"Dimana Arhan ?, Devi pergi bersamanya lho ?" tanya ibu saat mendengar Devi ditusuk Audrey , temannya sendiri . "Arhan ?, ohh..., temannya itu sekarang juga di rumah sakit dia dipukul tengkuknya sama Audrey !"
Arhan yang kebetulan membawa mobil menjelaskan alur kejadian pada Sinta dan Ibu di perjalanan ke rumah sakit , "Awalnya Uud hanya duduk biasa tapi saat aku mau manggil eh dia lari ke arah Devi sambil membawa pisau !" Sinta dan ibu yang belum tahu jika Devi sudah meninggal masih bisa menahan air mata .
Namun saat mendekati UGD , tempat Devi mendapatkan perawatan pertama kali. Dua orang perawat membuka jalan untuk sebuah ranjang yang sudah ditutup oleh kain putih. Rama masih melanjutkan langkahnya meski Sinta berhenti karena ikatan saudara dia seperti merasakan yang dibawa adalah kakaknya.
"Eh , ayo ! Devi ada disana jika belum dipindah kamar ," Rama kembali untuk meraih tangan Sinta dan mengajaknya duduk di depan UGD untuk menanti kabar Devi . Rama menghentikan seorang perawat yang tadi membantunya membawa Sinta ke ruangan ini . "Sus !, Apa pasien atas nama Devi yang setengah jam lalu masuk UGD sudah dipindah ?"
Perawat itu agak bingung menjawab Rama , "Sudah mas , tapi apa mas keluarganya ?" Rama kemudian menengok kepada ibu dan Sinta yang masih menunggu kabar dari Devi. "Bukan !, mereka keluarganya," Ibu berdiri mendekat sedangkan Sinta terus saja mengigit jarinya.
"Sebenarnya pasien atas nama Devi sudah meninggal dan baru saja dipindah ke ruang jenazah !" Tak panjang tapi bisa meruntuhkan air mata yang ditahan Ibu . "Anak saya sudah meninggal ?" Tanya ibu mematikan apa yang didengarnya tak salah. "Benar !, Baru saja dipindahkan ke ruang jenazah."
Sinta yang mendengar kakaknya sudah meninggal langsung menyibak kerumunan orang disana untuk mengejar Devi , Rama ikut mengejar Sinta yang pastinya sangat kaget . Sedangkan Ibu hanya bisa duduk dan menangis di kursinya .
Namun Sinta kehilangan jejak kakaknya di tengah jalan , Rama yang mengikutinya dibelakang langsung memeluknya agar tangis Sinta tak menjadi .
"Kakak juga kehilangan !, kuatkan hati kamu Devi butuh doa dari kita dan simpan air mata ini ," hibur Rama meski air matanya juga sudah membasahi pipinya . "Kak Arhan !, Aku harus bertemunya sekarang." Rama menyetujui permintaan Sinta dan mengantarnya ke ruang perawatan.
"Lho !, Dimana dia ? tadi kakak antar dia kesini agar lukanya bisa diobati tapi kok nggak ada disini," Rama masuk ke ruang perawatan untuk menanyakan Arhan. "Pasien Arhan sudah kami obati mungkin sekarang sedang di toilet !" Balas perawat tersebut .
Namun saat rama menanyakan pada seorang perempuan di depan , dia mengatakan jika Arhan keluar . "Oh cowok tampan tadi ?, Dia berjalan keluar ." Bersama Sinta , Rama berkeliling di depan namun Arhan juga tidak ada disana. Rama kembali masuk dan membantu ibu untuk mengurus jenazah Devi .
Bahkan hingga tujuh hari kematian Devi , Arhan juga tak kelihatan batang hidungnya . Secara diam-diam , Rama yang penasaran dengan Arhan mencoba menanyakan pada Sinta , ya meskipun saat itu bukan waktu yang tepat untuk menanyakan tentang Arhan. "Dek !, emang si Arhan itu siapa sih ?"
Awalnya Sinta yang tak ingin di ingatkan dengan hubungan Arhan bersama Devi tapi akhirnya Sinta mengatakan jika Arhan adalah temen Devi di kampus . "Sebenarnya aku nggak mau bahas ini , tapi kali ini aku akan jawab meski sedikit !"
"Kak Arhan itu temen kakak di kampus , tapi mereka cuma ketemu di toko buku ." Sedikit tapi memberi petunjuk bagi Rama tentang kemisteriusan Arhan.
"Ya udah makasih !, Tapi maaf kalo kakak ganggu kamu ." Rama mulai penasaran selain karena Arhan menghilangkan saat di rumah sakit , tapi juga karena Rama memeriksa ponsel Devi tak menemukan kontak bernama Arhan.
"Aku sebenernya nggak penasaran !, Tapi karena coba cari tahu kenapa Audrey sampai menusuk kamu , aku jadi penasaran sama Arhan karena kamu sendiri gak punya nomernya." Gumam Rama sendiri setelah pulang dari rumah Devi . "Sekarang aku cuma punya satu petunjuk , kamu sering ketemu dia di toko buku!" Gumamnya lagi.
****
"Hati-hati nak !, kuliah yang rajin biar jadi orang yang berguna," doa dari ibunya saat Rama pamit .
Sebenarnya Rama tak kembali ke Yogya dia tetap di kota ini untuk terus mengungkap kemisteriusan Arhan. "Maaf Bu !, Rama harus bohong !"
"Bro !, Bisa cariin kost-kostan di dekat kampus nggak ?" Rama menghubungi temannya yang kuliah di kampus yang sama dengan Arhan. Kemudian ia menuju alamat kost yang telah diberikan temannya , tujuan Rama mencari kost disana agar mudah mencari informasi tentang Arhan.
"Bro !, Gue mau nanya nih , "
"Nanya apa ?, Silahkan !" Rama memulai dengan pertanyaan tentang siapa Arhan . "Lo kenal Arhan ?, Anak kampus sini juga." Kawannya malah mengira jika Rama mencari kost disini karena punya masalah dengan Arhan . "Kenal sih , tapi kenapa Lo tiba-tiba nayain Arhan ?, Apa Lo punya masalah sama dia ?"
"Nggak !, Cuma gue penasaran sama dia ," kawannya heran bagaimana Rama bisa kenal dengan Arhan . "Bentar !, Lo kenal Arhan dimana ?" Rama menjelaskan permasalahannya dengan harapan kawannya bisa membantunya . "Devi ?, Anak IPA 3 itukan ?, Temen sekelas Lo ." Rama mengangguk membenarkan.
"Sebenarnya gue juga nggak kenal banget sama si Arhan , tapi karena cerita lo kayaknya menarik gue mau bantu deh nyari tau ." Tersirat senyum diwajah Rama kawannya mau membantu , "Tapi sekarang gue cuma dapet satu petunjuk dari adiknya , katanya mereka sering ketemu di toko buku !"
Rahmat atau lebih sering dikenal dengan Amat langsung menunjukkan toko buku yang paling banyak dikunjungi mahasiswa dekat sini , "Ayo gue anter ke tempatnya , pasti mereka sering kesana ." Keduanya meluncur ke toko buku itu . "Maaf pak , bapak kenal nggak sama Arhan mahasiswa sini yang sering kesini ?" tanya Rama pada pak Adhi .
"Kenal !, Ada apa ya kok nyari mas Arhan ?" Balas pak Adhi dengan pertanyaan . "Saya ada janji sama dia , katanya mau ketemu di toko buku langganannya jadi saya tanya sama bapak bener Arhan sering kesini !" Beruntung Rama sudah mempersiapkan alasan ini .
"Bener mas !, kalo ada janji ditunggu aja disana (menunjuk meja yang biasanya ditempati Devi ) kalo kesini mas Arhan langsung kesana biasanya."
Rama mengikuti saran pak Adhi berharap Arhan datang ke sana hari ini . Namun hingga tiga jam menunggu dia tak muncul juga , "Biasanya Arhan kesini jam berapa ya pak ?"
"Biasanya jam segini sih mas !, tapi sejak nitipin motor itu dia nggak pernah main lagi." Rama mendapatkan petunjuk baru jika Arhan terakhir kali kesini untuk nitip motor . "Bukannya Arhan nggak pernah bawa kendaraan sendiri ?" Ucap Amat pada Rama .
Pak Adhi juga membenarkan ucapan Amat , "Itu bukan motor mas Arhan kok , motor mbak Devi dan sampai sekarang belum diambil lagi ." Rama kemudian meminta pak Adhi untuk menunjukkan motor yang dititipkan itu . "Maaf pak !, Boleh saya lihat motornya ? , Saya kenal keluarganya siapa tau bisa diambil !"
"Boleh mas , saya senang kalo segera diambil !, Soalnya rumah saya dibelakang kalo dibawa ke belakang takutnya ada yang nyari tapi kalo ditinggal disini takut hilang." Dan ternyata benar itu motor Devi yang masih terparkir sejak tujuh hari lalu .
Sinta yang dihubungi Rama langsung menuju toko buku itu untuk membawa bukti kepemilikan , "Ini adiknya pak !, Dia udah bawa surat-suratmya jadi boleh dibawa pulang motornya ?" Pak Adhi langsung mengambilkan kunci motornya di dalam.
"Ini kuncinya !, Makasih lo mas saya bisa tenang sekarang ."
"Kakaknya kemana dek kok motornya ditinggal disini ?" Tanya pak Adhi pada Sinta , namun sebelum Sinta menjawab sudah didului Rama . "Di luar kota pak , tapi mungkin dia lupa nitip motor disini !"
Dengan alibi Rama pak Adhi tak akan menanyakan apapun sehingga Sinta tak sedih .
"Oh iya pak..., emangnya Arhan sering kesini bareng Devi ?" Pak Adhi menceritakan jika awalnya Arhan hanya ingin mencari buku tapi setelah bertemu Devi , Arhan sering kesana untuk menemani Devi baca buku . Pak Adhi juga mengatakan jika Devi sedang tak disana Arhan sering ngobrol dengannya .
"Mas Arhan dan mbak Devi itu baik tapi beberapa hari ini mereka nggak pernah keliatan lagi ."
"Kak !, Kenapa tadi kakak bohong sama bapaknya ?" Tanya Sinta lewat pesan singkat , Rama menjawab sejujurnya "Kalo kakak jawab jujur takutnya kamu malah sedih ditanyain terus !"
Namun ternyata Sinta adalah orang yang kuat , ia mengaku tak akan sedih dan dendam dengan siapapun.
"Nggak papa kok kak !, Aku tau kapan harus serius dan kapan bisa menumpahkan kesedihan ku ," merasa Sinta sudah kembali pulih Rama menanyakan sesuatu padanya . "Kalo gitu kakak boleh nanya tentang Arhan padamu ?"
Sinta tak keberatan meski tak banyak yang ia tau , "boleh !, Tapi maaf nggak banyak yang aku tau ." Rama mulai dengan pertanyaan kenapa Devi tak punya kontak Arhan padahal mereka sering ketemu di toko buku. "Waktu itu kakak pernah cerita kalo kak Arhan banyak cewek yang ngejar-ngejar , jadi kak Arhan nggak mau kasih nomernya ke kakak , takut temen-temen kakak tau."
Rama sendiri mengakui jika Arhan memang tampan , jadi siapa cewek yang tak suka padanya . "Ya udah , makasih ya , Sin ." Banyak hal yang belum terungkap tapi setidaknya sedikit demi sedikit mulai kelihatan.
"Bro !, Besok Lo ada kuliah nggak ?" Rama berganti mengirim pesan ke Amat . "Ada , emang kenapa ?" Rama yang tak suka basa-basi langsung pada intinya . "Besok gue ikut Lo ke kampus yah !, Gue mau nyari tau si Arhan lewat cewek-cewek yang jadi fansnya itu."
Siang itu Amat dan Rama menuju tempat biasanya Arhan dikerumuni cewek-cewek itu , "Kita tunggu disini aja , biasanya si Arhan sering dikerumuni cewek-cewek itu disini !" Ujar Amat pada Rama .
Namun hingga dua jam disana Arhan juga tak muncul seperti benar-benar menghilang dari muka bumi . "Kayaknya Arhan nggak kuliah deh , Ram !"
"Menurut lo kalo kita tanya ke cewek-cewek itu gimana ?" Rama menunjuk beberapa cewek yang duduk di sepanjang lorong ini . "Oke !, Gue yakin mereka juga fansnya Arhan." Keduanya menghampiri cewek-cewek itu .
"Maaf boleh ganggu sebentar ?" Pinta Rama pada mereka yang asyik gosip .
"Iya boleh !, Ada apa ?" Balas salah satu dari mereka . "Jadi kita mau nanya Arhan hari ini masuk nggak ?" Mereka serempak menggelengkan kepalanya , "Sudah hampir seminggu ini Arhan nggak masuk kuliah ." Balas lainnya dan ditambah celetukan yang menanyakan kenapa mencari Arhan.
"Kenapa mas , apa pacarnya suka sama Arhan ?" Pertanyaan itu membuat Rama sedikit tersentak . "Kayaknya gitu tapi sayangnya bukan pacar ." Ujar Rama dalam hati , "Nggak !, Kita itu mau beli onderdil motor sama Arhan tapi tiba-tiba ngilang dan uang kita udah terlanjur dikasih !" Amat dengan cepat mengamankan situasi .
"Bukannya Arhan nggak punya motor ?" Celetuk cewek itu lagi . "Makanya kita ditipu sama dia jadi kita mau nyari Arhan ini , kalian ada yang lihat Arhan di luar kampus ?" Tanya Rama lagi . Mereka sibuk menanyakan pada teman disampingnya namun hanya berkahir saling tengok tanpa ada yang berbicara .
"Nggak papa kalo nggak liat , terimakasih udah kasih info ke kita !" Namun seorang cewek yang awalnya tak ikut bersama beberapa cewek itu datang . "Aku ketemu dia kemarin ! , Nih aku juga berhasil minta foto ." Dia menunjukkan fotonya bersama Arhan . "Tumben Arhan mau diajak foto !, Biasanya nggak pernah mau kalo diajak foto ,"
"Awalnya dia juga nolak , tapi dengan sedikit paksaan dia akhirnya mau !" Rama yang masih serius menatap foto cewek itu saat berfoto bersama Arhan meminta foto tersebut . "Boleh aku minta foto ini ?, Dengan foto terbarunya aku bisa cepet nemuin dia ." Dengan senang hati dia memperbolehkannya .
Selain mendapat foto itu Rama juga mendapatkan dimana lokasi terakhir Arhan terlihat . "Aku ketemu dia di depan pasar lama lagi jalan sendirian." Saking senangnya cewek itu juga langsung memposting momen langka seperti itu .
"Eh Bro !, Kalo Lo disini terus kuliah Lo gimana ?"
"Tenang aja !, Gue punya kenalan orang dalam."
Ucapan Rama membuat Amat masih bingung . "Jadi selama dosen gue lagi di Swiss dia ngajar lewat video dan karena gue kenal sama asistennya gue bisa lihat video itu kapan aja !"
****
"Bro disini kata cewek kemarin si Arhan ," Amat berhenti di dekat ruko depan pasar lama .
"Harusnya Arhan lewat sini kalo emang tinggal dekat sini karena ga ada gang lain selain ini." Lanjut Amat setelah turun dari motornya .
Namun hingga lebih dari dua jam Arhan tak muncul jua , "Kita balik ke kampus aja Mat , mungkin kita bisa dapet info lainnya." Amat menyetujui ucapan Rama untuk kembali ke kampus berharap ada informasi terbaru. Namun...
"Lihat tuh Ram , disana ada rame-rame mungkin lagi ngerumunin Arhan !" Keduanya segera mendekati keramaian tersebut . Semakin dekat kerumunan itu semakin ramai , tapi juga terdengar suara tangis yang sayu. "Maaf mbak , di depan itu lagi ngerumunin Arhan ya ?" Tanya Rama pada seorang di kerumunan itu.
"Bukan mas , itu lagi nenanggin adiknya Susi !"
"Susi ?, ada apa dengannya ?" Amat menyela mendengar nama Susi yang tak asing di telinganya .
"Iya Susi !, Adiknya itu barusan di kasih foto kakaknya yang dibunuh ." Amat masih berbincang dengan cewek itu sementara Rama menyibak kerumunan.
"Siapa yang kasih foto itu ke adiknya ?" Entah mengapa meski keluar dari rencana awal tapi tetap membuatnya tertarik . "Katanya sih dikirim lewat ponsel Susi sendiri , kayaknya si pembunuhnya sendiri yang ngirim." Balas cewek itu .
Rama kemudian kembali mengajak Amat keluar dan membatalkan niatnya untuk mencari informasi tentang Arhan di kampus . "Mat , ayo ikut aku dulu !" Rama langsung menarik Amat yang masih berbicara dengan cewek tadi. "Kemana lagi ?, katanya mau cari info Arhan disini ?"
"Udah nanti aja aku jelasin dijalan !" Keduanya ternyata menuju tempat Susi dibunuh . "Kenapa kita kesini sih Ram ?, emang Arhan disini ?" Rama tetap diam dan menelusuri jalan setapak yang disampingnya dipenuhi rumput lebat .
Rama membuat langkahnya lambat sambil melirik ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu disana .
"Nyari apaan sih Ram ?" Tegur Amat karena heran apa yang dilakukan Rama , "katanya mau kasih tau dijalan giliran dah sampe gak bilang-bilang !"
Rama berhenti , membalikkan badannya agar tepat menghadap wajah Amat . "Lo kenal Susi itu kan ?" Meski tak kenal dekat tapi Amat tau Susi adalah ketua mapala .
"Ya kenal , emang apa hubungannya Susi sama tempat ini ?" Rama menjelaskan menurut analisanya , "Setelah gue liat fotonya Susi ternyata cewek yang foto sama Arhan kemarin ," Amat tak sabar jadi ia menyala kalimat Rama . "Iya gue juga tau !, tapi apa hubungannya kita kesini ?"
"Menurut gue Susi dibunuhnya disini Mat , soalnya gue hafal banget sama tempat di foto yang dikirim ke adiknya itu ." Sekarang Amat paham kenapa Rama memperlambat langkahnya sambil melihat kesana kemari . "Menurut gue dia gak sampai dua puluh meter dari sini posisinya !"
Keduanya menelusuri jalan setapak itu , "Ram !, jalan ini tembusannya kemana ?" Entah mengapa Amat menanyakan itu . "Ke sawah ! , emang kenapa ?" Amat kemudian menunjuk sebuah sepatu yang tergeletak di pinggir jalan setapak itu .
"Gak mungkin petani bawa sepatu kayak gitu kesawah Ram , ayo kita lihat kesana ."
Dan benar tebakan Amat , tak jauh dari sepatu itu jasad Susi ditemukan . "Astaghfirullah !....,sadis banget pembunuhnya Ram !" Ucap Amat melihat Susi dibunuh dengan pisau di lehernya yang hingga ditemukan masih tertancap dalam.
Rama mengambil sebuah kain dari tasnya untuk melihat apakah ada luka lain selain di lehernya , "Bersih Mat , gak ada luka lain cuma ini aja ," Amat lalu mengambil ponsel milik Susi yang berada di kantong baju untuk dilihat apa ada hal yang aneh .
"Mat telpon polisi dan adiknya tapi peke hp lo sendiri aja."
Tak butuh waktu lama polisi dan adik Susi susah datang ke tempat itu , jasad Susi dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut dan ketiganya ikut ke kantor polisi untuk jadi saksi . "Untuk mbaknya bisa hubungi keluarga yang lain buat urus kakaknya , nanti kalian juga ikut ke kantor jadi saksi !" Perintah polisi tersebut pada Rama , Amat , dan adik dari Susi .
Setelah selesai dimintai keterangan di kantor polisi , Amat mendapatkan informasi ada seorang lagi yang bertemu Arhan dari teman ceweknya . "Ram , yuk kita ke kampus lagi !, Gue dapet info ada yang ketemu Arhan lagi ," Dia dan Rama langsung kembali ke kampus .
"Iya gue ketemu Arhan , dia juga mau gue ajak foto !" Ujar cewek yang bertemu Arhan hari ini . "Aku boleh minta fotonya ?, soalnya dia udah nipu kita jadi butuh foto terbaru dia ." Sebenarnya dia menolak membagi foto itu tapi Amat berhasil membujuknya .
"Makasih informasinya ! ,...."
"Saya Rani , iya sama-sama tapi kalian harus janji jangan dikasih orang lain ." Rama dan Amat kembali ke kostan mereka setelah lelah seharian mencari Arhan dan malah mengurus hal lain .
Esoknya keduanya yang tidur di kostan Rama mendapatkan berita penemuan mayat perempuan di sebuah gang .
Mayat itu tanpa identitas tetapi ciri-cirinya mirip seperti Rani , dan seorang saksi mata melihat seorang pemuda yang bersamanya sebelum kejadian tersebut .
Rama dan Amat yakin pemuda itu adalah Arhan yang selama ini mereka cari . Dengan pola yang sama Arhan membunuh dua gadis yang menjadi penggemarnya .
Siang itu Rama dan Amat memberikan pengumuman namun secara rahasia mulut ke mulut jika ada yang bertemu Arhan jangan keluar dari area kampus .
Arhan pasti membunuh semua orang yang mengenalnya , namun sayangnya sebelum ke kampus ada seorang gadis lagi yang bertemu Rian di luar kampus .
Nyawa gadis itu menjadi sasaran Arhan berikutnya , namun satu-satunya cara menangkap Arhan ya harus memancing Arhan keluar . Mereka dan polisi pakaian preman berjaga di sekitar gadis incaran Arhan .
Gadis itu sangat ketakutan setelah tau bahaya yang mengincarnya , meskipun sudah dijelaskan jika banyak polisi yang menjaganya dia tetap saja ketakutan .
Hingga sore Arhan tak terlihat di luar ataupun di dalam kampus , penjagaan dikendurkan sedikit dan peristiwa yang terduga terjadi .
Gadis itu pergi ke toilet khusus cewek namun hingga lima belas menit tak juga keluar , seorang polwan yang mengawasinya juga tak memberikan laporan kenapa lama sekali.
Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk dan menemukan keduanya tergeletak bersimbah darah . Entah dari mana Arhan bisa menyusup padahal sudah dijaga ketat .
Setelah kematian mengenaskan ketiga gadis itu , kampus di tutup selama satu bulan penuh . Para mahasiswi juga banyak yang keluar membuang jauh semua ingatan tentang Arhan .
Kampus yang dulunya diisi tiga perempat cewek sepi , tinggal beberapa cewek yang masih bertahan . Sedangkan Arhan sampai sekarang menjadi buruan polisi .
Pihak kampus menghapus semua data tentang Arhan , menolak wawancara dengan para wartawan . Sehingga Arhan hanya tinggal cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut .
baca juga novel ku judulnya -psikopat cantik -menanti cinta prajurit -anak roda -mencintai bayangan