Sakit memang rasanya, siapa sih di dunia ini yang tidak mengalami patah hati.
"Bertahan hanya karena atas nama cinta atau telah berubah jadi bodoh? Sudah ku katakan berulang kali, kau masih mempertahankan pria itu," Dina merasa geram dengan Elsa yang masih saja bertahan meskipun berulangkali di hianati.
"Iya, aku memang bodoh mempertahankan hubungan yang membuat hatiku hancur berkeping-keping hiks hiks," air mata Elsa terus saja mengalir sejak tadi.
Dina merangkul sahabatnya itu dan mencoba menenangkan.
"Sudah, jangan kamu pikirkan. Biarlah dia pergi, dia tidak pantas untukmu."
Elsa memeluk erat sahabatnya itu, dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Dina.
***
Flasback on
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan Sam akhir-akhir ini, chat pun di balas sesuka hati dia. Di ajak bertemu seolah menghindar, aku harus apa? Kenapa aku merasakan firasat yang buruk.
Setelah beberapa hari Sam bersikap cuek, akhirnya dia mau bertemu dengan ku seperti biasa.
Aku dan Sam bertemu di tempat biasa, aku memesan makanan dan juga minuman.
"Aku ke toilet bentar ya," ucap Sam.
Aku hanya mengangguk, ponsel Sam tidak di bawa dan tergeletak di meja.
Aku mengambil ponsel itu dan mencoba membukanya.
Tidak di kunci, iya karena Sam baru saja membukanya dan tidak di tutup kembali.
Aku memang tidak ada niatan untuk mengecek apapun. Tapi, aku merasa penasaran juga.
Lalu aku membuka galeri, aku sedikit sakit saat foto-foto ku dan Sam tidak ada di ponselnya. Beberapa hari ke belakang saat terakhir kita bertemu foto-foto itu masih ada.
Dan foto aku hanya satu, itupun hasil screenshot dari foto profil WhatsApp aku.
Di sana malah lebih banyak foto dia dan teman kerjanya.
Tiba-tiba diantara sekian banyak foto, terdapat foto yang membuat hatiku hancur seketika.
Foto Sam dengan seorang perempuan, aku tidak tahu siapa perempuan itu. Tapi seketika aku ingat, Sam pernah membuat status di WhatsApp nya. Saat tengah bekerja dengan teman-temannya, dan ada seorang perempuan sepertinya anak baru. Perempuan itu mirip sekali dengan yang ada di foto ini.
Hancur sudah hatiku, telah retak dua kali kini aku pun kembali di hantam. Gelas kaca yang sudah retak kemudian di satukan lagi itu akan utuh tapi tidak lagi sama, lalu kini di banting lagi ke lantai. Hancur sudah gelas kaca itu kini.
Air mataku masih aku tahan, aku menunggu Sam kembali.
Tak lama Sam pun kembali dan menyantap hidangan yang telah tersaji.
"Kamu kenapa?" tanya Sam saat menyadari aku hanya terdiam.
Aku pun mengambil ponselnya dan menunjukkan foto itu padanya.
"Bisa kamu jelaskan ini!"
Seketika Sam menghentikan aktivitasnya, ia kemudian menggenggam erat tanganku.
"Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan!"
Sam menghela nafas sejenak.
"Dia memang rekan kerjaku, tapi dia juga kekasih dari temanku," ucapnya.
"Kekasih teman mu? Lalu untuk apa kau menyimpan foto kekasih teman mu sendiri?"
"Itu... Itu hanya saat teman ku minta foto..."
"Lalu kamu mau?" ucapku memotong pembicaraan Sam.
"Percayalah, dia hanya sekedar teman kerja tidak lebih," Sam mulai merayu ku.
"Lalu kenapa tidak kau hapus? Apa teman mu tidak cemburu saat temannya sendiri menyimpan foto kekasihnya?"
"Sudahlah, hal seperti ini tidak perlu di perpanjang. Kamu percaya deh sama aku."
"Sam, kamu pikir hal seperti ini sepele? Kamu yang selalu berbicara soal menghargai, tapi kamu sendiri tidak pernah menghargai aku. Kamu ingat, waktu pertama kali kamu selingkuh. Aku masih memaafkan mu, karena kamu berani datang ke rumah untuk meminta maaf. Tapi apa? Setelah itu kamu mengulanginya lagi," air mataku mulai tak bisa di bendung.
"El, aku bisa jelasin semuanya. Please kamu percaya sama aku, lagian kamu kenapa sih ngungkit yang udah berlalu?" Sam malah terlihat marah dan tidak ada sedikitpun penyesalan.
"Kamu pikir saja sendiri kenapa aku mengungkit masa lalu mu."
"Ok, jika kamu ingin mengungkit kembali. Ayo keluarkan semua unek-unek mu!"
"Baik, dengarkan baik-baik! Kamu ingat? Setelah perselingkuhan mu yang pertama, aku memang memaafkan mu dan mencoba percaya kembali. Namun apa setelah itu? Kamu selalu membandingkan aku dengan perempuan lain, yang tak lain adalah teman ku sendiri. Wanita mana yang mau di bandingkan, sedangkan aku sendiri tidak pernah membandingkan kamu dengan pria lain di luar sana. Meskipun aku tau banyak yang lebih dari kamu."
Emosi ku ingin meledak rasanya, namun sebisa mungkin aku tahan.
"Meskipun kamu melakukan hal itu, aku masih bisa menahan rasa sakit atas ucapan mu. Dan setelah itu, perselingkuhan mu yang kedua kau memohon pada ibuku dan mengatakan bahwa kau ingin serius denganku. Aku memaafkan mu kembali Sam, hingga sekarang aku melihat semua ini dengan mata kepala ku sendiri. Kau menyimpan foto wanita lain di ponselmu, kau anggap aku apa Sam?"
Air mataku tak bisa ku bendung, aku luapkan semua kekesalanku.
"Elsa, aku..."
"Dan kamu tahu Sam? Saat beberapa hari ke belakang kau mengacuhkan ku, seakan kau tidak ingin bertemu dengan ku. Sekali bertemu aku malah mendapat kejutan seperti ini, terimakasih Sam. Lengkap sudah kehancuran hati yang selama ini berusaha aku jaga, tiga tahun Sam kita menjalani hubungan ini."
Sam meraih tanganku.
"Maafkan atas semua yang telah aku perbuat, aku mem..."
"Sudah Sam, cukup! Aku akan pulang, dan terimakasih kau sudah mengisi hari-hari ku."
Aku berlari meninggalkan Sam yang berteriak memanggil namaku, aku tidak menghiraukan.
Aku bergegas menaiki taxi yang kebetulan lewat, hancur hatiku saat ini.
Kepercayaan yang aku berikan padanya, kini tiada lagi tersisa di hatiku.
Flasback Off
🌸🌸🌸
Tiga Minggu kemudian, sejak saat itu aku tidak lagi berhubungan dengan Sam.
Bahkan kini, belum genap satu bulan kita pisah. Dia memposting fotonya dengan perempuan itu di media sosial.
Sakit memang, ternyata semudah itu dia melupakan ku.
Aku berusaha mencoba melupakannya, meskipun tidak mudah. Dan bukan perkara mudah, hubungan tiga tahun lamanya harus berakhir seperti ini.
Satu bulan kemudian, dia semakin menampakkan kemesraan dengan perempuan itu di media sosial.
Aku semakin muak melihatnya, aku hanya fokus bekerja tanpa memikirkan hal lain.
Aku memang masih berkomunikasi dengan keluarganya, terutama kakak nya dan juga paman nya.
Setelah aku berpisah dengan Sam, pamannya sering kasih kabar tentang keluarga Sam. Termasuk hubungan Sam dengan wanita itu, aku hanya menjadi pendengar saja meskipun sebenarnya aku tidak ingin mendengarkan apapun.
Tiga bulan berlalu, aku mendapat kabar kalau ayahnya sakit lumayan parah hingga harus di larikan ke rumah sakit.
Dalam hati kecilku, aku sangat ingin menjenguk tapi apalah posisi ku saat ini tidak memungkinkan.
Beberapa hari kemudian, ayahnya sudah agak membaik. Dia hanya di rawat dan menjalani pengobatan di rumah.
Paman nya Sam menghubungi ku.
"Elsa, paman tahu kamu pasti ingin bertemu dengan ayahnya Sam kan?"
"Iya paman, bagaiman pun aku sudah menganggap mereka orang tuaku sendiri."
"Paman akan bantu kamu untuk bertemu ayahnya Sam, besok kita akan ke rumahnya setelah kamu pulang bekerja."
"Baiklah paman, besok aku kabarin lagi."
Meskipun berat, namun aku melakukan hal ini karena aku menghormati mereka sebagai orang tua.
Hari ini aku mendapat kabar dari atasan ku, aku akan di pindah kerja ke luar kota.
"Apa mungkin ini pertemuan ku yang terakhir dengan mereka, setelah ini bisa saja bertemu namun entahlah kapan dan belum pasti."
Keesokan harinya, aku dan pamannya Sam berangkat menuju rumah Sam.
"Paman, ini mungkin aku terkahir kalinya bertemu mereka. Besok aku sudah mulai berangkat, aku di pindahkan tugas ke luar kota."
"Kenapa secepat ini? Paman hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, apapun dan di manapun kamu berada."
"Terimakasih paman."
Tidak lama kami pun sampai di rumahnya Sam.
Di rumahnya ada adiknya Sam, dan ayahnya yang terbaring di kamar.
Pamannya Sam saling merangkul dengan ayahnya Sam, aku bisa melihat ayahnya menangis kala melihat kedatangan paman Sam.
Setelah itu, aku menghampiri ayahnya Sam. Dia tampak terkejut melihat kedatanganku dan diam seketika.
"Apa kabar Pak?" aku memberi salam dan mencium tangannya.
"Baik nak," dia mengulas senyumnya sekilas.
"Mamah mana?" tanya ku.
"Tadi keluar sebentar, ayo duduk di ruang tamu saja biar nyaman."
Kami pun berpindah ke ruang tamu.
Di sana Paman Sam yang berbicara banyak termasuk kedatangan ku dan sekaligus memberitahu bahwa aku akan keluar kota.
Tidak lama ibunya Sam datang, aku melihat raut wajahnya yang kaget sama seperti ayahnya Sam.
Aku bergegas memberi salam.
Paman Sam melanjutkan perbincangan, membahas soal keluarga mereka.
Kemudian ibunya Sam berkata, "Maafkan Sam jika selama ini dia banyak berbuat salah, dan menyakiti hatimu. Maafkan semua kesalahannya. Nanti juga kalau berjodoh tidak akan kemana-mana."
Aku merasa air mataku ingin keluar, namun aku tahan berusaha agar tidak keluar.
"Saya sudah maafkan Bu, begitupun sebaliknya jika saya banyak salah mohon di maafkan. Saya sudah menganggap keluarga ini seperti keluarga ku sendiri."
Tidak banyak yang aku bicarakan, selebihnya di wakilkan oleh Paman Sam.
Satu jam berlalu,aku pamitan karena memang ada janji dengan temanku Dina.
🌸🌸🌸
Setelah dari rumahnya Sam, aku menemui Dina di tempat biasa kita nongkrong.
"Kamu serius ke rumahnya?"
"Iya, aku serius. Aku baru pulang dari sana," jawabku.
"Gimana reaksi si cowok rese itu?"
"Dia belum pulang, dan memang belum jamnya pulang kerja. Sudahlah, aku juga mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu mereka. Besok aku sudah mulai kerja di luar kota," ucapku.
"Hati kamu itu terbuat dari apa sih? Kalau aku mana mau memaafkan dia, apalagi masih memperdulikan keluarganya."
Aku hanya tersenyum tanpa membahas lebih jauh.
🌸🌸🌸
Satu bulan sudah aku bekerja di kota lain, dan selama itu pamannya Sam selalu memberi kabar aku. Mengenai Sam yang bahkan berkata ingin kembali padaku, namun aku tidak memberi celah sedikitpun.
Meskipun rasa cinta memang masih ada, karena tidak mudah melupakan begitu saja. Namun rasa kecewa lebih besar menyelimuti hatiku.
Aku tidak ingin kembali merasakan sakit yang ke sekian kalinya.
Hingga beberapa bulan kemudian, aku mendapat notifikasi di ponselku. Sebuah pesan dari nomor tak di kenal.
"Assalamualaikum," pesan darinya.
"Waalaikumsalam, siapa ya?"
"Kenapa sekarang mah tidak kelihatan lagi sholat di mushola?"
Aku semakin bingung di buatnya.
"Maaf, ini dengan siapa ya? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku.
"Aku karyawan Restoran xxx, aku sering melihatmu sholat di Mushola restauran tempat ku bekerja."
Aku berpikir sejenak, aku teringat memang di tempat aku bekerja tidak ada Mushola jadi aku sering numpang sholat ke restauran sebelah.
"Iya, lalu ada apa ya?"
"Bolehkah aku mengenalmu?" tanya nya.
Aku terdiam sejenak, siapa dia? Kenapa dia tahu tentangku, apa ada mata-mata yang menguntit ku.
Sejenak aku biarkan saja, hingga esok harinya aku menghubungi kenalanku yang kebetulan karyawan di restauran itu.
Kak Ismi, dia karyawan di sana dan aku kenal sejak aku sering sholat di sana.
"Kak, tahu nomor ini 089xxxxxxxx. Katanya dia karyawan di tempat kakak bekerja."
Aku mengirim pesan pada Kak Ismi.
"Iya, kakak tahu. Dia memang karyawan di sini, namanya Ken. Dia seorang koki, kenapa memangnya?"
"Oh begitu, tidak ada apa-apa kak. Dia hanya ingin berkenalan katanya."
"Baiklah. Aku kasih tau ya, dia masih jomblo hehe."
Entah kenapa aku malah senyam-senyum sendiri.
"Benarkah? Ya sudah makasih ya kak informasi nya."
"Oke sip."
Ada apa dengan diriku, kenapa hatiku mendadak senang. Ah sudahlah, tapi semenjak itu aku sering chatting dengan Ken. Sampai dia menyatakan perasaannya, aku pun dengan penuh pertimbangan menerimanya
Hingga hubungan kami berjalan sudah satu bulan, kami menjalani LDR an. Hanya sebatas chatting, telepon an,dan video call.
Aku merasa tenang selama berhubungan dengannya, dia bisa menghargai ku sebagai seorang wanita.
Kami saling mengerti kesibukan masing-masing, meskipun masih ada perselisihan namun di antara kami tidak sungkan untuk meminta maaf duluan.
Empat bulan sudah, aku dan Ken menjalani hubungan. Kami bertemu hanya saat Ken libur, dia datang ke tempat aku bekerja. Dia selalu mengambil libur di akhir bulan sekaligus. Jadi punya waktu banyak untuk liburan.
Hari ini, Ken dan aku janjian untuk bertemu di tempat biasa.
"Elsa, terimakasih sudah mau menerima ku. Meski awalnya aku ragu untuk mendekati mu, namun tekad ku sudah bulat untuk melabuhkan hatiku padamu."
"Ken, aku pun begitu. Aku harap kita bisa menjaga komitmen dan saling menjaga kepercayaan masing-masing. Tidak banyak yang aku minta, hanya itu."
Aku menggenggam tangan Ken dengan erat.
"Dengarkan aku Sa, aku nabung untuk kita ke depannya. Do'akan aku agar aku di mudahkan segalanya."
"Tentu Ken, doaku selalu menyertai mu."
Aku menikmati waktuku bersama Ken, sebentar lagi dia harus kembali pulang besok sudah mulai bekerja lagi.
"Jaga diri baik-baik sayang, tunggu aku melamar mu," ucap Ken.
"Kamu pun begitu, aku akan setia menunggumu Ken."
Ken berpamitan kembali ke kota nya, aku menatap kepergian Ken. Rasa bahagia yang aku rasakan sudah melebihi kapasitas. Rasanya ingin terbang saat mendengar penuturan Ken.
🌸🌸🌸
Aku pun kembali ke kostan ku.
Ting
Sebuah notifikasi masuk, aku pikir itu dari Ken.
Ternyata bukan, itu pesan dari Arga teman semasa kuliah ku.
"Elsa, apa kabar? Gimana kerja di sana betah?"
"Aku baik, kamu sendiri bagaimana? Iya lumayan betah di sini."
"Aku baik, syukurlah kalau begitu. Sa, aku mau bicara sesuatu."
Aku tidak banyak berpikir kemana-mana, aku hanya berpikir wajarlah teman menanyakan kabar.
"Sesuatu apa? Katakanlah!"
"Aku ingin menjalani hubungan serius dengan seseorang."
"Wah, bagus dong. Siapa dia? Kenalin dong!"
"Orang itu adalah kamu, aku ingin menjalani hubungan serius dengan mu. Kamu mau kan?"
Aku tidak menanggapinya dengan serius, aku dan Arga memang sudah dekat sejak kuliah. Jadi aku pikir dia hanya bercanda.
"Hahaha, boleh tuh." ucapku.
"Aku serius El, aku tidak main-main. Aku ingin kamu jadi pendamping aku, aku sudah tidak ingin menjalani hubungan yang main-main."
Aku seketika terdiam, ucapan Arga kali ini memang bukan main-main sepertinya. Aku tidak mau menyakiti hatinya dengan membiarkan dia menaruh rasa padaku.
"Arga, aku tidak tahu kamu serius apa tidak dengan ucapan mu. Jika ini bercanda aku harap kamu tidak bicara soal pernikahan untuk main-main, tapi jika itu benar. Aku minta maaf, ada seseorang yang harus aku jaga perasaannya. Meskipun belum tentu kami berjodoh, tapi setidaknya aku menghargai dia sebagai pasangan aku sekarang. Sekali lagi maafkan aku."
"Oh begitu, baiklah tidak apa-apa. Semoga kamu bahagia dengan pilihan mu."
"Terimakasih, sekali lagi maafkan aku."
Ada rasa bersalah namun aku tidak mau menyakiti hati siapapun. Aku sudah terlanjur menerima Ken yang datang lebih dulu, maafkan aku Arga. Aku lebih memilih setia, daripada aku harus menghianati orang yang bersamaku saat ini.
Lagian, setelah kejadian ini aku dan Arga masih berteman seperti biasa. Aku berharap dia menemukan orang yang benar-benar mencintainya.
"Tuhan, aku menjaga kesetiaan ku pada Ken. Jika dia yang terbaik untukku maka tetapkan hatiku untuk memilih nya. Aku yakin setiap perbuatan baik akan berakhir dengan baik."
Itulah doa yang selalu ku panjatkan di setiap hariku.
Tidak lama, dua bulan kemudian Ken memberi kabar bahwa satu Minggu lagi dia akan membawa keluarganya untuk menemui keluargaku.
Keajaiban apalagi ini, doa ku ternyata terkabul. Tidak sia-sia aku menjaga kesetiaan ku selama ini, aku sangat bahagia harapanku kini terwujud.
🌼🌼🌼🌼 THE END🌼🌼🌼
📃NOTE:
Ini merupakan cerpen yang di ambil dari kisah nyata... Namun tokoh di dalamnya fiksi tapi inisial nama tokoh berdasarkan kisah nyata..
"Jangan takut menjaga kesetiaan, karena semua akan terbayar dengan indah pada akhirnya. Namun jika berakhir seperti yang tidak kita harapkan, maka harus menerima dengan lapang dada. Karena kita harus menerima konsekuensi dari jatuh cinta, percayalah rencana Tuhan lebih indah."