Malam itu aku tertidur masih dengan keadaan berantakan. Sisa air mata mengering dengan sendirinya diwajah sayu, bekas make up yang luntur tak lagi ku hiraukan, kebaya dan kain masih melilit tubuhku. Hijab warna burgundi, senada dengan kebaya yang ku kenakan juga masih melilit di kepala.
Malam ini harusnya menjadi malam bahagia untukku sekeluarga, dan juga mas Arya. Calon tunanganku. Malam ini mas Arya dan seluruh keluarganya datang pada keluaragaku untuk melamar.
Acara sudah di persiapkan jauh jauh hari. Saat acara baru saja di mulai, cincin tunangan sudah di sematkan di jari manisku. Tiba tiba dari luar rumah terdengar keributan, suara tangis seorang bayi yang di gendong oleh seorang wanita muda berhijab. Wajahnya sayu, sepertinya dia baru saja habis menangis. Dia juga terlihat kurang tidur, terlihat dengan adanya kantong mata yang menggantung di bawah mata yang mulai cekung agak kecoklatan.
"Hentikan! Pria ini sudah beristri!" Teriaknya. "Kami bahkan sudah memiliki seorang bayi." Lanjutnya dengan suara bergetar, seolah berusaha sedang menahan emosinya agar tidak meledak , dengan mata berkaca kaca wanita itu mendekat kearah kami sambil menggendong bayinya yang terus menangis.
"Laila! Apa apaan kamu ini? Dasar wanita gila!" Bentak tante Nila, calon mertuaku, yang tak lain adalah ibu kandung mas Arya.
Mas Arya sama terkejutnya denganku. Kami sejenak saling pandang dalam diam. Aku sendiri berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar pria yang di maksud wanita itu adalah mas Arya, calon tunanganku.
Aku tidak pernah tau jika selama ini mas Arya punya hubungan dengan wanita manapun selain denganku, selama hampir satu tahun kami dekat dan menjalin hubungan serius bahkan aku tidak pernah bertemu sekalipun dengan wanita ini.
Lalu kenapa tiba tiba dia datang mengacaukan acara kami.
Apa yang dia mau, dan, atau dia memang benar. Datang dengan membawa fakta.
****
Acara terpaksa harus di bubarkan, kami berkumpul di ruang tamu untuk menyelesaikan masalah ini secara internal.
Badanku sudah panas dingin rasanya, wajahku hanya bisa menunduk. Tak berani menatap satu pun wajah keluargaku, terutama Ayah. Beliau orang yang paling tidak setuju hubungan kami sejak awal, namun aku terus membangkang, seolah cinta telah membuatku buta. Hingga berani melawan orang tuaku sendiri.
Akhirnya mas Arya dan keluarganya pulang, tanpa penjelasan. Membawa serta wanita dengan bayinya itu dengan kasar. Mereka menyeretnya keluar tanpa perasaan.
Sebelum benar benar pergi, wanita itu sempat menoleh ke belakang, menatapku lekat. Berdiri dalam dian di ambang pagar depan rumah dengan masih menggendong bayinya. Entah apa maksud tatapannya itu, bibirnya miring sedikit seolah sedang tersenyum. Entah apa maksud dengan senyumannya itu,tapi aku merasa seperti sedang di tertawakan.
Setelah semuanya bubar, aku langsung masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun. Semua orang tak ada yang berani berucap, seolah tau apa yang sedang kurasakan saat ini.
Ku kunci pintu kamar,ku tatap ruang kamarku yang sunyi. Tubuhku luruh begitu saja ke lantai, dalam diam air mata ini mengalir tiada henti.
Sekuat tenaga ku bendung air mata agat tak tumpah di depan siapapun, semampuku aku bertahan agar terlihat tegar di depan semua orang. Namun nyatanya aku hanya manusia biasa, hanya seorang wanita, hatiku sangat hancur.
Ingin rasanya aku teriak, meluapkan segala rasa sesak yang menghimpit di dada. Perlahan aku bangkit setelah tangisku reda, berjalan gontai menuju tempat tidur. Melemparkan begitu saja tubuhku yang tak berdaya diatas tempat tidur yang biasanya terasa nyaman, setiap malam memelukku dengan kehangatannya dan menaungiku dalam mimpi indah.
***
Seekor harimau besar berjalan di sebuah jalan setapak, remang cahaya rembulan menyinari langkah kakinya yang begitu nyata menapaki sebuah jalan yang kini terlihat jelas di depan mata.
Aku berjalan dengan tenang tanpa rasa takut dan ragu, di depanku berjalan seeokor hewan dengan tubuh loreng loreng putih yang tinggi tubuhnya hampir setara denganku itu, bahkan sepertinya sedikit lebih tinggi dengan posisiku yang berdiri saat ini.
Kini kami berjalan bersimpangan, entah mendapat keberanian dari mana. Aku tiba tiba menoleh saat harimau besar itu berjalan tepat di sampingku, berjalan di sisi jalan yang lain berlawanan arah denganku. Kulihat hewan itu seperti tak memperdulikan ku, dia tetap berjalan tenang meski ada manusia di dekatnya. Seolah olah aku ini tak tampak di matanya. Atau memang aku tak terlihat.
Tiba tiba dari depan sana nampak sosok mas Arya, dia berlari tergopong saat melihatku. Seolah olah ingin segera menemuiku dengan sangat tergesa.
"Mega, ayo kita pergi! Aku ingin kita bersama." Dia mencengkeram kuat pundakku, seolah bagaikan burung elang siap membawa terbang mangsanya.
Aku hanya diam membisu, menatap lekat wajah tampan yang selama ini ku dambakan.
Tiba tiba dari kejauhan terlihat perempuan yang sama, menggendong seorang bayi, perempuan yang datang di acara lamaran kami. Dia ikut mendekat, lalu berbisik di telingaku, sangat lirih, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Lari......lari lah!"ucapnya menunjuk kearah belakangku, dimana ada seekor harimau besar sedang berjalan pelan membelakangiku. Jaraknya sudah lumayan cukup jauh, namun tubuh besarnya masih bisa terlihat olehku tanpa terhalang oleh apapun.
Perlahan aku mulai mundur saat mas Arya mulai melepakan cengkeraman tangannya di pundakku. Aku menuruti permintaan wanita itu, kulihat matanya mulai mengeluarkan air berwarna merah kecoklatan. Dia menangis, namun bukan air mata, malainkan darah.
"LARI... LARILAH!"teriakannya membuat telingaku berdengin.
Sekuat tenaga aku berlari, tiba tiba harimau besar itu menundukkan tubuhnya. Seolah memintaku untuk naik ke punggungnya. Entah dapat dorongan dari mana, aku naik begitu saja diatas punggung harimau besar itu tanpa rasa takut. Kami mulai menjauh, harimau itu melompat dengan cepat. Namun suara wanita itu masih terdengar jelas hingga berdenging di telinga.
*****
Tit, tit, tit, tit.
Aku tersentak kala suara bising mengejutkanku.
Kepalaku pusing sekali saat mata mulai terbuka, suara berdenging di telinga masih sangat jelas. Di tambah suara berisik semacam alarm, seperti tak asing bagiku.
Itu adalah suara alarm ponselku, yang senhaja ku setel pukul tiga dini hari. Ku lihat sekeliling, aku ada di kamar tidurku. Itu artinya aku mimpi tadi, tapi kenapa suara wanita itu begitu nyata dan teriakkannya bahkan ikut terbawa di alam nyata saat aku terbangun.
Ku tanggalkan seluruh pakaianku serta ku bersihkan riasan di wajahku, lalu aku mandi sebelum melaksanakan sholat sunah sepertiga malam. Memohon dan meminta hal terbaik untuk diriku sendiri. Terdengar egois memang, tapi inilah yang sedang ku butuhkan untuk mencari ketenangan diri.
****
Setelah sholat Subuh usai, aku masih mengurung diri di kamar.
"Ndhuk. Keluar, sarapan dulu ya." Suara ibu mengejutkanku yang masih melamun diatas tempat tidur. Pintu dan jendela masih tertutup rapat, bahkan masih terkunci sejak semalam.
Meski sudah terbangung, namun rasanya masih enggan untuk sekedar keluar dari kamar. Ku paksa kedua kakiku menuruni tempat tidur, ku seret langkah berat menapaki lantai kamar dengan gelaran karpet bulu berwana merah muda.
"Iya bu, nanti saja. Mega belum lapar." Pintu langsung terdorong saat tanganku memutar gagang pintu yang mulai sedikit terbuka.
"Ibu sudah bawakan makan, makanlah meski hatimu tak ingin. Tubuhmu juga perlu makan." Ibu terdengar mengomel. Aku langsung memeluknya dari belakang, ibu hanya terdiam mematung. Membiarkanku sejenak menikmati sentuhan dari kulitnya.
"Sekarang makan lah." Hanya itu ucapan yang ku dengar darinya, lalu berbalik keluar dari kamar lagi. Membiarkanku seorang diri menikmati kesedihan dan rasa sakit ini.
Entah mereka semua sudah tak lagi perduli padaku, atau sengaja memberiku ruang untuk merenungkan baik baik kesalahan yang sengaja ku buat sendiri.
Minggu lalu bahkan Ayah sudah berusaha kembali meyakinkanku atas keputusanku menikah dengan mas Arya. Namun aku masih tak perduli, masih percaya bahwa mas Arya lelaki yang akan membahagiakan diriku.
*****
Malam malam terus berlanjut, mimpi mimpi aneh masih terus datang setiap malam. Bertemu dengan harimau yang sama dengan alur cerita berbeda. Kadang aku hanya jalan seorang diri tanpa arah dan tujuan, dan lagi lagi akan bertemu kembali dengan harimau besar itu seoalb seperti tanpa sengaja namun ini adalah sebuah kebetulan yang aneh. Karena seingatku di dalam setiap mimpiku selalu ada sang harimau itu.
Sampai pada akhirnya ku beranikan diri menceritakan semua mimpi mimpiku kepada Ayah, mimpi tentang harimau putih yang sering ku temui sejak gagalnya acara lamaran ku dengan mas Arya.
Ayah hanya diam, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang ku ceritakan tanpa menyela. Setelah aku diam sejenak, barulah terdengar helaan nafas panjang keluar dari rongga pernafasannya.
Wajah tegasnya masih terlukis jelas, tatapannya jauh, menatap entah kemana.
"Dia adalah Raden Seta, dia memilihmu." Suaranya lirih, seolah tak ingin siapapun mendengarnya. Namun telingaku masih bisa mendengarnya dengan jelas setiap kata yang terucap.
"Siapa dia Ayah? Jika namanya Raden......kenapa menemuiku dengan wujud harimau?"tanyaku sedikit bingung sekaligus penasaran.
"Sttt," Ayah menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya dendiri sambil mendesis, matanya menatap awas ke sekeliling. Memastikan tak ada yang mendengarkan obrolan kami.
Sampi akhirnya Ayah membawaku ke sebuah desa, bertemu dengan seorang kakek tua. Berjenggot dengan kaki pincang bertongkat. Disana, di sebuah gubuk tua semuanya di ceritakan. Bahwa harimau putih itu adalah jelmaan dari pelindung leluhurku terdahulu. Terakhir kali menjadi pelindung Almarhum kakek, dan tidak di turunkan pada siapapun. Kakek sengaja tidak menurunkannya pada suapapun karena takut akan terjadi perebutan ilmu yang konon tidak semua orang mampu mengendalikannya. Aku sendiri tidak tau apa gunanya dan apa manfaatnya di lindungi oleh jelmaan macan putih itu. Tapi selama tidak mengganggu dan semuanya aman terkendali, aku rasa itu tidak apa apa.
Kini aku tak lagi memikirkan soal mas Arya, aku berusaha menata kembali hidupku dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang kini membuatku menghasilkan banyak uang.