Apa arti seorang wanita dalam hidup?
Apakah hanya sebagai pajangan?!
Hiasan rumah?! ..
Alat pemenuh nafsu?! ..
Pabrik pembuat anak?! ..
Wanita tak sekedar itu saja !!
--------------------
"Rin, umur kamu sudah sangat cukup untuk menikah. Apakah kamu tak ingin menikah?" Tanya Nisa teman Ririn.
"Hm ... Aku akan menikah, ketika aku sudah menemukan orang yang mau menerima ku apa adanya. Termasuk semua kekurangan dalam diriku." Jawab Ririn dengan senyum samar.
.
.
>>Flashback on<<
5 tahun yang lalu , disebuah rumah sakit kota S.
"Mohon maaf mbak, setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan tes beberapa hari ini. Saya menyatakan bahwa anda terkena penyakit PCOS (Sindrom ovarium polikistik) Dan penyakit ini, sejauh ini belum bisa disembuhkan, hanya bisa di rawat agar mengurangi dampak saja." Terang seorang dokter.
"Memang dampaknya apa dok?" Tanya Ririn.
"Efek terburuknya bisa menyebabkan kemandulan ... Tapi, masih ada harapan hamil walaupun kecil." Jawab dokter.
Mendengar keterangan yang disampaikan dokter, Ririn hanya bisa terdiam. Otaknya seakan lumpuh untuk mencerna penjelasan yang baru disampaikan oleh dokter padanya.
Sedangkan sang ibu yang menemaninya sudah menangis terlebih dulu menggantikan tangisan sang putri yang entah kenapa seakan beku untuk keluar.
.
.
"Kenapa ini terjadi padamu nak? Kamu masih muda. Usia mu masih 20 tahun sekarang. Tapi, bagaimana kamu bisa terkena penyakit itu ..." Ucap ibu lirih sambil memeluk Ririn, sesampainya mereka di rumah.
Ririn tak menjawab dan masih bungkam seribu bahasa semenjak mendengar penjelasan dokter sebelumnya.
"Ririn juga tidak tahu. Mungkin memang sudah kehendak Tuhan ... Oh ya bu, Ririn ada tugas kelompok, Ririn harus pergi sekarang. Untuk pengobatan selanjutnya, kita serahkan pada dokter yang ahli saja." Ucap Ririn berusaha tegar, agar sang ibu tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Setelah berpamitan pergi. Ririn, sama sekali tidak pergi untuk kerja kelompok, karna memang ia tak memiliki tugas itu. Dia hanya ingin sendiri untuk menenangkan pikiran.
Ia memilih singgah di sebuah taman yang tak terlalu ramai pengunjung di kota S. Ririn duduk disalah satu bangku di taman itu. Kemudian, ia memasang earphone dan mulai memutar instrumen yang membuatnya bisa lebih releks.
Perlahan, butir bening mulai membasahi kedua pipinya. Ririn menangis dan terisak seorang diri. Ia sangat terpukul dengan diagnosis dokter padanya. Bagi seorang wanita, hamil adalah impian terbesarnya setelah menikah. Namun, bagaimana dengan dirinya? Dalam sehari, seakan harapan itu musnah seketika.
"Apakah sekarang aku sudah menjadi wanita yang tak berharga?! ... Tak sempurna?! ... Cacat?!"
>> Flashback Off<<
.
.
Sudah puluhan kali Ririn mendengar pertanyaan dan Judging untuk segera menikah, karna umurnya sudah lebih dari cukup untuk melakukan pernikahan.
Namun, karna sakitnya. Ririn, seakan mati rasa dan sama sekali tak memiliki gairah untuk berumah tangga. Perasaan takut dan tak berguna meyelimuti hatinya.
Walaupun, ia terlihat tegar di depan keluarganya. Ia juga hanyalah seorang wanita biasa. Yang juga memiliki mimpi dan harapan. Namun, ketika mimpi itu hancur, wanita mana yang tak terluka?! Hanya saja Ririn memilih untuk menutupi kesedihannya seorang diri.
Sebenarnya tak sedikit pria yang berusaha mendekatinya, namun banyak yang mundur ketika Ririn menjelaskan keadaanya. Sampai ....
"Rin, nanti sepulang kerja apakah kamu ada acara?" Tanya Adit sedikit gugup.
"Kenapa?" Tanya Ririn tanpa menatap Adit sama sekali.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu."
"Tidak bisakah sekarang? Apakah harus nanti malam?" Tanya Ririn tanpa ekspresi diwajahnya.
"Ku rasa lebih baik jika nanti malam."
"Baiklah"
.
.
Malam harinya, setelah pulang kerja Adit mengajak Ririn pergi ke salah satu restoran sea food yang cukup terkenal di kota S.
"Apa tak masalah kalau makanannya sea food?" tanya Adit khawatir, jika tak sesuai dengan selera Ririn.
"Ya." Jawab Ririn dingin.
Setelah memilih kursi duduk dan memesan makanan, Ririn kembali bertanya hal apa yang ingin disampaikan Adit.
"Kamu ingim mengatakan apa?"
"Bisakah kita makan dulu?" Tawar Adit.
Ririn tak lagi bertanya dan mengikuti permintaan Adit. Mereka makan dengan sesekali mengobrol ringan. Walaupun mereka rekan sekantor, namun karna kepribadian Ririn yang tertutup dan jarang bersosialisasi, sehingga keduanya tak akrab.
Setelah selesai makan, Adit memulai menyampaikan maksud ajakannya hari itu.
"Hm, begini Rin. Aku tau mungkin ini terdengar mendadak, karna kita tak dekat sebelumnya. Namun, selama ini aku sudah memperhatikanmu dan ... Aku menyukaimu. Maukah kamu memulai hubungan denganku?" Tanya Adit dengan sorot mata yang serius.
Ririn sama sekali tak terkejut mendengar itu, seperti sudah biasa mendengarnya.
"Apa yang kamu sukai dariku?" Tanya Ririn.
"Semua tentangmu. Terutama kepribadianmu. Jarang sekali ku temukan wanita seperti mu sekarang."
"Lalu apa arti sebuah hubungan bagimu? Apa tujuanmu untuk memulai hubungan ini?"
"Umur kita sudah tak muda lagi. Aku mengajakmu memulai hubungan ini tentu untuk ke arah yang lebih serius. Kalau bisa aku ingin membangun rumah tangga bersamamu. Membentuk sebuah keluarga denganmu. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku." Jawab Adit tulus.
"Keluarga? hm ... Sepertinya aku tak bisa mengabulkan harapanmu itu. Sebagai informasi supaya kamu bisa melupakanku, ku beritahukan padamu kalau aku sudah divonis oleh dokter akan sulit memiliki keturunan. Aku wanita yang tak sempurna. Aku tak kan bisa mengabulkan harapanmu untuk membangun sebuah keluarga dan menjadi ibu dari anak-anakmu ..."
Ririn diam sesaat memperhatikan ekspresi Adit yang terlihat terkejut. Ia sudah sering melihat ini.
"Bagaimana? Sekarang kamu pasti mulai berpikir ulang kan? Aku tak menyalahkanmu dan justru aku sangat menyarankan padamu untuk mencari wanita lain yang bisa memenuhi harapanmu itu." Sambung Ririn, sembari berdiri hendak pergi.
"Aku pamit. Kamu bisa memikirkannya. Tapi, tolong jangan sebarkan ini. Jika, memang ada yang bertanya arahkan padaku, aku akan menjelaskannya sendiri pada mereka. Terima kasih makan malamnya." Ucap Ririn dan hendak berlalu pergi, namun tangannya ditahan oleh Adit.
"Maaf, mungkin perkataanku tadi melukai perasaanmu. Aku diam bukan memikirkan untuk mundur. Apa masalahnya jika kamu tak bisa melahirkan anak-anakku? Kita akan tetap bisa membangun sebuah keluarga. Jika, kita ingin memiliki seorang anak, kita bisa mengadopsinya. Tak menjadi masalah buatku ..." Seru Adit yakin.
"Kamu mungkin bisa mengatakan seperti ini sekarang. Tapi, apakah perasaan yang kamu rasakan saat ini benar rasa suka atau hanya iba? Aku tak yakin nanti setelah beberapa tahun menikah kamu tak kan mengeluh. Dan apalagi pernikahan bukan hanya diantara kita, namun diantara kedua keluarga. Bagaima, dengan orang tuamu? Apakah mereka tak menginginkan seorang cucu dari keluarga mereka sendiri? Bisakah mereka menerimaku?" Tanya Ririn dingin.
Adit hanya terdiam. Yah, dia memang belum mengetahui bagaimana respon orang tuanya. Namun, sebenarnya ia yakin, perasaannya pada Ririn bukanlah iba, namun karna ia benar-benar menyukainya.
"Kamu jangan memikirkan ini dengan gegabah. Aku permisi." Ucap Ririn dan benar-benar berlalu pergi.
Ririn berkendara dalam hening malam, ia tak langsung pulang. Ia menuju ke taman favoritnya. Duduk dibangku favoritnya sembari memutar instrumen kesukaannya. Perlahan ketegaran yang ia bangun sebelumnya runtuh seketika. Berapa kalipun ia menghadapi kondisi seperti ini. Namun, ia tetap akan menangis setelahnya.
Tanpa ia sadari Adit mengikutinya dan melihat kerapuhan Ririn yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ia menyadari satu hal, keadaan yang Ririn alami juga bukan keinginannya. Dan ia yakini, kondisinya sendiri juga menjadi pukulan untuk Ririn.
.
.
"Ma-Pa, Kalau misalnya Adit menikah dengan seorang wanita yang tak bisa mengandung anak untuk Adit, bagaimana pendapat kalian?" Tanya Adit setelah sampai di rumahnya.
"Kenapa kamu memilih wanita seperti itu nak? Masih banyak wanita lain kan yang bisa memberimu keturunan?" Seru mama Adit tak suka.
"Benar kata mama. Papa juga ingin bisa memiliki cucu dari kamu. Anak kamu sendiri, Dit." Seru papa menambahi.
Adit tersenyum kecut mendengar pendapat dari mama dan papanya. Bukan, karna penolakan mereka akan keinginannya. Namun, ia merasa sesak karna pandangan mereka yang terlalu sempit memandang seorang wanita. Dia teringat Ririn yang menangis seorang diri sebelumnya. Ia yakini, bukan hanya kali itu Ririn menangis. Dunia yang begitu kejam memperlakukan wanita. Adit tak bisa menerimanya.
"Apakah nilai seorang wanita hanya untuk melahirkan seoarang anak? ... Coba mama bayangkan, kalau kondisi wanita itu dialami oleh mama sendiri, apakah mama juga akan megatakan hal itu? Ataukah mama juga mengingikan seorang pria yang bisa menerima kekurangan mama? ... Bayangkan kalau papa yang meninggalkan mama, karna tahu mama tak bisa memberikan keturunan untuk papa bagaimana?"
Adit memandang mamanya yang hanya diam dan menunduk, seperti memikirkan perkatannya.
"Dan bagaimana jika papa tau sebelum menikah, bahwa mama wanita yang papa cintai, tidak bisa memberikan kuturunan untuk papa. Apakah papa akan meninggalkan mama?" Tanya Adit pada sang papa. Dan kini papanya juga menunduk tak menjawab.
"Apakah keluarga itu berarti harus memiliki anak saja? Bukankah keluarga adalah tempat berbagi suka maupun duka? ... Menikah memang untuk meneruskan keturunan. Namun, apakah harus berarti anak kandung, jika kondisi memang tak memungkinkan? ... Apakah nilai seorang wanita hanya dari kesempurnaannya dalam melahirkan seorang anak? ... Bukankah wanita juga manusia? Bukan pabrik penghasil anak!". Seru Adit tegas. Ia tak bisa menerima pandangan sempit akan wanita didunia ini.
Walaupun ingin melawan perkataan Adit, mama dan papa tak bisa. Karna, apa yang dikatakan Adit memang benar adanya.
"Tolong renungkan baik-baik dulu, Ma-Pa. Apakah benar wanita menjadi tak berharga ketika ia tak bisa melahirkan anak? Padahal secara kepribadian dia adalah wanita yang baik ... Apakah hanya satu kekurangan itu, wanita sudah tak dianggap sebagai seorang wanita lagi?" Ucap Adit untuk terakhir kalinya, sebelum ia meninggalkan orang tuanya untuk memikirkan perkataannya.
.
.
Satu bulan telah berlalu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Jawab Ibu Ririn sembari membuka pintu untuk tamu yang datang. Ternyata itu adalah Adit dan kedua orang tuanya.
"Nak, Adit? ada apa ini?" Tanya ibu Ririn bingung.
"Tante, kami datang dengan maksud baik untuk Ririn." ucap Adit lembut.
Akhirnya ibu mempersilahkan Adit dan kedua orang tuanya untuk masuk. Kemudian, ia memanggil suaminya dan Ririn. Setelah membuatkan minuman untuk tamunya. Melihat kedatangan Adit dan orang tuanya setelah satu bulan tak ada kabar, membuat Ririn menjadi bingung.
"Maksud baik apa yang tadi nak Adit maksudkan?" Tanya ayah Ririn.
"Begini Pak. Saya selaku ayahnya Adit, mewakili putra saya untuk meminta putri bapak untuk mejadi istri putra saya Adit." Ucap papa Adit serius.
Ayah dan ibu saling pandang, mereka juga melihat putrinya yang terlihat terkejut juga.
"Adit? Bukankah aku sudah mengatakan padamu? Apakah kamu tidak mengatakan pada mama dan papamu?" Tanya Ririn menatap dalam Adit.
"Nak, Adit sudah menceritakan semua pada kami. Maaf, sebelumnya kami memang menentang. Namun, setelah diyakinkan oleh Adit dan karna perkataan Adit kami menyadari satu hal ... Bahwa, wanita tetap berharga sekalipun dia tak bisa melahirkan seorang anak ... Memang, benar fitrah seorang wanita adalah mengandung dan melahirkan. Namun, kita tak bisa memaksakan keadaan jika memang tidak bisa ... Adit mengatakan, bahwa wanita buka hanya sebatas penyalur nafsu atau pabrik mencetak anak. Wanita lebih berharga dari itu ... Jika, kalian ingin memiliki seorang anak, kalian bisa mengadopsinya nanti. Walaupun bukan akan kandung, namun tentu saja itu masih dianggap keluarga ... Dan mama akan merasa sangat senang, jika memiliki menantu dengan kepribadian sepertimu." Ucap mama Adit lembut.
Ya, sebulan ini Adit terus berusaha meyakinkan dan menyadarkan mama dan papanya. Sampai, akhirya pemikiran mereka berubah.
Ririn terdiam mendengar penjelasan mama Adit. Matanya berkaca-kaca, seakan ada perasaan hangat yang menyelimutinya. Ia menatap Adit dalam seakan meminta keyakinan.
"Apa yang kamu dengar saat ini adalah kebenaran Rin. Kamu lebih berharga, karna kamu adalah wanita ... Kamu akan tetap menjadi wanita, walaupun kamu tak bisa melahirkan anak untukku ... Aku ingin membangun sebuah keluarga yang bisa ku ajak berbagi disaat suka maupun duka, bukan hanya untuk melahirkan seorang anak. Aku menyukaimu karna kepribadianmu, dan karna kamu seorang wanita." Ucap Adit lembut dan terpancar jelas ketulusan dimatanya.
Mendengar itu Ririn, tak lagi kuasa menahan air matanya. Dan akhirnya bening itu mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya.
"Jadi bagaimana, apakah kamu menerimaku untuk menjadi suamimu?" Tanya Adit.
"Iya" Jawab Ririn dengan senyum yang merekah lebar menghiasi wajahnya.
~End~
------------------------------
Semoga dalam kehidupan nyata ada sosok seperti Adit yang menghargai wanita bukan hanya karna bisa atau tidaknya melahirkan seorang anak ...
Teruntuk kalian, sahabat wanita ... Jika, kondisi kalian sama seperti Ririn. Ku harap kalian tak berkecil hati dan berfikir seakan semua harapan kalian hancur ... Apalagi, jangan sampai kalian berfikir untuk mengakhiri hidup kalian sendiri karna kondisi itu.
Ingat, kalian lebih berharga karna kalian adalah wanita ... Kalian bukan hanya tempat penyalur nafsu dan pabrik untuk menciptakan anak. Kalian, lebih berharga dari itu.
Ketegaran kalian ...
Kelembutan kalian ...
Dan semua keistimewaan yang diberikan Tuhan pada kalian ...
Tak kan ada yang bisa menandinginya. Karna, Tuhan sudan mendesaian diri kita menjadi manusia yang berharga ... Bukan hanya bisa dan tidaknya kita melahirkan seorang anak ...
Karna, kita adalah WANITA.