Ketika malam menjelang, saat seorang gadis yang biasa dipanggil dengan nama Alawe mulai untuk membuat secangkir kopi. Dia adalah gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah orang tuanya yang megah itu serta suasana alam yang indah di sekitarnya.
Alawe ini merupakan gadis yang tumbuh di dalam keluarga berkecukupan dan mampu, bahkan bisa dibilang kaya raya. Tapi sayangnya Alawe tidak bisa berdiri sendiri atau menopang tubuhnya sendiri karena cacat fisik yang di alaminya sejak lahir, tanpa menggunakan bantuan kursi roda atau bantuan orang-orang disekitarnya, sehingga ia merasa di acuhkan dalam keluarga.
Orang tua Alawe selalu mengacuhkannya karena merasa tidak ada yang bisa diharapkan dari gadis tersebut. sementara kakak dan adiknya mungkin saja malu mempunyai saudara kandung yang terlahir dengan kondisi cacat fisik seperti Alawe. Setiap waktu dan setiap saat Alawe hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar tidur dan terus mengurung diri tanpa mempedulikan apa yang terjadi disekitarnya, dan hanya sesekali mengarahkan kursi rodanya menuju arah taman, dan sekitar kolam renang yang ada di dekat rumahnya itu. Gadis cantik yang baru berusia 15 tahun tersebut sangat senang untuk menulis cerita-cerita apa saja di taman dan sekitar kolam renang guna menghilangkan rasa stresnya dan beban pikiran buruknya yang menyesali akan keadaan hidupnya yang seperti itu.
Suatu hari, Alawe jatuh dari kursi rodanya pas mau keluar kamar. namun tidak ada seorangpun di keluarganya atau di dalam rumahnya tersebut yang berniat mendekat untuk menolong dan membantunya. rasa kecewanya terhadap hal tersebut membuat Alawe harus menahan sakit dan harus kuat untuk menggerakan kursi rodanya ke arah taman dan sekitar kolam renang tempatnya untuk selalu merenung.
Saat sedang tertidur di kursi roda di taman, tiba-tiba Alawe dihampiri oleh seorang laki-laki seusianya dengan kondisi yang sama. Pria tersebut mengulurkan tangan untuk Alawe dan mulai menyebutkan namanya, yaitu Matua. mereka berdua mudah sekali akur dan akrab, dan berbicara satu sama lain dengan senang hati dan saling terbuka.
Seketika Matua Berkata, “ Alawe, ingatlah bahwa hidup didunia ini hanya sekali dan cintailah kedua orang tuamu dan orang-orang yang ada disekitarmu itu dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir untuk sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak seperti mereka Tapi, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. cobalah kamu pahami dirimu dan jangan salahkan tuhan dalam dirimu.”
Setelah Alawe pulang dari taman dan langsung memasuki kamarnya, Alawe mulai menghayati dan merenungi kata-kata yang diucapkan oleh Pria tersebut. Alawe berpikir bagaimana ia bisa seutuhnya menerima dirinya dan bisa diterima dikeluarganya yang acuh tak acuh itu terhadapnya.
Alawe mencoba dan memaknai serta mencerna perkataan dari Matua secara perlahan, meskipun seringkali ia menangis ketika teringat kenyataan bahwa ia hanyalah seorang gadis yang yang tak bisa berbuat apa apa. Hal yang dipikirkan oleh Alawe adalah bagaimana ia bisa mewujudkan mimpinya yang selama ini tak dipedulikan sama sekali karena keadaan fisiknya itu.
Alawe selalu bermimpi menjadi seorang penulis terkenal yang karyanya bisa dipajang di dalam pameran besar. Hal yang dilakukan Alawe untuk memulainya adalah rajin membuat tulisan-tulisan apa saja dan mengarang apa saja yang penting ada. Kesibukan tersebut juga dilakukan Alawe untuk tidak memikirkan dan tidak peduli mengenai dirinya yang selalu diacuhkan dan mulai memahami perkataan Matua itu.
Seiring berjalannya waktu, mimpi sang gadis cantik itu mulai terwujud saat diam-diam ia sering memposting tulisan-tulisannya melalui media sosial. Hingga suatu hari ada seseorang datang ke rumah Alawe untuk menemui gadis cantik itu yang mengajaknya untuk bergabung di dalam sebuah lomba menulis karya indah.
Kedua orang tua Alawe kaget dan terkejud mendengar ucapan pria yang datang kerumahnya itu, sebab tidak menyangka bahwa Alawe si gadis kursi roda itu bisa menghasilkan karya tulisan yang indah. Alawe hanya tersenyum saja dan menoleh sedikit kesebelah orang tuanya itu yg merasa heran melihat respon mereka dan memilih menerima tawaran lomba menulis indah itu.
Berbagai tulisan indah dipajang dalam pameran lomba tersebut dan di diposting terus dimedia sosial yang diberi tema “MIMPI MENGUBAH SEGALANYA” Orang tua Alawe menghadiri lomba tersebut dan merasa terharu atas pencapaian anak mereka yang selama ini tak bisa berbuat apa apa. Sementara Alawe merasa lega dan bebas serta diterima didalam keluarganya lagi tanpa semua seisi rumah baik adek, kaka yang mengacuhkannya bisa menerima keadaannya itu.