Kisah Cinderella| I KNOW, I'M NOT PERFECT. BUT THANK U 4 CHOOSING ME.
Aroma unik yang ramah campuran pathcouli dan musk adalah hal pertama yang membangkitkan kesadarannya pagi ini.
Lina membuka matanya meski berat. Dan cukup sekali lihat untuk menyadari adanya dada telanjang yang menghalangi wajahnya. Lina seketika tahu dia tidak sedang berbaring sendirian.
Dia terkesiap, kemudian mengecek tubuhnya di balik selimut. Napasnya tercekat. Ke mana pakaiannya semalam?
Bagaimana bisa dia berakhir di atas ranjang bersama bosnya?
Lina berusaha mengingat-ingat kembali kejadian semalam. Menilik dari keadaannya sekarang, Lina perlahan mengingat apa yang telah terjadi semalam. Dia bangun tengah malam karena kehausan lalu pergi ke dapur untuk minum, bosnya ternyata ada di sana, duduk di atas meja dapur di tengah temaram lampu dan sunyinya malam, seorang diri menikmati wine. Pria itu menyuruhnya untuk menemaninya minum. Dia mabuk.
Sial!
Lina perlahan beranjak dari kasur, berhati-hati agar tidak membangunkan bosnya. Dia tidak ingin ketahuan tidur dengan manusia kutub seperti bosnya.
Lina mengedarkan pandangannya, berusaha mencari-cari pakaian dalamnya. Entah dilempar ke mana semalam. Dia menemukannya tergeletak di depan pintu kamar mandi yang setengah terbuka dan segera mengenakannya. Tentu saja dia bisa segera meninggalkan kamar bosnya dan memakai pakaian dalamnya sendiri di kamarnya yang berada di sebelah kamar ini. Tapi, itu berarti nanti dia harus mengambil pakaiannya yang tertinggal di kamar bosnya ini. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi.
Dia mengenakan pakaiannya dan keluar kamar sesunyi yang dia mampu. Menutup pintunya dan pergi ke kamarnya sendiri untuk mengambil pakaian bersih.
Lina menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri di kamar mandi, sebelum akhir pergi ke dapur dan membuat sarapan.
"Selamat pagi, Lina."
Lina tahu itu bukan suara bosnya. Pria itu tidak pernah menyapanya. Suara bernada ramah itu adalah milik nenek bosnya, seorang perempuan berusia 80 tahun yang masih lincah dan belum pikun. Pokoknya sehat jasmani dan rohani, entah apa rahasianya. Lina mendongakkan kepalanya. Nenek sudah berdiri di depan meja makan. Dan melihat dari pakaian yang dikenakannya, juga wajahnya yang segar sepertinya perempuan tua itu sudah mandi. Dia merasa heran karena biasanya nenek baru akan bangun ketika dia selesai memasak sarapan. Lina melihat jam di handphonenya yang dia taruh di atas meja dapur, dan dia pun melotot.
What?!!
Ternyata sekarang sudah jam 10 pagi. Jadi dia bangun jam berapa? Apa karena hari ini mendung sehingga dia tidak memerhatikan jam, atau karena tadi dia sedang dilanda panik. Lalu kenapa kali ini nenek bosnya itu tidak membangunkannya? Ini bukan pertama kalinya dia bangun kesiangan. Sepanjang dia bekerja merawat nenek, atau lebih tepatnya sih menemani nenek yang kesepian di rumah ini. Nenek selalu membangunkannya karena dia tidak mau kalau Lina sampai kena omel cucunya.
Biasanya Lina bangun jam 6. Satu jam lebih siang dari bosnya, karena pria itu memang orang paling rajin di rumah ini. Pengecualian untuk hari ini. Sementara nenek akan bangun jam setengah 7. Lalu sarapan setelah sebelumnya dia akan melakukan senam pagi. Di rumah ini hanya Lina seorang yang tidak melakukan olahraga pagi. Nenek rajin senam pagi dan bosnya itu rajin lari pagi. Selesai sarapan nenek dan dirinya baru akan mandi. Sementara sang bos pergi kerja.
Nenek membantu Lina meletakkan sarapan di atas meja, lalu duduk di kursi.
"Aldi sudah bangun." ujar nenek sebagai sebuah pernyataan.
Pria itu mencium pipi neneknya sebelum menarik kursi di sebelah neneknya yang kosong. Rambutnya setengah basah. Karena hari ini hari libur dia mengenakan kaus putih polos dan celana hitam pendek selutut, menampilkan kaki jenjangnya yang kokoh.
Begitu Aldi telah duduk, Lina mendekatkan secangkir kopi panas di dekat bosnya.
Aldi memandangi secangkir kopi yang diberikan Lina, kemudian berkata, "Lina, seharusnya kamu tahu kalau saya nggak bisa minum kopi pagi ini." Suaranya terasa dingin dan ketus. "Ambilkan saya air putih yang hangat."
"Nih, Bos!" Lina menyerahkan segelas air putih seperti yang diminta Aldi.
"Untung saya sayang sama kamu. Kalau nggak udah saya pecat kamu." gumam Aldi.
Lina mendengus. Kalimat, 'Untung nenek saya sayang sama kamu. Kalau nggak udah saya pecat kamu.' sudah hampir tiap hari didengarnya. Sang bos memang selalu menghardiknya begitu tiap kali Lina bikin dia kesal.
“Lagian, biasanya juga minum kopi.”
Aldi meliriknya tajam. Dasar!
Lina memutar bola mata. Kemudian duduk di kursi disisi lain kursi nenek dan memulai sarapannya sendiri.
Selesai makan Aldi kembali ke kamarnya. Dia biasanya begitu kalau hari libur. Makanya tidak ada yang heran. Sama dengan tidak ada yang heran dengan mulutnya yang tajam. Sementara nenek menunggu Lina beres-beres dapur sambil nonton TV.
"Itu... kamu masih sakit?" tanya nenek begitu Lina akan duduk di sampingnya. Sebenarnya nenek memerhatikan cara jalan Lina yang pagi ini tentu saja sedikit berbeda. Dia juga tahu kalau semalam Lina dan cucunya tidur bersama, tapi pura-pura bodoh.
Lina menautkan alis. Tidak mengerti dengan pertanyaan nenek.
"Ah, nanti nenek bilang ke Aldi biar besok lagi dia pelan-pelan." Lalu nenek tertawa.
Lina akhirnya mengerti ucapan nenek. Seketika wajahnya menjadi pucat. Jadi nenek tahu kalau semalam mereka...
Ya, Tuhan! Dalam hati dia menyumpah serapah pada dirinya sendiri dan terutama pada bosnya itu. Apalagi begitu melihat senyum nenek yang jelas sedang menggodanya. Rasanya Lina ingin tenggelam ke dasar laut.
For your information, sebenarnya sudah sejak tahun lalu nenek bosnya ini ingin menikahkan Lina dan Aldi. Tapi Lina menolak mentah-mentah. Selain karena tidak menyukai Aldi, dia punya banyak alasan lain. Terutama soal status sosial dan finansial mereka yang jomplang. Bagai langit dan dasar jurang. Aldi adalah konsultan dengan gaji ratusan dollar per jam. Dia juga anak dari pengusaha yang namanya ada di urutan nomor 10 dari 10 orang terkaya di Indonesia. Kalau Lina sampai benar-benar menikahi Aldi, dia sih senang-senang saja karena akan menjadi orang kaya. Tapi apa kata dunia? Dia tidak siapa dihujat masa. Apalagi netizen zaman sekarang pada jahat semua. Apalagi kalau sudah diselimuti iri dengki.
Lina bukan Cinderella, tapi nenek bosnya ini malah ingin jadi ibu peri.
“Sebelum kamu beneran hamil. Kalian menikah saja.”
“Yah, jangan hamil dong.”
“Nenek, sih yakin kamu pasti hamil. Mulai hari ini nenek bakal rajin berdoa, supaya kamu beneran hamil.”
“Nenek jangan gitu. Aku kan nggak mau hamil.”
“Pasti hamil.”
“Nggak, Nek.” Aduh, kalau hamil beneran gimana dong? Lina jadi takut. Mana baru kemarin dia selesai datang bulan, bosnya itu juga bodoh karena tidak pakai pengaman. Bisa runyam urusannya kalau dia beneran hamil.
“Kamu mau nikah kapan? Mau nunggu positif hamil dulu.”
“Nggak mau nikah.” tegas Lina.
“Masih aja keras kepala.” gerutu nenek. “Aldi juga keterlaluan, laki-laki kok nggak mau maju ngomong duluan. Cuman maunya main kode-kodean. Lina kok di kode. Sampai lebaran kucing juga nggak bakal peka.” Tapi ucapan panjangnya yang terakhir itu tidak didengar oleh Lina. Karena dia sudah sibuk dengan pikiran-pikiran di kepalanya.
Dua bulan berlalu dengan cepat. Baik Lina ataupun Aldi tidak ada yang pernah membahas kejadian malam itu. Tapi satu hal yang tidak akan pernah Lina tahu, bahwa pria itu juga sangat berharap Lina akan hamil. Karena dengan begitu kemungkinan mereka bisa menikah sangat besar. Bahkan dia dan sang nenek sudah sepakat untuk rajin berdoa, memohon agar Lina hamil.
Tuhan pun mengabulkan doa mereka. Karena firman Tuhan bukan bualan semata, barang siapa yang bersungguh-sungguh niscaya doanya akan Dia kabulkan.
Sore itu Lina bangun dari tidur siangnya dan merasakan perutnya sangat sakit, ada darah yang keluar. Bahkan cukup banyak untuk haid hari pertamanya. Lina memang mengalami sakit perut setiap kali datang bulan. Jadi dia merasa hal itu wajar. Makanya hari itu yang dia rasakan hanya perasaan lega karena yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Padahal dia sudah ketar-ketir.
Namun yang tidak Lina pahami kemudian adalah rasa sakit yang menderanya kali ini semakin terasa sakit. Bahkan berkali-kali lipat lebih sakit dari nyeri haid yang biasanya dia alami. Dia demam dan tubuhnya terasa sangat lemah. Lina pun mulai menyadari kalau ada yang salah. Dia mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tapi tidak berani untuk mengambil kesimpulan apa pun.
Hingga malamnya, ketika dia akan menyiapkan makan malam, dia jatuh pingsan. Begitu terbangun dia sudah berada di atas ranjang rumah sakit. Dan wajah pertama yang Lina lihat ketika dia membuka mata pagi itu adalah wajah Aldi, bosnya itu terlihat sangat kacau. Lina belum pernah melihat Aldi yang seperti ini sebelumnya. Meski akhir-akhir ini Aldi terlihat seperti orang yang sedang sakit darah rendah, karena wajahnya yang pucat. Pria itu bahkan sering tidak menghabiskan makanannya. Kalau ditanya oleh Lina dan sang nenek jawabannya selalu sama: “I’m Fine.” Kalau pertanyaan Lina adalah ‘kenapa makanannya nggak dihabiskan? Nggak enak?’ jawabannya cukup standar tapi bervariasi: Saya sudah kenyang. Saya buru-buru. Dan, Saya lagi nggak selera makan. Tapi pernah sekali Lina memergoki bosnya itu muntah-mutah sehabis sarapan. Waktu Lina menawarkan untuk memanggil dokter, dia menolak.
Jawaban yang Aldi berikan ketika Lina bertanya pada pria itu, kenapa dia bisa berada di rumah sakit? Adalah, “Tadi kamu pingsan”
“Dokter bilang kamu kelelahan.” Dan itu jawaban yang Aldi berikan ketika dia mengejar pria itu dengan pertanyaan lain.
Kelelahan? Lina tidak merasa dia kelelahan sampai harus pingsan dan masuk rumah sakit, karena selama ini pekerjaannya standar dan sangat santai. Seharusnya dia tidak kelelahan. Dia tahu batas kemampuan tubuhnya dalam melakukan pekerjaan fisik.
Lalu bagaimana dengan nyeri perut yang masih menyiksanya hingga kini. Juga menstruasinya? Aldi mengatakan kalau hal itu terjadi karena Lina yang kelelahan dan menyebabkan tubuhnya seteres yang kemudian berimbas pada rasa sakit saat datang bulan.
Penjelasan Aldi cukup logis. Meski begitu Lina tetap ingin mendebatnya. Apalagi dia sudah ingat kalau dia sudah telat dua bulan. Tidak ada keraguan lagi, Lina yakin kalau kali ini dia tidak sedang datang bulan. Tapi keguguran.
Lina mengutarakannya kepada Aldi.
Pria itu tidak menjawab.
Lina memang tidak ingin hamil, lebih tepatnya belum ingin. Tapi ketika mengetahui kenyataan itu seketika hatinya seperti diremas.
“Nggak usah sedih. Kita bisa buat lagi.” Aldi mencium jari-jari tangan Lina yang sejak tadi digenggamnya. Meski suaranya terdengar biasa saja, perasaannya jauh lebih buruk dari Lina. Saat dia melihat Lina yang pingsan dengan wajah pucat dan bersimbah darah, Aldi sangat takut. Dia bersumpah ke depannya tidak akan ada lagi kejadian seperti ini.
Pada malam setelah Lina kembali dari rumah sakit. Aldi akhirnya menangis di depan sang nenek.
“Saya takut kehilangan Lina.” ucapnya pada sang nenek.
“Nenek tahu perasaan kamu.” nenek lantas memeluknya.
Sejak kejadian hari itu hingga hari ini, sikap Aldi terhadap Lina semakin jelas. Hal itu sebenarnya membuat Lina merasa tidak nyaman. Lina ini tahu diri. Tapi dia butuh uang. Kalau Lina pindah kerja dia yakin tidak akan mendapat pekerjaan seenak ini dengan gaji yang besar. Apalagi nenek bosnya itu sangat menyayanginya.
Hari ini genap satu bulan Lina merangkap menjadi sopir Aldi. Sebab sopir pria itu mendadak mengundurkan diri, istrinya sakit keras dan dia ingin mengurus istrinya sendiri tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Lina sih tidak masalah kalau pekerjaannya bertambah, karena dia akan minta tambah gaji.
Aldi segera berjalan menghampiri Lina begitu dia melihat perempuan itu yang tengah berbicara dengan orang yang dia benci—di depan mobilnya yang terparkir di basemen gedung kantornya.
“Kamu ngomongin apa sama dia?”
‘Dia’ yang dimaksud Aldi adalah Bagaskara. Pemuda yang berasal dari kota yang sama dengan Lina itu bekerja sebagai sekretaris kakak tiri Aldi, yang namanya Satria. Mereka bertemu tiga bulan lalu di gedung ini, dalam sebuah tragedi yang cukup untuk membuat Lina ketakutan. Saat itu Lina yang tengah diburu-buru Aldi untuk segera mengantarkan dokumen yang tertinggal di rumah, malah terjebak di dalam lift yang tiba-tiba macet. Beruntung Lina tidak sendirian di dalam lift itu, ada Bagaskara dan seorang ibu-ibu petugas kebersihan.
Sejak pertemuan itu, hubungan mereka semakin dekat. Mereka juga sudah beberapa kali pergi makan berdua. Bagaskara sangat sopan dan orangnya enak diajak ngobrol. Mungkin juga karena jarak usia mereka hanya 3 tahun jadi masih nyambung kalau ngobrol dan mereka juga sama-sama penggemar lagu-lagu Taylor Swift.
Lina mengalihkan pandangannya dari tubuh belakang pria yang berjalan menjauhinya dan menoleh.
“Ngomongin pak Satria.”
Ngomongin Satria? kenapa sampai ketawa-ketawa seperti itu?
“Ayo, pulang!”
Dan mereka pun pulang. Sepanjang perjalanan Aldi tidak mengatakan apa pun. Seperti biasanya.
***
“Lina? Kamu dengar saya?"
Siang itu mereka sedang berada di sebuah toko perhiasan, Tiffany and co.
“Iya, dengarin kok.” Tapi Lina sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari handphonenya. Dia sedang sibuk berbalas pesan dengan Bagaskara.
Aldi memandangi dua buah cincin di atas meja. “Kamu suka cincin yang mana?”
“Semuanya bagus.” Lina menjawab asal. Tanpa tertarik untuk sekedar melirik.
“Tangan kamu bawa ke sini.”
Lina mengulurkan tangannya begitu saja kepada Aldi. Pria itu kemudian memasangkan sebuah princess cut engagement ring pilihannya di jari manis Lina.
Aldi mengulum senyum lembut sembari memandangi jari Lina yang dipasanginya cincin itu. “Cantik.” gumamnya.
Bagaskara mengirim pesan suara. “Nanti malam aku sampai di rumah. See yoo soon, Lina. Aku udah nggak sabar buat ketemu kamu.”
Lina tersenyum senang. Baru juga Lina akan merekam suaranya untuk dikirimkan pada Bagaskara. Aldi menoleh ke tempatnya. Matanya memicing marah. Dia merebut handphone Lina dan membantingnya.
Bukan hanya Lina yang dibuat terkejut dengan aksinya, tapi hampir semua orang yang ada di toko perhiasan itu.
Lina mengerjap. Air mata di pelupuk matanya sudah mau tumpah. Dia lantas memungut handphone itu dari lantai dan berlari keluar.
***
Lina kembali ke rumah Aldi dan mengemasi semua barang-barangnya ke dalam koper. Dia menemui nenek dan memeluknya erat dengan mata sembab.
“Lina mau pulang.” katanya.
“Ada apa, Lina.”
Lina menggeleng.
Dia pun pergi.
Nenek tidak berhasil menahannya.
Aldi pulang tidak lama kemudian. Tapi Lina sudah pergi.
“Aldi.” Nenek memanggil Aldi dengan suaranya yang parau. Matanya penuh air mata.
“Lina pergi.”
Aldi membeku. Perasaannya campur aduk, merasa bersalah, menyesal, dan takut.
***
Esoknya, Lina masih tidak dapat dihubungi. Aldi semakin kalut dibuatnya. Dia sudah mencari ke tempat-tempat yang mungkin atau biasa didatangi oleh Lina. Bertanya pada orang-orang yang mengenalnya, kecuali Bagaskara. Sepanjang hari itu hingga pagi ini Aldi terus mencari Lina. Dia tidak tidur.
Aldi akhirnya pergi ke rumah perempuan itu.
Rumah Lina terlihat kosong. Keadaannya seperti rumah yang sudah lama tidak dihuni.
“Mbak Lina dan keluarganya sudah lama pindah, Mas.” terang seorang ibu-ibu yang menghuni rumah sebelah kepada Aldi.
“Ibu tahu mereka pindah ke mana?”
“Wah, kalau itu saya kurang tahu.” jawabnya jujur. “Coba saja mas tanya sama ketua RT. Kebetulan juga dia masih saudaranya mbak Lina.” Lalu sang ibu itu pun mengantarkan Aldi ke rumah ketua RT.
Setelah mendapat alamat rumah baru Lina, Aldi segera bergegas mencarinya.
Seorang perempuan dengan wajah mirip Lina membukakannya pintu. Dia mengamati Aldi sebentar, lalu berujar dengan tenang. “Aduh saya kira tukang paket.”
Aldi tersenyum kaku.
“Maaf, cari siapa ya, Mas?”
“Saya mencari Lina.”
“Anda siapa?”
“Saya Aldi.”
“Oke. Mas Aldi ini siapanya mbak Lina?”
“Saya calon suaminya.”
Perempuan itu memicingkan mata. “Serius, Mas?!”
“Iya.”
Perempuan itu terlihat berpikir, kemudian mengguman. “Kok mbak Lina nggak pernah ada sekalipun cerita ke saya soal calon suami. Adanya malah cerita soal gebetannya yang namanya....Bagaskara.”
Mendengar hal itu. Kedua tangan Aldi terkepal erat. Jelas dia cemburu.
“Ya, udah deh. Mas masuk dulu.”
Aldi masuk ke dalam.
“Tunggu bentar ya, Mas. Saya telepon mbak saya dulu, dia lagi keluar soalnya.” jelasnya kepada Aldi dan menelepon Lina.
“Silakan. Tolong jangan bilang kalau saya yang nyariin”
Adik Lina itu pun mengerutkan keningnya.
“Halo, mbak ada orang yang nyariin kamu ini.”
“Siapa?”
Adik perempuan Lina itu melirik Aldi sekilas. “Kayaknya sih, debt kolektor.”
Aldi yang mendengar ucapan adik Lina mendesah. Ternyata adik kakak itu tidak jauh berbeda. Sama-sama kurang ajar.
“Bilangin ke orangnya salah alamat. Aku nggak pernah ngutang. Amit-amit! Jangan sampai aku kelilit hutang.”
“Oke, buruan pulang tapi.”
Adik Lina mengantongi handphonenya kembali. “Sebentar saya buatkan minum.”
Tanpa mendengar jawaban Aldi, adik Lina itu langsung menghilang ke dapur dan kembali membawa segelas teh hangat. Kemudian perempuan itu mulai menginterogasi Aldi.
Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya Lina pulang.
“Pak Aldi ngapain ke sini?” kata Lina. “Saya nggak pernah pinjam uang ke bapak, ya.”
Dasar, Lina.. “Kontrak kerja kamu masih 1 tahun lagi, Lina.”
“Saya nggak peduli.” jawabnya ketus. “Saya udah nggak mau kerja lagi sama bapak.”
“Kamu nggak bisa melanggar kontrak seenaknya begitu.”
“Saya tahu. Bapak tenang aja saya akan bayar penaltinya.”
“Bukan masalah itu yang ingin saya bicarakan sama kamu.” Aldi mulai tidak sabar.
Sementara Lina melipat tangan di depan dada. Wajahnya mengeras. “Oh, saya tahu!” Kemudian Lina pergi menuju kamarnya dan kembali tidak lama kemudian.
“Ini kan yang bapak mau!” Lina meletakkan sebuah cincin di atas meja di depan Aldi duduk.
Aldi lantas menatap Lina dengan tidak percaya.
“Itu nggak sengaja ke bawa, Loh, ya. Saya nggak maling. Salah bapak juga sih.” ketus Lina. Sebenarnya Lina akan mengirim cincin itu melalui jasa ekspedisi. Karena dia sudah tidak mau berurusan lagi dengan Aldi. Ketika Aldi membanting handphonenya kemarin Lina merasa sangat marah. Dan terluka oleh sikap pria itu yang sangat keterlaluan. Dia tidak mengerti salahnya di mana sampai-sampai Aldi marah dan membanting handphone miliknya.
Adik Lina yang sejak tadi memerhatikan keduanya pun merasa kesal.
“Saya perlu bicara sama orang tua kamu, Lina.” kata Aldi pada akhirnya.
“Ngapain? Saya rasa nggak perlu. Saya bukan bocah lagi.” cibir Lina. “Urusan gini aja pakai bawa-bawa orang tua segala. Bocah SD juga bisa kali nyelesain sendiri. Lagian ya, orang tua saya mana peduli. Percuma bapak ketemu mereka.”
Aldi menahan kesal. Seharusnya dia sudah terbiasa dengan kelakuan dan mulut Lina yang kurang ajar.
“Mas Aldi.” panggil adik Lina kepada Aldi.
Lina menoleh ke tempat sang adik. “Hah?! Kamu panggil dia mas?” Lina menuding wajah Aldi dengan telunjuknya, seperti sedang menuding musuh bebuyutannya. “Yang benar aja dong, La. Dia tuh seumuran Om Raka. Ya, kali kamu panggil mas.”
“Serius?” Adik Lina itu menatap Aldi dengan tidak percaya. Wajah Aldi sama sekali tidak memperlihatkan kalau umurnya sudah menyentuh kepala empat. Dia kira Aldi masih di awal 30-an.
“Kamu jangan dengarkan dia. Bagaimanapun juga saya akan menjadi kakak ipar kamu. Jadi panggilan itu sudah tepat.” kata Aldi kepada adik Lina.
***
Satu bulan kemudian.
Uluwatu, Bali.
“I now pronounce you husband and wife. You may kiss the bride!”
“I know, I’m not perfect. But thank you for choosing me.”
“I love you, Lina.”
***
The End.