tau mana yang benar dan salah.
Huf...terdengar helaan nafas dari ayah Angga
############
Eh tau gak dengar-dengar kalau ada sekelompok vampir yang menyerang manusia di desa sebelah dan banyak korban.
Masak iya? Ih serem harus lebih hati-hati kalau malam gak boleh keluar rumah.
Terdengar tetangga yang sedang bergosip. Aku jadi takut mendengar cerita ibu-ibu itu.
Saat tiba di kebun kulihat Angga sudah menunggu ku di bawah pohon yang biasa kami duduku.
Put...ada yang mau aku omongin. Kata Angga
Katakan saja. Jawabku
Emmm.... sebenarnya aku menyukaimu
Perasaan apa ini, hati senang mendengar pernyataan Angga. Karena sebenarnya akupun sama menyukainya.
Beneran kamu menyukai ku?
Bener put sumpah deh. Kata Angga sambil mengangkat tangannya membentuk huruf v
Baiklah, aku juga menyukai mu.
Setelah itu kami menjadi pasangan kekasih.
######
Angga apa yang kamu lakukan? Kamu pacaran dengan manusia? Kata ayah Angga
Iya ayah. Aku menyukai nya aku tau aku salah tapi bagaimana lagi yah.
Kalian berbeda ga
Tapi yah, apa gak ada cara lain agar kami tetap bersama?
Hemmm... Dulu nenek moyang kita ada yang seperti mu.
Terus yah?
Jalan satu-satunya kekasihmu harus menjadi sepertimu?
Tapi yah...!kaget Angga
#####
Siang ini aku dan Angga lagi jalan-jalan , aku ajak Angga untuk mampir ke rumahku, awalnya Angga tidak mau namun aku memaksanya.
Ayolah gak sekali-kali main ya ke rumah. Ibu ku masak enak hari ini
Tapi put, lain kali aja ya.
Pokoknya sekarang ya ...ya....ya
Tapi ini udah sore.
Gak apa-apa ayolah ga. Please
Karena desakanku Angga pun mau.
Sesampainya di rumah orang tua ku sedang duduk di ruang makan sepertinya sudah menungguku.
Hay...ayah...ibu
Sapaku kepada ayah dan ibu
Iya putri sudah pulan? Tanya ibu
Iya Bu. Sekalian aku ajak Angga untuk makan disini
Eh nak Angga silahkan nak.
Mereka pun makan dengan hikmat. Selesai makan Angga berniat pamit pulang. Namun niatnya di urungkan karena ada suara dari luar pintu.
Permisi kata seorang laki-laki semuaran dengan Angga bersama laki-laki agak tua sepertinya itu ayah nya.
Eh pak Ahmad. Kata pak Budi
Iya pak.
Ada apa ya pak?
Begini pak saya mau menagih janji bapak untuk menikahkan putri dengan anak saya.
Hem gimana ya pak, anak saya sudah punya kekasih.
Angga yang mendengar itu sudah emosi ingin sekali menghabisi orang itu karena berani mau merebut kekasihnya. Mata nya sudah mengkilat tanda sudah ingin memangsa musuh.
Tidak bisa megitu dong pak. Kan bapak sudah janji akan menikahkan anak bapak dengan anak saya. Apa karena laki-laki tengil ini bapak mengingkari janji?
Bukan begitu pak tapi...
Ucapannya terpotong disela oleh pak Ahmad.
Alah bapak ini malah gak ngaku.
Pak pokokny aku mau nikah sama putri kata Saiful anak pak Ahmad.
Si putri hanya diam bersembunyi bdi belakang Angga karena takut.
Tanpa aba-aba Angga langsung berlari secepat kilat dan menghabisi saful dan pak Ahmad.
Kemarahan Angga sudah mencapai batasannya, leher pak Ahmad dan Saiful sudah berlubang dengan mata melotot tak bernyawa.
Putri dan kedua orang tuanya gemetaran tidak menyangka kalau Angga adalah sosok lain dari manusia
Dia ternyata adalah vampir.
Tak mau ambil pusing dengan keterkejutan mereka, karena Angga sudah benar-benar dibutakan cinta dan mengingat bahwa putri bisa menjadi vampir. Tanpa di duga Angga secepat kilat menggigit tangan putri.
Setelah itu putri tak sadarkan diri. Tak mau berlama-lama dan menghiraukan kedua orang tua putri. Angga membawa putri ke tempatnya.
Entah bagaimana dengan orang tua putri melihat anak semata wayangnya dibawa oleh seorang vampir