Aku Helen, umurku 12 tahun. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke dua belas. Tidak ada perayaan, tidak ada pesta. Orang tuaku sangat tidak suka hal - hal merepotkan seperti itu. Tapi jauh di lubuk hatiku aku menantikan kebahagiaan itu.
Hari ini tanpa pikir panjang aku meninggalkan rumahku dan berjalan - jalan ke tepi danau di dekat hutan. Sebuah danau yang terkenal angker di mata anak - anak lain. Tapi menurutku tempat itu justru membawa rasa damai bagiku, bukannya rasa takut. Orang tua teman - temanku sering kali menceramahi anak - anaknya dengan berkata bahwa anak yang suka pergi ke danau itu hanyalah 'anak hantu'.
Heh, tidak apa - apa julukan itu diberikan padaku. Aku tidak pernah begitu peduli. Yang penting, aku bisa terus berkunjung ke Nirwana favoritku ini.
"Oy!"
Telingaku menangkap panggilan seseorang. Tapi mana mungkin ada anak lain di sini. Dengan ragu, aku memutar - mutar kepalaku hingga akhirnya putus asa.
"Siapa kau??! Tunjukan dirimu kalau berani!", mulutku yang tak sabaran langsung berteriak mengisi keheningan datar itu. Satu hal yang terpikirkan olehku adalah mungkin saja gosip para orang tua itu benar. Tempat ini mungkin berhantu.
Masih ada sedikit keberanian yang tertinggal. Kuarahkan keberanianku sekali lagi dengan berteriak.
"Jangan main - main denganku! Aku bisa karate!"
Setelahnya barulah sosok itu keluar. Suara tawa menggelegar dari arahnya.
"Kamu ini bodoh sekali, ya…"
Mataku menyipit pelan, ia tampak seperti anak laki - laki.
"Kamu manusia?", aku terpaku menyadari bahwa tidak semua anak takut ke sini. Ternyata masih ada anak lain yang juga mengabaikan gosip angker tempat ini, sepertiku.
"Iya, aku manusia..", ia memandangku dengan senyum menghina. Memangnya apa yang dipikirkannya.
"Aku sering melihatmu sendirian ke sini. Jadi, kuikuti", katanya.
"Dasar penguntit", aku tak habis pikir. Bagaimana bisa ia kabur dari orang tuanya hanya untuk ke sini. Sepertinya ia punya pemikiran searah denganku, pikirku sambil tersenyum lega.
"Kenapa senyum - senyum?", ia menunduk menatap wajahku yang sedikit lebih rendah darinya.
"Tidak, kok".
……
"Namaku Helen", kuulurkan tanganku.
"Aku Elgard", sesaat ia tampak kebingungan menatap tanganku hingga kemudian aku meraih tangannya dan bersalaman.
"Oh maaf. Aku tidak biasanya berkenalan dengan salam..", tukasnya.
"Tidak apa - apa. Mungkin keluargamu punya cara bersalaman yang lebih baik", Elgard hanya tersenyum setelah itu.
Setengah hari berlalu. Matahari mulai jatuh ke langit Barat yang indah. Perbincanganku dan Elgard berakhir untuk hari ini.
"Apa kau akan datang lagi besok?", tanyaku penuh harap.
"Boleh, asal kau tidak mengajak orang lain. Dan, jangan beritahu siapapun tentang pertemuan kita", ia meletakan jari telunjuknya yang menyilang vertikal di tengah bibirnya.
Aku mengangguk, lalu melambai. Kulihat Elgard melambai juga, tetapi ia tidak beranjak dari danau itu.
Sesampainya di rumah, aku dimarahi habis - habisan oleh kedua orang tuaku. Pelarianku pagi tadilah penyebab aku kembali diceramahi. Tapi kejadian ini tetap tidak bisa membungkam niatku untuk mengunjungi danau esok harinya.
Dengan niatan penuh, aku kembali ke tempat favoritku besoknya. Elgard sepertinya belum tiba di sana. Tidak ada tanda - tanda kehadirannya. Aku merenung memandang pantulan bayanganku di air.
Apakah Elgard ketahuan melarikan diri lalu dihukum orang tuanya? Mungkin dia jadi jera dan tidak berani datang lagi ke sini.
Akh, tidak mungkin!! Dia sendiri yang memintaku untuk datang diam - diam ke sini. Jika dia sungguh tidak datang, seperti yang kubilang sebelumnya, aku bisa karate.
"Apa yang sedang kau pikirkan, bodoh?", Elgard muncul dari belakang. Wajahnya tersenyum licik.
"Bukan apa - apa. Memangnya kamu bisa membaca pikiranku..?", pertanyaanku membuatnya terdiam sesaat.
"Tentu tidak, gadis bodoh!"
"Aku tidak bodoh!", ujarku meladeninya.
"Benarkah? Kupikir kamu itu gadis paling bodoh yang pernah kutemui"
"Iisshhh!"
"Sudah diceramahi, masih juga mau datang. Heh!"
"Kan kamu kemarin yang menyuruhku berjanji!", geramku. Napasku naik turun sehabis meladeni lelaki di depanku ini.
"Eh? Jadi kau tahu bahwa aku kemarin diceramahi?", sambungku. Seingatku, aku tidak pernah menceritakannya pada Elgard.
"Tentu saja tahu! Aku kan-", ia berhenti berbicara. Tatapannya mematung.
Sebenarnya ada apa dengannya? Aku hanya bisa menyaingi kesunyian yang timbul selanjutnya.
"Kau kenapa?"
"Tidak..tidak apa - apa. Anggap saja aku memang tahu!"
"Hm….oke", jawabku.
Hari itu perbincangan kami selesai dengan kecanggungan. Aku merasa ada sebuah sisi dari dirinya yang menarik untuk kuselidiki. Atau mungkin sebaiknya aku tidak boleh menyelidikinya diam - diam. Pastilah dia punya rahasia yang tidak ingin dibaginya denganku. Dan itu adalah pelanggaran privasi.
Malam ini, aku merasa seperti tidak tenang. Tidurku terasa terganggu. Bahkan mimpi yang kualami pun terasa tidak wajar.
Di dalam mimpiku itu, aku berjalan di atas kabut. Ada beberapa manusia di sana. Dan di atas langit, ada sebuah benda bulat bercahaya putih kebiruan. Saat ada yang memelukku dari belakang, aku terbangun dengan batuk - batuk. Sungguh mengerikan.
…..
Pagi ini, aku datang lagi ke danau. Setiap hari, sekolah kulewatkan dengan bolos. Nilaiku tidak lagi kupedulikan. Asal aku bisa bertemu dengan Elgard.
Astaga, apa yang baru saja kukatakan?! Rasanya seakan aku punya perasaan pada anak laki - laki itu. Akh, bodohlah!
"Hei, gadis bodoh", suara itu muncul dengan sesosok lelaki yang kukenal sebagai Elgard, sahabat rahasiaku.
"Masih juga niat bolos, ya..", ia bersandar di pohon lalu memandangku penuh arti. Siluetnya membuatku terpaku sesaat. Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku baru saja memandangnya begitu lama. Pipiku memerah.
"Kenapa? Terpesona padaku?", Elgard menunduk memandangku tepat di depan batang hidungku.
"A..apa yang kamu bicarakan? Aku hanya…"
"Hanya apa?", potongnya.
"Bukan apa - apa!", kututup wajahku yang membentuk warna pink.
Elgard terkekeh lalu melayangkan pandangannya ke langit pagi.
Kami berdua diam seribu bahasa.
"Bagaimana kalau kita berpacaran?"
Eh?! Aku melirik secepat kilat pada Elgard. Ia menurunkan tatapannya dari langit kepadaku. Mengintimidasiku.
"A..apa yang kau katakan..", aku menunduk, menghindari tatapan anak laki - laki itu.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu padaku sejak kemarin. Aku juga menginginkan lebih dari pertemanan", ia langsung berjongkok di depanku, memandangku yang masih tertunduk.
"Tunjukan matamu..", ujarnya.
Aku kebingungan. Apa hubungannya dengan mataku?!
Tanpa beralih, tapi masih dengan perasaan malu, aku mengangkat wajahku pelan.
"Sudah kubilang. Kau menyukaiku.."
Aku menunduk lagi. Tatapan tajam Elgard terlalu mengintimidasiku. Dan juga, terlalu mempesona.
"Jadi, kau mau?"
"O..oke", jawaban itu langsung kuutarakan dengan sedikit bahagia.
Elgard lalu tersenyum dan memeluk diriku.
Sejak hari itu, pertemuan kami di danau tidak lagi seru. Tetapi menjadi sangat membahagiakan. Aku bahagia akhirnya memiliki seorang pacar. Walaupun kami tidak saling mengenal dengan baik, tapi kurasa suatu saat nanti dia sendiri yang akan membuka dirinya padaku. Tanpa perlu kupaksakan.
Setelah hari itu pula hari demi hari kami jalani untuk duduk berdua di danau itu. Aku yang selalu bolos sekolah mulai rajin untuk belajar di sekolah, karena Elgard tidak ingin aku terus - terusan dihukum oleh orang tuaku. Semakin hari, nilaiku makin berkembang. Hingga saat penutupan semester 2 aku mencapai juara 3 kelas. Prestasi yang membanggakan.
Tiap sore sepulang sekolah, aku langsung menuju danau dan duduk bercengkrama dengan Elgard. Membagi kisah - kisah hidup kami masing - masing. Biarpun itu pahit ataupun kisah manis.
…..
…..
…..
DUA TAHUN KEMUDIAN
Sampai hari ini pun aku tidak lagi melihatnya. Elgardku hilang.
-Flashback-
Seminggu setelah kami berpacaran, aku kembali datang ke danau. Kutunggu Elgard sambil memandang danau yang memantulkan sinar keemasan matahari.
Sudah 15 menit aku duduk diam bersandar di pohon. Tapi Elgard belum juga datang.
Aku melirik ke segala penjuru hutan dan danau. Tidak kutemukan kehadiran anak laki - laki itu. Aku berteriak pun hanya dibalas oleh angin sepoi yang menambah kesan sepiku.
Padahal aku merindukannya. Padahal aku menantinya. Kusimpan sisa harapanku lalu pulang. Malam itu, aku menangis di kamar. Makan malam tidak lagi kurasakan di lidahku. Semuanya hambar.
Dengan sisa harapanku, aku datang keesokan sorenya. Aku ingin menunjukan padanya bahwa aku mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke kota lain. Tapi sosok Elgard tidak juga kelihatan. Teriakanku kuulang kembali. Tapi masih hanya bergema di danau.
Mendadak pandanganku terhadap danau itu mulai berubah.
Tempat itu bukan lagi Nirwana favoritku. Sekarang tempat ini adalah tempat angker di mataku. Dan aku mulai menjauhinya.
-Flashback Off-
Umurku sudah 14 tahun. Aku sekarang berada di kelas 9, kelas terakhir di tingkat SMP. Walaupun sudah 3 tahun, aku masih juga belum memiliki teman. Pikiran dan tubuhku masih mengenang Elgard yang kurindukan. Dia pergi ke mana, aku tidak tahu. Yang aku tahu, dia tidak mengucapkan salam perpisahan. Tidak ada kata 'selamat tinggal'. Dan dia langsung menghilang.
…..
Setelah pulang dari sekolah, aku belajar seperti biasanya. Orang tuaku yang bangga akan prestasiku akhir - akhir ini membujukku untuk masuk ke SMA di luar kota. Tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin beranjak dari kota ini. Sebab kota ini penuh dengan kenanganku bersama Elgard.
Sehabis belajar malam itu, tangisanku tak bisa kubendung lagi. Tiap hari pun selalu begini. Menangis dan menangis lagi. Orang tuaku tidak pernah menyadarinya, aku juga tidak ingin memberitahu mereka. Ini terlalu sulit kuhadapi.
Setahun berlalu, aku lulus dengan nilai yang bagus. Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti ujian masuk SMA luar kota sesuai kehendak orang tuaku. Tentu saja itu menambah kebahagiaan mereka, tapi tidak denganku.
"Helen sayang, jangan lupa masukan kaus kakimu! Di sana udaranya dingin saat musim gugur. Ingat, kau hanya libur saat musim dingin. Jadi, itu tidak masalah", ibu berteriak dari dapur, sedang menyiapkan bekal perjalananku.
Yah, aku akan tinggal di asrama SMA baruku. Aku sedang bersiap - siap, mengepak koperku yang sangat penuh.
Dengan cepat, ibu datang dari dapur membawa sekotak bekal camilanku. Lalu memberikannya padaku.
"Sudah bawa syal hangatmu?"
"Sudah, bu"
"Bagaimana dengan sweater wol itu?"
"Sudah. Aku sudah memasukannya ke koperku, bu", ujarku tak sabaran.
"Oh, apa ada barang kenangan di sini yang ingin kau bawa?"
Deg! Aku terdiam.
'Kenangan'. Kurasa satu - satunya kenangan yang kupunya di sini hanya ingatan tentang Elgard. Tapi aku harus melepaskan ingatan itu. Sudah 3 tahun, dan dia tetap tidak datang.
Kurasa ini memang saatnya. Sampai jumpa, Elgard.
Aku meraih koperku dan kotak bekalku lalu buru - buru berpamitan pada ibu.
"Sampai jumpa, bu. Busnya sedikit lagi akan datang!"
Aku membuka pintu lalu berlari ke halte. Ada sebuah bus yang berhenti, aku memutuskan untuk naik. Bus inilah yang akan membawaku menuju bandara.
…..
Di perjalanan, aku menatap sendu ke pemandangan kota yang akan kutinggalkan. Bus itu melewati sekolah lamaku. Aku jadi teringat masa - masa aku belajar di sana. Rasanya baru kemarin.
Dan kemudian saat melaju lagi, bus itu melewati sebuah hutan. Hutan yang menutupi danau favoritku dulu. Tempat pertemuanku dengan…..
Akh, seharusnya sudah kulupakan! Aku menundukan kepala dan menutup mata. Menunggu perhentian di bandara.
Saat bus berhenti di halte bandara, aku menarik koperku keluar dan langsung menuju ruang tunggu dan menunggu arahan - arahan untuk segera melangkah keluar dari kota itu.
Rasanya damai. Memang sedih melupakan kenangan yang dulu pernah kita rasakan dengan manis. Tapi begitulah hidup. Waktu tidak akan berkompromi dan mengulang yang sudah terjadi. Jika itu sudah terlewatkan, maka biarlah jadi masa lalu. Aku mengubur semuanya menjadi kenangan pahit.
……
-SETAHUN BERIKUTNYA-
Musim berganti musim, dan tahun berganti tahun. Di umur ke 15 tahun ini, aku menyambut musim dingin yang tiba begitu cepat.
Aku ingin pulang. Dan besok adalah hari kepulanganku ke kota lamaku. Kota kelahiranku.
Dengan rasa dingin yang semakin merayapiku, aku mengenakan syal hangatku lalu tidur di kamar dengan mesin penghangat yang setia memberikan rasa hangat musim panas.
Kehangatan ini mengingatkanku pada pelukan seseorang. Tapi aku lupa, siapa orang itu.
Besoknya adalah hari yang kutunggu. Aku sudah berpakaian hangat lengkap. Koperku berdiri di depan pintu, menanti untuk kubawa pulang.
Saat ibu menelepon, aku mulai berjalan keluar asrama, memanggil taksi untuk kutumpangi menuju bandara.
Tiket pesawatku sudah kusiapkan di dalam dompet dan akhirnya aku tiba di bandara.
Agak terlambat, sebenarnya. Karena aku salah memperhatikan waktu keberangkatan di tiket. Bodohnya aku.
Setibanya di bandara, aku mulai bergegas dan menyeret koperku di belakang dengan buru - buru. Untungnya aku masih dipersilahkan untuk masuk ke pesawat tumpanganku.
Dan tanpa menunda lagi, pesawat itu terbang dalam udara dingin. Menembus awan beku dan angin kencang. Aku hanya bisa duduk memeluk botol air panasku dengan lega.
…..
12.55
Sang burung besi akhirnya mendarat perlahan dengan roda yang mulai dikeluarkan. Bunyi bising pendaratan itu berhasil membangunkan mataku yang sedari tadi terpejam saking dinginnya udara.
"Sudah sampai", bisikku lemah.
Setelah turun dari pesawat, ada perasaan nostalgia yang muncul perlahan. Membuatku mematung melihat kota itu.
Lampu jalannya, pohon - pohon dan taman. Semuanya mengingatkanku pada masa SMP ku. Tapi sepertinya ada sesuatu yang belum kuingat. Tanpa kuhiraukan lagi, aku langsung menaiki sebuah bus yang kemudian berhenti di halte depan rumah orang tuaku.
Pelukan hangat dan sambutan meriah muncul saat aku baru saja melangkah turun dari bus. Tapi pelukan itu tidak terasa seperti pelukan yang kuharapkan. Ada yang terasa lain dari pelukan ini. Hm, entahlah.
Sore itu, aku membuat kue bersama ibu dan kakak sepupuku yang datang dari kota lain. Kami tidak sabar menantikan natal. Aku hanya tersenyum melihat betapa akurnya mereka sambil mengaduk adonan cokelatku.
Di tengah kesibukan itu, kue buatanku hangus. Warna hitamnya membuat ibu memiringkan alisnya. Akhirnya ibu menyuruhku untuk pergi membeli minuman saja untuk semua orang. Dan aku mau - mau saja. Sekaligus mengelilingi kota lamaku yang sudah agak asing.
Di tengah perjalanan, aku bertemu teman sekelasku saat SMP. Ia memandangku kagum.
"Helen, apa itu sungguh kau? Kau banyak berubah yah", ucapnya membuatku bingung.
"Berubah bagaimana?"
"Dulu kau adalah anak yang aneh dan suka membolos", ia tersenyum remeh.
"Hum, kalian saja yang tidak mau berteman denganku", tanggapku.
"Habisnya kau terus main di danau itu. Bagaimana mungkin kami berani mendekatimu?"
"Danau?", aku mengacak pikiranku. "Danau apa?"
"Astaga Helen, kau tidak ingat? Danau di tengah hutan angker itu. Setiap sore kau selalu pergi ke sana. Kami sering melihatmu masuk ke hutan itu", katanya.
"Benarkah?", tanyaku tidak percaya.
"Jadi kau sungguh lupa, ya. Sudahlah, aku harus segera pulang. Sampai jumpa!"
Kami melambai dan berpisah di jalan itu.
Sepanjang perjalanan menuju toko, aku mencoba menelusuri ingatan masa kecilku. Apa aku sungguh melupakan sesuatu?, pikirku.
Di perjalanan, kulihat sebuah toko. Aku masuk dan memesan minuman.
Sambil menunggu, aku memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu pelanggan di sana.
"Maaf, apakah kau tahu di mana letak danau yang terkenal angker itu?"
Pelanggan itu merespon, "Maksudmu danau Drake? Ah, kurasa jika kau lewat di depan sebuah sekolah SMP, kau akan menemukan hutan. Hutan itulah jalan masuk menuju danau Drake", jelasnya.
Setelah mendapat informasi itu, aku pulang dari toko tersebut dengan rasa penasaran yang besar.
Langkahku membawaku menuju ke depan SMP lamaku. Aku tahu. Pasti di sinilah kenanganku dimulai.
Kupandang hutan gelap di depanku. Dengan harapan akan ingatan lamaku, aku masuk hingga ke dalam.
Jantungku bagai tidak terkontrol, aku bisa merasakan kembali, membayangkan sesuatu yang pernah terjadi di sini.
Seseorang yang dulu memanggilku. Menyebutku 'gadis bodoh'. Bersandar di pohon itu, menatapku dengan tajam. Mengajakku berpacaran dengannya. Memelukku dengan hangat yang tak tergantikan. Iya, aku ingat dirinya. Elgard.
Tapi, aku juga ingat. Dia hilang dari hidupku saat itu. Aku juga ingat, bagaimana tangisku tiap malam hanya untuk mengharapkan dia kembali bagaimanapun juga. Tanpa sadar, kesedihan mulai merayapiku lagi.
Tidak…
Tidak lagi…
"Hai"
Eh? Suara siapa itu?
Aku membalik tubuhku dan menemukan sosok asing di mataku.
"Siapa kau?", kuusap air mataku sambil memandang sosok bertubuh aneh itu.
Ia sedang mengapung di air danau. Dan tatapannya tampak sayu. Seorang gadis.
"Aku seorang Duyung. Namaku Dissy, sahabat Elgard", ucapnya. Perhatianku langsung tertarik mendengarnya menyebut nama Elgard.
"Kau..kau tahu di mana dia? Kumohon bawa aku padanya!", aku berjongkok menghadap air danau.
"Aku ke sini memang untuk mengajakmu menemuinya. Tapi sangat berisiko…"
"Aku tidak peduli! Kumohon!", potongku.
Dengan tatapan ragu, gadis duyung itu menyodorkan tangannya.
"Ayo..", aku menyerahkan tanganku dan tertarik ke dalam air danau yang hitam itu.
Tapi, bukannya tenggelam. Yang terjadi justru aku keluar dari sebuah danau. Wow, ini sungguh aneh, pikirku.
Gadis duyung itu berubah menjadi gadis utuh dan memapahku yang masih kebingungan.
"Di mana ini?", saat benar - benar bangun barulah aku sadar ini bukanlah danau Drake lagi. Tempat ini terlihat asing dan begitu banyak kabut yang menutupi kakiku.
"Ini Desa Berkabut. Kami semua tinggal di sini. Tapi ada yang berkelompok."
"Apa maksudmu?", aku melayangkan pandanganku ke seluruh tempat gelap itu.
"Desa ini adalah tempat tinggal bagi kaum Vampir, Siluman, Werewolf, Peri, Goblin, Troll dan Duyung. Kebanyakan adalah kaum Werewolf. Mereka terkenal kuat dan hidup berkelompok"
"Apa? Tapi..aku hanya manusia biasa. Bagaimana jika mereka.."
"Tidak apa - apa. Di sini kami hidup berdampingan dengan beberapa manusia. Kami punya perjanjian mengenai hubungan antara manusia dan kaum - kaum di sini", jelas Dissy.
"Lalu apa kaitannya tempat ini dengan Elgard?", tanyaku.
"Sini, ikut denganku"
Ia kemudian mengajakku menuju sebuah tempat. Sebuah hutan gelap yang begitu penuh oleh batu - batu gunung. Dan berkabut.
Sekilas kulihat sebuah kelompok manusia yang sedang berkumpul. Tidak, bukan manusia. Mereka sedang memandang cahaya bulan purnama. Ada seorang lelaki yang berada paling depan dengan wajah tampan.
Aku mengenalnya. Dengan cepat kupanggil namanya.
"Elgard!!"
"Helen, jangan!", Dissy menarik tanganku untuk bersembunyi di balik semak.
Ia lalu membawaku segera ke dekat danau tadi.
"Itu sangat berbahaya, Helen. Maaf, kita hanya bisa melihatnya dari jauh"
"Tapi kenapa??!", aku membentak Dissy.
"Oh, Helen. Dia itu Werewolf. Elgard itu adalah seorang ahli waris pemimpin Werewolf! Jika kau mendekatinya maka dia akan menerkammu!"
"Tapi dia mengenalku. Dia tahu siapa aku!", pikiranku mulai memberontak.
"Dia sedang dalam masa Bulan Biru. Ketika Bulan Biru muncul di langit, mereka akan hilang kesadaran dan mulai menerkam kaum lainnya! Tapi dengan kesepakatan antar kaum itu, kelompok Werewolf akan mengasingkan diri mereka dengan memandang Bulan Biru selama bertahun - tahun. Bulan Biru di Desa Berkabut muncul sekali dalam seabad, Helen. Kita tidak bisa menghentikannya!", Dissy mengakhiri penjelasannya lalu duduk di tepi danau.
"Kita hanya perlu menunggu Bulan Biru hilang", sambungnya.
"Kapan Bulan Biru akan hilang?", aku ikut duduk di samping Dissy.
"Besok, Helen"
Aku terkejut. Kupandang Dissy dengan tidak percaya.
"Benarkah?", ada perasaan gembira yang mendadak datang. Dengan cepat pula aku teringat.
"Akh, ibu menungguku di rumah!!", teriaku.
Dissy langsung menyahut.
"Tidak perlu cemas. Sehari di sini sama saja dengan 2 jam di duniamu", ia tersenyum.
"Tapi kurasa aku tetap ingin pulang. Lagipula aku tidak sabar hari esok tiba..", ujarku sambil bangun dari dudukku.
"Astaga, kau lupa ya. Kubilang besok Bulan Biru akan berakhir. Besok yang kumaksudkan itu di Desa Berkabut, bukan di duniamu"
"Apa?"
"Esok hari di dunia ini sama saja dengan 2 jam berikutnya di duniamu. Kau lupa ya..", ia menyenggol kakiku.
"Ah, benar juga!", aku baru tersadar.
"Kalau begitu, dua jam lagi aku akan kembali. Sampa jumpa!", aku menyeburkan diriku ke dalam danau. Sayup - sayup bisa kudengar suara kicauan burung lagi. Yah, aku kembali ke danau Drake.
Dengan tertatih, aku bangun dari air dan duduk dengan napas kedinginan. Satu hal yang kulupakan, ini adalah musim dingin. Air danau itu terasa membekukanku. Napasku bahkan mulai mengeluarkan asap putih. Mengingatkanku pada kabut di Desa Berkabut.
"Dua jam lagi yah", gumamku.
……
Sesampainya di rumah, ibu terkejut melihatku basah kuyup. Kakak sepupuku hanya menertawakanku saat melihatku mulai menggigil kedinginan.
Aku akhirnya disuruh berendam dalam air panas. Dan untungnya itu kembali menghangatkan tubuhku.
Sambil berendam, aku mengingat ucapan Dissy tentang Werewolf. Tidak kusangka Elgard yang selama ini selalu meluluhkan hatiku adalah seorang Werewolf. Padahal ia sempat mengakui bahwa dirinya adalah manusia. Dasar Elgard pembohong!
Tapi mau bagaimanapun rupanya atau bahkan siapapun dirinya, selama ia masih Elgard maka aku akan tetap mencintainya. Kukepulkan asap hangat dari air bak itu. Hangatnya membuatku teringat pelukan Elgard hari itu.
Aku tidak sabar lagi untuk mengunjunginya 2 jam setelah ini.
….
"Sayang, kau mau ke mana?", ibu menyadari pelarianku sore itu. Ia tanpa peduli tujuanku menyuruhku untuk membantunya membuatkan makan malam, sebab kakak sepupuku sedang bepergian keluar rumah.
"Tapi aku harus segera melakukan sesuatu, bu..", aku menyela dengan cepat. Rasa malas segera mengerubungiku.
"Jangan banyak alasan. Ayo, bantu ibu!", aku melangkah dengan lunglai setelah ibu mengatakan itu.
Rasanya tidak ada lagi harapan untuk pergi sore ini. Namun, pikiran licikku rupanya tak mau kalah. Jika sore tidak bisa pergi, maka malam pun jadi. Aku terkikik sepanjang perjalanan menuju dapur.
"Kenapa kau?", tanya ibu.
"Ah, tidak. Tidak apa - apa..", dengan cepat kuubah raut wajahku. Ada sedikit perasaan berdosa yang muncul.
Kembali ke dapur, aku segera menyelesaikan masakan untuk makan malam. Tugas mencuci piring sudah kutuntaskan dengan cepat. Dan sekarang adalah saat yang kutunggu.
"Aku pergi dulu..", bisikku sambil menyelinap keluar pintu.
Dan sesuai yang kuharapkan, aku tiba di danau Drake dengan gesit. Matahari belum tenggelam sepenuhnya. Hal itu membangkitkan semangatku di sore itu.
Kupanggil Dissy yang sempat membantuku tadi. Mungkin saja ia akan muncul. Tapi sayangnya, panggilanku sia - sia. Tidak ada tanda kemunculannya di air danau yang tenang.
Akhirnya kuputuskan untuk berenang sendiri ke danau. Kulepaskan jaket bulu dan kaus kakiku, lalu berenang.
Tidak peduli bagiku seberapa dinginnya air, yang kuharapkan hanya untuk bertemu dengan Elgard dan Dissy lagi.
Blashh! Aku menyelam dan muncul di permukaan danau di Desa Berkabut. Pemandangannya masih seperti tadi. Tapi kali ini terasa jauh lebih dingin dari dugaanku. Apa mereka juga mengalami musim dingin?, pikirku.
"Di..Dissy?", rasa bingungku dikalahkan oleh rasa dingin tubuhku. Baru saja keluar dari air membuatku merasa hendak beku. Oh tidak, aku harus bertahan.
Saat ada sebuah suara yang mendekat, aku buru - buru meringkuk di balik pohon berdahan bengkok.
Ternyata suara itu berasal dari beberapa manusia yang lewat. Saat sadar bahwa itu adalah manusia, aku keluar perlahan, tidak ingin mengageti mereka. Kupandang mereka satu - satu.
"Maaf, apa kalian mengenal Dissy?", kataku.
Mereka tampak keheranan hingga akhirnya seseorang mengatakan padaku,
"Maksudmu gadis duyung itu? Dia tinggal di Utara Desa Berkabut.."
Aku mengangguk mengerti. Namun, saat hendak beranjak salah seorang menyahut lagi.
"Jika kau ingin ke sana, berhati - hatilah. Woodolf dan kawan - kawannya masih berkeliaran di sekitar sana…", ujarnya.
Aku yang tidak mengerti akan larangan itu mengangguk lagi. Kuulangi ucapan mereka dalam pikiranku sepanjang perjalanan.
"Siapa Woodolf?", batinku.
…..
Sudah 3 menit aku berjalan ke arah Utara dan yang kutemui sejak tadi adalah pohon dan pohon lagi. Apakah para manusia tadi sungguh memberikan arah yang benar?, pikirku lagi.
Aku terdiam di jalan sepi dan gelap itu. Kecemasan mulai menggerogoti harapanku untuk terus maju. Bagaimana ini? Aku harus apa?
"Hei kau…", sebuah panggilan dari suara serak dan berat mengalun di telingaku. Kuharap kali ini bukan yang aneh - aneh lagi.
Aku berbalik pelan, menatap sosok di belakangku dari bawah ke atas.
"Manusia ya..", ia tersenyum licik. Sekilas senyum itu mengingatkanku akan senyuman Elgard yang mengintimidasi. Aku bisa melihat jelas tatapan itu. Tatapannya juga mirip dengan tatapan Elgard.
"Kau..apa kau kenal Elgard?", aku memastikan pelan - pelan, takut jika dia tiba - tiba saja menyerangku.
"Apa urusanmu dengan Elgard?", ia menunjukan taring putih yang tajam di ujung bibirnya.
Oh, tidak. Aku tahu ini bukanlah pertanda baik. Dengan ragu, aku mundur dan menghindari tatapan itu. Tapi pria itu tiba - tiba saja muncul menghadang jalanku.
"Oh, jadi kau pacar manusia Elgard? Menarik!", ia berjalan maju ke arahku. Aku yang masih terkejut dan panik akhirnya berteriak.
"Jangan dekati aku! Berhenti!", kakiku terus membawaku mundur menghindari pria bertaring tadi. Astaga, jantungku bahkan hampir tak terasa.
Dengan kegelapan yang menyelimuti langit di sana, aku berlari hilang arah. Pria itu sudah tidak muncul lagi. Aku merasa agak lega dan takut. Dua - duanya bercampur hebat.
"Helen?", sebuah suara muncul tiba - tiba. Aku merasa takut dan mengabaikan suara itu. Dengan mata terpejam, aku mendengar lagi suaranya.
"Helen, ini aku. Dissy!", kata - kata itu mendadak mengalirkan harapan di seluruh tubuhku. Aku membuka mata lalu melihat sosok yang berada di depanku itu. Hendak kupeluk sosok itu hingga kemudian aku sadar, itu bukan dia.
"Kena kau, Gadis bodoh! Dia selalu memanggilmu begitu, kan?", sosok itu adalah pria bertaring tadi. Rupanya ia telah menemukanku dan berpura - pura menjadi Dissy.
Aku putus asa. Harapan yang sempat mengalir di nadiku mendadak lenyap.
"Kau..apa maumu?", tangisku dalam diam.
"Aku ingin kaum Werewolf melihat bahwa mereka bukanlah yang terkuat di sini. Tetapi kaum kami. Vampir….Arrrrgghhh!!", ia berteriak kemudian membuatku yang menunduk ketakutan lalu mengangkat wajahku.
Kulihat sebuah pasak menancap di dadanya, membuatku ngeri dan hampir muntah.
"Apa yang…", kataku terhenti saat melihat sosok di belakang Vampir ini. Sosok yang tak pernah kuduga akan secepat ini datang padaku.
Aku menggumam lirih, "Elgard..kaukah itu?", mataku membulat dan berkaca - kaca menatap anak laki - laki bermata cokelat itu. Perasaan sedih membuatku rindu padanya bertahun - tahun. Aku ingin memeluknya, tapi ada beberapa pula orang di belakangnya. Mungkin sebaiknya aku tidak memeluknya, pikirku.
"Te..terima kasih!", aku mengalihkan pandanganku darinya lalu beranjak pergi. Mereka hanya memandangiku dengan diam. Begitupun Elgard.
Dalam hening itu kuputuskan untuk tidak lagi mengunjungi Desa Berkabut. Tapi di sela kepergianku, Elgard kemudian berbicara.
"Sudah bertahun - bertahun meninggalkanku dan seenaknya saja pergi? Gadis bodoh!"
Aku terkejut. Benarkah dia masih mengingatku? Astaga, air mataku tidak dapat kubendung seperti sebelumnya.
Sambil menangis, aku berjalan cepat ke arahnya dan memeluknya begitu erat.
"Masih bodoh ternyata..", ujarnya.
"Kau yang bodoh! Kau hilang tiba - tiba sejak seminggu setelahnya! Aku menunggu seperti orang gila hanya untuk berharap! Kau bodoh! Elgard bodoh!", aku memukul pundaknya tanpa peduli tatapan orang - orang disekitar kami. Kulihat Elgard terkekeh saat kupukul. Dan itu menambah rasa kesalku padanya.
…..
Saat mulai merasa tenang, Elgard mengajakku melewati danau Desa Berkabut dan menuju danau Drake lagi. Kami kembali bercengkrama seperti dulu.
"Oh ya, aku turut berduka atas temanmu", katanya.
"Maksudmu?, aku memiringkan kepala. Tidak mengerti pada ucapannya.
"Temanmu Dissy, gadis duyung itu. Ia dibunuh oleh Woodolf dan kawanannya. Mereka tahu bahwa ia berteman denganmu dan mereka sedang mengincarmu sebagai umpan untuk menjatuhkanku", jelasnya.
Aku sempat terkejut dan memikirkan gadis itu. Kututup mulutku dengan kedua tanganku.
"Mereka mengincarku? Untuk menjatuhkanmu?", aku masih tidak mengerti. Dan hal itu kuutarakan lewat ekspresiku. Elgard menyadarinya.
"Kau tahu siapa aku sekarang?", ia menatapku dengan lembut.
"Kau..em, Werewolf?", tebakku.
"Iya, aku memang Werewolf. Tapi maksudku, aku sekarang adalah apa?", ia mulai serius.
"Eh, aku tidak mengerti, Elgard..", tukasku.
"Aku kini adalah pemimpin kaumku. Aku menggantikan ayahku. Dan para Vampir itu, mereka mengincar setiap pemimpin Werewolf untuk dibunuh. Dengan begitu, kehidupan mereka akan bertambah kuat dan kaum mereka yang berikutnya akan menjadi Kaum Tak Terbinasakan.."
Aku mengernyit mendengarnya.
"Jadi, kau sekarang seorang pemimpin? Bagaimana jika para Vampir membunuhmu?", aku hampir menangis membayangkannya. Tidak ada yang boleh menghilangkan Elgard dari hidupku. Aku bersumpah.
"Tidak perlu cemas. Kami sudah membereskan urusan itu", ia tersenyum remeh padaku.
"Bisakah kau hentikan kebiasaan senyum licikmu itu?", omelku.
Elgard hanya terus menambah senyum liciknya dengan gaya sombong. Sungguh ia terlalu mempesona saat menunjukan sisi dinginnya padaku. Dan aku benci (suka) itu.
"Kau berpikir apa lagi, gadis bodoh?", ia mengangkat daguku.
"Ka..kau..apa yang kau lakukan?", aku menghindarkan tangannya.
"Kau pikir aku tidak bisa membaca pikiranmu?", ia mendadak memanjat pohon dengan cepat.
Kakinya ia lentangkan ke dahan yang lain, berlagak seperti seorang bos.
"Kau bisa membaca pikiranku??", aku terkejut sambil memandang ke arahnya.
Ia lalu menurunkan kakinya dan bergelantung terbalik di pohon.
"Tidak ada pikiranmu yang tak bisa kubaca sejak dulu, bodoh..", Elgard dengan cepat lalu naik kembali dan membenarkan posisi tidurnya.
"Jadi..jadi selama ini..", aku terbata - bata. Batinku kacau mengetahui bahwa Elgard selalu membaca pikiranku. Bahkan sekarang pun ia pasti tahu apa yang kupikirkan. Ingin rasanya berteriak dalam hati.
"Aku..aku harus pulang", ucapku.
Dia hanya memandangku penasaran sambil menyantai di atas pohon itu.
"Besok bertemu lagi?", tanyanya.
"Iya, besok bertemu lagi..", aku tersenyum. Kebahagiaan ini, terasa seperti mengulang masa lalu yang indah dulu. Aku tidak ingin ini berakhir lagi.
"Sampai jumpa besok, Elgard"
"Sampai jumpa besok, gadis bodoh"
Elgard mendadak turun dari pohon dan berdiri menghadapku.
Ia mencium keningku. Tapi tatapannya tetap tak berubah. Masih tajam seperti awal pertemuan kami. Dan itulah bagian yang aku suka darinya.
Sore itu kami saling melambai dan berharap besok akan memulai awal yang baru, seperti biasanya.
Terima kasih Elgard, karena sudah mengisi hari - hariku dengan cinta.
.Helen.
(END)