Pathetique sonata 2nd movement by Beehoven,lagu piano yang terdengar dari ruangan gelap itu memecahkan lamunanku di koridor sekolah. Enggan berlalu, akupun memelankan jalanku menuju pintu keluar.
___*____*_____*_____*_____*_____*____*
Namanya Rava adhana, lelaki berusia 18 tahun yang enggan sekali berurusan dengan musik. Mendengarnya saja muak, apalagi memainkannya. Namun apa dayanya, mempunyai ayah seorang guru musik di salah satu sekolah seni. Mendiang ibunya pun seorang pianis handal.
Pagi ini, Rava resmi menjadi murid SMA seni, tepatnya tempat ayahnya mengajar.
"Bisakah aku bersekolah di tempat yang aku inginkan, yah? " pinta Rava.
" Lalu bisakah kamu mengabulkan impian mendiang Ibumu, Rava? " Balas angga, ayah Rava yang membuat Rava berdiam seribu bahasa jika sudah disaut pautkan dengan mendiang ibunya.
" Yah, kumohon. Apa saja bisa aku kabulkan untuk ibu, tapi tidak dengan ini" Bujuk Rava yang memang enggan bersekolah di sma seni.
"Tidak ada alasan lagi, Rava. Ayah memasukkanmu di sana pun karena alasanmu itu, ingat baik baik!! " ujar angga rada membentak agar anaknya mengerti.
Sehabis berdebat panjang waktu sarapan, akhirnya Rava dan sang ayah menuju ke sekolah menggunakan mobil. Tak lama kemudian mereka sampai di pekarangan sekolah. Rava yang masih kesal dengan ayahnya pun meninggalkan ayahnya yang memegang kotak kecil yang sebenarnya ingin diberikan ke Rava.
Rava sangat kesal, dengan ayahnya, dirinya, bahkan jantungnya. Hari ini ia habiskan hanya di rooftop sekolah hingga bel pulang berbunyi. Pukul 5.34 sore, ia memutuskan untuk turun karena ia yakin sudah tidak ada seorang pun di sekolah se sore ini.
Ia pun duduk sebentar di bangku depan kelas melukis. Ia melamunkan kesesalannya yang telah melawan ayahnya, namun ia juga kesal ayahnya tak mengertikan dirinya. Namun ia salah jika ia sudah sendiri di sekolah ini. Dari kejauhan sayup terdengar alunan piano. Pathetique sonata 2nd movement by Beehoven, alunan piano yang membuyarkan lamunan Rava. Entah mengapa, ia mencari sumber suara tersebut yang ternyata bersumber dari ruangan gelap yang hanya diterangi oleh cahaya remang dari pantulan jendela.
Rava diam di ambang pintu. Ia tertegun, bahkan tak bisa berkutik. Di depannya ada seorang wanita cantik yang sedang memainkan piano dengan indah, bahkan lagu sulit yang ia mainkan.
Tak lama kemudian wanita yang diketahui namanya Viola thalita tersebut berhenti memainkan piano karena ia merasakan ada seseorang yang ikut duduk di samping nya. Itu Rava, ia mengalami cinta pada pandangan pertama dengan Viola.
Rava pun memainkan lagu kesukaannya, Piano Concerto No. 23 2nd movement by mozart. Viola yang awalnya mengernyitkan dahinya pun perlahan tersenyum. Ia juga menyukai lagu ini.
Namun seketika lagu tersebut berhenti, dan digantikan dengan seseorang yang datang. Angga, ayah Rava yang ternyata sedang mengajari Viola. Rava yang enggan ketahuan pun bersembunyi di bawah piano.
Setelah 10 menit. Akhirnya Angga pamit pulang. Viola pun bergegas menuju pintu keluar, namun belum sampai pintu ia merasakan tangannya ada yang menahan.
"Namamu siapa? " tanya Rava tanpa basa basi.
" K-kamu siapa? " jawab Viola tanpa menoleh ke arah Rava.
" Aku Rava, murid baru disini. Dan kamu? "ucap Rava yang masih menggengam lengan Viola.
" Baiklah aku jawab, tapi tolong lepaskan dulu tanganmu " Dengan ucapan Viola seperti itu, Rava pun langsung melepaskan genggamannya.
" Aku Viola, Viola thalita. Angkatan ke-2 disini"jelas Viola yang sudah membalikkan badannya.
'Ada yang aneh, sepertinya '-Ucap Rava dalam hati
Rava pun mencoba melambaikan tangannya di depan wajah Viola yang tatapannya tampak kosong. Dan perkiraannya benar. Viola tak dapat melihat, ia tak melihat Rava.
"Aku harus bergegas pergi. Orangtuaku menunggu"Titah Viola sambil melangkahkan kakinya pergi.
"Vi-Viola tunggu!! "
Namun perintahnya itu tak didengar oleh Viola. Padahal Rava hanya ingin mengembalikan jepit rambut berwarna putih itu ke sang empunya yang baru saja menjatuhkannya.
*
*
*
*
Kemarin, se peninggalannya Viola dari ruang kelas tersebut, Rava oun memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan hari ini Rava dengan semangat menuju meja makan yang disambut tatapan aneh dari ayahnya.
"Apakah ada hal baik yang kau temukan kemarin, Rava? " Rava menoleh mendengar celetukan ayahnya tersebut. Namun hanya dibalas senyuman oleh Rava." Apakah kamu sedang jatuh cinta? "
-DEG-
Jantung Rava menjadi 2x lebih cepat. Seterlihatnya itukah ia sedang jatuh cinta?
" Ingat Rava. Kamu tidak punya waktu untuk hal seperti itu. Bahkan jangan. Jangan kamu sampai membuat seseorang menyukaimu. Jangan membuatnya bersedih Rava. " Omong angga.
Selama menuju sekolah, wajah Rava lesu. Ia baru terpikirkan ucapan ayahnya tadi pagi.
Wajah lesunya langsung berseri ketika melihat Viola. Ia pun segera menghampiri Viola yang sedang berjalan dengan meraba dinding di samping nya.
" Selamat pagi, Viola" Ucap Rava dengan semangat.
"E-eh? Kamu.. Rava, bukan? "
" Bahkan kamu mengingat namaku"
"Tentu, kamu satu satunya orang yang mau mengajakku mengobrol disini" jelas Viola.
"Benarkah?Waah lihat para manusia ini mendiamkan wanita secantik bidadari sepertimu. Aku yakin mereka akan menyesal kelak"
"Apasih kamu, berlebihan sekali " sambut Viola sambil terkekeh.
Rava pun menuntun Viola ke kelas yang ingin Viola hadiri. Rava pun berlalu ke kelasnya dan menjalani pelajaran dengan semangat. Karena mereka berjanji untuk bertemu di kantin.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Seperti janji mereka, mereka pun bertemu di kantin yang berdekatan dengan danau.
"Viola"
"Hmm? "
" Sebentar jangan bergerak"perintah Rava
"E-eh apa ini? " bingung Viola
" ini jepit rambut yang kamu jatuhkan kemarin"
"terima kasih, Rava. Ternyata ada orang yang baik sepertimu"
"anytime, Viola"
*
*
*
*
*
Hari demi hari pun berlalu. Dan mereka selalu menghabiskan waktu bersama setiap ada waktu kosong.
Hari ini pun sama seperti biasa. Mereka bertemu, namun waktunya yang berbeda. Ini malam hari. Rava terlihat sangat pucat namun selalu bersemangat, dan Viola pun senang bertemu dengan Rava.
Malam ini, Rava ingin sekali memainkan lagu yang ia mainkan pertama kali untuk Viola Concerto No. 23 2nd movement by mozart.
Mereka bahagia menghabiskan waktu berdua. Alunan demi alunan sangat Viola nikmati.
-DDRREEEENGGGGG-
Seketika satu ruangan ini dipenuhi dengan suara not piano yang tak beraturan. Dan tak terdengar apa apa lagi setelah itu
"R-rava? Kamu dimana!! " Panik Viola.
" Rava, kamu gak ninggalin aku sendiri kan!?"
Seketika alunan musik yang tadi sempat terhenti pun berhasil memenuhi ruangan kembali. Viola tersenyum.
Namun di sampingnya sedang menangis deras. Angga. Ya, angga yang melanjutkan lagu tersebut. Bagaimana halnya dengan Rava?. Ia memiliki kelainan jantung. Bahkan dokter bilang umurnya tak sampai 3 bulan.
Rava pun sebenarnya tahu akan hal itu, dan hari ini Rava merasa ia akan dipanggil oleh Tuhan. Ia pun sengaja memainkan lagu tersebut untuk Viola.
Saat piano tak berdenting tadi, Rava dilarikan ke rumah sakit oleh bodyguard pribadinya.
*
*
*
*
*
*
*
2 minggu kemudian.
Viola sangat senang saat ada seseorang yang dengan senang hati mendonorkan matanya untuk Viola. Dan hari ini adalah pelepasan perbannya. Setelah ia bisa melihat, ia langsung teringat satu hal. Rava.
Keesokan harinya ia datang ke sekolah. Menunggu dan menunggu. Hingga malam tiba tapi Rava tak datang.
Esoknya pun sama. Viola menunggu, bahkan ia mencari alamat rumah Rava dengan cara menanyakan ke guru.
Nihil. Tak ada catatan.
Viola duduk di kantin dekat danau. Ia tau, mereka pernah ke sana.
Tak lama kemudian datang seseorang. Angga.
Ia memberi amplop putih berisikan secarik kertas. Viola yang kebingungan pun perlahan membuka surat tersebut.
Betapa terkejutnya Viola bahwa yang mendonorkan matanya ternyata Rava, sang pujaan hati. Viola menangis tersedu sedu saat ia tahu bahwa Rava tak lagi di dunia. Angga pun menenangkan Viola yang terlihat sangat menyesal.
Viola mengenang Rava dengan ingatannya. Bukan wajah, hanya suara.
Ia senang bisa melihat. Namun apa dayanya, alasannya untuk melihat telah dipanggil sang Maha Kuasa.
Concerto No. 23 2nd movement by mozart akan menjadi musik favoritku selamanya. Ingatan indah tentangmu akan selalu terukir di benakku, bahkan hatiku. Entah apa yang harus kulakukan,aku hanya bisa berdiam diri melihat namamu di atas nisan. Tenanglah kau disana, bahagialah,maka aku juga akan bahagia.
I love you as more as the salt in the world
=TAMAT=
Thanks yang sudah mampir ke ceritaku ini. Hope you like that, and give me support, please. Luv ya all💛