"Reylulu, Perhatikan ke depan!"
Sontak, Aku duduk tegap dan pandanganku lurus ke depan. Aku yang semula termenung kini dibangunkan oleh suara Pak Guru yang menegurku.
Sejujurnya, Aku tak ingin sekolah.
Tapi, Aku tak punya pilihan lain'kan?
Aku tahu memang banyak anak di luar sana yang tak bisa mencicipi bangku sekolah karena berbagai macam faktor. Tapi, aku disini pun tak bisa berbohong. Jika bertanya kenapa, aku sendiri tak tahu jawabannya. Maksudku, Aku tahu. Tapi, Aku sulit untuk menjelaskannya.
"Kau seharusnya lebih bersyukur" ucap seorang perempuan sembari menyeringai.
Diam!
"Jelaskan struktur atom, ada yang bisa?" Tanya Pak Guru.
Aku tahu jawabannya. Dan Aku ingin menjawab. Tapi Aku ragu entah karena apa. Tangan kananku seakan lebih berat berkali-kali lipat untuk ku angkat, mulutku gagu, dan tubuhku bergetar. Lucunya tubuhku kini panas dingin. Aku tak berani.
"Saya, Pak!"
Seseorang di bangku paling depan mengangkat tangan. Dia menjawab dengan jelas semua pertanyaan yang di ajukan. Dan disini, aku merasa gagal.
"Kau seharusnya mengangkat tanganmu duluan, dasar pengecut!"
"Begitu saja tidak bisa, dasar payah!"
"Kalau kau terus begini, bagaimana kau bisa maju, Rey?"
Diam! Aku tak mau mendengar apa yang kalian katakan!
°°°°°°°°°°
"Bu, Aku pulang." Ucapku ketika membuka pintu. Namun, tak ada sahutan. Aku mencari ibuku kesana kemari. Dan ku temui dia di dapur. Duduk di meja makan dengan ponsel ditangannya dan kulihat beberapa cemilan diletakkan di atas meja. Dia tak menghiraukanku dan hanya fokus pada ponselnya.
"Kamu harus cuci piring, jangan lupa mengepel lantai, masak nasi, beresin rumah, awas kalau tidak bersih pas ibu pulang. Tahu rasa kamu!"
"Ibu mau kemana?"
"Bukan urusan kamu"
Aku terdiam. Seharusnya aku terbiasa karena hal ini terjadi hampir setiap hari. Tapi tetap saja, hatiku sakit. Mataku terasa panas. Setelah memastikan ibu tak ada, aku menangis.
"Dasar lemah!"
"Begitu saja menangis, cengeng!"
"Lakukan saja! Tidak perlu mengeluh! Mudah'kan?"
Kumohon diam!
°°°°°°°°
Aku sadar. Semakin hari, aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku lupa kapan terakhir kali aku benar-benar tertawa, Kapan terakhir kali aku tersenyum tulus, kapan aku terbangun dengan semangat menyambut hari. Semua itu tak ada lagi, lenyap.
Yang kurasakan sekarang adalah aku tak ingin melakukan apapun. Semuanya kulakukan dengan terpaksa. Dan aku mudah lelah, seakan setiap hari aku berpuasa. Aku sadar aku tak lagi memperhatikan sekitarku dan aku tak peduli akan apapun. Yang kuinginkan hanyalah lari.
Tapi aku tak bisa.
Hari demi hari berlalu. Tak ada yang berubah. Bangun tidur, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sekolah yang membosankan karena tak memiliki teman satupun, pulang lalu dihadapkan dengan pekerjaan rumah tangga lagi, makan malam yang dingin tanpa pembicaraan yang berarti dengan ibu, lalu tertidur.
Tidak, Aku menangis.
Dan suara-suara itu berbisik lagi.
"Deritamu itu tak ada apa-apanya!"
Diam!
"Kau kurang bersyukur. Kau masih bisa makan, memakai pakaian bagus, dan bisa sekolah. Dengan hal seperti ini kau menangis?"
"Kau lebih beruntung dari mereka"
Diamlah! Berisik!
"Begitu saja menangis, cengeng!"
"Kau itu harus kuat, jangan lemah seperti ini!"
Tolong berhenti!! Kumohon Diam!!
"Ayolah! Masa seperti ini saja sudah tumbang!"
"Jika kau terus menangis, kau mengakui kelemahanmu!"
Mereka terus berbisik, bisikan yang menyakitkan. Mereka berbisik dengan seringai-seringai yang mengejek. Aku menutup kedua telingaku serapat mungkin tapi bisikan-bisikan itu terus terdengar. Aku berteriak bisu. Menyayat hatiku. Bisikan-bisikan yang seharusnya membuatku bangkit namun malah menjatuhkanku.
"Kau tahu kenapa kau menjadi seperti ini?"
Tidak! Aku tak ingin mendengar lagi! Kumohon! Diamlah! Kumohon diam!
"Karena kau tak berharga"
"DIAAAAMMM!!!"
°°°°°°