Senang rasanya bisa menghilang dari hiruk pikuk ibu kota yang memuakkan. Di sini lah aku saat ini, berteman kan udara yang bebas polusi, duduk dengan tenang di antara bebatuan dan juga dengan nyanyian burung serta suara debur ombak yang membuat kedamaian.
Kepada laut biru ini, ku tumpahkan segala curahan hati. Tentang kekasih yang telah mengkhianati. Tentang kemunafikan yang sering ku lihat di perusahaan tempat ku mencari rezeki. Aku menyukai tempat ini, dimana keindahan, kesunyian, kemesraan dan kemisteriusan alam berbaur mesra. Indah, tanpa tedensi politik apapun. Tanpa ada yang terlihat saling menjilat kaki atasan agar dipandang sebagai pekerja giat padahal hanya pintar bersilat lidah. Muak aku pada kepalsuan itu!
Dan di tempat pelarian ini aku telah bertemu dengannya, gadis cantik dengan rambut panjang terurai, matanya emerald, bibirnya sungguh menggoda. Aku tak tahu namanya, tapi setiap kali ia tersenyum aku suka memanggilnya "sayang" Meski ia berulang kali memperkenalkan dirinya dengan nama "Mer".
"Kenapa kau memanggilku sayang? namaku Mer." Katanya sambil duduk di bebatuan, memainkan rambut cantiknya yang berkilauan ditimpa sinar mentari pagi.
"Sebab kau cantik." Kataku jujur. Mer menatapku dekat, membius aku masuk ke dalam mata emerald nya yang tajam menusuk.
"Apa kepada setiap perempuan kau akan memanggil mereka sayang juga?" Tanya Mer sambil memalingkan wajahnya.
"Tidak, hanya kepadamu, sebab cantikmu lain. Aku sungguh ingin terus memandangnya."
"Kenapa kaum manusia suka sekali mengumbar kata mesra pada setiap perempuan." Tanya Mer dingin.
"Sayang, lantas kau apa jika bukan manusia?" Aku tertawa.
"Bagaimana jika aku memang bukan manusia? Apa kau masih mau memanggilku sayang juga?"
"Aku akan tetap memanggilmu begitu sekalipun kau bukan manusia." Aku menanggapi candaannya itu.
Mer tertawa juga akhirnya. Ia berdiri, memperlihatkan tubuh indahnya yang molek dibalik kain tipis yang menghalangi. Kelelakianku tiba-tiba bergejolak begitu saja.
"Apa kau juga menyukai tubuhku?" Mer menoleh, seolah tahu apa yang sedang ku pikirkan.
"Ah tidak. Maaf kan aku." Aku menunduk, malu Mer tahu pikiran kotor ku barusan.
"Tak apa, banyak yang sudah terjerat dengan tubuh indah ku ini. Tapi aku tak mau itu terjadi padamu." Kata Mer lagi.
"Kenapa?"
"Sebab banyak yang mati tenggelam ketika mereka memilih bersamaku."
Aku tertawa, Mer ini, ingin sekali aku menciumnya. Ia ternyata gemar bercanda. Bercandanya tak main-main, tentang cinta dan kematian.
"Bagaimana jika aku telah jatuh cinta kepadamu?" Tanya ku memancing reaksinya.
"Lupakan! hanya kau yang tidak boleh masuk perangkap ku."
Mer bercanda lagi, aku gemas dan langsung ku raih tubuh sintalnya. Aku mencium bibirnya lembut.
"Jadi lah kekasihku, Mer." Pinta ku padanya. Mer mendorongku kemudian berlari meninggalkan tempat kami bertemu. Ia menghilang di antara bebatuan. Aku memanggilnya takut ia tenggelam. Tapi Mer tidak menjawab. Aku pergi juga. Kenapa aku patah hati begini?
Aku masih menunggunya. Mer. Kemana dirimu. Aku nelangsa sekali, rindu pada aroma mu yang memabukkan. Rindu pada tatapan matamu yang membius. Rindu pada suara lembut mu yang terkadang dingin.
Mer. Mantra apa yang kau hembuskan padaku. Atau memang aku yang benar sudah jatuh cinta pada gadis pantai sepertimu.
"Kenapa sendiri?" Suara itu mengagetkan ku.
Aku menoleh, menemukan Mer diantara cahaya jingga yang membentuk siluet. Ia indah sekali. Tubuhnya membentuk sempurna. Sempurna pula perasaanku padanya.
"Aku menunggumu, kau seperti hantu. Muncul dan pergi begitu saja." Desahku putus asa.
Mer menatap ku lama. Aku terbius lagi oleh mata emerald nya.
"Mer kau cantik sekali."
"Cantik itu luka." Desis Mer dingin.
"Aku mencintaimu, Mer." Ku yakinkan dirinya. Mer menatapku nanar.
"Benarkah?" Tanya Mer lirih.
"Aku bersedia melakukan apapun untukmu."
Mer memalingkan wajah cantiknya. Ia menatap air tenang di bawah batu tempat kami berpijak.
"Datanglah tepat saat bulan purnama, kala bulatnya sempurna dengan cahaya terangnya, Aku akan menunggu mu disini. Buktikan cintamu padaku. Tentukan pilihanmu setelah kau tahu siapa aku sebenarnya." Mer kembali menghilang, turun begitu cepat melompat dari satu batu ke batu yang lain.
Aku masih terpaku di tempatku duduk. Ku pikirkan kata-kata Mer barusan. Ku bulatkan tekad untuk menemuinya.
Tepat saat hari ketujuh setelah perjanjian pertemuan itu tiba, saat bulan bulat sempurna, aku berdiri diatas batu. Mer keluar dari balik batu. Ia tampak basah, tubuh moleknya terbentuk sempurna. Mer menghampiri ku.
"Apa setelah melihat wujud ku setelah ini, kau akan tetap jatuh cinta kepadaku?" Mer berbisik, suaranya bagai candu juga sembilu, bergetar.
"Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya." Kataku mantap. Mer menatapku tajam.
"Kau masih memiliki waktu sebelum terjerat terlalu dalam." Mer memberi peringatan padaku.
"Tidak, aku sudah siap dengan semua resiko."
Mer menarik nafas panjang, ia kemudian membuka kain tipis yang melindungi tubuh polosnya. Aku terperangah, tubuh indah itu, kini masuk ke dalam air. Aku sudah panik. Ku teriakkan nama nya.
Mer muncul, dari dalam air, ia masih cantik namun ia tampak aneh, semakin aneh saat ia semakin dekat. Aku tercengang, Mer tidak memiliki kaki, melainkan ekor. Mer... kau benar-benar nyata?
"Apa kau masih menginginkan ku, Tuan?" Mer berkata dengan tubuh yang setengah menyelam.
"Mer... aku tidak pernah menyangka bahwa kau nyata."
"kau masih mencintaiku?"
"Ya..." Kataku.
"Mari menyelam lah bersamaku."
Dan ku langkahkan kaki, ikut menceburkan diri. Mer mencium ku, membawaku jauh sampai jauh sampai aku tak bisa melihat cahaya sampai aku hanya melihat banyak sekali makhluk yang sama seperti dirinya.
"Mer, bawalah aku tenggelam bersamamu." Ujarku lirih, Mer mengangguk, membawaku sampai tak terjejak lagi.
- END -