Setiap malam dinginnya tangan ibu telah beradu dengan pipiku , membangunkan aku dan dua kakak ku .
Mengajarkan bagaimana cara meminta pertolongan agar segera terkabul , benar diantara dengkuran keras tetangga kami telah berbaris rapi menghadap ilahi dipimpin kakak laki-laki ku .
Sekarang usiaku enam belas tahun , aku anak bungsu dari tiga bersaudara bapak ku pergi entah kemana sejak aku masih balita , jadi hanya ibu satu-satunya keluarga yang aku punya .
Menjadi banyak peran di satu sandiwara yang sama , ibu , ayah dan tulang punggung keluarga lengkap diembannya .
Setiap malam kami selalu bertahajud memanjatkan doa agar pagi nanti diberi berkah olehnya , tak lupa bersyukur atas hari kemarin .
Mungkin bagi kalian ini adalah hal yang sulit bangun di tengah malam lalu berperang dengan dua hal , dinginnya malam ini dan kantuk yang manusiawi tapi itu sudah kami lalui belasan tahun lalu .
Aku pernah ingat samar-samar wajah bapak ku dia adalah seorang laki-laki yang baik sekali , di setiap lelahnya bekerja ia menyempatkan menengok kami yang sudah terlelap lalu mencium kening kami satu persatu .
Ibu juga tak pernah menanamkan kebencian kepadanya meski menghilang sebelas tahun lalu .
Ibu terus menjaga agar kami tetap percaya ia akan pulang suatu saat nanti meski sekarang kami sudah cukup mengerti jika harus menerima kenyataan ini ibu tetap teguh menyakinkan kami .
Kami hidup sederhana di tempat yang indah nan mengagumkan , pantai hanya berjarak 1 kilometer saja bahkan kami bertiga pernah seharian menghabiskan hari libur di pantai itu .
Pulangnya kami kembali jalan kaki sambil merencanakan jika ada hari libur lagi kami akan naik gunung anak . Sebenarnya bukan gunung yang sebenarnya tapi bukit yang tersusun rapi membentang ke barat menghadap langsung ke arah laut .
Namun rencana itu hanya tinggal ingatan saat liburan kembali tiba kenyataannya berbeda karena kakak sulung ku sekaligus kakak laki-laki ku ikut ibu bekerja untuk bisa terus sekolah . Mas Dani ikut ibu sebagai pemecah batu .
Setiap pulang sekolah ia mengambil satu keranjang batu dari sungai yang jaraknya seratus meter dari rumah , mungkin dia bisa tiga kali bolak balik kesana membawa bongkahan batu berukuran lumayan besar .
Lalu ibu , mbak Rian , dan aku memecah batu di samping rumah , setelah cukup mas Dani biasanya akan menghubungi pak Anto untuk mencarikan pembeli .
Pak Anto adalah pemilik toko bangunan satu-satunya di desaku , seperempat warga desa ku adalah pemecah batu dan separuhnya adalah nelayan .
Mas Dani juga ikut mengantar barang bangunan jika sungai sedang pasang . Meski banting tulang untuk bisa sekolah mas Dani termasuk anak cerdas di sekolah , ia kerap mengikuti lomba mewakili sekolah .
Sementara kakak perempuan ku Riani dia tiga tahun lebih tua dari ku , ia juga termasuk cerdas jika dibandingkan dengan teman sepantarannya .
Sedangkan aku anak paling bungsu masuk ranking tengah di kelas saja perjuangannya begitu berat . Tapi rasa malu ku jika mendengar tetangga membandingkan kami hilang saat ibu mengetahuinya , ibu pasti bilang jika aku memang tidak pandai di sekolah tapi aku adalah anaknya yang paling penurut .
Jika ibu telah mengatakan itu mereka mengingat anak mereka yang masih saja sulit di atur
Jika hendak berangkat sekolah kami berbaris rapi mencium tangan ibu dan menanti ibu menyelesaikan doanya yang begitu panjang .
Mbak Rian dibonceng mas Dani dengan sepeda karena sekarang mereka hanya berbeda satu tahun saja sedangkan aku akan berjalan kaki jika di jalan tidak ada teman yang mengajakku bareng .
Jika pulang sekolah aku akan menitipkan tas ku pada Dio teman baikku , sedangkan aku berlari sejauh dua setengah kilo hingga rumah dan Dio selalu meletakan tas ku di bawah pohon mahoni tak jauh dari rumah ku agar ibu tak tau jika sebenarnya tas ku sampai duluan .
Hingga akhirnya ibu menemukan tas ku yang tergeletak sembarangan dibawah pohon , ibu mengira aku bolos sekolah karena yang lain sudah sampai di rumah .
Saat melihat tas ku tak berada ditempat biasanya aku langsung menanyakan pada Dio , tetapi ia sudah meletakkan seperti biasa dibawah pohon mahoni itu.
Dirumah ibu sudah menunggu ku sambil membuka buku-buku pelajaran ku , satu pertanyaan langsung terucap sebelum aku sempat mengucap salam , " kamu bolos ? ." ,
Aku diam saja takut ibu marah karena aku pulang tak membawa tas , tetapi ibu hanya menghela nafas lalu menyuruh ku duduk di situlah aku menjelaskan mengapa tas ku bisa berada disana .
Ibu mengembalikan tas ku dan melanjutkan memecah batu setelah mendengar penjelasan ku , entah apa yang dipikirkan ibu saat itu karena ibu adalah orang yang pendiam .
Tak lama kedua kakak ku pulang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Saat gema adzan Maghrib memenuhi sudut kampung kami sudah duduk bersama di tikar pandan menikmati makan malam ,
Biasanya aku akan belajar setelah makan malam begitu pula mbak Rian ia selalu mengerjakan PR nya , namun sejak dulu aku jarang melihat mas Dani memegang buku untuk dibaca ataupun dipelajari padahal dia sering ikut lomba tapi kenapa tak pernah belajar jika di rumah .
Pernah sekali aku bertanya mengapa tak pernah belajar padahal sering ikut lomba mewakili sekolah , dan jawaban mas Dani hanya "kamu itu masih kecil belum tau kenapa mas gak belajar ."
Aku juga menanyakan itu pada mbak Rian tapi dia juga nggak tau mas Dani gak pernah belajar
Pulang sekolah hari berikutnya aku menggendong tas ku di depan dan aku kencangkan talinya agar aku tetap bisa berlari meski beban di badan ,
Memang kecepatan lariku agak lambat membawa beban di dalam tas . Dari kejauhan terlihat ibu duduk di tugu menanti aku pulang , duduk dengan senyuman yang semakin mengembang saat aku semakin dekat .
Membawakan tas ku dan menyuruh ku makan karena aku mau diajak pergi oleh ibu , setelah ganti baju aku mengikuti langkah ibu . Kami naik angkutan setelah sampai di jalan raya dan turun di pasar barang bekas .
Ternyata ibu sudah membuat janji dengan seseorang , orang itu langsung mengeluarkan beberapa sepeda bekas yang masih layak pakai ke hadapan ku .
Aku sempat menanyakan harga semua sepeda itu tapi orang itu tak mau memberi tau " kamu pilih saja soal harga bukan kamu yang mikirin ." Dan aku tertarik dengan sepeda yang berwarna merah .
Anehnya bukan ibu yang memberikan uang kepada orang itu tetapi ibu malah mendapat kembalian .
Di perjalanan pulang aku menanyakan kenapa malah ibu yang mendapat uang bukan penjual sepedanya . Ibu tak mau menjawabnya sebelum sampai rumah .
Saat aku menanyakan untuk kedua kalinya ternyata orang itu adalah teman ibu saat masih muda dulu , saat mendengar penjelasan ku kemarin ibu teringat jika orang itu pernah meminjam uang kepada bapak saat memulai jualan sepeda bekas dan pagi tadi ibu menanyakan tentang hutangnya waktu itu agar diberi sepeda saja dan orang itu setuju bahkan uang pinjamannya lebih banyak dibandingkan harga sepedaku ini .
Ibu menyuruh ku naik sepeda saat sekolah biar aku nggak capek lari dua setengah kilometer , tapi rasanya aku belum bisa meninggalkan kebiasaan ku berlari setelah pulang sekolah , entah darimana datangnya ide itu aku menaruh tas ku di sepeda dan aku berlari sambil menuntun sepeda .
Jika teman lainnya sering pergi liburan di rumah neneknya tapi aku dan kakak-kakakku sama sekali tidak bisa merasakan indahnya rumah nenek ,
Bahkan karangan tentang berlibur ke rumah nenek hanyalah hayalan semata . Ibu tak mau memberi tau dimana rumah nenek meski kami memaksa .
Tahun berlalu begitu cepat , aku mulai meninggalkan kebiasaan lari ku .
Dan kini mas Dani telah lulus SMK , ia ingin melanjutkan pendidikan militer tetapi ibu tidak mengijinkan , sejak kecil mas Dani memang tertarik dengan dunia militer tetapi ibu menolak memberi restu karena dimana pun mas Dani pergi hanya di kota ini akan berhasil .
Namun mas Dani diam-diam membuat janji dengan beberapa temannya yang juga ingin mendaftar tentara , mas Dani membawa pergi pakaian-pakaiannya satu persatu ke rumah temannya agar bisa pergi tanpa diketahui ibu .
Sebelum pergi dia berpesan kepada ku agar menjaga ibu dan menjaga mbak Rian karena hanya aku satu-satunya laki-laki di keluarga ini saat mas Dani pergi . Jadi semua hakikat ku sebagai pemimpin harus ku pegang .
Dua hari tak pulang ibu mencari mas Dani kesana kemari aku dan Mbak Rian baru berani memberi tahu setelah seminggu sesuai janji kami kepada mas Dani .
Ibu tak terlihat menangis atau sedih karena mas Dani daftar militer tetapi karena mas Dani tak pamit .
Ibu berpesan kepada kami agar selalu pamit kemana pun kami pergi karena doa ibu adalah jalan satu-satunya menjadi bahagia , kami tentu mengangguk setuju .
Satu tahun setelah mas Dani pergi , giliran mbak Rian yang pergi kuliah untuk menuntut ilmu di bidang kedokteran mbak Rian menginginkan bidang itu karena ia merasa mampu dan tertarik menjadi dokter , kali ini ibu memberikan ijin tapi tidak boleh meninggalkan rumah .
Tentu syarat dari ibu tidak bisa dilakukan mbak Rian karena tidak mungkin pulang pergi luar kota apalagi jika mbak Rian bekerja untuk memenuhi biaya kuliahnya , ibu kembali mengatakan jika meninggalkan rumah ini mbak Rian juga tak akan berhasil .
Sama seperti mas Dani mbak Rian juga memaksa pergi karena ditentang ibu , tetapi mbak Rian berpamitan kepada ibu sebelum pergi dan anehnya ibu hanya menitip satu pesan " pulanglah ! , Boleh mencari ilmu Dimana pun kamu mau tapi jangan pernah tinggalkan rumah ini ."
Seminggu setelah mbak Rian pergi datang surat dari mas Dani , setelah satu tahun tak ada kabar ia memberi tahu jika ia berhasil masuk tentara dan ia saat ini sedang pelatihan . Mas Dani memberi tahu jika ia gagal di tahun pertama dan tahun ini baru lolos seleksi tentara elit angkatan udara .
Ibu sempat menangis saat ku bacakan surat dari mas Dani , " mengapa mas mu tidak pulang saja jika gagal masuk angkatan ?." Aku yang menjawab " mungkin mas Dani nggak mau ibu tau jika dia gagal mas Dani hanya ingin ibu tau mas Dani adalah angkatan saat ini ."
Ibu menekankan jika sejak kecil aku bukan anak yang cerdas seperti kedua kakak ku tetapi selalu menjadi anak penurut yang tidak dimiliki kedua kakak ku . Maka ibu berpesan kepada ku agar tetap menjadi anak penurut meski disini hanya menjadi pemecah batu tapi aku akan lebih baik ketimbang kedua kakak ku .
Aku lulus sekolah mas Dani juga sudah menyelesaikan pendidikan militernya , mabak Rian juga berhasil diwisuda ditaun yang sama , kami akhirnya berkumpul kembali setelah tiga tahun tak bersama.
Ibu kembali mengatakan jika kedua kakak ku tetap tidak akan berhasil Dimana pun bekerja , tentu mas Dani langsung membantah ucapan ibu dengan halus ,
"Bu , lihat Dani sekarang Bu !! , Dani sudah berhasil masuk angkatan Bu , cita-cita Dani sejak kecil bukankah ini keberhasilan yang ibu maksud ? ." Ibu menggeleng .
Ganti mbak Rian menyampaikan pendapatnya "tapi Rian langsung dapat panggilan kerja di rumah sakit sana langsung PNS Bu ? , Bukankah kami sudah berhasil ? ." Sekali lagi ibu menggeleng .
Ibu tetap berharap mas Dani dan mbak Rian pulang , tidak akan berhasil Dimana pun kalian pergi nak .
Pagi hari sebelum kedua kakakku kembali ke tempat kerjanya seorang berpakaian rapi datang , setelah memperkenalkan diri ibu langsung meneteskan air mata , " nenekmu sudah tiada nak , kalian sudah tak punya nenek sekarang ."
Kami yang tak pernah mendengar ibu membicarakan nenek terkejut ibu mengatakan itu , ternyata orang itu adalah notaris yang akan menyerahkan warisan nenek kepada kami ,
"Saya notaris yang diberikan mandat untuk menyampaikan berita meninggalkan nenek kalian , dan menyampaikan semua warisan yang dimiliki nenek kepada cucunya ."
Sebelum notaris itu menyelesaikan ucapannya ibu telah memotong "dulu ibu menikah dengan bapakmu tidak diretui orang tua kami , bapakmu nekat pergi meninggalkan keluarganya dan kakek kalian hanya mau menikahkan kami jika kami pergi dari rumah itu ."
"Bapakmu setuju kami menikah lalu pergi kesini , mulai kehidupan yang baru tapi bapakmu berhasil ditemukan oleh orang tuanya untuk dinikahkan dengan wanita pilihan keluarga , mereka tak tau jika sudah memiliki tiga anak disini ." Ibu terus menangis sepanjang ceritanya .
" Bapak mu berjanji kepada ibu akan kembali suatu saat nanti , makanya ibu tidak pernah mengatakan jika bapakmu meninggalkan kalian ." Kami hanya diam mendengarkan cerita yang telah terpendam lama .
Mas Dani bertanya hubungan notaris ini dengan cerita ibu , ternyata sebelum ibu pergi , ibu masih memiliki adik laki-laki yang akan menjadi satu-satunya ahli waris tetapi sebulan setelah itu dia meninggal kecelakaan .
Nenek menemui bapak dan ibu untuk menyerahkan warisan itu .
Tetapi kakek tak mau memberikan warisan itu kepada ibu , karena bagi kakek ucapan seorang pemimpin adalah pasti dan tidak dapat ditarik kembali ,
jadi warisan itu hanya boleh diturunkan kepada kami dengan syarat tambahan hanya cucunya yang mau menuruti perintah ibu karena kakek tak mau memiliki cucu yang sama buruknya dengan orangtuanya .
Maka hanya aku yang boleh memiliki warisan itu bukan mas Dani ataupun mbak Rian , notaris kepercayaan nenek juga membenarkan ucapan ibu .
Maka ibu meminta kedua kakak ku menerima keputusan itu dengan lapang dada .
Ibu juga memberi tahu mengapa ia melarang semua anak-anaknya bekerja di luar daerah agar semua anak-anaknya mendapatkan warisan itu dan disaat kelahiran kami kakek telah mengucap takdir kami tidak akan menjadi lebih baik jika keluar daerah .
Karena ibu sudah merasakan sendiri sumpah dari kakek "nduk Kowe iso Urip tanpo wong tuwamu tapi Kowe Ra iso Urip tanpa ijining Gusti sing dititipke neng wong tuwa loromu . Kowe bakal Urip seneng tapi Ra biso Urip makmur neng panggong anyarmu amargo wes disumpah Urip makmur Yen tetep neng kene "
( Nak , kamu bisa hidup tanpa orang tua mu tapi kamu nggak bisa hidup tanpa ijin tuhan mu yang telah dititipkan pada kedua orang tuamu . kamu akan hidup bahagia tapi tidak sejahtera di tempat barumu karena sudah disumpah hidup sejahtera jika tetap disini )
Dengan ikhlas kedua kakak ku menerima persyaratan itu , pertama kalinya dalam hidup ku bertanda tangan di atas materai .
Dan untuk pertama kalinya juga kami berkunjung ke rumah nenek yang ternyata hanya dua puluh kilometer saja jaraknya .
Setelah melayat di kubur nenek dan kakek , kami ditunjukkan semua harta warisan itu diluar bayangan ku , ada banyak hal yang tak ku kira dari rumah tua bernuansa Jawa itu pemiliknya memiliki tanah yang luas beberapa hewan ternak yang diurus tentangga dan usaha pertokoan di pusat kota .
Tiga belas tahun tak pernah bertemu bapak , disaat itu pula kami dipertemukan dengan bapak . Ingatan yang samar kini benar-benar nyata menghadap bapak ku , ia ditemani anak perempuannya yang usianya enam tahun lebih muda dariku .
Bapak telah menceritakan semua kisah mudanya dengan Mira , setelah istri barunya meninggal karena berusaha menyelamatkan hartanya disaat kobaran api melahap rumah bapak berusaha kembali ke keluarga kami tapi masih terhalang janjinya kepada kakek dari ayah .
Dan kini kita kembali bersama bahkan mendapat satu keluarga baru , Mira . Jadi sekarang aku bukanlah anak bungsu dikeluarga ini aku masih memiliki adik perempuan .
jangan lupa mampir ke novel ku judulnya-psikopat cantik -menanti cinta prajurit -anak roda -mencintai bayangan, thx 😄