Hembusan angin malam menjadi saksi bisu dari dua insan yang sedang berbagi kasih. Hamparan rumput di sekitar mereka berbisik lembut, mengagumi pasangan yang nyaris sempurna itu. Langit bertaburan bintang, menyajikan pertunjukan cahaya yang mampu memanjakan mata.
Wanita bersurai coklat gelap itu seketika menggigil, tatkala angin dingin mencolek kulitnya. Ia mengibaskan tangan kanan, membentuk simbol-simbol aneh dengan jarinya di udara. Hitungan detik kemudian, sebuah bola api terang muncul di hadapan mereka.
"Kenapa tidak bilang padaku kalau kau kedinginan? Aku kan bisa cari kayu bakar dulu—"
"Tidak perlu, sayang. Jangan buang-buang tenagamu. Itulah kenapa sihir mengalir di dalam darahku," jelas wanita itu sambil mengibaskan tangan, memperbesar bola api yang masih mengambang di udara.
Pria yang duduk di sebelah kanannya menghela napas berat. "Jika saja aku bukan seorang manusia, pasti aku akan lebih berguna untukmu, Haruna ...," lirihnya.
Wanita cantik yang bernama Haruna menoleh, ikut merasakan pahit yang memenuhi hati kekasihnya. "Jika kau diberi kesempatan untuk memilih ... kau ingin terlahir sebagai apa di kehidupan selanjutnya, Gileon?" tanya Haruna bersungguh-sungguh.
Pria menawan yang bernama Gileon itu sontak menengadah, memikirkan jawaban yang tepat. "Hmm ... mungkin aku akan menjadi ... vampir? Ntahlah, itu terdengar keren," jawab Gileon, menyandarkan tubuhnya ke permukaan rumput.
Dahi Haruna seketika berkerut, alisnya ditekuk tajam. Matanya memperhatikan raut wajah Gileon, ingin mencari kebohongan disana. Namun, ternyata pria itu mengatakan kejujuran.
"Gileon ...? Kau lupa ...?" lirihnya sembari menjambak rumput yang tidak bersalah. Gileon mengangkat kepala, menatap Haruna yang wajahnya mulai berubah merah. "Lupa apa?" ia bertanya polos.
"Vampir ... vampir itu musuh para penyihir! Bagaimana mungkin kau ingin menjadi bagian dari mereka? Mereka itu kejam dan tidak berakal!" maki Haruna menggebu-gebu. Matanya melotot marah, kesulitan mengendalikan diri jika sudah berkaitan dengan kaum vampir.
Gileon beranjak duduk, kebingungan menatap kekasihnya yang tiba-tiba marah besar. "Kenapa, sayang? Aku hanya bercanda! Tentu saja aku ingat. Aku bahkan sangat ingat!" Cepat-cepat dia mengelus rambut Haruna untuk menenangkan wanita itu.
BRUKH!
Gileon melotot kaget saat tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang. Jantungnya nyaris tidak berdetak, tulang rusuknya terasa lenyap karena menabrak batu yang cukup besar. Perlahan tapi pasti dia mendongak, kaget menatap Haruna yang tiba-tiba berdiri di depannya.
BRUKH! BRAK!
Tangan-tangan tak kasat mata menghajar Gileon habis-habisan. Ia baru sadar, mata Haruna sudah bercahaya biru. Pertanda Haruna sedang mengeluarkan sihir yang sesungguhnya.
"Ber-berhenti! Uhuk! Apa yang‐uhuk! Kau lakukan?!" protes Gileon, tak sanggup berdiri setelah dihantamkan ke permukaan tanah berlapis rumput. Haruna yang semula melayang di langit perlahan turun, mengambang di depan Gileon yang tampak menyedihkan. Rambutnya dan gaun hitamnya bahkan ikut berkobar marah.
"Katakan, siapa kau sebenarnya!Aku tidak pernah menceritakan padamu tentang permusuhan antara vampir dan penyihir!" hardik Haruna, matanya semakin bercahaya terang.
Pria itu tertunduk lesu, mengangkat tubuhnya agar bisa kembali berdiri tegak di atas tanah. Haruna tidak lagi kaget saat melihat Gileon seketika tampak bugar, seolah tidak cidera sedikitpun. Tentu saja, tidak ada manusia yang bisa menahan pukulan sekeras itu.
Ia mengangkat kepala, kemudian tersenyum miring dengan mata berkilat licik. "Hm? Hahaha! Berarti peranku sebagai manusia tidak berguna sudah selesai. Kau tahu? Cukup melelahkan berpura-berpura tidak bisa terbang, padahal kau bisa melakukannya. Kau tahu kenapa?" Haruna diam, melotot kaget tatkala Gileon ikut melayang sepertinya.
Satu hal yang pasti. Gileon bukanlah seorang mermaid, apalagi peri.
"Kau ingat? Aku pernah bilang bahwa kau adalah orang yang paling berharga untukku. Sejujurnya, itu tidak salah. Kau tahu kenapa?" Wanita itu membisu, tak paham dengan kalimat Gileon yang dipenuhi teka-teki.
"Iya, aku adalah vampir yang kau anggap tidak berakal itu!"
BRUKH!
"AAAAAAHHHH!!!" Haruna menjerit histeris ketika tubuhnya dilempar beberapa meter ke belakang. Untungnya, dia berhasil mengendalikan diri. Haruna mengepalkan tangan, berusaha mengambang dengan kokoh. Gileon tersenyum miring, perlahan mendekati Haruna yang terbakar amarah.
"Kau pikir serangan tadi berlaku untukku? HAH! AKU ADALAH PENERUS DI KERAJAAN VAMPIR, SIHIR BODOHMU TIDAK AKAN MEMPAN!" Suara Gileon bergema horor, kedua tangannya mulai bercahaya. Haruna dicekik oleh tangan-tangan transparan, dia seolah digantung di udara. Dengan sigap Haruna berusaha bertahan dengan cara memukul-mukul angin di sekitarnya.
Begitu malang, tidak ada yang terjadi.
"Darahmu adalah syarat untukku bisa menjadi penerus di kerajaan vampir. Tenang saja, aku akan menjadikanmu permaisuri disana. Tapi sebelum itu, mari bercinta sampai kau menjadi vampir seutuhnya," jelas Gileon di telinga Haruna yang nyaris tidak sadarkan diri.
"Mungkin ini adalah aib bagi kaum penyihir. Tapi sudahlah, keberadaan kaummu itu saja sudah sebuah aib. Jangan khawatir, Haruna sayang. Saat kau menjadi vampir nanti, kujamin kau tidak akan mengingat kampung halamanmu yang hina itu!" sinis Gileon.
Haruna menitikkan air mata, bahkan ketika dia tak lagi bisa bernapas. Dari dalam lubuk hati, sungguh dia tak menyangka bahwa Gileon adalah seorang vampir. Padahal ayahnya—kepala suku penyihir—selalu mengajarkan bagaimana cara mengenali hawa para vampir.
Namun ... Haruna gagal. Kewaspadaannya tertutupi oleh cinta yang mungkin saja tidak nyata.
Di kehidupan selanjutnya, Haruna ingin dia dan Gileon terlahir sebagai manusia biasa.
Meski harus 'mati' ataupun 'hidup bagaikan mati', Haruna cukup puas dia mati di tangan orang yang dia cintai.
Siapa sangka, Gileon ternyata bukan seorang manusia. Melainkan Penerus Tahta dari Kerajaan Vampir.
●●●
Terima kasih sudah membaca;)