Seorang pria menculikku dan mengurungku di sebuah rumah tua. Dia menyiksa dan memaksaku untuk menjadi kekasihnya. Aku ingin menolak, tetapi ....
●●●
Sore itu aku berjalan pulang menuju kos-kosan. Langit masih cerah, matahari hangat membuatku merasa nyaman. Anak-anak di daerah itu bermain sepeda, tampak sangat bahagia. Namun, seseorang mencuri perhatianku. Langkahku terhenti tatkala menyadari keberadaan seorang tuna wisma yang duduk sendirian.
Tanpa pikir panjang, aku segera mendekatinya. Kebetulan aku baru saja membeli sebuah makanan boks untuk dimakan di kamar nanti. Tapi tak masalah, ada orang yang lebih membutuhkan tepat di depan mataku.
"Permisi, tuan?" Pria itu menengadah, menatap kosong ke arahku. Aku membalasnya dengan senyuman hangat. Pria itu sangat kurus dan tidak terurus. Rambut berantakan, kulit dipenuhi luka dan nanah, dan duduk beralaskan koran di atas trotoar. Bahkan samar-samar aku bisa mencium bau kotoran dan bangkai.
"Saya punya sedikit makanan untuk Anda. Silakan," ucapku seraya meletakkan plastik yang kubawa di hadapannya. Pria itu diam, memperhatikan setiap gerak-gerikku.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, yah!" Aku mengangguk kecil, kemudian lanjut berjalan. Baru beberapa langkah, aku tersenyum cerah melihat sebuah gerobak makanan terparkir di pinggir jalan.
Aku berlari kecil mendekati gerobak makanan itu. Setelah kuperhatikan, tidak ada siapapun yang duduk di kursi yang disediakan. Si penjual pun termenung, memperhatikan kotak uang yang kosong.
Dia menoleh, menyadari keberadaanku tepat di sebelahnya. "Permisi, Pak. Saya beli nasi goreng satu bungkus, yah." Pria itu mengangguk tanpa ekspresi, lalu menyiapkan pesananku.
Lelah setelah berjalan cukup jauh dari kampus, aku duduk di kursi plastik terdekat. Angin sepoi-sepoi mengeringkan keringat ditubuhku. Aku menoleh ke jalan yang sudah kulalui tadi. Dahiku berkerut bingung kala menyadari pria tuna wisma itu menghilang dari tempatnya. Bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan orang dewasa disekitar situ.
"Pak? Tuna wisma yang ada disana pergi kemana, yah?" Si pedagang diam, bahkan tak menoleh sedikit pun. Aku menghela napas, memaklumi sikap orang-orang yang mendadak sangat cuek.
Setelah pesanan siap, aku segera membayar dan melanjutkan perjalanan pulang.
Jalanan seketika sepi, karena matahari memang sudah beranjak istirahat. Aku melangkah lebih cepat, ingin pulang sebelum langit berubah gelap. Semak-semak yang ada di sisi kiri jalan bergerak, refleks membuatku siaga. Aku terenyuh tatkala suara anak kucing yang mungkin kesakitan sayup-sayup terdengar. Perlahan-lahan aku mendekat, mulai rileks dari keterkejutanku.
WOOOSSHH! BRUK!
Aku melompat kaget saat seorang pria perkasa terjatuh dari langit. Badannya kekar, dan kulitnya dipenuhi tato-tato aneh. Tubuhnya mengeluarkan asap, kemungkinan besar karena bertabrakan dengan atmosfer.
Kakiku terasa beku, aku tidak sanggup berlari, apalagi menyelamatkan anak kucing itu. Plastik bungkusan nasi goreng seketika terjatuh dari tanganku. Kepalaku menoleh ke belakang, hendak meminta pertolongan.
DEG! Aku terkesiap saat tidak ada apa-apa di belakangku. Bahkan si penjual nasi goreng, ataupun anak-anak yang tadi sedang bermain.
Jantungku berdebar keras, membuatku kesulitan menarik napas. Mataku memanas, begitu takut memandang mahkluk yang masih bertelungkup di trotoar itu.
Hampir sepuluh menit aku menunggu, dia masih diam dengan mata tertutup. Aku mulai rileks, mengatur napas agar bisa berpikir jernih. Ntah kenapa, aku malah memutuskan untuk membawanya ke kos-kosanku. Karena dia besar dan sudah pasti sangat berat, aku memutuskan untuk menarik tangannya.
Plastik bungkusan nasi goreng itu kukoyak sedemikian rupa, lalu kuletakkan dibawah wajahnya yang tadi menempel ke trotoar. Setelah meyakinkan diri, aku sekuat tenaga berusaha menarik tangan kanannya.
Hampir satu jam aku berkutat dengan mahkluk yang tidak sadarkan diri. Langit sudah gelap, membuat bulu kudukku merinding. Pinggangku encok, dan tanganku nyaris mati rasa. Aku berjongkok kelelahan di sebelahnya. Goresan tato yang membentuk simbol rumit menarik atensiku. Di punggungnya yang tidak tertutup ada sebuah tato berbentuk simbol yang terlihat menarik.
Iseng-iseng aku mengikuti garis yang tertera dengan jari telunjukku. Kemudian, menekan lingkaran hitam aneh yang dikelilingi ukiran rumit di tengah punggungnya. Namun, tidak terjadi apa-apa.
Aku menghela napas, lalu bangkit berdiri. Mempersiapkan otot-otot tanganku yang tersisa, kemudian mengangkat kembali tangan kanan mahkluk tersebut.
GREP! Jantungku berdetak kencang, kaget karena tanganku tiba-tiba dicengkram kuat. Mataku membulat lebar begitu tahu siapa pelakunya. Mahkluk yang tadi terbaring seperti mati, mendadak duduk dengan mata bercahaya kuning terang. Tubuhnya berpendar, membuatku semakin ketakutan.
WOOSSHH!! Kami tiba-tiba meluncur menembus udara. Dia menarik tangan kananku, membawaku terbang tanpa pengaman. Tanganku rasanya seperti akan copot, dia menarikku sangat cepat ke langit.
Aku menutup mata, merasakan pipiku basah karena air mata. Aku sudah tahu, mungkin ini adalah ajalku. Ntah monster macam apa yang menculikku ini.
BRUK! Aku terbanting ke atas tanah saat kami mendarat tanpa aba-aba. Aku mendongak, baru sadar kami menembus atap rumah seseorang. Tubuhku remuk, rasanya tulang rusukku sudah patah semua. Sementara si mahkluk asing berderi tegak dihadapanku yang sekarat.
"Kau adalah tahananku sekarang. Kau tidak akan bisa keluar dari ruangan ini!" tegasnya seraya menghempaskan kedua tangan. Aku meringkuk, melindungi diri dari gelombang cahaya kuning yang menakutkan. Sepertinya dia baru saja membuat kurungan pelindung di tempat ini.
"TIDAK! KAU TIDAK BISA MEMAKSAKU! BEBASKAN AKU!!" Aku berteriak-teriak sambil meneteskan air mata. Aku tidak mau satu atap dengan mahkluk asing yang kasar dan mengerikan.
Mataku melotot lebar saat tubuhku mendadak melayang di udara. Kakiku bergerak kesana kemari karena tak bisa memijak tanah. Tubuh pria itu berpendar, kembali menggunakan kekuatan magisnya.
"Kau ... jangan coba-coba ... melawanku!!" Suaranya bergema, kemudian membantingku lagi ke atas tanah. Kepalaku terbentur, penglihatanku buram. Tubuhku sudah mati rasa. Napasku pelan dan terasa sangat menyakitkan.
●●●
Keesokan harinya, aku diberi kesempatan untuk bangun dari tidurku. Cahaya matahari menyusup masuk dari atap yang berlubang. Aku menggeliat sejenak, masih merasa sedikit mengantuk. Aku mengedarkan pandangan, mencoba mengenali lingkungan sekitarku.
DEG! DEG! DEG!
Jantungku berdebar kencang ketika teringat kejadian semalam. Cepat-cepat aku berdiri, meski sempoyongan karena pusing. Dahiku seketika berkerut kebingungan. Kenapa aku bisa berdiri tegak?
Aku memandang tubuhku dari atas ke bawah. Tidak ada luka ataupun memar. Bahkan tubuhku terasa lebih segar dari biasanya. Pria kekar menyeramkan yang semalam menculikku tidak ada dimana pun. Ruangan itu besar, tapi hanya beralaskan tanah berumput. Tidak ada perabotan, atau apapun itu.
Aku bernapas lega, merasa sedikit tenang setelah sekian lama. Perlahan-lahan aku kembali rebahan di atas rumput yang nyaman. Atap itu memancarkan sinar ke bawah, tampak seperti cahaya ilahi.
Aku menatap kosong ke langit-langit ruangan. Berpikir keras tentang kejadian diluar nalar yang menimpaku ini.
BRUK! Sesuatu mendarat di atas tanah. Aku menoleh, melihat pria menyeramkan itu mendarat di bawah atap yang berlubang. Dia mendekat kerarahku tanpa ekspresi, lalu meletakkan sebuah plastik berisi bungkus makanan dan sebotol air di dekatku. Aku tersenyum berterima kasih. Kemudian dia mundur, kembali ke bagian atap yang berlubang. Seketika dia melompat ke langit, lagi-lagi meninggalkanku sendirian.
Sudah berminggu-minggu dia melakukan hal itu. Datang untuk memberikan makanan setiap pagi, siang, dan malam. Kemudian pergi ntah kemana dan membiarkanku kesepian. Jujur saja, ini membuatku cukup depresi.
Suatu hari ketika dia mengantarkan makan siang berupa nasi goreng yang sama selama berminggu-minggu, untuk pertama kalinya aku berani berbicara. "HEI! BERHENTI! Kenapa kau mengurungku disini?! Bebaskan aku!" teriakku menggebu-gebu. Dia cuma menoleh, lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Itu membuatku bertambah kesal.
Bisa dibilang sudah sebulan lebih aku berada di ruangan membosankan itu. Dia tidak membawa hal lain kecuali bungkusan makanan dan botol minuman. Kali ini, aku benar-benar frustrasi. Dia tidak menggubrisku, bahkan ketika bungkus makanan itu kulempar ke wajahnya.
Emosiku semakin tidak terkendali. Sudah 2 hari aku tidak memakan semua bungkus makanan yang dia bawa sebagai bentuk protes. Tampaknya hal itu berhasil. Karena suatu hari, dia datang tanpa membawa apapun.
Jika ini adalah ajalku, mungkin ini lebih baik.
Aku duduk tegak, menatap tajam kepadanya yang berdiri diam di bawah atap berlubang. Hampir lima menit kami diam dan saling menatap. Kali ini aku sudah memantapkan tekad, aku akan menantangnya sampai aku mendapatkan jawaban.
"Maaf, aku tidak berniat kasar padamu ...." Suaranya berat, begitu merdu didengar. Raut wajahnya berubah. Dari yang biasanya tanpa ekspresi, kini terlihat sedikit sedih. Aku memilih diam dalam rasa penasaran, menunggu dia menjelaskan semuanya.
"Aku adalah Jalehua, dulunya seorang Pangeran Mahkota dari kerajaan iblis bernama Malehwa. Aku diusir dari kerajaanku karena terlalu baik pada rakyat kecil. Aku dibuang ke bumi untuk membuktikan, bahwa aku bisa memusnahkan manusia. Aku tidak mau melakukannya, bahkan aku tidak berniat menculikmu," jelasnya. Dia berjalan menjauhi cahaya terang dari atap, menuju sisi gelap ruangan.
"Aku menguji kebaikan hatimu saat itu, dan ternyata aku benar. Aku menemukan orang yang tepat untuk membantuku. Aku harus mendapatkan kembali pedang hitamku yang disembunyikan oleh ayahku di bumi ini. Tetapi ... tetua bilang aku harus dibantu oleh seorang manusia yang tepat. Aku ingin kembali ke Malehwa untuk mengubah sistem kerajaan yang sangat buruk," jelasnya lagi.
Alisku tertekuk bingung. Mataku menatap tajam ke arah punggungnya, menganalisis cerita dongeng yang diucapkan pria itu. Cerita itu aneh dan sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia turun ke bumi? Apa itu kerajaan iblis? Ini semua terdengar seperti omong kosong.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU! BEBASKAN AKU!" Aku meraung-raung sambil memukuli udara. Mentalku sakit dan lelah, aku tidak bisa dikurung seperti ini terus. Dia membalikkan badan, menatap tajam ke arahku.
Matanya kembali bersinar kuning. Saat ini aku tidak lagi bertumpu pada tanah. Tubuhku kaku seperti diikat kuat. Dia berdiri persis di depanku, memberikan peringatan dari matanya yang menyala marah.
"SEKARANG KAU ADALAH KEKASIHKU! KAU HARUS MEMBANTUKU! TIDAK ADA BANTAHAN! ATAU KAU AKAN KUKURUNG DISINI SELAMANYA!!!"
Aku terdiam, refleks meneteskan air mata. Wajahnya yang menyeramkan begitu dekat, membuatku dengan jelas tahu dia sedang marah besar. Tiba-tiba dia menggumamkan kata maaf, lalu menurunkanku perlahan ke atas tanah. Kemudian dia pergi ke sudut ruangan yang gelap.
Jujur saja aku ingin menolak, karena pria gila ini sudah menyakitiku begitu banyak. Tapi, aku tidak tega melihat beban dan penderitaan yang dia tanggung sendirian. Aku menghampirinya, lalu menyentuh lembut bahu berotot itu. Dia menoleh, kali ini terlihat benar-benar putus asa.
"Aku akan membantumu. Maaf, aku sudah bertindak bodoh. Dikurung sebulan lebih membuatku frustrasi ...." lirihku. Diluar dugaan, dia malah tersenyum lalu memelukku. Pelukannya begitu hangat dan menenangkan. Kala itu dia juga menggunakan sihirnya untuk kembali menyembuhkan luka dan memar ditubuhku.
Sekarang, aku akan belajar menerima kenyataan. Pria menyeramkan yang jatuh dari langit ini adalah kekasihku. Dan dia bukanlah seorang manusia.
●●●
Terima kasih sudah membaca;)