Mama… ya aku sering mendengar orang menganggap sosok ibu bagaikan seorang malaikat, namun itu tak berlaku pada ku mungkin gelar malaikat maut sekali pun tak lebih memuakan dari pada orang yang ku panggil mama.
Ayah ku meniggal satu bulan yang lalu, yang membuat ku tak memiliki tempat bersandar lagi, hal yang lebih buruk ibu ku mulai menggila, ia mengencani peria yang bahkan umurnya lebih muda dari ku, para tetangga terus mengatakan hal-hal buruk tentang ibu ku yang membuat nama ku secara bersamaan terbawa dalam gosip-gosip buruk itu meski aku tak melakukan apapun.
Saat tiba di tumah mama tak pernah menghiraukan ku atau mungkin bahkan ia tak menyadari keberadaan ku di rumah itu, dulu saat ayah masi hidup mama juga tak pernah memberikan perhatian lebih pada ku, satu-satunya hal yang kusukai dari mama adalah saat mama menyuruh ku untuk segera tidur jika aku belajar hingga terlalu larut, namun karna aku terlalu berambisi pada perhatian mama aku menjadi sering belajar hingga larut hanya untuk mendapatkan perhatian dari mama.
Namun kini perhatian sekecil itu pun tak pernah lagi ku dengar dari mulut mama. Setiap malam mama pulang dalam keadaan mabuk dan bau rokok yang tercium cukup keras yang melekat di bajunya. Mama sama sekali tak menghiraukan keberadaan ku dirumah, mama hanya bicara pada ku saat ia membutuhkan uang saja, seperti saat ini.
“Tapi mah aku baru memberikan semua gaji paruh waktu ku kemarin, bagai mana mungkin itu bisa habis secepat ini”
“kau pasti menyimpan uang mu di suatu tempat kan” mama bergegas ke kamar ku dan mengutak atik kamar untuk mencari uang, hingga akhirnya ia menemukan uang tabungan yang ku kumpulkan untuk membayar uang kuliah ku. “heh lihat… kau bahkan menyembunyikan ini dari ku” ia mengangkat amplop di tangannya.
“ma itu uang kuliah ku, mama tidak bisa mengambil uang itu” aku berusaha merebutnya namun mama segera menendangku dangan kaki jenjangnya yang membuat rok mini yang di pakainya sedikit terangkat.
“sudah waktunya kau membalas budi pada ku, dan mengembalikan uang suamiku yang di habiskan untuk membesarkan mu” ia menatap tajam dan segera keluar dari rumah menemui kekasihnya yang sudah menunggu di depan rumah dengan mobil berwarna merah.
“ma kembalikan uang itu, aku butuh uang itu ma” aku berteriak sambal mengejar mama ke depan rumah, namun seakan tak mendengar ku ia segera masuk ke mobil dan meninggalkan ku tampa rasa bersalah.
Semangkin lama aku bahkan tak memiliki apa pun di dalam hidup ku tak ada kebahagiaan, atau harapan bahkan sekaan kehadiran ku tak di ingginkan di dunia ini, kini aku kehilangan kebebasanku, aku harus bersembunyi dari para rentenir tempat mama meminjam uang dengan nama ku, tentu saja aku tak tau jika mama meminjam uang ratusan juta menggunakan ID card ku, yang terburuk aku bahkan tak tau apa yang mama beli dengan uang sebanyak itu.
Keesokan harinya mama makan sarapan yang aku siapkan sebelum berangkat kuliah seperti biasa, ponselnya bordering cukup nyaring, ia menjawap panggilan itu, tepat seperti dugaan ku itu dari kekasih mama. “apa kau bosan dengan mobil yang kemarin? Tak masalah bulan depan aku akan membelikan yang sesuai dengan selera mu, ya… aku minta maaf karna membelikan mobil tak sesuai dengan yang kau harapkan” ia mengatakan dengan kata-kata lembut pada orang yang menelfonnya
“apa itu salah satu dari gigolo mama lagi” aku mengatakan dengan dengan tatapan kebencian yang tak bisa ku sembunyikan lagi
Mama bangkit dari kursi sambal mematikan ponselya, ia menghampiri ku dan segera menampar pipi ku dengan kasar, “apa kau bilang? Apa kau sudah tak ingin tinggal di rumah ini”
“apa kata-kata ku salah bukankah mereka gigolo yang mama pelihara dengan uang ku yang mama rampas” aku menatap mama yang menatap ku seperti seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya
“mama bahkan memakai identitas ku untuk meminjam uang pada rentenir-rentenir itu, apa menurut mama aku bisa membayar semua hutang itu, aku sudah sangat lelah memenuhi kebutuhan kita dan melunasi uang kuliah, dari mana aku bisa bawa uang sebanyak itu ma”
“sudah ku katakana berhenti saja kuliah lagi pula itu tak akan membuat mu menghasilkan uang, oh iya jika memang kau sampai sepusing itu, kenapa tidak jual diri saja, kau cukup cantik jika sedikit di poles dengan make up” ia berkata dengan lantang
Aku melangkah ke depan mama yang hampir saja ku pukul jika aku tak berhasil menahan emosi ku yang seakan telah membakar seluruh tubuh ku saat ini, karna kaget melihat ku yang mendekat dengan cepat mama mendorong tubuh ku yang langsung terbentur meja dapur dan terjatuh ke lantai bersama beberapa benda di atas meja itu.
Aku mengambil pisau yang tergeletak di sebelah ku diantara sayurang-sayuran yang terjatuh, “ sialan, apa kau mau membunuh ku sekarang, kau lupa aku bahkan telah membesarkan mu”
aku mengarahkan pisau ke pergelangan tangan ku, “apa mama hanya menghawatirkan nyawa mama, bagaimana dengan ku”
“jika kau mau mati setidaknya kembalikan uang suami ku yang kau habiskan sejak kau di pungut di pinggir sungai”
Seakan jantungku berhenti berdetak mendengar kata-kata itu. Mama sering mengatakan hal-hal buruk dan melemperkan cacian dan makian pada ku, namun kata-kata yang tadi ku dengar berhasil membuat air mata ku mengalir diantara nafas ku yang mulai terasa sesak menahan guncangan yang menyakitkan di hati ku
“a- apa? Mama bilang apa” aku bertanya dengan harapan bahwa tadi aku hanya salah dengar
“berhenti memanggil ku mama, kau bahkan tak tau siapa jati diri mu tapi malah membangkang, jika tak punya uang pergi saja dari rumah ini, merepotkan saja”
Hari mulai larut dan aku bahkan belumbisa berhenti menangis, mama telah pergi dengan kekasihnya seperti sebelumnya, aku keluar rumah dan berjalan tampa arah melintasi jalan yang semangkin lama mulai terasa sepi
Sebuah mobil berhenti tepat di depan ku, “lisa!” sapa seorang peria dari dalam mobil, ia turun dari mobil dan menghampiri ku, “apa kau baik-baik saja, kau tampak kacau sekali, apa ada masalah”,
Aku menatap peria itu, dia adalah kakak leting yang satu jurusan dengan ku, “aku tak baik-baik saja sekarang, hati ku sakit sekali hik hik hik” ia memeluku lembut untuk meredakan isak tangis ku
Aku menceritakan semua hal yang ku alami hingga aku keluar dari rumah tampa bembawa apa pun bahkan ponselku pun tertinggal di rumah, dia membawa ku ke rumahnya, rumah elit di tengah kota.
Hari terus berganti ia terlihat sangat bersimpati pada ku, ia membelikan semua kebutuhan ku bahkan membayar uang kuliah ku hingga aku bisa kembali kuliah seperti dulu
Aku mulai menjalani hidupku yang baru dan mulai bekerja menjadi asisten dosen dengan bantuan kakak letingku itu.
Hingga malam itu tiba, ponsel ku bersering beberapa kali, aku menatap nomor yang sudah sangat ku hafal meski aku tak menyimpan nomer itu di ponsel ku, ya itu mama
“mama mau apa kali ini, apa belum cukup menyakiti hatiku, apa kali ini ingin membunuhku?” tanya ku dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan apakah itu rindu, sayang ,kebencian atau dendam.
“mama salah, bisakah kau memaafkan mama, mama tau ini terdengar seperti orang yang lari dari kesalahan tampa menebusnya sedikit pun, tapi bisakah kau kembali pada mama, kita mulai awal yang baru”
Tampa ku sadari air mata ku mengalir dengan deras menghancurkan dinding kebencian yang telah terbangun kokoh di hati ku, aku kembali ke rumah, hal yang tak bisa langsung ku sadari saat membuka pintu rumah, rumah itu tampak sedikit lebih kosong dan sangat berantakan, debu-debu di lantai menunjukan rumah ini telah lama tak di bersihkan, kemana semua peralatan elektronik apa para rentenir-rentenir itu mengambilnya,fikir ku
Tak lama kemudian aku melihat mama yang berlari tergopoh-gopoh menghampiriku, ia tampak pucat dan lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya, mama terus menangis dan meminta maaf tampa henti meski aku telah mengatakan bahwa aku telah memaafkanya berkali-kali.
Keesokan harinya aku membersihkan rumah bersama dengan mama, bahkan memasak sarapan dan makan bersama sambal menceritakan hal-hal ringan yang membuat kami tertawa, hari mulai sore aku meminta izin pada mama untuk ke kampus karna seorang dosen meminta ku untuk memeriksa tugas dari beberapa mahasiswa baru
Saat tiba di kampus, tak sesuai harapan ku, aku di suruh memeriksa banyak tugas yang membuat ku harus pulang larut malam, aku mencoba menelfon mama untuk memberitahunya tapi ia tak mengangkat telfon ku, mungkin ia sudah tidur karna lelah bersih-bessih fikir ku
Aku pulang jam 23:30 jalan menuju rumah ku sudah mulai sepi, saat aku tiba di rumah semua lampu di rumah mati, dan jendela-jendela pun belum di tutup, apa mungkin ibu lupa menutup jendela, aku mulai khawatir dan masuk kerumah, namun saat menghibupkan lampu cairan merah terlihat jelas menggenangi lantai yang ku pijak
Aku melihat ke sekeliling ruangan dan menemukan mama yang terkapar dengan banyak luka bacok di tubuhnya, nafasnya mulai tak beraturan
“mama apa yang terjadi?” aku meletakan kepala mama di pangkuanku dengan air mata ku yang mengalir tampa henti,
“anak ku mama senang bahwa kau adalah orang terakhir yang mama lihat hari ini, agar mama bisa memberi tahu ayah jika putrinya tumbuh dengan sangat baik” mama mengatakan dengan suara rerputus-purus dan memberikan senyuman hangat namun tetap memperlihatkan wajahnya yang menahan sakit
“aku akan telfon ambulan” aku mengambil ponselku panik sambal mengusap air mata ku, perlahan mata mama mulai tertutup, aku memeluk tubuh mama yang mulai terasa dingin, beberapa menit kemudian ambulan dan polisi pun tiba di rumah ku…
-TAMAT-