Pukul 21.45 malam, di sebuah SMP negeri yang berada di pusat kota Sky.
"Semuanya sudah tidur di kelas masing masing, sekarang saatnya aku kembali ke kelasku"
Namanya Elena, ia adalah seorang siswa kelas 7 di SMP tersebut. Hari ini sekolahnya mengadakan kegiatan persami atau perkemahan Sabtu Minggu.
Elena adalah gadis yang selalu bersemangat, kulitnya putih bersih, hidungnya agak mancung, matanya bulat, bibirnya mungil ditambah rambut berwarna hitam sebahu yang semakin menambah kesan childish pada penampilannya.
Tapi jangan salah menilai, meskipun kelihatan seperti kekanakan dari luar, Elena adalah gadis yang memiliki pemikiran kritis dan bertanggung jawab. Oleh karena itu ia terpilih menjadi salah satu bagian keamanan yang bertugas mengawasi para siswa agar tidak keluyuran setelah pukul 21.00 malam selama kegiatan persami ini berlangsung.
Singkat cerita, Elena pun selesai melakukan tugasnya dan bergegas menuju ke kelasnya untuk tidur setelah hampir satu jam berkeliling mengawasi kelas yang harus ia pantau.
Tapi langkahnya terhenti begitu melihat salah satu teman kelasnya sedang duduk dengan pandangan kosong di salah satu gazebo yang terletak tidak jauh dari kelasnya. Elena pun mempertajam penglihatannya untuk memastikan dan bergegas menuju ke gazebo tersebut.
"Devan, apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Cepat kembali ke kelas!, Sekarang sudah lewat dari pukul-"
Ucapannya terhenti saat menyadari luka di sudut bibir teman laki lakinya itu. Elena pun bertanya tanya apa yang sudah terjadi pada Devano sehingga sudut bibirnya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Padahal setahu Elena Devano adalah anak yang pendiam dan tidak mungkin kan dia telah berkelahi di malam hari begini?
"Devan, apa yang sudah terjadi padamu?"
"Kenapa bibirmu bisa sampai berdarah?"
Terlihat anak laki laki tampan berkulit coklat dan berambut hitam itu tak bergeming menjawab pertanyaan Elena. Elena yang terlanjur khawatir akhirnya mengeluarkan tisu dari sakunya untuk mengelap darah yang keluar semakin banyak dari sudut bibir Devano.
Tep!
Tangan Devano langsung menahan tangan Elena yang hendak mengelap darah di bibirnya itu. Elena bisa merasakan suhu dingin dari tangan Devano yang sedang menahan pergelangan tangannya.
"Pergilah, jangan hiraukan aku"
Dengan suara parau, Devano menyuruh Elena untuk segera pergi tanpa menatap matanya sama sekali.
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu kalau sekarang keadaanmu sedang tidak baik baik saja?"
"...tolong biarkan aku sendiri Elena"
Elena tidak tega meninggalkan Devano sendirian dengan keadaan seperti itu. Jujur, ia ingin mendengar penjelasan Devano secara langsung dan segera mengobati luka di sudut bibirnya yang terlihat semakin parah.
"Apa kau sedang dalam masalah Devan?, Kalau iya ceritakan saja padaku"
"Meskipun aku belum tentu bisa membantu, tapi setidaknya dengan bercerita perasaanmu akan menjadi lebih baik daripada memendamnya dan akhirnya malah menyakiti dirimu sendiri"
Sret!
Elena yang sudah tidak sabar akhirnya mengelap darah yang mengalir dari sudut bibir Devano tanpa persetujuan darinya.
"Elena biarkan-"
"Tidak bisa!, Darahnya mengalir semakin banyak dan aku tidak bisa diam saja"
"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan sampai terluka seperti ini?"
"Apa kau habis berkelahi? Atau kau sendiri yang mengelupas kulit bibirmu dengan kasar sampai akhirnya seperti ini?"
"Jawab aku Devano!"
Elena mengeluarkan semua pertanyaan yang sudah tersimpan di benaknya sejak tadi pada Devano sambil mengelap darah di sudut bibirnya dengan berhati hati.
Bukannya menjawab, Devano tiba tiba saja meneteskan air mata dan itu membuat Elena panik karena berpikir Devano kesakitan karena ia terburu buru mengelap darah di bibirnya.
"Maaf! Apa aku membuatmu sakit?"
"Tunggu sebentar aku akan mengambil-"
Elena benar benar bingung karena tangan Devano malah menggenggam pergelangan tangannya semakin erat dan menahannya untuk tidak pergi.
"..aku benar benar bingung harus percaya dan menceritakan semua keluh kesah ku pada siapa..."
"Tidak ada yang peduli denganku....aku sendirian Elena!"
Elena bisa merasakan tangan Devano yang bergetar dan suaranya yang terisak karena menangis.
"Orang yang paling aku sayangi.. sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya.."
"Dan.. orang itu malah membawa ular licik bersama putranya yang selalu membuat menyusahkanku!"
"Setiap kesalahan yang ia lakukan pasti dilimpahkan padaku, ayah selalu membelanya tanpa memastikan siapa yang benar dan siapa yang salah!"
"Maaf aku sudah menyusahkan mu, tadi aku bermimpi buruk dan kebiasaan burukku mengelupas kulit bibir saat sedang stress kambuh"
"Sungguh sesak rasanya perasaan ini tidak bisa diungkapkan lewat kata kata.."
"Maaf...aku benar benar-"
Puk puk
Elena menenangkan Devano sambil menepuk punggungnya beberapa kali.
"Tidak apa, menangislah sebanyak yang kau mau sampai rasa sesak yang selama ini kau simpan hilang"
"Hiks..kau sangat baik Lena.."
Baru pertama kali ini Elena melihat Devano yang dingin dan cuek menangis di hadapannya memperlihatkan sisi lemah dirinya yang tersembunyi.
Devano menangis mengeluarkan semua perasaan marah, muak, jengkel dan benci yang selama ini ia pendam sendiri. Dengan telaten Elena tetap menepuk nepuk punggung Devano agar ia merasa lebih baik.
Sebetulnya manusia itu lemah terhadap perasannya, terkadang kita membutuhkan orang lain sebagai tempat bercerita untuk sekedar meringankan perasaan sesak yang memenuhi dada.
Kita menangis bukan karena lemah, hanya saja terdapat waktu dimana kita tidak bisa mengungkapkan rasa sesak yang ada didalam dada lewat kata kata dan pada akhirnya air mata menetes mewakili perasaan yang tidak bisa kita ungkapkan lewat kata kata tersebut.
(sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seperti ini) ucap Devano dalam hati saat merasakan perasaan nyaman dari kehangatan tangan Elena yang beberapa kali menepuk punggungnya.
___Tamat___