Cerpen
Judul: "Bayangan Kelam di Balik Jendela"
Napen: Ornies
Malam itu, suara hujan yang deras menggema di seluruh rumah tua tersebut. Dalam ketenangan yang hanya terganggu oleh tetesan air hujan yang menabrak jendela, Adrian merasa detak jantungnya semakin cepat ketika ia mendengar langkah-langkah pelan di atas tangga. Langkah itu semakin mendekat, dan dia merasakan nafasnya tersengal-sengal saat ia mencoba mengatasi rasa ketakutan yang semakin kuat.
Tanpa peringatan, pintu kamar di depannya tiba-tiba terbuka dengan keras, mengungkapkan kegelapan yang mencekam di dalamnya. Di balik suara hujan, Adrian dapat mendengar suara perlahan, seperti bisikan yang terlalu pelan untuk diartikulasikan. Ia berusaha meraih keberanian dan melangkah ke dalam kamar itu.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban, hanya bisikan semakin mendalam yang terus berlanjut. Keringat dingin mengalir di keningnya saat dia mengumpulkan keberanian untuk menyalakan lampu. Tetapi, saat cahaya memenuhi ruangan, tidak ada yang terlihat di sana kecuali perabotan tua yang tertutup debu.
"Tidak mungkin..." gumamnya, mencoba meredakan ketegangannya.
Tiba-tiba, suara serak yang aneh merasuki telinganya, membuat bulu kuduknya merinding. Dia berbalik dan mendapati jendela yang tadi terkunci kini terbuka lebar, mengeluarkan desingan angin yang menusuk tulang. Dalam pandangan kilat, bayangan putih panjang terlihat di balik jendela, mengambang di udara sebelum menghilang begitu saja.
"Siapa kamu? Tunjukkan dirimu!" ucap Adrian dengan suara lantang, meski tangannya gemetar.
Suara itu berhenti sejenak, kemudian, dengan suara berbisik yang terdistorsi, datanglah satu kalimat: "Kau tidak bisa melarikan diri."
Ketika kata-kata itu meresap ke dalam pikirannya, sebuah suara langkah kaki yang cepat dan berat terdengar mendekatinya dari belakang. Dia berpaling dan mendapati sosok wanita dengan gaun putih panjang berdiri di hadapannya, matanya yang kosong menatap ke dalam jiwanya. Tidak ada suara selain angin yang melolong di luar dan suara jantung Adrian yang berdegup kencang di dadanya.
Tersentak kembali oleh suara langkah kaki, kali ini dari arah berbeda, Adrian menoleh dan melihat bayangan hitam lainnya datang dari sudut lain kamar. Suara tawa bergema di dinding, bukan di telinga, dan suasana semakin mencekam.
"Kami selalu di sini," bisik suara-suara itu secara serentak, membuat pikiran Adrian semakin kabur.
Terdorong oleh ketakutan, Adrian berlari ke pintu, tetapi pintu itu terkunci dengan sendirinya. Dia berputar dan melihat bayangan-bayangan itu semakin mendekat, suara tawa semakin keras dan merasuki pikirannya. Dalam kepanikan, dia berteriak sekuat tenaga.
"Hentikan! Siapa kalian?"
Namun, suara tawanya semakin terdistorsi dan bising, menggema di kepalanya. Dalam keputusasaan, dia menutup telinganya dan berjalan mundur, jatuh ke atas tempat tidur. Dia menutup matanya dengan erat, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Namun, ketika dia membuka mata, dia mendapati dirinya berada di tengah hutan yang gelap dan sunyi. Suara angin bertiup perlahan dan suara-langkah langkah langkah itu kembali, semakin dekat, semakin dekat...
Suara langkah itu semakin nyata. Adrian mencoba berdiri dan mencari sumber suara, tetapi dalam kegelapan, dia hanya dapat melihat bayangan-bayangan yang mengelilinginya. Ketakutan merasuki setiap serat tubuhnya, tetapi dia tahu dia harus terus maju.
Tiba-tiba, di antara pepohonan yang lebat, terlihatlah siluet seorang wanita dengan gaun putih panjang, rambut hitam lebat menutupi wajahnya. Wanita itu berdiri diam, sepertinya menunggu sesuatu. Adrian merasa dorongan untuk mendekat, meskipun rasionalitasnya memberontak.
"Siapa kamu?" Adrian bertanya dengan ragu.
Tanpa menjawab, wanita itu mulai berjalan maju, dan Adrian melangkah berlawanan arah dengan langkah gugup. Suasana semakin tegang, dan mereka berdua terus berjalan, seolah-olah ditarik oleh kekuatan yang tidak dapat dijelaskan.
Tiba-tiba, suara gemuruh mendalam bergema di hutan, mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Langit yang sebelumnya gelap mulai terangkat, dan cahaya bulan purnama terungkap di balik awan. Dalam cahaya itu, wajah wanita itu terungkap, dan Adrian terpaku dalam ketakutan.
Wajah wanita itu sangat pucat, matanya merah dan kosong tanpa pupil. Mulutnya melengkung ke atas dalam senyuman yang mengerikan. Suara tawanya bergema, mengisi udara, membuat pikiran Adrian semakin labil.
"Dekatilah aku, Adrian," bisik wanita itu dengan suara yang mampu menusuk tulang.
Adrian merasa dirinya terhipnotis, tubuhnya melangkah maju meskipun dia ingin berhenti. Dia mencoba berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Matanya masih terpaku pada wanita itu, dan dia merasa seperti sedang terhisap ke dalam kedalaman yang gelap.
Namun, suara lain mulai muncul dari kejauhan. Suara yang lemah pada awalnya, tetapi semakin membesar. Itu adalah suara nyanyian kuno, suara yang begitu kuat dan indah sehingga mampu memecah pesona wanita itu.
Adrian merasakan dirinya terlepas dari daya tarik wanita itu, dan dia berbalik untuk melihat asal suara nyanyian. Di balik pepohonan, seorang pria tua dengan jubah putih sedang berdiri, memegang buku kuno di tangannya. Nyanyiannya semakin keras, mengisi udara dengan kekuatan magis.
Wanita itu berusaha menahan, tetapi suara nyanyian pria itu lebih kuat. Dia meronta dan mengeluarkan suara erangan yang menyakitkan, lalu tiba-tiba, tubuhnya mulai memudar dan menghilang, meninggalkan hanya bayangan samar.
Ketika wanita itu lenyap, suasana hutan menjadi tenang. Pria itu menghampiri Adrian, menutup bukunya dengan lembut.
"Kau hampir jadi korban, pemuda," kata pria itu dengan suara bijak.
Adrian masih gemetar, tetapi dia merasa rasa syukur yang dalam. Pria itu menjelaskan bahwa wanita itu adalah roh jahat yang mencoba menariknya ke dalam dunianya yang gelap. Pria itu adalah seorang penjaga, yang telah menjaga keseimbangan antara dunia roh dan dunia manusia.
Adrian bertanya-tanya mengapa dia dipilih, dan pria itu tersenyum. "Takdir membawamu ke sini, dan pilihanmu untuk bertahan yang menyelamatkanmu."
Dengan itu, pria itu mengajari Adrian tentang kekuatan roh dan dunia yang tersembunyi di balik kenyataan. Saat matahari mulai terbit, pria itu menghilang dengan janji bahwa mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti.
Dengan rasa kagum dan penuh rasa hormat, Adrian kembali ke rumahnya. Dia tahu bahwa cerita ini akan terus hidup dalam ingatannya, mengingatkannya tentang kekuatan gelap dan cahaya yang selalu berjuang untuk dominasi.