Aku mengaguminya, mungkin lebih dari itu aku benar-benar mencintainya dalam diam tanpa bisa aku ungkapkan. Cinta pandangan pertama, mungkin seperti itu...
Setiap berangkat kuliah, aku selalu berdiri di depan gerbang kampus untuk melihat seseorang yang aku sukai selama ini meski dia hanya melewatiku dengan mogenya, saat jam istirahat aku selalu duduk di kantin melihatnya tertawa bersama teman-temannya begitupun saat dia berada di taman aku selalu ada untuk memperhatikannya, mencuri pandang dengan membawa buku novel tebal untuk menutupi wajahku yang sedang mengintipnya. Aku selalu menyempatkan untuk melihatnya dimanapun dia berada, silahkan saja kalian mau menyebutku penguntit sejati... yang tak tau diri.
Aku Mitha gadis biasa, tidak ada yang menarik dalam diriku nilai IPK ku biasa-biasa saja, wajahku tidak secantik cewek populer di kampus bahkan tinggi badanku hanya 150 cm.
Aku menyukai seniorku saat ospek dia bernama Muhammad Reihan, cowok populer nan tampan dengan segudang prestasi dan bakat yang luar biasa, siapa yang tidak mengenalnya apalagi mahasiswi begitu mengidolakannya dan berharap bisa menjadi pacarnya, aku tidak punya rasa percaya diri seperti mereka yang terang-terangan menyukainya, bagiku cukup mengaguminya dari jauh aku cukup tau diri apalah diriku ini dibanding wanita di luar sana yang tergila-gila padanya.
Empat tahun sudah berlalu, aku lulus kuliah dan melamar kerja ke salah satu perusahaan swasta. Syukurlah aku di terima sebagi staf administrasi di sana. Hari ini hari pertama aku berkerja, aku tak pernah menduga akan bertemu lagi dengannya dia menjadi atasanku, entah harus sedih dan bahagia, jujur aku masih mencintainya sampai saat ini walau kami tidak bertemu selama 4 tahun, aku harus lebih bisa mengusai diriku jika dekat dengannya dan selalu berusah menutupi perasaanku, terkadang aku lebih memilih menghindar untuk tidak berpapasan dengannya. Dia terlihat lebih tampan dengan usianya yang sudah matang dan berwibawa sebagai atasan.
Aku mendengar dari rekan kerja satu teamku dia belum menikah, pria tampan dan mapan jomblo lagi banyak yang ngincer dan berharap menjadi istrinya. Celotehan karyawan wanita yang selalu ku dengar hampir setiap hari, bahkan banyak yang tebar pesona jika bertemu dengannya. Sifatnya yang hangat dan kadang bercanda di jam santai membuat semua karyawan wanita tambah mengaguminya termasuk diriku.
Tapi aku cukup tau diri, siapalah diriku. Ibu selalu berpesan bekerjalah dengan rajin dan jangan membuat masalah di kantor, aku harus mensyukuri semuanya karna dapat bekerja di perusahaan dengan gaji yang cukup tinggi. Temanku pernah bertanya kenapa aku bisa diterima kerja dengan tinggi badanku yang terbilang pendek dan pas-pasan padahal perusahaan sudah memberi syarat karyawan wanita harus mempunyai tinggi badan min 160 cm aku hanya menjawab tidak tau mungkin sudah takdir dibarengi tawa riang, dan temanku sependapat dengan jawabanku.
Enam bulan sudah berlalu, aku mendengar kabar kalau dia dekat dengan manajer pemasaran wanita cantik dan pintar yang tentunya di idolakan karyawan laki-laki disini. Semua orang bilang mereka pasangan serasi.
Pada suatu hari perusahaan mengadakan acara makan bersama, teamku dan tentunya dia atasanku pak Reihan seperti itulah aku memanglnya, datang bersama dan kami makan di meja yang sama menikmati makanan dengan mengobrol ringan.
"Rei, boleh aku gabung?" tanya pak direktur, semua karyawan tau kalau pak direktur dan pak Reihan bersahabat.
"Boleh, biar makin rame jarang-jarang moment kita makan bersama!" jawabnya santai, mempersilahkan duduk kebetulan masih ada kursi kosong.
Pak direktur mengobrol masalah pekerjaan dan kami hanya menyimak tidak berani berkomentar. Tiba-tiba pak direktur bertanya ke masalah pribadi.
"Bagaimana hubunganmu dengan Reva, kapan kalian menikah?"
Deg, detak jantungku seakan berhenti mendengar pertanyaan pak direktur yang terhormat.
Begitupun dengan temanku yang lain, mereka seakan memasang pendengarannya fokus pada pembicaraan kedua atasan itu.
Pak Reihan hanya tersenyum tipis, "Kami tidak memiliki hubungan apa pun, hanya dekat saja sebagai teman dan rekan kerja! Gosip dari mana pak direktur mendengar kabar burung itu?"
"Sudahlah jangan menutupinya, semua karyawan sudah tau kalau kamu dekat dengannya?"
"Lebih percaya mana? Gosip atau jawaban langsung dariku. Sudahlah jangan membahas masalah pribadi di sini. Tidak enak dengan mereka!" mengedarkan tatapannya pada kami yang langsung salah tingkah.
"Sebenarnya aku hanya ingin memastikan saja, sudah pantas kamu menikah di usiamu sekarang ini. Masa tidak ada yang membuatmu tertarik dari semua karyawan wanita di perusahaan ini!"
"Jujur aku menyukai seseorang, tapi dia susah di dekati. Dan bukan Reva!" ungkapnya dengan wajah datar.
"Maksudmu, Reva bukan tipemu. Wanita secantik dia dan juga pintar, kamu benar-benar tidak menyukainya. Ternyata levelmu sangat tinggi bro...Aku penasaran wanita seperti apa yang dapat mencairkan hatimu yang melebihi kutub es itu!" ucap pak direktur tertawa.
"Jangan terlalu berlebihan. Nanti akan langsung dapat undangan setelah dia setuju menikah denganku! Sudahlah jangan di bahas lagi!" pak Reihan langsung menghentikannya.
Tanpa sadar aku dan teman satu teamku melongo mendengar jawaban pak Reihan.
"Cintamu hanyalah khayalan Mitha, mana mau pak Reihan sama kamu. Bu Reva saja yang cantik menyaingi artis dengan body aduhai di tolak apalagi kamu, tidak ada seujung kukunya pun di banding bu Reva" ucapku dalam hati.
Semenjak hari itu, aku berusaha mengubur dalam perasaanku. Membuang jauh rasa cinta yang tak mungkin aku gapai, aku dan dirinya bagai bumi dan langit bahkan status sosial kami sangat jauh berbeda dia seorang anak pejabat penting di kota kami sedangkan diriku hanya keluarga biasa dan sederhana. Biarlah cinta ini hanya akan menjadi Rahasia dan cukup hanya diriku saja yang tau.
Sebulan telah berlalu.
"Mitha...ada tamu yang mencarimu" ucap ibu yang langsung masuk ke kamar.
Aku heran siapa tamu yang datang jam 8 malam, kalaupun ada teman yang berkunjung pasti akan memberitahuku.
"Siapa mah...?"
Ibuku tidak menjawab malam menarikku duduk di tepi ranjang dan menyisir rambutku lalu menyuruhku mengganti baju. Aku hanya diam menurut saja, karna setiap aku bertanya ibuku hanya menjawab dengan tersenyum.
"Ternyata, anak semata wayang mamah sudah besar!" ucapnya membuatku tidak mengerti.
Ibuku mengajakku keluar kamar dan berjalan ke ruang tamu, aku begitu syok dengan apa yang aku lihat kenapa ada pak Reihan di rumahku malam-malam begini.
Aku duduk dan hanya memdengarkan para orang tua yang mengobrol. Pak Reihan juga hanya menatapku sekilas dengan tersenyum tipis.
"Mitha, kedatangan mereka kemari ingin melamarmu. Untuk anaknya nak Reihan. Ayah dengar kamu sudah mengenalnya?"
Seketika mataku terbelalak karna terkejut, jantungku seakan berhenti berdetak bagaimana bisa pak Reihan melamarku.
Ayah bertanya apa jawabanku, aku hanya diam mulutku seakan terkunci apa yang harus aku katakan. Apa akau harus menerima atau menolaknya?.
"Saya mohon maaf, saya meminta waktu untuk jawabannya?" ucapku gugup.
Semua pun menyetujui saranku, aku di beri waktu 3 hari untuk menjawab lamaran pak Reihan. Selama tiga hari itu aku masih bekerja seperti biasa. Ini adalah hari terakhir aku harus memberikan jawaban lamarannya, pagi-pagi sekali aku masuk kantor aku menemukan sebuah buku besar diatas meja kerjaku.
Aku membuka perlahan setiap lembar lukisan berwarna hitam putih bergambar wajahku saat aku masih kuliah dengan berbagi fose, duduk di taman, kantin, berdiri di gerbang kmpus. Semua moment itu mengingatkanku saat aku suka mengikutinya, tak terasa air mataku jatuh karna terharu.
Tiba-tiba dia datang di balik pintu masuk ruangan, menatap lekat padaku dan mendekat dengan tersenyum.
"Aku harap, semua itu bisa menyakinkanmu untuk bisa menerima lamaraku. Mitha...?" ucapnya.
Pak Reihan menceritakan semuanya saat dia melukis diriku, ternyata dia tau aku selalu mengikutinya di kampus membuatku sangat malu.
"Kenapa, pak Reihan tiba-tiba datang melamarku?"
"Aku menyukai sifatmu yang pemalu, dan aku juga tidak tau kenapa hatiku bergetar begitu hebat saat melihatmu pertama kali menjadi mahasiswa. Mitha, aku sudah lama menyukaimu tapi aku tidak berani!" ungkapnya membuat hatiku semakin bahagia.
Akhirnya aku menerima lamarannya, dan dia menceritakan kalau dia mengusulkan menerimaku di perusahaan tempat aku bekerja. Aku juga bertanya kenapa menyukai wanita biasa dan pendek sepertiku bukannya banyak wanita yang lebih cantik dan sempurna.
"Aku ingin menutupi kekurangan yang ada dalam dirimu dengan kelebihan yang aku punya, aku tidak butuh seseorang yang sempurna. Semua orang mengatakan kamu wanita biasa tapi di mataku kamu sangat istimewa," ucapnya tersenyum menggoda dan memelukku erat.
Mendengar semua itu hatiku seperti terbang, saking bahagianya. Tuhan mengabulkan semua harapanku. Ternyata kami saling mencintai dalam diam dan hanya menjadi cinta rahasia sampai dipertemukan di waktu yang tepat.
***
Semoga kalian suka ceritaku....
😍😍😍