Castil
Author: Alpri prastuti
Romantis
Kulit seputih susu, bibir berwarna merah, rambut hitam legam, kaki jenjang, jemari lentik bahkan kukunya yang cantik berwarna merah jambu, sangat mempesona. Ditambah mata bulat bermanik coklat pada umumnya, tetapi sangat istimewa.
Green house seperti kastil buangan di kalangan bangsawan, hanya ada 5 pelayan yang bekerja di Green House. Satu kepala pelayan, 2 pelayan wanita, 1 tukang kebun dan 1 juru baca, yaitu Aku sendiri.
Mungkin semua tahu kenapa Green Hause seperti kastil buangan, bahkan para bangsawan tidak menganggapnya sekalipun gelar yang dimiliki Nona rumah sangat berpengaruh.
Daleena Duchees, Duchees gelar bangswan setelah king. Daleena bukan hanya dibuang oleh para bangsawan tetapi, keluarga Duchees membuangnya setelah insiden 10 tahun lalu.
Wangi bunga garbera dari halaman belakang kastiil membuatku menarik napas panjang, hah, indahnya kastil ini. Warna warni bunga garbera, bunga cosmos yang bergoyang serta dahlia yang rimbun dibalik lebatnya tanaman ivy yang merambat di pagar kastil.
"Bukankah kastil ini tidak cocok dengan kata 'buangan'?"
Aku menoleh, Nyonya Maria datang sembari mengelap tangan dengan apron yang selalu terlilit di pinggangnya.
Aku mengangguk sembari melipat kedua tangan di dada.
"Ah, Will, Nona ... menunggumu di ruang baca, cepat, cepat ke sana," perintahnya seketika panik.
"Ah, baiklah," Aku berlari kecil masuk melewati dapur, meraih roti hangat sebelumnya melambaikan tangan kearah Stewart yang membuat mie, lalu Amy yang asik mengeringkan bunga melati untuk teh.
Menaiki 23 anak tangga dan berdiri didepan pintu besar berwarna coklat dengan lukisan kuda dan tungkai pintu terbuat dari mas, aku selalu kagum dengan ruangan tersebut dimana hanya di sana aku mencium bau buku, kertas lemba dan rak hingga ke langit-langit berisi berbagai buku.
Aku tersenyum sembari membungkuk, "apa yang harus hamba bacakan hari ini?"
Ia menunjuk meja kecil disampinganya, setumpuk kertas berwarna putih dengan berisi tulisan tangan nan indah, tinta cair dan pen yang kuat, jelas ini tulisan seorang berbakat.
"Wah, indahnya."
"Bacakan."
Aku mengangguk.
Nona Daleena menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, gaun hijau, rambut tergerai, oh Tuhan ... siapa yang dihadapan ku, dewikah?.
"Will, berhenti menatapku."
Ah, aku jadi kiku seketika duduk pada bantal yang disedikakan di lantai dan menarik napas panjang.
"Langit biru, awan putih berjejak menaungi atap kastil mewah, setiap hari wangi bunga garbera ditambah teh melati itu yang ku ingat setiap harinya."
Aku terdiam, bukankah paragraf ini seperti yang kurasakan setiap harinya? Atau hanya perasaan kesamaan.
Ku lihat Nona Daleena memejamkan mata.
Aku terdiam melihat kertas di tanganku, tulisan indah ini apakah milik penulis novel yang digosipkan banyak orang di luar kastil. Nyonya Maria menghampiriku memberi isyarat untuk meninggalkan Nona, setelah menyelimutinya yang terlelap, aku menghampiri Nyonya Maria.
"Madame, apakah kau pernah mendengar tentang novelis yang bekerja di kediaman Duchees?"
Nyonya Maria menatapku.
"Kau pasti tahukan?"
"William Huggie, ku harap kau hanya peduli dengan pekerjaanmu."
Tidak seperti biasanya, perkataan Nyonya Maria terdengar tajam dan tidak suka dengan pertanyaanku. Apa gosip itu benar adanya? Ah, aku harus bertanya pada Paman Robert.
Aku berlari menuju taman kastil, tidak ada Paman Robert hanya ada Stewart yang membawa poci teh dan baki. Ia berlari menghampiriku.
"Hei, apa kau mencari paman Robert?"
"Ya, kau tahu dia dimana?"
"Seperti biasa dia menikmati kopi dan roti kering."
Aku segera berlari ke pondok milik Paman Robert yang terletak tidak jauh dari kebun sayur, lampu minyak yang nyala pertanda dia ada disana.
"Paman Robert," panggilku sembari membuka pintu, terlihat ia menyesap tembakau gulung ditambah kopi yang mengepul di meja kecil.
Ia melirik ku tak senang.
"Apa kau tahu, apa yang akan ku tanyakan?" Aku menarik bangku tepat dihadapan Paman Robert.
Ia menghela napas panjang, "apa ini bulan April?"
Aku menatap Paman Robert.
"Dia mirip denganmu, penulis novel itu."
Ah, jadi itu alasannya Nona Daleena selalu menatapku dari balkon kamarnya, saat aku sesekali membantu Paman Robert merawat tanaman.
"Pertama kali kau datang, aku tidak suka karena kau mengingatkan luka, Nona Daleena, tapi itu adalah hari pertama Nona tersenyum setelah sekian tahun."
Aku melihat bayangan Paman Robert dan mendengar helaan napas beratnya.
"Kau mau dengar cerita cinta kastil Duchees?"
Aku mengangguk cepat.
"Ini akan mengubah pemikiranmu tentang, Nona."
"Itu akan ku putuskan nanti."
Sekali lagi Paman Robert menghela napas.
*____*
Kastil Duchees.
Angin musim semi yang masuk lewat jendela balkon, serta dingin yang mulai terasa membuatnya merapatkan syal di pundak, rambut hitam yang tergelung dengan indah, tangannya asik dengan mesin tik yang membuat telinga pekak mendengarnya tetapi, berbeda dengan dia yang menganggapnya nyanyian setiap hari.
Pohon rindang yang dahannya sampai pada balkon kamarnya, Daleena tersenyum melihat daun yang berserakan di lantai.
Daleena putri sulung keluarga Duchees, ia sangat cerdas serta pandai dalam mengatur keuangan oleh karena itu dia adalah Nona kedua setelah Nyonya Selena Duchees, istri Tuan Duchees.
Tapi, siapa yang tahu kalau Daleena adalah penulis novel fiksi yang banyak di gemari remaja seantero kerajaan Rumania. Sebetulnya, Daleena sendiri diminta keluarga kerajaan untuk menjadi menantu pangeran Edward, tetapi ia menolak dan tetap ingin bersama menjadi bagian keuangan keluarga Duchees.
Bukan tanpa alasan, keluarga kerjaan melamar Daleena, itu karena pangeran Edward sendiri sangat mengagumi Daleena.
Begitu pula dengan adik laki-lakinya yang sibuk menjadi jendral di kerajaan, sering kali nama kakaknya disebut oleh setiap prajurit.
Namun, Daleena larut dalam kisahnya sendiri.
Empat cangkir teh tertata diatas meja dengan poci teh bercorak kuda, Daleena meraba poci itu dengan senyum mengembang melihat wajah ibunya yang sedari tadi juga menatapnya.
"Kau sangat menyukai kuda?" tanya Tuan Duchees.
"Em, tidak, aku hanya suka dengan bau buku, suara mesin tik dan bau uang," seringainya ditimpali tawa kecil adiknya, Earl Duchcees.
"Kau sudah waktunya menikah," Ibunya angkat bicara.
"Aku akan menikah, Bu, tenanglah."
"Apa kau punya kekasih,Kak?"
"Ya."
Earl menatap Daleena tidak percaya dengan menutup mulutnya yang ternganga.
"Aku serius," Daleena meyakinkan.
"Siapa dia, dari keluarga mana?" kali ini Nyonya Duchcees sangat antusias.
"Belum tahu, akan aku cari tahu."
"Seperti apa dia, barangkali aku kenal, Kak?"
"Dia ... suka buku, penulis novel, sangat menyukai kuda, dia suka martial art tetapi, enggan untuk mempraktekannya."
"Ah, jelas dia tidak dari arkade manapun," Earl memotong penjelasan Daleena.
Daleena mengangguk, "karena dia hanya laki-laki biasa."
"Tidak, Ayah, menentang perkenalan itu," ucap Tuan Duchees tiba-tiba.
Daleena berkerut menatap Ayahnya, "why?"
"Kita Duchees, seharusnya kau bisa jadi menantu kerajaan," jelas Ayahnya.
Daleena menghela napas kesal, "apa pernikahan ku, perasaan ku negosiasi, ikatan dua keluarga bangsawan? Earl, jawablah ... jika suatu hari kau pulang perang dengan kekalahan lalu diperjalanan seorang wanita memberimu semangat baru dan kau menyukainya, apa kau akan menikah dengan putri raja?"
Earl menatap kakaknya.
"Jawablah!"
"Stop, Daleena," Tuan Duchees beranjak dari duduk, "siapapun laki-laki itu, aku akan menikahkan mu dengan pangeran Edward."
Daleena tidak menjawab perkataan Ayahnya yang terdengar ultimatum, Nyonya Duchees hanya menepuk pundak Daleena dan menatap Earl yang berdiri memegang pedang.
"Earl, jawablah," lirih Daleena.
"Kak."
"Oh, kau adalah prajurit, apa yang dikatakan raja adalah kalam yang harus dipatuhi," Daleena beranjak pergi dari ruang keluarga dan menuju kamarnya.
Daleena duduk di kursi rotan ditengah rimbunnya bunga cosmos , bulan separu ditambah bintang berhampar di langit ilahi, ia memejamkan mata sesekali bergumam, "aku harus menemuinya."
"Daleena."
Suara napas lembut menyapu telinganya, ia menoleh kearah kanan dan melihat wajah yang diharapkannya. Senyum menawan, rambut coklat, wajahnya yang sedikit terkena sinar bulan dan manik biru seakan menyedotnya kedalam manik tersebut.
"Apa yang kau lakukan?"
Daleena berdiri dan memeluk laki-laki yang berdiri dihadapannya, aroma bunga garbera yang segar memenuhi pikirannya.
"Daleena, apa kau tidak kedinginan?"
"Tidak, ada kau."
"Kau bertengkar dengan keluarga mu?"
Daleena mengangguk, "untuk pertama kalinya, Ayah, marah."
"Mari hentikan ini."
Daleena melepas pelukannya, seperti disambar petir hati Daleena saat ini. Menatap tajam Albert yang masih dihadapannya meletakan kedua tangan di bahu Daleena.
"Daleena, bisakah kita hentikan ini?"
"Kau bertanya padaku?"
"Ya, karena aku adalah separuh dirimu."
"Tidak mau."
Daleena membuang wajahnya, memeluk dirinya sendiri dengan wajah mulai kusut melihat hamparan bunga cosmos yang di tiup angin malam, Albert menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Kau mau aku disini?"
Daleena mengangguk.
"Baiklah," Albert menyandarkan pipinya di tengkuk Daleena yang putih, ia mencium harum mawar dan delima dari tubuhnya, "kau harum," gumamnya sembari menenggelamkan wajahnya disana.
"Albert Jhonson, kenapa aku mencium wangi bunga garbera setiap kali didekat mu?"
"Betulkah? Lalu, apa jadinya jika bau kita bersatu?"
Daleena mengulum senyum.
Albert menarik Daleena lebih erat ke dalam pelukannya, kini tangannya beralih mencengkram pinggang kecil Daleena dan memutar tubuhnya, Daleena sendiri dapat merasakan panas napas Albert yang terhembus di bibirnya.
"Kiss me," bisik Daleena.
Albert memajukan wajahnya, kini bibir keduanya saling menyentuh, "haruskah kita bersatu?"
Hanya anggukan yang diberikan Daleena sebab pikirannya telah jatuh pada mata manik biru, jiwanya terhirup kedalam imajinasi yang di ciptakan Albert.
"Baik, Ratu ku," desis Albert berat, ia membuka bibir Daleen yang terkatup dengan bibirnya, menelisik lebih jauh ke dalamnya, wangi segar dari rambut dan seluruh tubuh Daleena membuat Albert memejamkan mata dan mulai hilang akal, ia menarik erat dengan tubuh Daleena kedalam pelukannya.
Bulan setengah dengan angin yang berhembus membuat keduanya hanyut dalam suara dan permainan mereka, gesekan dari pohon cosmos menambah deru emosi keduanya.
*____*
Paman Robert menghentikan ceritanya begitu melihat Aku jatuh tersungkur dari kursi, dengan mencengkram dada sekuat tenaga dan napas tersenggal kesakitan. Paman Robert menguncang tubuhku dan memberikan segelas air.
"Kau kenapa, Will?"
"Aku tidak tahu, Paman, hanya saja mendengar cerita Nona dan Albert Jhonson, membuat dadaku sesak, jika cinta keduanya begitu dekat, kenapa terpisah?"
Paman Robert berjalan menuju jendela, "karena malam itu, Ear, melihat kakaknya."
"Lalu?"
"William, kembalilah ke kamar dan beristirahat, oke?"
"Tidak, paman, aku ...."
"Will, apa yang kau lakukan mendengar bagian penting dari cerita ini?"
"Tentu aku akan mendengarnya."
Lagi-lagi Paman Robert mengambil napas panjang sebelum memulai cerita.
*_____*
Nyonya Duchees memandang Daleena dengan sedih, kamar berantakan penuh dengan kertas berisi sketsa laki-laki, ia memegang sketsa tersebut setiap garisnya terlihat hidup bahkan nyata, senyum dari bibir indah dan manik mata biru itu seakan dia hidup.
"Ibu, kau masuk ke kamar ku, bagaimana kalau kekasih ku."
Nyonya Duchees meraih kasar kertas di lantai, "apa yang kau katakan pada keluarga Baron, Viscount? Kau sudah menikah?"
"Bu, itu memang betul," Daleena mengumpulkan semua kertas di lantai.
"Sadarlah, Daleena!" suara ibunya menggema di kamarnya.
Daleena terdiam dan menoleh kearah ibunya, "kenapa, Bu?"
"Apa dia yang kau maksud?" Nyonya Duchees menunjuk kertas ditangannya.
"Ya, dia kekasih ku."
"Dia, hanya khayalan mu, laki-laki seperti ini tidak ada! ini fiksi!"
"Ada! Dia nyata! Dia ada disetiap napas ku!" Suara Daleena tidak kalah kencangnya dengan Nyonya Duchees.
"Tunjukan padaku, dimana dia?" Tuan Duchees masuk sembari menyembunyikan tangannya di belakang.
"Baiklah, aku akan menunjukannya, lihatlah ke sana, di landang bunga cosmos, dia berdiri menatap ku melambaikan tangan dan tersenyum, bahkan dia memberi hormat pada, Ayah," Daleena menggebu sembari menunjuk hamparan bunga cosmos yang hanya ada seorang tukang kebun yang memilah bunga busuk dan memupuk.
Tuan Duchees berkerut, "kau tidak waras."
"Apa?"
"Kau sudah tidak waras, Daleena."
Nyonya Duchees menutup wajahnya menahan tangis.
"Apa kau tertekan?"
"Tidak, karena Albert, selalu mengajak ku bicara dan menunjukan hal baru."
"Albert?"
"Ya, Ayah, itu dia," Daleena menunjuk pintu kamarnya.
Tidak ada siapapun, tetapi Daleena berlari kecil mengangkat sedikit gaun hijau yang dikenakannya dan seakan memeluk seseorang disana.
Tuan Duchess melayangkan tangannya menampar Daleena hingga dia jatuh tersungkur memegangi pipinya yang merah, ia menatap Ayahnya.
Semua yang melihat kaget dengan tamparan keras Tuan Duchees membuat semuanya terdiam.
"Ayah, apa ...."
"Kau sudah gila, Daleena," Tuan Duchees keluar dari kamar Daleena, "Earl, siapkan kereta serta barang-barang, Daleena, dia harus tinggal di green kastil."
"Tuan," lirih Nyonya Duchees yang berjalan di belakangnya.
"Aku tidak menerima pendapat atau meminta pertimbangan, kau tahu, gosip telah menyebar ke pelosok kota bahkan keluarga kerjaan mengirim dokter untuknya."
"Tapi, sampai kapan?"
"Sampai dia sadar siapa yang dicintainya."
Nyonya Duchees terduduk di lantai ruang tengah kastil selepas kepergian Tuan Duchees yang menuju kantor adipati, suara tangis Nyonya Duchees pecah begitu melihat Earl membawa kotak besar berisi barang-barang Daleena.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya.
*______*
Aku mencengkram dada yang semakin sesak, sudah tidak tertahan air mata yang sedari tadi basah di pipiku. Sebegitu menyukainyakah Nona dengan Albert Jhonson.
"Paman, apa aku bisa melihat sketsa Albert Jhonson?"
Paman Robert menggeleng, "Tuan memerintahkan penjaga untuk membakar semuanya, tetapi, Madame maria, menyelamatkan satu lukisan yang di letakan, Nona, di balik rak bukunya."
"Khok, khuk."
"Kau baik-baik saja, Will?"
"Ya, paman, aku akan beristirahat," pamit ku sembari keluar dari kamar Paman Robert.
Langkah gontai tangan yang tetap memegang dada, entah kenapa aku seperti merasakan cinta Nona dan itu membuatku sesak ingin menangis memeluknya. Ah, aku terbawa suasana kisah mereka berdua.
Sesampainya di kamar, dengan lilin sebagai penerang aku membaca novel yang diberikan Nona pagi tadi. Lembar demi lembar membuatku semakin sesak, kini aku tahu kekasih Nona dan Albert Jhonson.
Albert Jhonson hanya karakter fiksi yang diciptakan Nona Daleena dalam novel ini dan Nona Daleena sendiri yang menulis novel tersebut, tetapi Albert Jhonson nyata baginya hingga membuatnya gila dan jatuh cinta.
Aku berlari kecil menuju perpustakan tempat Nona menghabiskan waktu, ruangan penuh dengan buku, rak besar yang menjulang tinggi aku mencoba menyibak tirai merah besar di tembok tepat diatas tungku pemanas, lukisan laki-laki dengan ukuran besar terpajang indah.
Betul mata birunya adalah pesona utama, senyum indah, hidung kecil nan mancung, guratan pipi yang sempurna, rambut coklat menambahnya terlihat semakin menawan.
"Malaikat atau hanya imajinasi, dimana seseorang seperti ini?"
Namun, guratan tajam pada rahangnya adalah kesempurnaan sebuah karya. Jika Paman Robert berkata dia mirip dengan ku, apakah itu betul, aku memutar tubuhku dan melihat pantulan diriku di cermin.
"Albert?"
Aku menoleh keambang pintu, Nona Daleena berdiri dengan lilin di tangan.
Dia berjalan menghampiriku seraya menerangi wajah ku dengan lilin, ia menghela napas kecewa.
"Maaf, Wiil, ku pikir aku ... tidur sambil berjalan, aku bermimpi."
"Nona," aku menahan lengan kirinya.
Ia menghentikan langkah dan terkejut.
"Ini bukan mimpi, Nona, aku bukan Albert Jhonson tetapi, bisakah aku menjadi William Huggies untuk mu?"
Daleena menarik tangannya, menatapku dengan tajam dan senyum tidak suka, "apa maksudmu?"
"Bisakah aku menjadi cerita nyata mu?"
Daleena terdiam.
"Bisakah aku menjadi dunia nyata mu?"
Daleena melatakan lilinnya diatas tumpukan buku.
"Aku tidak berusaha menjadi pengganti Albert mu, hanya."
Mulutku mengatup hanya merasakan lembutnya bibir Nona Daleena, wangi mawar dan delima dari rambutnya membuatku sangat ingin melihat wajahnya yang hanya terkena siluet cahaya lilin.
"Will," desisnya begitu menjauhkan wajah dari hadapanku.
Aku tidak dapat mengatàkan apapun degup jantungku yang menderu hingga napas yang tidak beraturan hanya melihat Nona Daleena yang tertunduk.
"Aku sangat merindukan, Albert, maaf, membuatmu."
"Benarkah? Kalau begitu akulah Albert dunia nyatamu."
Nona Daleena menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan tidak dapat membedakan dunia imajinasi dan dunia nyata, jadi bagaimana mungkin aku bisa sadar ini dunia nyata?"
Aku tidak dapat menahan mata sendu yang dibuatnya, aku melangkah maju lebih dekat dengan Nona Daleena, dalam hati ku tidak lagi peduli dia adalah Nona ku dan aku hanya pembaca dongeng, aku hanya tidak mampu menahan sesak yang mendorong untuk memeluknya.
Daleena pasrah dalam pelukanku, ia menangis pelan seraya meremas ujung kemeja putih yang ku kenakan. Perlahan aku menuntun tangannya untuk memeluk diriku.
"Will, aku mencium wangi bunga Garbera," lirihnya.
"Hem."
"Dari tubuhmu."
Aku semakin erat memeluknya, mengesekan hidungku pada tengkuk ceruk nan harum. Entah memang diriku wangi garbera atau karena aku habis berjalan di kebun bunga garbera.
"Apa kau sadar dengan pelukan ku?"
"Ya, Will."
"Bisakah aku memeluk mu setiap kali aku ingin?"
Nona Daleena mengangguk.
"Kau sangat wangi, Nona."
*______*
Sinar matahari masuk melalui gorden kamar yang tersapu angin, semilir wangi teh melati dan manis dari roti membuat ku mengerjapkan mata, tetapi tangan hangat menyentuh pipi ku, jari yang lentik membuat garis dari kening hingga hidung.
"Aku nyata, Daleena," ucapku sembari membuka mata, senyum kecil di wajah cantik itu menyambut ku.
Daleena menggenggam tanganku, "aku tahu."
"Lalu?"
"Aku menyukainya."
Aku menyelipkan jemari ke setiap lentik jemari Daleena, sekali lagi Daleena tidak berhenti tersenyum tapi, terlihat sangat sedih di mataku.
"Ku pikir, aku tidak bisa membedakan, Albert dan kau."
"Kami mirip," sambungku dengan mengangguk-angguk, kini aku mengerti apa yang membuatnya sedikit bersedih, mencintai laki-laki dalam khayalannya tetapi, sulit menerima kenyataan kalau diriku adalah William.
"Bisakah kau menungguku?"
"Ya, dengan senang hati, Nona ku."
Daleena terdiam, hanyut dengan pikiran yang tidak di mengerti oleh siapapun.
"Andaikan Alabert Jhonson nyata dan aku bertemu dengannya, mungkin aku juga akan jatuh cinta padanya."
Daleena menatapku dengan memiringkan kepala.
"Ya, dia tampan, hebat, bukankah dia penulis juga, aku suka seorang penulis, terlebih dia sangat berwibawa."
"Aku yang menulisnya."
"Oleh karena itu aku menyukaimu, Nona Daleena, sangat, sangat menyukaimu."
Wajah putihnya memerah, telinga memerah bukankah dia sedikit tersipu, aku mengulum senyum melihatnya. Jemari kami masih saling terpaut, itu mempermudah diriku menarik Daleena ke dalam pelukanku.
"Will," kagetnya.
"Kau berjanji," rengekku sembari mennggelamkan wajah di ceruk lehernya, "Nona, mari seperti ini seharian."
"Tidak, aku harus menyelesaikan beberapa buku yang ku baca."
"Akan ku bacakan, jadi, diamlah," bisikku sembari mengangkat tubuh mungil kedalam pangkuanku, ku lihat sesekali Nona Daleena menarik napas dalam-dalam, "apa aku kekurangan oksigen?"
"Ah, tidak, hanya saja."
"Kau mencium wangi bunga garbera?"
Ia mengangguk membuat gesekan pada dadaku dengan rambutnya, wajahku seketika memanas dan menarik dagu Daleena menghadapku.
"Kiss me."
Seperti perintah dari majikan, hasratku menurut dan mulai mencium bibir mungilnya, bunga mawar dan delima seperti aroma yang menghipnotis seluruh pikiranku. Mata yang terpaku pada wajah putih dan lentiknya bulu mata, aku dapat merasakan sengatan listrik yang sangat kuat di hatiku.
Daleena lebih dulu melepas tautan bibirku, tangan serakah ku meremas pinggangnya tetapi dia menjauhkan tubuhnya dari ku.
"Kenapa?"
"Maukah kau melewati jalan ini bersamaku, wanita gila di negara ini?"
"Ya, lalu?"
"Apa kau betul-betul tertarik padaku?"
"Tidak, bukan hanya sekedar tertarik, Nona. tetapi, aku menyukaimu setiap apa yang ada pada dirimu, tidak peduli seberapa gilanya dirimu dengan tokoh fiksimu, aku akan menjadi satu-satunya yang nyata untukmu, jadi, siapkah hidup bersamaku?"
Daleena mengigit bibir mencoba menahan tangis.
"Apa kau mengkhawatirkan keluargamu?"
"Kau tahu mereka."
"Ya. Kau tidak khawatir dengan cinta mu?"
Ku lihat Daleena dalam dilema besar, pikiran yang berkecamuk serta perasaan yang membuncah membuatnya bingung, aku meraih telapak tangannya dan mencium lembut hingga ia tersipu.
"Mari pikiran masa sekarang saja, untuk kita."
"Will."
Aku memeluk Daleena, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Daleena sendiri dengan jemari lentiknnya memainkan ujung kemejaku, mungkin ini yang dia lakukan ketika gelisah atau berpikir sesuatu, unik.
"Will, maukah kau menjadi pengantin priaku?"
Wajahku membeku seperti tersiram air dingin mendengar pertanyaan Daleena, aku melepas pelukannya dan menatapnya dengan serius.
Daleena tersenyum lebar menunjukan gigi putih yang rapi, serta bendungan air mata di sudut matanya.
"Ya."
Daleena berlari keluar menuju balkon kamar, "Paman Robert, Maria, aku akan menikah!" teriaknya.
Entah apa yang dipikirkan Paman Robert, tetapi Madame Maria telah berdiri dibelankang ku dengan senyum haru dan menepuk pundak ku.
"Kau berkah untuk kastil dan Nona."
Aku hanya tertunduk. Benar, mereka menganggap aku adalah berkah tetapi, diriku menganggap ini keberuntungan dan takdir yang membawaku pada Noona Daleena.
*____*
Ah, Albert, aku bisa mengalahkan mu, batinku terkekeh begitu melihat naskah novel Nona di meja kamarku.
Kamar ku yang kosong berganti dengan ruang editor setelah menikah, aku juga harus mencari nafkah. Walaupun, penghasilan ku sebagai editor tidak seberapa, menjadi asisten untuk Noona Daleena tidak masalah toh, kita bekerja di satu ruangan.
Mengingat Daleena yang sulit fokus menulis didekatku, kini ia memilih ruangan kecil paman Robert di kebun mawar, mengunci diri sekitar 4 jam setiap harinya, justru hal itu menyiksaku.
Hanya bersama mesin tik di ruang kerja tetapi, aroma tubuhnya mengganggu pikiranku dan sangat merindukannya.
"Apakah aku harus ambil cuti bulan madu? Ya, kupikir itu ide bagus," aku segera menulis surat izin dan meletakannya diatas meja Daleena.
Aku membuka almari besar mencari koper, memilah beberapa pakaian milikku dan Daleena.
"William!"
Gebrakan pintu beriringan dengan suara keras Daleena memanggil, membuatku terkikik tidak menghiraukannya.
"Cuti bulan madu, apa maksudnya, Will?"
"Ya, Noona. Aku akan mengambil cuti selama sepekan karena bulan madu bersama istriku."
"Your wife?"
"Ya, Daleena."
"Haruskah?"
Aku mengangguk.
"Baiklah," jawabnya cepat sembari mendekat dan memelukku, "tapi, bukankah kita butuh banyak uang untuk hidup, pak editor?"
Bagai tertusuk belati hati ku merasakan nyeri, "ah, ternyata kau materialistis."
Daleena melepas pelukannya dan tersenyum jahil, "mari bulan madu, pikirkan itu lain waktu."
Aku hanya mengacungkan jempol.
*_______*
Deburan ombak di pantai malam hari begitu terasa, aku yang menarik napas panjang melihat Daleena yang asik berbincang dengan beberapa tentara dan adiknya.
Bukan tanpa alasan dia mengajak bulan madu ke kamp militer perbatasan laut ini, itu semua karena novel yang ditulisnya.
Aku memainkan pasir dengan kaki, menyesal membiarkan Daleena yang membawa kuda.
"Will, kau merajuk?"
"Aku, isk, tidak," jawabku sembari membuang wajah.
"Kau merajuk, ayo ... ada villa dekat sini. Itu milik keluargaku."
"Baiklah, hari juga semakin larut."
"Apa kau berpikir kita akan tidur di kamp militer?"
"Ya."
Daleena terkekeh.
Villa atau kastil tua di hadapanku adalah rumah batu besar tetapi sangat mewah, Daleena lebih dulu masuk membawa lentera yang tergantung di dinding dan membawa kami pada kamar indah.
"Ini peninggalan tetua keluargaku dan di wariaskan turun temurun."
"Waah, sesaat aku lupa."
"Apa?"
"Kalau istriku memiliki banyak aset."
"Isk."
Daleena meletakan lentaranya dan duduk di kasur lebara, ia menatapku sembari tersenyum.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
Akh, kenapa hari ini dia yang selangkah didepanku.
Aku mendekat perlahan, menangkup pipi dan menariknya ke hadapan wajahku.
"Kau memprovokasi ku, Nona."
Hanya senyuman yang ku lihat dan malam semakin larut, deburan ombak yang masih terdengar ditambah cahaya bulan yang masuk membuat segalanya di kamar ini indah.
Termasuk Nonaku.
Jadi, biarkan aku merasakan keindahan ini.
※END※
Kulit seputih susu, bibir berwarna merah, rambut hitam legam, kaki jenjang, jemari lentik bahkan kukunya yang cantik berwarna merah jambu, sangat mempesona. Ditambah mata bulat bermanik coklat pada umumnya, tetapi sangat istimewa.
Green house seperti kastil buangan di kalangan bangsawan, hanya ada 5 pelayan yang bekerja di Green House. Satu kepala pelayan, 2 pelayan wanita, 1 tukang kebun dan 1 juru baca, yaitu Aku sendiri.
Mungkin semua tahu kenapa Green Hause seperti kastil buangan, bahkan para bangsawan tidak menganggapnya sekalipun gelar yang dimiliki Nona rumah sangat berpengaruh.
Daleena Duchees, Duchees gelar bangswan setelah king. Daleena bukan hanya dibuang oleh para bangsawan tetapi, keluarga Duchees membuangnya setelah insiden 10 tahun lalu.
Wangi bunga garbera dari halaman belakang kastiil membuatku menarik napas panjang, hah, indahnya kastil ini. Warna warni bunga garbera, bunga cosmos yang bergoyang serta dahlia yang rimbun dibalik lebatnya tanaman ivy yang merambat di pagar kastil.
"Bukankah kastil ini tidak cocok dengan kata 'buangan'?"
Aku menoleh, Nyonya Maria datang sembari mengelap tangan dengan apron yang selalu terlilit di pinggangnya.
Aku mengangguk sembari melipat kedua tangan di dada.
"Ah, Will, Nona ... menunggumu di ruang baca, cepat, cepat ke sana," perintahnya seketika panik.
"Ah, baiklah," Aku berlari kecil masuk melewati dapur, meraih roti hangat sebelumnya melambaikan tangan kearah Stewart yang membuat mie, lalu Amy yang asik mengeringkan bunga melati untuk teh.
Menaiki 23 anak tangga dan berdiri didepan pintu besar berwarna coklat dengan lukisan kuda dan tungkai pintu terbuat dari mas, aku selalu kagum dengan ruangan tersebut dimana hanya di sana aku mencium bau buku, kertas lemba dan rak hingga ke langit-langit berisi berbagai buku.
Aku tersenyum sembari membungkuk, "apa yang harus hamba bacakan hari ini?"
Ia menunjuk meja kecil disampinganya, setumpuk kertas berwarna putih dengan berisi tulisan tangan nan indah, tinta cair dan pen yang kuat, jelas ini tulisan seorang berbakat.
"Wah, indahnya."
"Bacakan."
Aku mengangguk.
Nona Daleena menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, gaun hijau, rambut tergerai, oh Tuhan ... siapa yang dihadapan ku, dewikah?.
"Will, berhenti menatapku."
Ah, aku jadi kiku seketika duduk pada bantal yang disedikakan di lantai dan menarik napas panjang.
"Langit biru, awan putih berjejak menaungi atap kastil mewah, setiap hari wangi bunga garbera ditambah teh melati itu yang ku ingat setiap harinya."
Aku terdiam, bukankah paragraf ini seperti yang kurasakan setiap harinya? Atau hanya perasaan kesamaan.
Ku lihat Nona Daleena memejamkan mata.
Aku terdiam melihat kertas di tanganku, tulisan indah ini apakah milik penulis novel yang digosipkan banyak orang di luar kastil. Nyonya Maria menghampiriku memberi isyarat untuk meninggalkan Nona, setelah menyelimutinya yang terlelap, aku menghampiri Nyonya Maria.
"Madame, apakah kau pernah mendengar tentang novelis yang bekerja di kediaman Duchees?"
Nyonya Maria menatapku.
"Kau pasti tahukan?"
"William Huggie, ku harap kau hanya peduli dengan pekerjaanmu."
Tidak seperti biasanya, perkataan Nyonya Maria terdengar tajam dan tidak suka dengan pertanyaanku. Apa gosip itu benar adanya? Ah, aku harus bertanya pada Paman Robert.
Aku berlari menuju taman kastil, tidak ada Paman Robert hanya ada Stewart yang membawa poci teh dan baki. Ia berlari menghampiriku.
"Hei, apa kau mencari paman Robert?"
"Ya, kau tahu dia dimana?"
"Seperti biasa dia menikmati kopi dan roti kering."
Aku segera berlari ke pondok milik Paman Robert yang terletak tidak jauh dari kebun sayur, lampu minyak yang nyala pertanda dia ada disana.
"Paman Robert," panggilku sembari membuka pintu, terlihat ia menyesap tembakau gulung ditambah kopi yang mengepul di meja kecil.
Ia melirik ku tak senang.
"Apa kau tahu, apa yang akan ku tanyakan?" Aku menarik bangku tepat dihadapan Paman Robert.
Ia menghela napas panjang, "apa ini bulan April?"
Aku menatap Paman Robert.
"Dia mirip denganmu, penulis novel itu."
Ah, jadi itu alasannya Nona Daleena selalu menatapku dari balkon kamarnya, saat aku sesekali membantu Paman Robert merawat tanaman.
"Pertama kali kau datang, aku tidak suka karena kau mengingatkan luka, Nona Daleena, tapi itu adalah hari pertama Nona tersenyum setelah sekian tahun."
Aku melihat bayangan Paman Robert dan mendengar helaan napas beratnya.
"Kau mau dengar cerita cinta kastil Duchees?"
Aku mengangguk cepat.
"Ini akan mengubah pemikiranmu tentang, Nona."
"Itu akan ku putuskan nanti."
Sekali lagi Paman Robert menghela napas.
*____*
Kastil Duchees.
Angin musim semi yang masuk lewat jendela balkon, serta dingin yang mulai terasa membuatnya merapatkan syal di pundak, rambut hitam yang tergelung dengan indah, tangannya asik dengan mesin tik yang membuat telinga pekak mendengarnya tetapi, berbeda dengan dia yang menganggapnya nyanyian setiap hari.
Pohon rindang yang dahannya sampai pada balkon kamarnya, Daleena tersenyum melihat daun yang berserakan di lantai.
Daleena putri sulung keluarga Duchees, ia sangat cerdas serta pandai dalam mengatur keuangan oleh karena itu dia adalah Nona kedua setelah Nyonya Selena Duchees, istri Tuan Duchees.
Tapi, siapa yang tahu kalau Daleena adalah penulis novel fiksi yang banyak di gemari remaja seantero kerajaan Rumania. Sebetulnya, Daleena sendiri diminta keluarga kerajaan untuk menjadi menantu pangeran Edward, tetapi ia menolak dan tetap ingin bersama menjadi bagian keuangan keluarga Duchees.
Bukan tanpa alasan, keluarga kerjaan melamar Daleena, itu karena pangeran Edward sendiri sangat mengagumi Daleena.
Begitu pula dengan adik laki-lakinya yang sibuk menjadi jendral di kerajaan, sering kali nama kakaknya disebut oleh setiap prajurit.
Namun, Daleena larut dalam kisahnya sendiri.
Empat cangkir teh tertata diatas meja dengan poci teh bercorak kuda, Daleena meraba poci itu dengan senyum mengembang melihat wajah ibunya yang sedari tadi juga menatapnya.
"Kau sangat menyukai kuda?" tanya Tuan Duchees.
"Em, tidak, aku hanya suka dengan bau buku, suara mesin tik dan bau uang," seringainya ditimpali tawa kecil adiknya, Earl Duchcees.
"Kau sudah waktunya menikah," Ibunya angkat bicara.
"Aku akan menikah, Bu, tenanglah."
"Apa kau punya kekasih,Kak?"
"Ya."
Earl menatap Daleena tidak percaya dengan menutup mulutnya yang ternganga.
"Aku serius," Daleena meyakinkan.
"Siapa dia, dari keluarga mana?" kali ini Nyonya Duchcees sangat antusias.
"Belum tahu, akan aku cari tahu."
"Seperti apa dia, barangkali aku kenal, Kak?"
"Dia ... suka buku, penulis novel, sangat menyukai kuda, dia suka martial art tetapi, enggan untuk mempraktekannya."
"Ah, jelas dia tidak dari arkade manapun," Earl memotong penjelasan Daleena.
Daleena mengangguk, "karena dia hanya laki-laki biasa."
"Tidak, Ayah, menentang perkenalan itu," ucap Tuan Duchees tiba-tiba.
Daleena berkerut menatap Ayahnya, "why?"
"Kita Duchees, seharusnya kau bisa jadi menantu kerajaan," jelas Ayahnya.
Daleena menghela napas kesal, "apa pernikahan ku, perasaan ku negosiasi, ikatan dua keluarga bangsawan? Earl, jawablah ... jika suatu hari kau pulang perang dengan kekalahan lalu diperjalanan seorang wanita memberimu semangat baru dan kau menyukainya, apa kau akan menikah dengan putri raja?"
Earl menatap kakaknya.
"Jawablah!"
"Stop, Daleena," Tuan Duchees beranjak dari duduk, "siapapun laki-laki itu, aku akan menikahkan mu dengan pangeran Edward."
Daleena tidak menjawab perkataan Ayahnya yang terdengar ultimatum, Nyonya Duchees hanya menepuk pundak Daleena dan menatap Earl yang berdiri memegang pedang.
"Earl, jawablah," lirih Daleena.
"Kak."
"Oh, kau adalah prajurit, apa yang dikatakan raja adalah kalam yang harus dipatuhi," Daleena beranjak pergi dari ruang keluarga dan menuju kamarnya.
Daleena duduk di kursi rotan ditengah rimbunnya bunga cosmos , bulan separu ditambah bintang berhampar di langit ilahi, ia memejamkan mata sesekali bergumam, "aku harus menemuinya."
"Daleena."
Suara napas lembut menyapu telinganya, ia menoleh kearah kanan dan melihat wajah yang diharapkannya. Senyum menawan, rambut coklat, wajahnya yang sedikit terkena sinar bulan dan manik biru seakan menyedotnya kedalam manik tersebut.
"Apa yang kau lakukan?"
Daleena berdiri dan memeluk laki-laki yang berdiri dihadapannya, aroma bunga garbera yang segar memenuhi pikirannya.
"Daleena, apa kau tidak kedinginan?"
"Tidak, ada kau."
"Kau bertengkar dengan keluarga mu?"
Daleena mengangguk, "untuk pertama kalinya, Ayah, marah."
"Mari hentikan ini."
Daleena melepas pelukannya, seperti disambar petir hati Daleena saat ini. Menatap tajam Albert yang masih dihadapannya meletakan kedua tangan di bahu Daleena.
"Daleena, bisakah kita hentikan ini?"
"Kau bertanya padaku?"
"Ya, karena aku adalah separuh dirimu."
"Tidak mau."
Daleena membuang wajahnya, memeluk dirinya sendiri dengan wajah mulai kusut melihat hamparan bunga cosmos yang di tiup angin malam, Albert menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Kau mau aku disini?"
Daleena mengangguk.
"Baiklah," Albert menyandarkan pipinya di tengkuk Daleena yang putih, ia mencium harum mawar dan delima dari tubuhnya, "kau harum," gumamnya sembari menenggelamkan wajahnya disana.
"Albert Jhonson, kenapa aku mencium wangi bunga garbera setiap kali didekat mu?"
"Betulkah? Lalu, apa jadinya jika bau kita bersatu?"
Daleena mengulum senyum.
Albert menarik Daleena lebih erat ke dalam pelukannya, kini tangannya beralih mencengkram pinggang kecil Daleena dan memutar tubuhnya, Daleena sendiri dapat merasakan panas napas Albert yang terhembus di bibirnya.
"Kiss me," bisik Daleena.
Albert memajukan wajahnya, kini bibir keduanya saling menyentuh, "haruskah kita bersatu?"
Hanya anggukan yang diberikan Daleena sebab pikirannya telah jatuh pada mata manik biru, jiwanya terhirup kedalam imajinasi yang di ciptakan Albert.
"Baik, Ratu ku," desis Albert berat, ia membuka bibir Daleen yang terkatup dengan bibirnya, menelisik lebih jauh ke dalamnya, wangi segar dari rambut dan seluruh tubuh Daleena membuat Albert memejamkan mata dan mulai hilang akal, ia menarik erat dengan tubuh Daleena kedalam pelukannya.
Bulan setengah dengan angin yang berhembus membuat keduanya hanyut dalam suara dan permainan mereka, gesekan dari pohon cosmos menambah deru emosi keduanya.
*____*
Paman Robert menghentikan ceritanya begitu melihat Aku jatuh tersungkur dari kursi, dengan mencengkram dada sekuat tenaga dan napas tersenggal kesakitan. Paman Robert menguncang tubuhku dan memberikan segelas air.
"Kau kenapa, Will?"
"Aku tidak tahu, Paman, hanya saja mendengar cerita Nona dan Albert Jhonson, membuat dadaku sesak, jika cinta keduanya begitu dekat, kenapa terpisah?"
Paman Robert berjalan menuju jendela, "karena malam itu, Ear, melihat kakaknya."
"Lalu?"
"William, kembalilah ke kamar dan beristirahat, oke?"
"Tidak, paman, aku ...."
"Will, apa yang kau lakukan mendengar bagian penting dari cerita ini?"
"Tentu aku akan mendengarnya."
Lagi-lagi Paman Robert mengambil napas panjang sebelum memulai cerita.
*_____*
Nyonya Duchees memandang Daleena dengan sedih, kamar berantakan penuh dengan kertas berisi sketsa laki-laki, ia memegang sketsa tersebut setiap garisnya terlihat hidup bahkan nyata, senyum dari bibir indah dan manik mata biru itu seakan dia hidup.
"Ibu, kau masuk ke kamar ku, bagaimana kalau kekasih ku."
Nyonya Duchees meraih kasar kertas di lantai, "apa yang kau katakan pada keluarga Baron, Viscount? Kau sudah menikah?"
"Bu, itu memang betul," Daleena mengumpulkan semua kertas di lantai.
"Sadarlah, Daleena!" suara ibunya menggema di kamarnya.
Daleena terdiam dan menoleh kearah ibunya, "kenapa, Bu?"
"Apa dia yang kau maksud?" Nyonya Duchees menunjuk kertas ditangannya.
"Ya, dia kekasih ku."
"Dia, hanya khayalan mu, laki-laki seperti ini tidak ada! ini fiksi!"
"Ada! Dia nyata! Dia ada disetiap napas ku!" Suara Daleena tidak kalah kencangnya dengan Nyonya Duchees.
"Tunjukan padaku, dimana dia?" Tuan Duchees masuk sembari menyembunyikan tangannya di belakang.
"Baiklah, aku akan menunjukannya, lihatlah ke sana, di landang bunga cosmos, dia berdiri menatap ku melambaikan tangan dan tersenyum, bahkan dia memberi hormat pada, Ayah," Daleena menggebu sembari menunjuk hamparan bunga cosmos yang hanya ada seorang tukang kebun yang memilah bunga busuk dan memupuk.
Tuan Duchees berkerut, "kau tidak waras."
"Apa?"
"Kau sudah tidak waras, Daleena."
Nyonya Duchees menutup wajahnya menahan tangis.
"Apa kau tertekan?"
"Tidak, karena Albert, selalu mengajak ku bicara dan menunjukan hal baru."
"Albert?"
"Ya, Ayah, itu dia," Daleena menunjuk pintu kamarnya.
Tidak ada siapapun, tetapi Daleena berlari kecil mengangkat sedikit gaun hijau yang dikenakannya dan seakan memeluk seseorang disana.
Tuan Duchess melayangkan tangannya menampar Daleena hingga dia jatuh tersungkur memegangi pipinya yang merah, ia menatap Ayahnya.
Semua yang melihat kaget dengan tamparan keras Tuan Duchees membuat semuanya terdiam.
"Ayah, apa ...."
"Kau sudah gila, Daleena," Tuan Duchees keluar dari kamar Daleena, "Earl, siapkan kereta serta barang-barang, Daleena, dia harus tinggal di green kastil."
"Tuan," lirih Nyonya Duchees yang berjalan di belakangnya.
"Aku tidak menerima pendapat atau meminta pertimbangan, kau tahu, gosip telah menyebar ke pelosok kota bahkan keluarga kerjaan mengirim dokter untuknya."
"Tapi, sampai kapan?"
"Sampai dia sadar siapa yang dicintainya."
Nyonya Duchees terduduk di lantai ruang tengah kastil selepas kepergian Tuan Duchees yang menuju kantor adipati, suara tangis Nyonya Duchees pecah begitu melihat Earl membawa kotak besar berisi barang-barang Daleena.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya.
*______*
Aku mencengkram dada yang semakin sesak, sudah tidak tertahan air mata yang sedari tadi basah di pipiku. Sebegitu menyukainyakah Nona dengan Albert Jhonson.
"Paman, apa aku bisa melihat sketsa Albert Jhonson?"
Paman Robert menggeleng, "Tuan memerintahkan penjaga untuk membakar semuanya, tetapi, Madame maria, menyelamatkan satu lukisan yang di letakan, Nona, di balik rak bukunya."
"Khok, khuk."
"Kau baik-baik saja, Will?"
"Ya, paman, aku akan beristirahat," pamit ku sembari keluar dari kamar Paman Robert.
Langkah gontai tangan yang tetap memegang dada, entah kenapa aku seperti merasakan cinta Nona dan itu membuatku sesak ingin menangis memeluknya. Ah, aku terbawa suasana kisah mereka berdua.
Sesampainya di kamar, dengan lilin sebagai penerang aku membaca novel yang diberikan Nona pagi tadi. Lembar demi lembar membuatku semakin sesak, kini aku tahu kekasih Nona dan Albert Jhonson.
Albert Jhonson hanya karakter fiksi yang diciptakan Nona Daleena dalam novel ini dan Nona Daleena sendiri yang menulis novel tersebut, tetapi Albert Jhonson nyata baginya hingga membuatnya gila dan jatuh cinta.
Aku berlari kecil menuju perpustakan tempat Nona menghabiskan waktu, ruangan penuh dengan buku, rak besar yang menjulang tinggi aku mencoba menyibak tirai merah besar di tembok tepat diatas tungku pemanas, lukisan laki-laki dengan ukuran besar terpajang indah.
Betul mata birunya adalah pesona utama, senyum indah, hidung kecil nan mancung, guratan pipi yang sempurna, rambut coklat menambahnya terlihat semakin menawan.
"Malaikat atau hanya imajinasi, dimana seseorang seperti ini?"
Namun, guratan tajam pada rahangnya adalah kesempurnaan sebuah karya. Jika Paman Robert berkata dia mirip dengan ku, apakah itu betul, aku memutar tubuhku dan melihat pantulan diriku di cermin.
"Albert?"
Aku menoleh keambang pintu, Nona Daleena berdiri dengan lilin di tangan.
Dia berjalan menghampiriku seraya menerangi wajah ku dengan lilin, ia menghela napas kecewa.
"Maaf, Wiil, ku pikir aku ... tidur sambil berjalan, aku bermimpi."
"Nona," aku menahan lengan kirinya.
Ia menghentikan langkah dan terkejut.
"Ini bukan mimpi, Nona, aku bukan Albert Jhonson tetapi, bisakah aku menjadi William Huggies untuk mu?"
Daleena menarik tangannya, menatapku dengan tajam dan senyum tidak suka, "apa maksudmu?"
"Bisakah aku menjadi cerita nyata mu?"
Daleena terdiam.
"Bisakah aku menjadi dunia nyata mu?"
Daleena melatakan lilinnya diatas tumpukan buku.
"Aku tidak berusaha menjadi pengganti Albert mu, hanya."
Mulutku mengatup hanya merasakan lembutnya bibir Nona Daleena, wangi mawar dan delima dari rambutnya membuatku sangat ingin melihat wajahnya yang hanya terkena siluet cahaya lilin.
"Will," desisnya begitu menjauhkan wajah dari hadapanku.
Aku tidak dapat mengatàkan apapun degup jantungku yang menderu hingga napas yang tidak beraturan hanya melihat Nona Daleena yang tertunduk.
"Aku sangat merindukan, Albert, maaf, membuatmu."
"Benarkah? Kalau begitu akulah Albert dunia nyatamu."
Nona Daleena menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan tidak dapat membedakan dunia imajinasi dan dunia nyata, jadi bagaimana mungkin aku bisa sadar ini dunia nyata?"
Aku tidak dapat menahan mata sendu yang dibuatnya, aku melangkah maju lebih dekat dengan Nona Daleena, dalam hati ku tidak lagi peduli dia adalah Nona ku dan aku hanya pembaca dongeng, aku hanya tidak mampu menahan sesak yang mendorong untuk memeluknya.
Daleena pasrah dalam pelukanku, ia menangis pelan seraya meremas ujung kemeja putih yang ku kenakan. Perlahan aku menuntun tangannya untuk memeluk diriku.
"Will, aku mencium wangi bunga Garbera," lirihnya.
"Hem."
"Dari tubuhmu."
Aku semakin erat memeluknya, mengesekan hidungku pada tengkuk ceruk nan harum. Entah memang diriku wangi garbera atau karena aku habis berjalan di kebun bunga garbera.
"Apa kau sadar dengan pelukan ku?"
"Ya, Will."
"Bisakah aku memeluk mu setiap kali aku ingin?"
Nona Daleena mengangguk.
"Kau sangat wangi, Nona."
*______*
Sinar matahari masuk melalui gorden kamar yang tersapu angin, semilir wangi teh melati dan manis dari roti membuat ku mengerjapkan mata, tetapi tangan hangat menyentuh pipi ku, jari yang lentik membuat garis dari kening hingga hidung.
"Aku nyata, Daleena," ucapku sembari membuka mata, senyum kecil di wajah cantik itu menyambut ku.
Daleena menggenggam tanganku, "aku tahu."
"Lalu?"
"Aku menyukainya."
Aku menyelipkan jemari ke setiap lentik jemari Daleena, sekali lagi Daleena tidak berhenti tersenyum tapi, terlihat sangat sedih di mataku.
"Ku pikir, aku tidak bisa membedakan, Albert dan kau."
"Kami mirip," sambungku dengan mengangguk-angguk, kini aku mengerti apa yang membuatnya sedikit bersedih, mencintai laki-laki dalam khayalannya tetapi, sulit menerima kenyataan kalau diriku adalah William.
"Bisakah kau menungguku?"
"Ya, dengan senang hati, Nona ku."
Daleena terdiam, hanyut dengan pikiran yang tidak di mengerti oleh siapapun.
"Andaikan Alabert Jhonson nyata dan aku bertemu dengannya, mungkin aku juga akan jatuh cinta padanya."
Daleena menatapku dengan memiringkan kepala.
"Ya, dia tampan, hebat, bukankah dia penulis juga, aku suka seorang penulis, terlebih dia sangat berwibawa."
"Aku yang menulisnya."
"Oleh karena itu aku menyukaimu, Nona Daleena, sangat, sangat menyukaimu."
Wajah putihnya memerah, telinga memerah bukankah dia sedikit tersipu, aku mengulum senyum melihatnya. Jemari kami masih saling terpaut, itu mempermudah diriku menarik Daleena ke dalam pelukanku.
"Will," kagetnya.
"Kau berjanji," rengekku sembari mennggelamkan wajah di ceruk lehernya, "Nona, mari seperti ini seharian."
"Tidak, aku harus menyelesaikan beberapa buku yang ku baca."
"Akan ku bacakan, jadi, diamlah," bisikku sembari mengangkat tubuh mungil kedalam pangkuanku, ku lihat sesekali Nona Daleena menarik napas dalam-dalam, "apa aku kekurangan oksigen?"
"Ah, tidak, hanya saja."
"Kau mencium wangi bunga garbera?"
Ia mengangguk membuat gesekan pada dadaku dengan rambutnya, wajahku seketika memanas dan menarik dagu Daleena menghadapku.
"Kiss me."
Seperti perintah dari majikan, hasratku menurut dan mulai mencium bibir mungilnya, bunga mawar dan delima seperti aroma yang menghipnotis seluruh pikiranku. Mata yang terpaku pada wajah putih dan lentiknya bulu mata, aku dapat merasakan sengatan listrik yang sangat kuat di hatiku.
Daleena lebih dulu melepas tautan bibirku, tangan serakah ku meremas pinggangnya tetapi dia menjauhkan tubuhnya dari ku.
"Kenapa?"
"Maukah kau melewati jalan ini bersamaku, wanita gila di negara ini?"
"Ya, lalu?"
"Apa kau betul-betul tertarik padaku?"
"Tidak, bukan hanya sekedar tertarik, Nona. tetapi, aku menyukaimu setiap apa yang ada pada dirimu, tidak peduli seberapa gilanya dirimu dengan tokoh fiksimu, aku akan menjadi satu-satunya yang nyata untukmu, jadi, siapkah hidup bersamaku?"
Daleena mengigit bibir mencoba menahan tangis.
"Apa kau mengkhawatirkan keluargamu?"
"Kau tahu mereka."
"Ya. Kau tidak khawatir dengan cinta mu?"
Ku lihat Daleena dalam dilema besar, pikiran yang berkecamuk serta perasaan yang membuncah membuatnya bingung, aku meraih telapak tangannya dan mencium lembut hingga ia tersipu.
"Mari pikiran masa sekarang saja, untuk kita."
"Will."
Aku memeluk Daleena, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Daleena sendiri dengan jemari lentiknnya memainkan ujung kemejaku, mungkin ini yang dia lakukan ketika gelisah atau berpikir sesuatu, unik.
"Will, maukah kau menjadi pengantin priaku?"
Wajahku membeku seperti tersiram air dingin mendengar pertanyaan Daleena, aku melepas pelukannya dan menatapnya dengan serius.
Daleena tersenyum lebar menunjukan gigi putih yang rapi, serta bendungan air mata di sudut matanya.
"Ya."
Daleena berlari keluar menuju balkon kamar, "Paman Robert, Maria, aku akan menikah!" teriaknya.
Entah apa yang dipikirkan Paman Robert, tetapi Madame Maria telah berdiri dibelankang ku dengan senyum haru dan menepuk pundak ku.
"Kau berkah untuk kastil dan Nona."
Aku hanya tertunduk. Benar, mereka menganggap aku adalah berkah tetapi, diriku menganggap ini keberuntungan dan takdir yang membawaku pada Noona Daleena.
*____*
Ah, Albert, aku bisa mengalahkan mu, batinku terkekeh begitu melihat naskah novel Nona di meja kamarku.
Kamar ku yang kosong berganti dengan ruang editor setelah menikah, aku juga harus mencari nafkah. Walaupun, penghasilan ku sebagai editor tidak seberapa, menjadi asisten untuk Noona Daleena tidak masalah toh, kita bekerja di satu ruangan.
Mengingat Daleena yang sulit fokus menulis didekatku, kini ia memilih ruangan kecil paman Robert di kebun mawar, mengunci diri sekitar 4 jam setiap harinya, justru hal itu menyiksaku.
Hanya bersama mesin tik di ruang kerja tetapi, aroma tubuhnya mengganggu pikiranku dan sangat merindukannya.
"Apakah aku harus ambil cuti bulan madu? Ya, kupikir itu ide bagus," aku segera menulis surat izin dan meletakannya diatas meja Daleena.
Aku membuka almari besar mencari koper, memilah beberapa pakaian milikku dan Daleena.
"William!"
Gebrakan pintu beriringan dengan suara keras Daleena memanggil, membuatku terkikik tidak menghiraukannya.
"Cuti bulan madu, apa maksudnya, Will?"
"Ya, Noona. Aku akan mengambil cuti selama sepekan karena bulan madu bersama istriku."
"Your wife?"
"Ya, Daleena."
"Haruskah?"
Aku mengangguk.
"Baiklah," jawabnya cepat sembari mendekat dan memelukku, "tapi, bukankah kita butuh banyak uang untuk hidup, pak editor?"
Bagai tertusuk belati hati ku merasakan nyeri, "ah, ternyata kau materialistis."
Daleena melepas pelukannya dan tersenyum jahil, "mari bulan madu, pikirkan itu lain waktu."
Aku hanya mengacungkan jempol.
*_______*
Deburan ombak di pantai malam hari begitu terasa, aku yang menarik napas panjang melihat Daleena yang asik berbincang dengan beberapa tentara dan adiknya.
Bukan tanpa alasan dia mengajak bulan madu ke kamp militer perbatasan laut ini, itu semua karena novel yang ditulisnya.
Aku memainkan pasir dengan kaki, menyesal membiarkan Daleena yang membawa kuda.
"Will, kau merajuk?"
"Aku, isk, tidak," jawabku sembari membuang wajah.
"Kau merajuk, ayo ... ada villa dekat sini. Itu milik keluargaku."
"Baiklah, hari juga semakin larut."
"Apa kau berpikir kita akan tidur di kamp militer?"
"Ya."
Daleena terkekeh.
Villa atau kastil tua di hadapanku adalah rumah batu besar tetapi sangat mewah, Daleena lebih dulu masuk membawa lentera yang tergantung di dinding dan membawa kami pada kamar indah.
"Ini peninggalan tetua keluargaku dan di wariaskan turun temurun."
"Waah, sesaat aku lupa."
"Apa?"
"Kalau istriku memiliki banyak aset."
"Isk."
Daleena meletakan lentaranya dan duduk di kasur lebara, ia menatapku sembari tersenyum.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
Akh, kenapa hari ini dia yang selangkah didepanku.
Aku mendekat perlahan, menangkup pipi dan menariknya ke hadapan wajahku.
"Kau memprovokasi ku, Nona."
Hanya senyuman yang ku lihat dan malam semakin larut, deburan ombak yang masih terdengar ditambah cahaya bulan yang masuk membuat segalanya di kamar ini indah.
Termasuk Nonaku.
Jadi, biarkan aku merasakan keindahan ini.
※END※
Kulit seputih susu, bibir berwarna merah, rambut hitam legam, kaki jenjang, jemari lentik bahkan kukunya yang cantik berwarna merah jambu, sangat mempesona. Ditambah mata bulat bermanik coklat pada umumnya, tetapi sangat istimewa.
Green house seperti kastil buangan di kalangan bangsawan, hanya ada 5 pelayan yang bekerja di Green House. Satu kepala pelayan, 2 pelayan wanita, 1 tukang kebun dan 1 juru baca, yaitu Aku sendiri.
Mungkin semua tahu kenapa Green Hause seperti kastil buangan, bahkan para bangsawan tidak menganggapnya sekalipun gelar yang dimiliki Nona rumah sangat berpengaruh.
Daleena Duchees, Duchees gelar bangswan setelah king. Daleena bukan hanya dibuang oleh para bangsawan tetapi, keluarga Duchees membuangnya setelah insiden 10 tahun lalu.
Wangi bunga garbera dari halaman belakang kastiil membuatku menarik napas panjang, hah, indahnya kastil ini. Warna warni bunga garbera, bunga cosmos yang bergoyang serta dahlia yang rimbun dibalik lebatnya tanaman ivy yang merambat di pagar kastil.
"Bukankah kastil ini tidak cocok dengan kata 'buangan'?"
Aku menoleh, Nyonya Maria datang sembari mengelap tangan dengan apron yang selalu terlilit di pinggangnya.
Aku mengangguk sembari melipat kedua tangan di dada.
"Ah, Will, Nona ... menunggumu di ruang baca, cepat, cepat ke sana," perintahnya seketika panik.
"Ah, baiklah," Aku berlari kecil masuk melewati dapur, meraih roti hangat sebelumnya melambaikan tangan kearah Stewart yang membuat mie, lalu Amy yang asik mengeringkan bunga melati untuk teh.
Menaiki 23 anak tangga dan berdiri didepan pintu besar berwarna coklat dengan lukisan kuda dan tungkai pintu terbuat dari mas, aku selalu kagum dengan ruangan tersebut dimana hanya di sana aku mencium bau buku, kertas lemba dan rak hingga ke langit-langit berisi berbagai buku.
Aku tersenyum sembari membungkuk, "apa yang harus hamba bacakan hari ini?"
Ia menunjuk meja kecil disampinganya, setumpuk kertas berwarna putih dengan berisi tulisan tangan nan indah, tinta cair dan pen yang kuat, jelas ini tulisan seorang berbakat.
"Wah, indahnya."
"Bacakan."
Aku mengangguk.
Nona Daleena menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, gaun hijau, rambut tergerai, oh Tuhan ... siapa yang dihadapan ku, dewikah?.
"Will, berhenti menatapku."
Ah, aku jadi kiku seketika duduk pada bantal yang disedikakan di lantai dan menarik napas panjang.
"Langit biru, awan putih berjejak menaungi atap kastil mewah, setiap hari wangi bunga garbera ditambah teh melati itu yang ku ingat setiap harinya."
Aku terdiam, bukankah paragraf ini seperti yang kurasakan setiap harinya? Atau hanya perasaan kesamaan.
Ku lihat Nona Daleena memejamkan mata.
Aku terdiam melihat kertas di tanganku, tulisan indah ini apakah milik penulis novel yang digosipkan banyak orang di luar kastil. Nyonya Maria menghampiriku memberi isyarat untuk meninggalkan Nona, setelah menyelimutinya yang terlelap, aku menghampiri Nyonya Maria.
"Madame, apakah kau pernah mendengar tentang novelis yang bekerja di kediaman Duchees?"
Nyonya Maria menatapku.
"Kau pasti tahukan?"
"William Huggie, ku harap kau hanya peduli dengan pekerjaanmu."
Tidak seperti biasanya, perkataan Nyonya Maria terdengar tajam dan tidak suka dengan pertanyaanku. Apa gosip itu benar adanya? Ah, aku harus bertanya pada Paman Robert.
Aku berlari menuju taman kastil, tidak ada Paman Robert hanya ada Stewart yang membawa poci teh dan baki. Ia berlari menghampiriku.
"Hei, apa kau mencari paman Robert?"
"Ya, kau tahu dia dimana?"
"Seperti biasa dia menikmati kopi dan roti kering."
Aku segera berlari ke pondok milik Paman Robert yang terletak tidak jauh dari kebun sayur, lampu minyak yang nyala pertanda dia ada disana.
"Paman Robert," panggilku sembari membuka pintu, terlihat ia menyesap tembakau gulung ditambah kopi yang mengepul di meja kecil.
Ia melirik ku tak senang.
"Apa kau tahu, apa yang akan ku tanyakan?" Aku menarik bangku tepat dihadapan Paman Robert.
Ia menghela napas panjang, "apa ini bulan April?"
Aku menatap Paman Robert.
"Dia mirip denganmu, penulis novel itu."
Ah, jadi itu alasannya Nona Daleena selalu menatapku dari balkon kamarnya, saat aku sesekali membantu Paman Robert merawat tanaman.
"Pertama kali kau datang, aku tidak suka karena kau mengingatkan luka, Nona Daleena, tapi itu adalah hari pertama Nona tersenyum setelah sekian tahun."
Aku melihat bayangan Paman Robert dan mendengar helaan napas beratnya.
"Kau mau dengar cerita cinta kastil Duchees?"
Aku mengangguk cepat.
"Ini akan mengubah pemikiranmu tentang, Nona."
"Itu akan ku putuskan nanti."
Sekali lagi Paman Robert menghela napas.
*____*
Kastil Duchees.
Angin musim semi yang masuk lewat jendela balkon, serta dingin yang mulai terasa membuatnya merapatkan syal di pundak, rambut hitam yang tergelung dengan indah, tangannya asik dengan mesin tik yang membuat telinga pekak mendengarnya tetapi, berbeda dengan dia yang menganggapnya nyanyian setiap hari.
Pohon rindang yang dahannya sampai pada balkon kamarnya, Daleena tersenyum melihat daun yang berserakan di lantai.
Daleena putri sulung keluarga Duchees, ia sangat cerdas serta pandai dalam mengatur keuangan oleh karena itu dia adalah Nona kedua setelah Nyonya Selena Duchees, istri Tuan Duchees.
Tapi, siapa yang tahu kalau Daleena adalah penulis novel fiksi yang banyak di gemari remaja seantero kerajaan Rumania. Sebetulnya, Daleena sendiri diminta keluarga kerajaan untuk menjadi menantu pangeran Edward, tetapi ia menolak dan tetap ingin bersama menjadi bagian keuangan keluarga Duchees.
Bukan tanpa alasan, keluarga kerjaan melamar Daleena, itu karena pangeran Edward sendiri sangat mengagumi Daleena.
Begitu pula dengan adik laki-lakinya yang sibuk menjadi jendral di kerajaan, sering kali nama kakaknya disebut oleh setiap prajurit.
Namun, Daleena larut dalam kisahnya sendiri.
Empat cangkir teh tertata diatas meja dengan poci teh bercorak kuda, Daleena meraba poci itu dengan senyum mengembang melihat wajah ibunya yang sedari tadi juga menatapnya.
"Kau sangat menyukai kuda?" tanya Tuan Duchees.
"Em, tidak, aku hanya suka dengan bau buku, suara mesin tik dan bau uang," seringainya ditimpali tawa kecil adiknya, Earl Duchcees.
"Kau sudah waktunya menikah," Ibunya angkat bicara.
"Aku akan menikah, Bu, tenanglah."
"Apa kau punya kekasih,Kak?"
"Ya."
Earl menatap Daleena tidak percaya dengan menutup mulutnya yang ternganga.
"Aku serius," Daleena meyakinkan.
"Siapa dia, dari keluarga mana?" kali ini Nyonya Duchcees sangat antusias.
"Belum tahu, akan aku cari tahu."
"Seperti apa dia, barangkali aku kenal, Kak?"
"Dia ... suka buku, penulis novel, sangat menyukai kuda, dia suka martial art tetapi, enggan untuk mempraktekannya."
"Ah, jelas dia tidak dari arkade manapun," Earl memotong penjelasan Daleena.
Daleena mengangguk, "karena dia hanya laki-laki biasa."
"Tidak, Ayah, menentang perkenalan itu," ucap Tuan Duchees tiba-tiba.
Daleena berkerut menatap Ayahnya, "why?"
"Kita Duchees, seharusnya kau bisa jadi menantu kerajaan," jelas Ayahnya.
Daleena menghela napas kesal, "apa pernikahan ku, perasaan ku negosiasi, ikatan dua keluarga bangsawan? Earl, jawablah ... jika suatu hari kau pulang perang dengan kekalahan lalu diperjalanan seorang wanita memberimu semangat baru dan kau menyukainya, apa kau akan menikah dengan putri raja?"
Earl menatap kakaknya.
"Jawablah!"
"Stop, Daleena," Tuan Duchees beranjak dari duduk, "siapapun laki-laki itu, aku akan menikahkan mu dengan pangeran Edward."
Daleena tidak menjawab perkataan Ayahnya yang terdengar ultimatum, Nyonya Duchees hanya menepuk pundak Daleena dan menatap Earl yang berdiri memegang pedang.
"Earl, jawablah," lirih Daleena.
"Kak."
"Oh, kau adalah prajurit, apa yang dikatakan raja adalah kalam yang harus dipatuhi," Daleena beranjak pergi dari ruang keluarga dan menuju kamarnya.
Daleena duduk di kursi rotan ditengah rimbunnya bunga cosmos , bulan separu ditambah bintang berhampar di langit ilahi, ia memejamkan mata sesekali bergumam, "aku harus menemuinya."
"Daleena."
Suara napas lembut menyapu telinganya, ia menoleh kearah kanan dan melihat wajah yang diharapkannya. Senyum menawan, rambut coklat, wajahnya yang sedikit terkena sinar bulan dan manik biru seakan menyedotnya kedalam manik tersebut.
"Apa yang kau lakukan?"
Daleena berdiri dan memeluk laki-laki yang berdiri dihadapannya, aroma bunga garbera yang segar memenuhi pikirannya.
"Daleena, apa kau tidak kedinginan?"
"Tidak, ada kau."
"Kau bertengkar dengan keluarga mu?"
Daleena mengangguk, "untuk pertama kalinya, Ayah, marah."
"Mari hentikan ini."
Daleena melepas pelukannya, seperti disambar petir hati Daleena saat ini. Menatap tajam Albert yang masih dihadapannya meletakan kedua tangan di bahu Daleena.
"Daleena, bisakah kita hentikan ini?"
"Kau bertanya padaku?"
"Ya, karena aku adalah separuh dirimu."
"Tidak mau."
Daleena membuang wajahnya, memeluk dirinya sendiri dengan wajah mulai kusut melihat hamparan bunga cosmos yang di tiup angin malam, Albert menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Kau mau aku disini?"
Daleena mengangguk.
"Baiklah," Albert menyandarkan pipinya di tengkuk Daleena yang putih, ia mencium harum mawar dan delima dari tubuhnya, "kau harum," gumamnya sembari menenggelamkan wajahnya disana.
"Albert Jhonson, kenapa aku mencium wangi bunga garbera setiap kali didekat mu?"
"Betulkah? Lalu, apa jadinya jika bau kita bersatu?"
Daleena mengulum senyum.
Albert menarik Daleena lebih erat ke dalam pelukannya, kini tangannya beralih mencengkram pinggang kecil Daleena dan memutar tubuhnya, Daleena sendiri dapat merasakan panas napas Albert yang terhembus di bibirnya.
"Kiss me," bisik Daleena.
Albert memajukan wajahnya, kini bibir keduanya saling menyentuh, "haruskah kita bersatu?"
Hanya anggukan yang diberikan Daleena sebab pikirannya telah jatuh pada mata manik biru, jiwanya terhirup kedalam imajinasi yang di ciptakan Albert.
"Baik, Ratu ku," desis Albert berat, ia membuka bibir Daleen yang terkatup dengan bibirnya, menelisik lebih jauh ke dalamnya, wangi segar dari rambut dan seluruh tubuh Daleena membuat Albert memejamkan mata dan mulai hilang akal, ia menarik erat dengan tubuh Daleena kedalam pelukannya.
Bulan setengah dengan angin yang berhembus membuat keduanya hanyut dalam suara dan permainan mereka, gesekan dari pohon cosmos menambah deru emosi keduanya.
*____*
Paman Robert menghentikan ceritanya begitu melihat Aku jatuh tersungkur dari kursi, dengan mencengkram dada sekuat tenaga dan napas tersenggal kesakitan. Paman Robert menguncang tubuhku dan memberikan segelas air.
"Kau kenapa, Will?"
"Aku tidak tahu, Paman, hanya saja mendengar cerita Nona dan Albert Jhonson, membuat dadaku sesak, jika cinta keduanya begitu dekat, kenapa terpisah?"
Paman Robert berjalan menuju jendela, "karena malam itu, Ear, melihat kakaknya."
"Lalu?"
"William, kembalilah ke kamar dan beristirahat, oke?"
"Tidak, paman, aku ...."
"Will, apa yang kau lakukan mendengar bagian penting dari cerita ini?"
"Tentu aku akan mendengarnya."
Lagi-lagi Paman Robert mengambil napas panjang sebelum memulai cerita.
*_____*
Nyonya Duchees memandang Daleena dengan sedih, kamar berantakan penuh dengan kertas berisi sketsa laki-laki, ia memegang sketsa tersebut setiap garisnya terlihat hidup bahkan nyata, senyum dari bibir indah dan manik mata biru itu seakan dia hidup.
"Ibu, kau masuk ke kamar ku, bagaimana kalau kekasih ku."
Nyonya Duchees meraih kasar kertas di lantai, "apa yang kau katakan pada keluarga Baron, Viscount? Kau sudah menikah?"
"Bu, itu memang betul," Daleena mengumpulkan semua kertas di lantai.
"Sadarlah, Daleena!" suara ibunya menggema di kamarnya.
Daleena terdiam dan menoleh kearah ibunya, "kenapa, Bu?"
"Apa dia yang kau maksud?" Nyonya Duchees menunjuk kertas ditangannya.
"Ya, dia kekasih ku."
"Dia, hanya khayalan mu, laki-laki seperti ini tidak ada! ini fiksi!"
"Ada! Dia nyata! Dia ada disetiap napas ku!" Suara Daleena tidak kalah kencangnya dengan Nyonya Duchees.
"Tunjukan padaku, dimana dia?" Tuan Duchees masuk sembari menyembunyikan tangannya di belakang.
"Baiklah, aku akan menunjukannya, lihatlah ke sana, di landang bunga cosmos, dia berdiri menatap ku melambaikan tangan dan tersenyum, bahkan dia memberi hormat pada, Ayah," Daleena menggebu sembari menunjuk hamparan bunga cosmos yang hanya ada seorang tukang kebun yang memilah bunga busuk dan memupuk.
Tuan Duchees berkerut, "kau tidak waras."
"Apa?"
"Kau sudah tidak waras, Daleena."
Nyonya Duchees menutup wajahnya menahan tangis.
"Apa kau tertekan?"
"Tidak, karena Albert, selalu mengajak ku bicara dan menunjukan hal baru."
"Albert?"
"Ya, Ayah, itu dia," Daleena menunjuk pintu kamarnya.
Tidak ada siapapun, tetapi Daleena berlari kecil mengangkat sedikit gaun hijau yang dikenakannya dan seakan memeluk seseorang disana.
Tuan Duchess melayangkan tangannya menampar Daleena hingga dia jatuh tersungkur memegangi pipinya yang merah, ia menatap Ayahnya.
Semua yang melihat kaget dengan tamparan keras Tuan Duchees membuat semuanya terdiam.
"Ayah, apa ...."
"Kau sudah gila, Daleena," Tuan Duchees keluar dari kamar Daleena, "Earl, siapkan kereta serta barang-barang, Daleena, dia harus tinggal di green kastil."
"Tuan," lirih Nyonya Duchees yang berjalan di belakangnya.
"Aku tidak menerima pendapat atau meminta pertimbangan, kau tahu, gosip telah menyebar ke pelosok kota bahkan keluarga kerjaan mengirim dokter untuknya."
"Tapi, sampai kapan?"
"Sampai dia sadar siapa yang dicintainya."
Nyonya Duchees terduduk di lantai ruang tengah kastil selepas kepergian Tuan Duchees yang menuju kantor adipati, suara tangis Nyonya Duchees pecah begitu melihat Earl membawa kotak besar berisi barang-barang Daleena.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya.
*______*
Aku mencengkram dada yang semakin sesak, sudah tidak tertahan air mata yang sedari tadi basah di pipiku. Sebegitu menyukainyakah Nona dengan Albert Jhonson.
"Paman, apa aku bisa melihat sketsa Albert Jhonson?"
Paman Robert menggeleng, "Tuan memerintahkan penjaga untuk membakar semuanya, tetapi, Madame maria, menyelamatkan satu lukisan yang di letakan, Nona, di balik rak bukunya."
"Khok, khuk."
"Kau baik-baik saja, Will?"
"Ya, paman, aku akan beristirahat," pamit ku sembari keluar dari kamar Paman Robert.
Langkah gontai tangan yang tetap memegang dada, entah kenapa aku seperti merasakan cinta Nona dan itu membuatku sesak ingin menangis memeluknya. Ah, aku terbawa suasana kisah mereka berdua.
Sesampainya di kamar, dengan lilin sebagai penerang aku membaca novel yang diberikan Nona pagi tadi. Lembar demi lembar membuatku semakin sesak, kini aku tahu kekasih Nona dan Albert Jhonson.
Albert Jhonson hanya karakter fiksi yang diciptakan Nona Daleena dalam novel ini dan Nona Daleena sendiri yang menulis novel tersebut, tetapi Albert Jhonson nyata baginya hingga membuatnya gila dan jatuh cinta.
Aku berlari kecil menuju perpustakan tempat Nona menghabiskan waktu, ruangan penuh dengan buku, rak besar yang menjulang tinggi aku mencoba menyibak tirai merah besar di tembok tepat diatas tungku pemanas, lukisan laki-laki dengan ukuran besar terpajang indah.
Betul mata birunya adalah pesona utama, senyum indah, hidung kecil nan mancung, guratan pipi yang sempurna, rambut coklat menambahnya terlihat semakin menawan.
"Malaikat atau hanya imajinasi, dimana seseorang seperti ini?"
Namun, guratan tajam pada rahangnya adalah kesempurnaan sebuah karya. Jika Paman Robert berkata dia mirip dengan ku, apakah itu betul, aku memutar tubuhku dan melihat pantulan diriku di cermin.
"Albert?"
Aku menoleh keambang pintu, Nona Daleena berdiri dengan lilin di tangan.
Dia berjalan menghampiriku seraya menerangi wajah ku dengan lilin, ia menghela napas kecewa.
"Maaf, Wiil, ku pikir aku ... tidur sambil berjalan, aku bermimpi."
"Nona," aku menahan lengan kirinya.
Ia menghentikan langkah dan terkejut.
"Ini bukan mimpi, Nona, aku bukan Albert Jhonson tetapi, bisakah aku menjadi William Huggies untuk mu?"
Daleena menarik tangannya, menatapku dengan tajam dan senyum tidak suka, "apa maksudmu?"
"Bisakah aku menjadi cerita nyata mu?"
Daleena terdiam.
"Bisakah aku menjadi dunia nyata mu?"
Daleena melatakan lilinnya diatas tumpukan buku.
"Aku tidak berusaha menjadi pengganti Albert mu, hanya."
Mulutku mengatup hanya merasakan lembutnya bibir Nona Daleena, wangi mawar dan delima dari rambutnya membuatku sangat ingin melihat wajahnya yang hanya terkena siluet cahaya lilin.
"Will," desisnya begitu menjauhkan wajah dari hadapanku.
Aku tidak dapat mengatàkan apapun degup jantungku yang menderu hingga napas yang tidak beraturan hanya melihat Nona Daleena yang tertunduk.
"Aku sangat merindukan, Albert, maaf, membuatmu."
"Benarkah? Kalau begitu akulah Albert dunia nyatamu."
Nona Daleena menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan tidak dapat membedakan dunia imajinasi dan dunia nyata, jadi bagaimana mungkin aku bisa sadar ini dunia nyata?"
Aku tidak dapat menahan mata sendu yang dibuatnya, aku melangkah maju lebih dekat dengan Nona Daleena, dalam hati ku tidak lagi peduli dia adalah Nona ku dan aku hanya pembaca dongeng, aku hanya tidak mampu menahan sesak yang mendorong untuk memeluknya.
Daleena pasrah dalam pelukanku, ia menangis pelan seraya meremas ujung kemeja putih yang ku kenakan. Perlahan aku menuntun tangannya untuk memeluk diriku.
"Will, aku mencium wangi bunga Garbera," lirihnya.
"Hem."
"Dari tubuhmu."
Aku semakin erat memeluknya, mengesekan hidungku pada tengkuk ceruk nan harum. Entah memang diriku wangi garbera atau karena aku habis berjalan di kebun bunga garbera.
"Apa kau sadar dengan pelukan ku?"
"Ya, Will."
"Bisakah aku memeluk mu setiap kali aku ingin?"
Nona Daleena mengangguk.
"Kau sangat wangi, Nona."
*______*
Sinar matahari masuk melalui gorden kamar yang tersapu angin, semilir wangi teh melati dan manis dari roti membuat ku mengerjapkan mata, tetapi tangan hangat menyentuh pipi ku, jari yang lentik membuat garis dari kening hingga hidung.
"Aku nyata, Daleena," ucapku sembari membuka mata, senyum kecil di wajah cantik itu menyambut ku.
Daleena menggenggam tanganku, "aku tahu."
"Lalu?"
"Aku menyukainya."
Aku menyelipkan jemari ke setiap lentik jemari Daleena, sekali lagi Daleena tidak berhenti tersenyum tapi, terlihat sangat sedih di mataku.
"Ku pikir, aku tidak bisa membedakan, Albert dan kau."
"Kami mirip," sambungku dengan mengangguk-angguk, kini aku mengerti apa yang membuatnya sedikit bersedih, mencintai laki-laki dalam khayalannya tetapi, sulit menerima kenyataan kalau diriku adalah William.
"Bisakah kau menungguku?"
"Ya, dengan senang hati, Nona ku."
Daleena terdiam, hanyut dengan pikiran yang tidak di mengerti oleh siapapun.
"Andaikan Alabert Jhonson nyata dan aku bertemu dengannya, mungkin aku juga akan jatuh cinta padanya."
Daleena menatapku dengan memiringkan kepala.
"Ya, dia tampan, hebat, bukankah dia penulis juga, aku suka seorang penulis, terlebih dia sangat berwibawa."
"Aku yang menulisnya."
"Oleh karena itu aku menyukaimu, Nona Daleena, sangat, sangat menyukaimu."
Wajah putihnya memerah, telinga memerah bukankah dia sedikit tersipu, aku mengulum senyum melihatnya. Jemari kami masih saling terpaut, itu mempermudah diriku menarik Daleena ke dalam pelukanku.
"Will," kagetnya.
"Kau berjanji," rengekku sembari mennggelamkan wajah di ceruk lehernya, "Nona, mari seperti ini seharian."
"Tidak, aku harus menyelesaikan beberapa buku yang ku baca."
"Akan ku bacakan, jadi, diamlah," bisikku sembari mengangkat tubuh mungil kedalam pangkuanku, ku lihat sesekali Nona Daleena menarik napas dalam-dalam, "apa aku kekurangan oksigen?"
"Ah, tidak, hanya saja."
"Kau mencium wangi bunga garbera?"
Ia mengangguk membuat gesekan pada dadaku dengan rambutnya, wajahku seketika memanas dan menarik dagu Daleena menghadapku.
"Kiss me."
Seperti perintah dari majikan, hasratku menurut dan mulai mencium bibir mungilnya, bunga mawar dan delima seperti aroma yang menghipnotis seluruh pikiranku. Mata yang terpaku pada wajah putih dan lentiknya bulu mata, aku dapat merasakan sengatan listrik yang sangat kuat di hatiku.
Daleena lebih dulu melepas tautan bibirku, tangan serakah ku meremas pinggangnya tetapi dia menjauhkan tubuhnya dari ku.
"Kenapa?"
"Maukah kau melewati jalan ini bersamaku, wanita gila di negara ini?"
"Ya, lalu?"
"Apa kau betul-betul tertarik padaku?"
"Tidak, bukan hanya sekedar tertarik, Nona. tetapi, aku menyukaimu setiap apa yang ada pada dirimu, tidak peduli seberapa gilanya dirimu dengan tokoh fiksimu, aku akan menjadi satu-satunya yang nyata untukmu, jadi, siapkah hidup bersamaku?"
Daleena mengigit bibir mencoba menahan tangis.
"Apa kau mengkhawatirkan keluargamu?"
"Kau tahu mereka."
"Ya. Kau tidak khawatir dengan cinta mu?"
Ku lihat Daleena dalam dilema besar, pikiran yang berkecamuk serta perasaan yang membuncah membuatnya bingung, aku meraih telapak tangannya dan mencium lembut hingga ia tersipu.
"Mari pikiran masa sekarang saja, untuk kita."
"Will."
Aku memeluk Daleena, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Daleena sendiri dengan jemari lentiknnya memainkan ujung kemejaku, mungkin ini yang dia lakukan ketika gelisah atau berpikir sesuatu, unik.
"Will, maukah kau menjadi pengantin priaku?"
Wajahku membeku seperti tersiram air dingin mendengar pertanyaan Daleena, aku melepas pelukannya dan menatapnya dengan serius.
Daleena tersenyum lebar menunjukan gigi putih yang rapi, serta bendungan air mata di sudut matanya.
"Ya."
Daleena berlari keluar menuju balkon kamar, "Paman Robert, Maria, aku akan menikah!" teriaknya.
Entah apa yang dipikirkan Paman Robert, tetapi Madame Maria telah berdiri dibelankang ku dengan senyum haru dan menepuk pundak ku.
"Kau berkah untuk kastil dan Nona."
Aku hanya tertunduk. Benar, mereka menganggap aku adalah berkah tetapi, diriku menganggap ini keberuntungan dan takdir yang membawaku pada Noona Daleena.
*____*
Ah, Albert, aku bisa mengalahkan mu, batinku terkekeh begitu melihat naskah novel Nona di meja kamarku.
Kamar ku yang kosong berganti dengan ruang editor setelah menikah, aku juga harus mencari nafkah. Walaupun, penghasilan ku sebagai editor tidak seberapa, menjadi asisten untuk Noona Daleena tidak masalah toh, kita bekerja di satu ruangan.
Mengingat Daleena yang sulit fokus menulis didekatku, kini ia memilih ruangan kecil paman Robert di kebun mawar, mengunci diri sekitar 4 jam setiap harinya, justru hal itu menyiksaku.
Hanya bersama mesin tik di ruang kerja tetapi, aroma tubuhnya mengganggu pikiranku dan sangat merindukannya.
"Apakah aku harus ambil cuti bulan madu? Ya, kupikir itu ide bagus," aku segera menulis surat izin dan meletakannya diatas meja Daleena.
Aku membuka almari besar mencari koper, memilah beberapa pakaian milikku dan Daleena.
"William!"
Gebrakan pintu beriringan dengan suara keras Daleena memanggil, membuatku terkikik tidak menghiraukannya.
"Cuti bulan madu, apa maksudnya, Will?"
"Ya, Noona. Aku akan mengambil cuti selama sepekan karena bulan madu bersama istriku."
"Your wife?"
"Ya, Daleena."
"Haruskah?"
Aku mengangguk.
"Baiklah," jawabnya cepat sembari mendekat dan memelukku, "tapi, bukankah kita butuh banyak uang untuk hidup, pak editor?"
Bagai tertusuk belati hati ku merasakan nyeri, "ah, ternyata kau materialistis."
Daleena melepas pelukannya dan tersenyum jahil, "mari bulan madu, pikirkan itu lain waktu."
Aku hanya mengacungkan jempol.
*_______*
Deburan ombak di pantai malam hari begitu terasa, aku yang menarik napas panjang melihat Daleena yang asik berbincang dengan beberapa tentara dan adiknya.
Bukan tanpa alasan dia mengajak bulan madu ke kamp militer perbatasan laut ini, itu semua karena novel yang ditulisnya.
Aku memainkan pasir dengan kaki, menyesal membiarkan Daleena yang membawa kuda.
"Will, kau merajuk?"
"Aku, isk, tidak," jawabku sembari membuang wajah.
"Kau merajuk, ayo ... ada villa dekat sini. Itu milik keluargaku."
"Baiklah, hari juga semakin larut."
"Apa kau berpikir kita akan tidur di kamp militer?"
"Ya."
Daleena terkekeh.
Villa atau kastil tua di hadapanku adalah rumah batu besar tetapi sangat mewah, Daleena lebih dulu masuk membawa lentera yang tergantung di dinding dan membawa kami pada kamar indah.
"Ini peninggalan tetua keluargaku dan di wariaskan turun temurun."
"Waah, sesaat aku lupa."
"Apa?"
"Kalau istriku memiliki banyak aset."
"Isk."
Daleena meletakan lentaranya dan duduk di kasur lebara, ia menatapku sembari tersenyum.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
Akh, kenapa hari ini dia yang selangkah didepanku.
Aku mendekat perlahan, menangkup pipi dan menariknya ke hadapan wajahku.
"Kau memprovokasi ku, Nona."
Hanya senyuman yang ku lihat dan malam semakin larut, deburan ombak yang masih terdengar ditambah cahaya bulan yang masuk membuat segalanya di kamar ini indah.
Termasuk Nonaku.
Jadi, biarkan aku merasakan keindahan ini.
※END※