“Semua cowok itu sama. Baru jadian satu minggu udah menghilang tanpa kabar.” Ucapku sambil menatap foto seorang idol.
Kekasihku, ah tidak mantan kekasihku adalah satu – satunya pria yang bisa mengalihkanku dari dunia K-Pop. Yah... aku akui aku sangat kecanduan musik K-Pop. Rasa – rasanya tidak ada hari tanpa lagu K-Pop. Tetapi semenjak dia datang, dia benar – benar merubah duniaku.
Awal mula aku bertemu dia adalah saat aku menonton festival dance di suatu kota. Pada saat itu aku sangat bersemangat melihat para cover dance di sana. Aku melompat kegirangan dan sesekali mengikuti gerakan dance yang aku tonton. Saking semangatnya, aku tidak tau jika tali sepatuku terlepas.
Bruk!!!
Aku tersungkur di hadapan banyak orang. Rasa sakit itu tidak seberapa, rasa malunya yang luar biasa. Dengan tergesa – gesa aku pergi meninggalkan tempat itu. Menembus kerumunan orang dengan paksa. Tidak peduli temanku bersamaku atau tidak, yang penting aku harus segera menjauh.
Sekarang, aku hanya berdiri di ujung jalan menuju jalan keluar. Berdiri sambil memandang setengah badan orang – orang di hadapanku sambil menunggu temanku melintas.Yah... aku menutup setengah wajahku dengan topi hitam. Berharap orang – orang tidak mengenaliku.
Namun kemudian, ada seseorang yang mendekat. Sepatunya, dan celananya sangat asing bagiku.
“Aku mohon. Jangan ejek aku.” Pikirku sambil memejamkan mataku.
Tiba – tiba aku merasakan ada yang sedang menyentuh kakiku. Perlahan aku membuka mata, dan terkejutnya aku.
“Dia menalikan sepatuku?” Tanyaku dalam hati.
Aku memperhatikan orang itu. Rambutnya pendek, khas potongan laki – laki. Tiba – tiba di mendongak dan tersenyum kepadaku.
“Waw....” Ucapku lirih.
Kemudian laki – laki itu berdiri.
“Gak apa – apa kan mbak? lain kali hati – hati ya.” Entah ucap siapa aku tidak tau. Aku hanya mengangguk. Lalu, kaki itu melangkah pergi meninggalkanku.
“Oh... Aku belum mengucapkan terima kasih.” Gumamku.
“Hey... tunggu!” Seruku sambil mengejar laki – laki itu.
Berkali – kali aku memanggil dia, tapi dia tidak kunjung menegok. Sampai akhirnya aku menarik tas punggungnya.
“E-eh...”
Akhirnya dia berhenti dan berbalik. Aku masih terenggah – enggah mengatur napas.
“Kenapa mbak?” Tanyanya.
“Ter... Terima kasih.” Ucapku terbata.
“Kalau ngobrol itu di lihat orangnya mbak.” Ucap laki – laki itu.
“Ah iya. Terima kasih.” Ucapku sambil mendongak.
Lagi – lagi dia tersenyum, senyumnya sangat manis.
Buk!!!
Tiba – tiba ada yang memukul punggungku.
“Aw....” Rintihku.
Ternyata yang memukul punggungku adalah teman – temanku. Mereka menghampiriku sambil tertawa.
“Omo!” Ucap salah satu temanku.
“Ini mas yang pemenang dance cover tadi kan?.” Tanyanya.
Laki – laki itu hanya tersenyum.
“Kyaaaaa!!!” Semua temanku bersorak.
Tidak berhenti di situ, mereka juga mengoceh bersamaan. Sehingga aku tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan.
“Kalian ngomong apa sih?” Tanyaku.
Tapi tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaanku. Mereka mengacuhkanku.
“Mas – mas ini asalnya mana?” Tanya temanku lainya.
“Aku dari Banyuwangi.” Ucapnya.
Lagi – lagi temanku heboh. Mereka mengajak orang – orang tidak ku kenal ini pulang bersama. Entah apa yang ada di pikiran teman – temanku. Aku hanya bisa diam dan menurut.
Akhirnya kami pulang bersama – sama, naik kereta yang sama, duduk berdekatan mengobrol dengan riang, seolah – olah kami sudah mengenal lama satu sama lain. Tapi itu tidak berlaku untukku. Aku tetap diam seribu kata melihat pohon yang berlalu melalui jendela kereta.
Sampai di stasiun kota kami berpisah. Namun sebelum itu, mereka sempat bertukar nomor hanphone. Aku sangat tidak tertarik akan hal itu. Yang aku inginkan saat itu cepat pulang dan menonton music video korea untuk menaikkan semangatku.
Hari berlalu, tiba – tiba salah satu laki – laki itu menghubungiku. Dia mengajakku bertemu dengan alasan dia ingin meminta maaf kepadaku. Entah apa kesalahannya aku tdak tau. Akhirnya aku menyetujuinnya. Aku berangkat bersama temanku yang lain. Bertemu dengannya di sebuah cafe itu cukup aman menurutku.
Sampai di sana dia benar – benar meminta maaf kepadaku.
“Maaf ya, kayaknya temen – temenku kemarin buat kamu gak nyaman deh!” Ucapnya.
“Hah gak nyaman? Yang mana?.” Tanyaku.
“Yah dari awal bertemu sampai di stasiun, soalnya kamu sepanjang perjalanan diam terus sih.”
“Oh... itu bukan karena kallian. Memang aku lagi gak semangat aja, karena capek.” Ucapku.
Dia menghela napas panjang, seakan – akan dia merasa lega. Setelah itu kami berbincang panjang sekali membahas K-Pop.
Hari bergati, aku dan dia pun semakin akrab. Hingga akhirnya kami jadian. Awalnya aku sanggat bahagia. Namun kebahgiaanku pudar saat dia tiba – tiba menghilang entah kemana. Padahal selama aku menghabiskan waktu dengannya. Aku bisa melupakan sejenak kecanduanku terhadap K-Pop.
Aku mulai mengobrol dengan foto idolaku, menumpahkan semua kekesalanku terhadap laki – laki itu ke foto idol di handphone ku pengang.
Tok tok tok.
“Siapa kesini pagi – pagi gini?” Gumamku.
Aku melangkah ke depan membuka pintu rumah. Dan ternyata, yang datang adalah orang yang memiliki wajah persis yang ada di handphoneku. Aku tercengang tidak menyangka. Aku pun juga membandingkan laki – laki di hadapanku dengan foto di handhponeku.
“Ah... sama.” Ucapku.
“Apakah teori kita memiliki tujuh kembaran itu benar ada?” Gumamku.
Aku tidak percaya, ada seseorang yang sama persis seperti ini. Aku bahagia dan juga bingung awalnya. Tetapi laki – laki itu menjelaskan kalau dia adalah orang aku aku rindukan selama ini.
Entah kenapa aku bisa melihat dengan jelas ketulusan dan juga kejujuran dari raut wajahnya. Lebih anehnya lagi, aku merasa nyaman di dekatnya. Tapi karena aku masih takut di tinggal lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk lebih waspada.
Waktu berlalu, semakin lama – kami semakin dekat. Kami semakin nyaman satu sama lain. Aku mulai jatuh hati padanya. Hingga akhirnya kami pacaran. Aneh, aku sangat merasa seperti pernah bertemu dengan sosok ini. Mulai dari sifat, cara bebicara dan juga cara dia memperlakukanku. Itu sama persis dengan sang mantan.
Entah aku yang gagal move on atau memang sama persis aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang aku sangat menyanyanginya, meskipun aku merasa ada yang janggal dengan hubungan ini. Dia juga sangat menyanyangiku, semua terlihat jelas di depan mataku.
Tetapi setelah tiga bulan kami bersama, aku di tinggal tanpa kabar lagi. Aku sangat kecewa akan hidup ini. Aku sangat sedih, sedih yang mendalam. Tiba – tiba aku menemukan amplop di depan rumahku isinya sebuah foto dan surat.
“Hai... Maaf untuk kesekian kalinya. Pertama, aku yang tidak sengaja menginjak tali sepatumu hingga terlepas saat di festifal cover dance namun karena kamu telalu bersemangat kamu pun tidak tau jika itu terlepas. Kedua, maafkan aku yang tidak berani mengakui kesalahanku. Sebenarnya waktu di cafe aku sudah berniat untuk mengaku, tetapi aku tidak berani. Akhirnya aku mengalihkan topik pembicaraan kita. Dan yang terakhir. Maafkan aku yang telah menghilang tanpa kabar. Sebenarnya saat ini aku sedang koma. Waktuku tidak banyak. Jadi selama aku koma. Aku menjelma sebagai sesosok idolamu. Menjelma sama persis seperti yang ada di foto yang sering kau tunjukkan padaku. Aku menjelma berupa foto. Dari luar kamu tampak seperti orang normal yang berjalan sendiri. Tapi di dimensku, kamu sedang bergurau bersamaku. Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktu ku bersamamu. Maaf, aku membuatmu kesusahan seperti sekarang. Aku menyanyangimu.”
Seketika aku menangis histeris. Ternyata selama ini orang yang bersamaku hanya foto dua Dimensi. Aku menyesal pernah merasa di hianati oleh dia, aku menyesal telah menganggap dia buruk di mataku. Aku sangat menyesal. Aku ingin menyusul ke rumah sakit, namun terlambat. Ternyata aku mendapat berita jika dia sudah di makamkan.