Pupil matanya menghijau.
Kuku jarinya memanjang menjadi cakar.
Barang-barang di sekitarnya beterbangan seperti gelombang telekinesis sesuai suasana hatinya.
Dia memejamkan matanya.
Membuka matanya perlahan menatap cahaya didepannya.
Aira bergetar di celah pintu mendapati pemandangan didepannya.
Mencubit lengannya sendiri.
(Ouch!sakit!
Ini bukan mimpi!
Ini ketiga kalinya dia melihatnya!
Jadi.. Kekasihku bukan manusia?
Dia itu apa?)
"Aira..."
Sebuah tangan mengelus bahunya dari belakang.
Aira memejamkan mata enggan berbalik.
"Siapa...ah tidak.
Kamu ini apa?"
"Aira...Ini aku!"
Bahu Aira diguncang pelan.
Aira membuka matanya.
Sekelilingnya terang.
Cahaya lampu bersinar dari kamar di depannya.
"Apa kamu berjalan saat tertidur lagi?
Aku sudah bilang.
Kunci pintu kamar saat kamu hendak tidur!"
Kekasihnya memeluk Aira erat dari belakang.
"Johnny.
Ini bukan mimpi.
Aku yakin tadi itu aku lihat kamu di kamar ini!
Semua barang melayang aneh dan .."
Aira mengambil kedua tangan Johnny.
Mengangkat pergelangan tangannya dan memeriksa jari jarinya.
"Dan tadi... jari-jari kamu.
Berubah memanjang dengan kuku ...
Ah bukan.
Tadi itu cakar!
Berubah menjadi cakar tajam.
Mengerikan sekali!"
"Aira.Kamu itu tadi mimpi.
Aku dapati kamu disini mata kamu terpejam.
Itu tidak nyata!"
Johnny berusaha menenangkan.
"Johny!
Ini bukan mimpi!
Aku memang baru berusia 17tahun kemarin!
Bukan berarti aku masih kecil!
Dan ini sudah ketiga kalinya aku melihat tadi jelas.
Aku bahkan mencubit diriku sendiri!
Jadi katakan padaku!
Siapa kamu sebenarnya?
Atau lebih tepatnya.
Apa kamu sebenarnya?"
Johnny mundur perlahan menyadari Aira sudah berusia 17 tahun seminggu yang lalu.
Sudah pasti akhirnya Aira akan melihat wujud aslinya pada akhirnya.
Johnny memejamkan matanya sejenak.
Lalu tiba-tiba semua lampu padam.
Aira mengerjap dalam kegelapan.
Namun tidak lama kemudian ada cahaya dari dalam kamar Johnny.
Johnny membuka matanya dengan pandangan tegas tajam.
Dan ya.
Dengan pupil hijau sama seperti yang tadi dilihat Aira.
"Aira.."
suara Johnny dalam terdengar menggema di sekeliling Aira.
Bulu kuduk Aira berdiri.
Namun dia enggan menyerah dengan rasa takutnya.
"Apa?
Jadi katakan padaku sekarang.
Kamu itu makhluk apa?"
Aira menyibak rambut poninya yang turun menghalangi pandangannya.
"Aira..Sejak kita bertemu di panti asuhan.
Kita sudah berteman bukan?"
suara Johnny kembali terdengar dalam.
"Mhm..ya...Lalu?"
"Aku bukan penghuni panti asuhan.
Kita selalu bertemu di pekarangan belakang panti.
Kita memang 1 sekolah hingga kini.
Aku juga baru mengajakmu ke rumahku belum lama ini setelah kita di menengah atas.
Ya..disini.Di rumahku."
"Ya...Aku baru bisa kesini setelah SMA.
dan ya...Kamu memang tidak banyak cerita soal dirimu."
"Sekarang kamu perhatikan sekelilingmu."
Aira mengedarkan pandangannya.
Semua benda mulai melayang kembali persis sama seperti yang dilihatnya tadi.
Aira melihat tangan Johnny.
Cakar cakar itu mulai kembali.
Tangan Johnny terangkat.
Johnny menatap Aira tajam.
"Apa..Apa kamu mau membunuhku?
Apa kamu manusia serigala atau Vampir?
Atau apapun yang pernah kudengar di cerita cerita fiksi aneh dimana-mana."
Johnny tersenyum kecil menggeleng.
"Aku mencintaimu.
Untuk apa aku membunuhmu?"
"Lalu kenapa kamu menjadikan aku kekasihmu?
Dan kenapa selama ini aku tidak pernah melihat wujudmu ini?"
"Aku hanya berubah seperti ini dalam gelap.
Dan semauku.
Dan aku menjadikanmu kekasihku karena aku mencintaimu.
Sejak kita bertemu di pekarangan panti dulu."
"A...apa maumu?"
Johnny mendekati Aira.
Mengelus pipi Aira lembut.
Mengecup pipinya hingga mendapati bibirnya.
Aira menutup matanya ketakutan.
"Aira.Buka matamu!"
suara Johnny menggema di telinga.
Aira membuka matanya.
Mata hijau Johnny menatap Aira dalam.
"Aira.
Aku sungguh mencintaimu.
Aku adalah Hudrekal.
Kamu tidak tahu.
Aku penjaga hutan ini.
Wujud asliku..
Aku tidak mau memperlihatkannya.
Tapi kamu bisa merasakannya."
Johnny menarik tangan Aira ke bahunya.
Meraba punggung Johnny perlahan menurun.
Ada tulang sayap kaku tegas di belakang bahu Johnny.
"Jangan!Jangan melihat ke belakangku!
Aku tidak suka melihat bagian belakangku.
Apalagi jika orang lain melihatnya."
Aira menyusuri sayap kaku di belakang Johnny.
Matanya masih menatap Johnny.
Tangan Aira meraba punggung Johnny.
Rasanya lembut sama seperti sayap kelelawar.
Namun dia bisa mengerti kenapa Johnny tidak suka orang memandangnya.
Sayap ini bukan terlihat seperti sayap burung yang berbulu indah.
Ini kaku dan tegas garisnya seperti kelelawar.
Aira mengusap pipi Johnny.
Mengecup bibir Johnny.
Memperhatikan mata hijau Johnny dan kulitnya yang memucat.
Kulit Johnny terasa dingin lembab seperti lumut.
"Apapun kamu.
Aku tetap mencintaimu.
Kamu bukan jelek atau buruk atau aneh.
Kamu indah dengan menjadi dirimu sendiri."
"Aku mengerikan Aira.
Apa kamu tidak takut?"
Aira menggeleng.
"Apa kamu tidak tahu aku begitu menggilai cerita Lord of the ring dan Harry Potter?
Jangan sampai aku memulai bagaimana aku menyukai Twilight Saga!
Kamu akan bosan mendengar bagaimana aku berharap kalau kekasihku adalah makhluk seperti karakter fiksi disana."
Johnny tersenyum kecil.
"Tapi ini nyata,Aira.
Bukan cerita fiksi yang kamu baca."
Aira menangkap gelas di sebelahnya yang melayang.
"Aku harap kamu juga tahu.
Aku mencintaimu sejak kita bertemu di pekarangan panti.
Aku anak yang dibuang Ibuku.
Di panti juga kehidupanku keras.
Bertemu denganmu menjadi tempat cerita dan berbagi kesedihanku.
Kamu lebih dari sekedar kekasih untukku."
"Aira..
Kamu sudah tahu kebenaran tentangku.
Karena kamu sudah 17 tahun.
Memang sudah waktunya kamu melihat wujudku sebenarnya."
"Belum!
Kamu belum menjelaskan padaku apa itu!"
Aira menunjuk cahaya di sisi dinding dalam kamar Johnny.
"Masuklah.
Akan aku tunjukkan."
Johnny mengajak Aira memasuki kamarnya.
Aira terpukau memandang dinding di hadapannya.
Cahaya terang seperti TV menyinari kamar Johnny.
"Aku sudah bilang aku penjaga hutan ini.
Kamu perhatikanlah!"
Johnny mengangkat sebelah tangannya.
Pandangannya terfokus ke cahaya di dinding.
Sesaat kemudian.
Cahaya di dinding memperlihatkan sisi jalan menuju hutan.
Pemandangan di dalam cahaya itu berputar mengitari hutan seperti CCTV.
"Aku penjaga hutan ini.
Memang ada peri hutan.
Aku hanya penjaga hutan di sisi kiri.
Di lain tempat ada yang lain yang menjaga."
Aira memandang Johnny terpukau lalu meninju lengan Johnny.
"Hey kamu keren sekali!
Awas kalau kamu tertarik ke wanita lain!
Akan aku hajar kamu!"
Ancam Aira mengangkat tinjunya.
Johnny terkekeh mengelus lengannya.
"Kamu memang wanita aneh.
Bukannya takut.
Malah ketakutan aku selingkuh.
Kalau seorang Hudrekal sudah menemukan pasangannya.
Maka Hudrekal hanya akan mencintai sekali seumur hidupnya."
"Woah...jadi justru aku yang bisa selingkuh?!"
Aira menepuk pipinya tidak percaya.
Johnny mengangguk.
"Sudah biasa bagi kami di tinggalkan begitu~~.."
Aira merangkul lengan Johnny.
"Tidak!Aku janji!
Aku akan selalu mencintaimu."
"Aku tidak akan pernah melarangmu pergi.
Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini.
Kamu bisa kemana saja.
Aku akan tetap disini!"
Aira menatap mata Johnny.
"Aku janji.
Kemanapun aku pergi.
Aku akan selalu kembali kesini.."
-----------------
5 tahun kemudian.
Aira menyusuri hutan.
"Johnny!
Johnny!
dimana kamu?"
Aira sudah 1 jam menyibak semak dan mencari dalam kegelapan hutan.
Dia mulai panik.
Biasanya setiap bulan dia akan kemari.
Namun terakhir kesini adalah 3 bulan yang lalu.
Aira mulai sibuk dengan kuliahnya.
Apalagi terakhir kemarin adalah musim semester.
Aira benar benar tidak bisa mengunjungi hutan ini.
Jarak dari kampusnya ke hutan ini memang cukup memakan waktu.
Perlu sekitar 5 jam menuju hutan ini.
Belum lagi menyusuri hutan ini mencari keberadaan Johnny tidaklah mudah.
"Johnny!
Johnny kumohon!
Muncullah!
Maaf aku baru dapat kesini!
3 bulan kemarin aku sibuk sekali.
Aku tidak mungkin kemari."
Aira lelah mencari.
Nafasnya tersengal kelelahan.
Dia terduduk di atas akar pohon besar.
Matanya mulai berkaca-kaca takut Johnny tidak akan muncul lagi karena marah dan kecewa.
"Hai..."
suara Johnny menyapa.
Aira langsung bangkit berdiri memeluk Johnny erat.
"Maaf.. Maafkan aku.. Aku sungguh-sungguh sibuk.
Aku tidak akan selama ini lagi tidak kesini!.Aku janji!"
Johnny mengelus lembut punggung Aira.
"Aku tidak marah.
Maaf aku daritadi di belakangmu.
Aku mengagumi dirimu yang makin cantik."
Aira mengendurkan pelukannya.
Memukul dada Johnny.
"Kamu ini bicara apa hah?
Cantik darimana?
Kamu tidak lihat mataku sekarang seperti panda?!
Belum lagi jerawat ini!".Aira menunjuk jerawat kecil di pipinya.
"Aku stress berat dan jerawat ini muncul menambah stress aku!
Huh! Dunia kampus benar-benar memakan jiwaku!.
Seandainya aku juga seorang makhluk mitologi yang bisa bebas tanpa kampus dan tanggung jawab.
Aku akan bebas dari jerawat!"
Johnny tertawa keras.
"Ahahaha.. Kamu ingin jadi makhluk mitologi hanya karena jerawat.
Kamu tidak tahu bahwa semua mahkluk ada tanggung jawabnya.
Ada tugasnya.
Tahukah kamu bahkan semua mahkluk dan tumbuhan bertasbih memuja Tuhan?
Kamu harus tahu dengan pasti semua mahkluk Tuhan pasti ada tugas dan tanggung jawab."
"Baiklah baiklah... Aku paham.
Jadi... sekarang kita akan kemana?"
Johnny merangkul bahu Aira.
"Aku sudah selesai bertugas.
Ayo kita makan!
Di sisi ujung hutan,Ada restoran baru belum lama dibuka.
Dan disana makanannya enak-enak!"
"Ok! Let's go there!"
Mereka berjalan menuju jalan keluar hutan.
"Ohya Aira.
Apa kamu.."
"Aku..apa?"
"Ehm.. sebenarnya..aku agak takut menanyakan ini.
Apa kamu...sudah siap.."
"Siap apa? Johnny? jangan sepotong-potong begitu bicara!Ayo katakan kamu mau tanya apa?"
"Ehmm..Aku..mau tanya.. Apa kamu mau menikahiku?"
Aira terhenti langkahnya ternganga.
"Aku tahu kamu tidak akan mau.
Baiklah.Ayo kita anggap aku tidak pernah menanyakan ini!"
Johnny berjalan lebih dulu mendahului Aira.
Namun Aira menarik tangan Johnny.
"Aku mau!"
"Benarkah?"
Johnny tidak percaya.
"Aku mau.Tapi biarkan aku selesaikan kuliahku dulu.
Kita akan menikah dan menetap di hutan ini!"
Johnny tersenyum lebar.
"Kamu tahu pasti aku akan selalu disini.
Aku akan menunggumu.Selalu.."
------Selesai---