UNTUK YANG PERTAMA KALINYA DALAM HIDUP, AKU SANGAT MENGHARGAI WAKTU.
Dilan, seorang pria remaja berumur 17 tahun. Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Sedangkan ayahnya sering pergi berlayar untuk bekerja, sebagai pelaut.
Karena besar tanpa orang tua, Dilan menjadi seorang pemuda yang nakal. Ia jarang masuk sekolah, sering minum minuman keras, sering berkelahi, pembangkang, dan selalu berpikiran sempit.
Baginya, waktu yang ia lalui hanyalah sebuah angin yang lewat. Sama sekali tidak berarti.
Namun, tidak dengan sekarang. Dilan baru menyadari betapa berharganya setiap detik waktu. Ia sadar, masih banyak hal yang berharga bagi dirinya. Sepeti teman, yang selalu mendukung. Keluarga, yakni ayah tercinta yang sangat menyayanginya. Serta cinta, yang menghiasi hatinya.
Seperti kata pepatah, 'penyesalan selalu datang di akhir'. Sepertinya memang benar. Karena sekarang, disisa waktu ini, Dilan baru saja menyesal. Menyesal karena selalu tidak menganggap penting waktu yang ada.
Semua berawal dari sebuah pertikaian. Seperti biasa, wanita yang dicintainya, yakni Mika, menegurnya karena sifat buruk yang Dilan lakukan. Dilan marah, lalu meluapkan perasaan nya dengan melakukan hal buruk lain nya.
Ditengah perjalanan dengan kecepatan motor yang melebihi batas, Dilan mengalami sebuah kecelakaan. Ia memejamkan matanya saat tubuhnya melayang hampir jatuh ke danau di pinggir jembatan akibat tubrukan motor yang tak terkendali.
Tidak disangka, waktu berhenti di situasi menegangkan itu. Mungkin tuhan masih menyayangi Dilan, sehingga ia memberinya sebuah kesempatan. Dilan yang menyadarinya, sontak terkejut.
Dilan berhasil selamat dari maut dengan berhentinya waktu tersebut. Waktu pun kembali berjalan normal. Lalu Dilan melihat, sebuah layar berisikan angka. Angka tersebut menunjukan sisa waktu Dilan di dunia.
22.00.00
Jantung Dilan terus berdegup kencang. Masih bingung dengan hal yang dialaminya. Setelah berpikir begitu panjang, Dilan akhirnya mengerti. Bahwa dirinya, telah tiada.
Dilan membayangkan waktu berharga yang dilaluinya ketika bersama dengan orang-orang yang ia sayangi. Lalu dengan sedihnya, ia tertawa dan berkata,
"Heh, Jadi inilah yang disebut penyesalan? Aku, Aku benar-benar sudah mati.." Tangis Dilan disertai tawa sedihnya.
Beberapa menit kemudian setelah menenangkan dirinya, Dilan menelepon Zaki, teman dekatnya sejak kecil untuk menjemputnya.
Mendengar sahabatnya meminta bantuannya, Zaki merasa senang. Karena entah sejak kapan, Dilan terus menjauh dari Zaki dan selalu bermain hal yang tidak baik. Maka dari itu, Zaki dengan penuh semangat segera menjemput Dilan dengan mobil miliknya menuju lokasi Dilan.
Karena sudah larut malam, serta jauhnya jarak rumah dilan dari lokasi, maka Zaki membiarkan Dilan menginap dirumahnya.
Zaki memiliki seorang adik yang imut. Serta kedua orang tua yang ramah nan baik hati. Mereka adalah sebuah keluarga harmonis. Berbeda dengan Dilan, yang besar tanpa merasakan kasih sayang keluarga.
Waktu terus berjalan. Sepanjang waktu tersebut, Dilan terus menerus gelisah memikirkan sisa hidupnya. Tanpa henti ia menggertak-kan giginya. Serta gemetar seluruh tubuhnya.
Dilan yang sedang gelisah tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku. Buku yang sangat membuat Dilan penasaran, 'Catatan harian' Zaki. Dengan ragu, Dilan segera membuka isi buku tersebut.
'Untuk yang kesekian kalinya, senyumannya membuat hatiku terus tergetar. Pagi yang cerah dan hangat, dihiasi indahnya senyuman seorang gadis, Mika. Namun seperti biasa, perasaan ini tidak tersampaikan. Karena Mika, sudah menjadi milik sahabatku, Dilan.' [17 Feb. 20xx]
'Sepertinya aku sudah gila. Kenapa aku terus menerus memikirkan wanita sahabatku? Hatiku sangat sakit melihat mereka tertawa mesra didepan mataku. Tetapi aku juga merasa senang, karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyuman itu terlihat. Senyuman sahabatku Dilan. Terimakasih Mika, kamu sudah mewarnai hidup Dilan. Aku menyayangimu, Dilan.' [6 Okt. 20xx]
'Kenapa Dilan terus menjauhiku? Apa aku melakukan kesalahan? Atau dia mengetahui perasaan egois ku terhadap Mika? Tidak, tidak mungkin. Dilan, sebenarnya kau kenapa? Aku akan melakukan apapun demi mu. Asalkan kau bisa tertawa, aku rela mengorbankan diri ku Dilan. Kumohon kembalilah..' [27 Okt. 20xx]
'Katanya, orang-orang akan lebih memilih cintanya dibanding temannya. Karena cinta membuat kita buta. Tetapi kenapa aku lebih peduli dengan Dilan? Haha, sebenarnya aku mencintai Mika atau kau, Dilan? Apa kau tahu kau terus memenuhi pikiranku? Dilan, kau itu lebih berarti dibanding apapun, dan siapapun. Karena itu, kumohon jangan tinggalkan aku, sahabatku.' [19 Mart. 20xx]
Dilan terhenti. Kemudian meneteskan air matanya pada catatan tersebut. Catatan harian yang dipenuhi tentang Dilan. Jika ia tidak menjatuhkan dan membaca buku tersebut, mungkin sampai akhir Dilan tidak akan pernah tahu, bahwa Zaki sangat tulus menyayanginya.
Dilan tersungkur menjatuhkan dirinya dan menangis dalam diam. Sebisa mungkin ia tidak bersuara karena tidak ingin seorangpun tahu pedihnya hatinya.
Setelah beberapa saat ia menangis, Dilan segera beranjak menuju kamar Zaki. Ia naik ke ranjang tidur Zaki dan memeluk erat sahabat tercintanya yang sedang tertidur lelap. Zaki sontak terbangun karena terkejut akan eratnya pelukan Dilan.
"Aku juga menyayangimu. Aku, aku sangat menyangimu.. Aku menyayangimu, Zaki!" Ungkap Dilan sembari memeluk erat sahabatnya, dengan tetesan air mata yang terus mengalir.
Zaki yang menyadarinya hanya tersenyum kecil, melihat sosok sahabatnya yang sangat kaku kini sedang mengungkapkan rasa sayangnya kepadanya. Zaki menggenggam lembut tangan Dilan yang memeluknya. Mereka pun tertidur pulas dengan sebuah pelukan yang hangat.
Empat jam kemudian, yakni 06.13. Zaki terbangun. Lalu menatap wajah Dilan yang sedang tidur bagai seekor anak kucing yang imut. Zaki sekilas tersenyum, lalu menyadari sesuatu.
"Aneh, mengapa tubuhnya sangat dingin? Wajahnya juga pucat sekali. Apakah Dilan demam?" Heran Zaki.
Tangan Zaki mulai tergerak untuk memeriksa suhu tubuh Dilan. Tangannya mendarat di dahi Dilan. Zaki sontak terkejut akan dinginnya tubuh Dilan dan segera menarik kembali tangannya. Zaki berteriak kedinginan dengan suara lantang, sehingga membangunkan Dilan dari tidurnya.
Dilan segera duduk dan menatap kosong Zaki. Ia menjernihkan pikiran nya. Kemudian perlahan mengerutkan alisnya sehingga tampak sedang menatap Zaki dengan tajam. Membuat Zaki merinding. Perlahan Dilan membuka bibir mungilnya,
"Selamat pagi, Sahabatku yang tampan~" Cengir Dilan mencairkan suasana.
Bagai salju di musim panas, tubuh Zaki membeku dengan sedikit amarah kesal terhadap Dilan. Ia merasa dipermainkan. Kemudian dengan segera, ia menggelitiki perut Dilan sebagai pelampiasan amarahnya.
Dilan tertawa geli akibat gelitik di perutnya. Suasana pagi yang meriah, menghiasi persahabatan kedua pria tersebut.
Setelah melalui malam yang indah bersama sahabatnya, Dilan melanjutkan rencana kedua disisa hidupnya. Yakni, 'Berkencan dengan Mika'.
Namun Dilan ditolak mentah-mentah oleh Mika. Ya, jelas saja. Baru saja kemarin mereka berdebat. Mika masih marah dan tidak mau menemui Dilan untuk sementara. Meski begitu, Dilan tidak mau menyerah. Untuk yang terakhir kali disisa waktu hidupnya, Dilan harus berjuang mendapatkan waktu bersama Mika.
"Aku berjanji tidak akan lagi menyusahkan mu. Tidak lagi membuatmu marah, tidak lagi membuatmu sedih, dan tidak perlu merepotkan tenagamu untuk mendisiplinkanku. Tolong, sekali saja.." Ungkap Dilan dengan penuh Klisme.
Tanpa sadar Dilan sedang mengucapkan salam perpisahan kepada Mika. Mendengar betapa sedihnya perkataan Dilan, entah mengapa hati Mika tergerak. Mika pun memaafkan Dilan dan berkencan dengan Dilan.
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan riang selama beberapa jam. Tidak terasa waktu terus berjalan, Dilan hanya menikmati waktunya yang indah.
Disebuah taman dengan rumput hijau sebagai alas, serta angin semilir yang berhembus kencang membuat rambut gadis itu berterbangan. Tampak cantik seperti peri. Jika bisa, Dilan ingin menghentikan waktu di titik ini, di situasi sangat mendebarkan.
Tangan Dilan tergerak, menyentuh rambut Mika dan menyelipkannya di telinga. Ia mendekatkan wajahnya dengan Mika. Lalu dengan begitu lembut dan penuh rasa cinta, Dilan menyentuh bibir Mika dan menciumnya seraya berkata,
"Aku mencintaimu, Mika." Ungkap Dilan.
Sungguh waktu yang indah. Kini Dilan pulang kerumahnya. Tampak banyak kardus paket dari ayahnya yang tidak pernah ia buka.
Dilan mengumpulkan semua kardus itu serta membukanya satu persatu. Kebanyakan isinya adalah sebuah guci yang melambangkan kapal. Lalu banyak surat pendek dari ayahnya yang tertulis dibalik guci-guci tersebut.
'Ayah rindu Dilan'
'Ayah sangat menyayangi Dilan'
'Dilan putra ayah, Ayah rindu'
Disertai air yang membanjiri matanya, Dilan segera menempelkan stiker guci tersebut pada lemari dingin. Lalu ia menulis sebuah surat permohonan wasiat.
Waktu Dilan sudah tidak banyak. Dilan segera menuju lokasi kematiannya, yakni jembatan tepi danau.
Sebelum waktu habis, Dilan menyempatkan waktunya untuk mendengar suara ayahnya. Ia menelepon ayahnya yang berada diluar negeri.
"Ayah, Dilan sangat menyayangi ayah." Ucap Dilan menahan tangisnya.
Ayahnya yang terkejut karena Dilan meneleponnya setelah sekian lama, merasa sangat aneh setelah mendengar ungkapan rasa sayang Dilan.
"Dilan, Apa yang terjadi? Apa kamu membutuhkan bantuan ayah? Ayah akan segera pulang! Jangan khawatir." Ucap ayah Dilan.
Mungkin karena sedarah, ayahnya menjadi gelisah seolah tahu bahwa Dilan akan pergi. Namun percuma. Meski ayahnya pulang sekarang, tetap tidak sempat mengejar waktu yang Dilan miliki.
Tanpa mengatakan apapun, Dilan menjatuhkan ponselnya sehingga sambungntelepon terputus. Lalu bersedia menyerahkan dirinya.
00.00.10
00.00.09
00.00.08
00.00.07
00.00.06
00.00.05
00.00.04
00.00.03
00.00.02
00.00.01
PIIIIIIIP--
*Surat Wasiat Dilan
Kepada Zaki, sahabatku. Tolong jagalah Mika untukku. Berbahagialah bersamanya.
Kepada ayah tercinta, maafkan putramu Dilan yang bandel. Dilan sayang ayah.
Aku akan bahagia jika kalian bahagia :)
End--