"Kak! Tasku mana!?" seru Rini pada kakaknya, Kharisma.
"Aduh! Tas kamu masa tanya sama Kakak sih!" jawab Kharisma berseru kesal.
"Ish, tinggal jawab aja tasku di mana! Kalau gak tau yang tinggal bilang enggak! Repot amat sih!" Rini balas berseru kesal. "Ya udah aku pakai tas ini aja." Rini langsung menyandang ke bahunya tas kecil berwarna putih dengan motif bulu-bulu. "Aku pergi dulu ya Kak!"
"Hei, tas apa yang kamu bawa?" tanya Kakak.
"Tas yang di atas meja!" jawab Rini langsung menutup pintu.
"Woi itu tas Kakak!" Kharisma langsung mengejar adiknya yang sudah naik motor.
"Sama aja, tas Kakak itu tas Adek! Tas Adek ya tas Adek!" Sebelum Kharisma sampai, Rini sudah menancap gas motornya, pergi ke kampus.
"Aduh! Gak berotak tu anak!" Kharisma bersungut-sungut, kesal. Naik lagi ke rumah, terpaksa mengeluarkan tas lainnya.
10 menit kemudian Rini sudah sampai di kampus, makan mie goreng dulu di kantin kampus bersama Dimas, pacar Rini.
"Sayang, itu jam baru?" tanya Rini.
Dimas mengangguk. "Iya, Sayang. Kenapa?"
Rini menggeleng. "Tidak ada apa-apa."
Mereka menyantap mie goreng dengan lahap, maklum keduanya adalah anak kost yang kelaparan.
"Sayang, aku pinjam jam tangannya," ucap Rini setelah selesai makan.
"Oh boleh." Dimas langsung membuka jam tangannya, menyerahkan ke Rini.
Besoknya di kampus Rini kembali bertemu dengan Dimas. Rini melambaikan tangan pada Dimas, langsung berlari ke arah Dimas.
"Lah Sayang, jam tangan kemaren di mana?" tanya Dimas heran.
Rini menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, cengengesan. "Kemaren di toilet kampus, aku melepas jam tangan untuk ambil wudhu, eh aku malah lupa ngambilnya lagi. Jadi hilang deh, maaf ya Sayang."
Dimas menghela nafas. "Tidak apa-apa."
"Punyamu punyaku bukan?" Rini kembali tertawa cengengesan.
Dimas diam sejenak, kemudian mengangguk. "Kalau punyamu?" tanya balik Dimas.
"Ya punyaku tetap punyaku lah, Sayang." Rini tertawa lebar. Puas.