Dingin dan gelap. Rhea berlari sekuat dan sejauh yang ia bisa. Nafasnya terengah dan terputus putus, berulang kali Rhea menarik nafas panjang untuk mengumpulkan oksigen yang telah genting di dadanya. Rhea sangat takut, kakinya mungkin sudah banyak terluka tapi dia tidak memikirkan seberapa luka yang ia dapat. Dia hanya terus memacu kakinya membelah ladang soba dan ilalang dengan rasa cemas yang terlampau besar.
Tujuan Rhea hanya ingin menjauhi tempat itu, sebuah kastil dengan kobaran api yang menyalak. Api yang semakin besar melahap kastil besar dan rumah rumah sederhana beratap jerami disekitarnya. Banyak orang disiksa dan terbunuh disana.
Wusss.... Tak tak tak...
Angin sangat mendukung amukan api yang merenggut damainya kastil. Tidak memakan waktu lama hingga kastil megah itu berubah menghitam, menjadi arang dan abu yang terbawa angin.
Entah ini sudah sejauh mana, kobaran api itu masih sangat jelas terlihat. Aku ingin terbang, jika bisa aku ingin pergi jauh. Kakiku sudah sangat sakit, nafasku sudah sangat krisis. Aku tidak bisa lagi melanjutkannya.
Rhea menghentikan langkah gemetarnya setelah dirasa sudah cukup jauh dengan kastil. Ia sudah tak sanggup lagi berlari, kakinya seperti mati rasa. Meski begitu, ia harus selamat dan terbebas dari para pemberontak yang mengambil harta benda mereka. Ia kini memilih untuk bersembunyi di balik pohon besar di tengah hutan dekat danau.
Dinginnya malam ini mulai membekukan darah Rhea yang sebelumnya memanas. Rhea mengeratkan pakaian biru muda yang membalut badannya, meringkuk sendiri mencoba memejamkan mata untuk berstirahat. Ia adalah golongan anak bangsawan yang baru saja menetap di kastil xlan, ia memiliki warna permata merah jambu yang tersemat di dahinya.
Pikirannya kacau, semua bahagianya terenggut oleh kerusuhan yang menghancurkan damainya. Semua telah hancur, semua terbakar termasuk kenangan dan masa lalunya.
Rhea tidak bisa mengharapkan masa depan jika sekarang saja hidupnya masih dalam sebuah kecemasan. Rhea tidak bisa membayangkan masa depan karena hidupnya kini masih berada di ambang kematian.
Kresek kresek...
Dalam rungunya, Rhea mendengar sesuatu yang menakutkan. Rhea merapatkan badannya lebih menempel ke akar pohon besar bermaksud untuk bersembunyi. Dadanya semakin bergemuruh.
Kresek kresek ...
Suara seretan kaki itu semakin jelas terdengar. Rasanya suara itu semakin mendekatinya.
"Huh... huh... huh..."
Helaan nafas berat itu juga semakin jelas terdengar. Seseorang telah mendekatinya, Rhea berdoa supaya tak seorangpun melihat keberadaannya.
Helaan nafas yang Rhea dengar perlahan melemah dan melambat.
Brughhh...
Seseorang telah terjatuh. Mata Rhea terbelalak.
Apa yang terjadi? Suara itu sudah menghilang setelah bunyi itu dan sekarang menyisakan hening. Hanya suara dedaunan bergeser karena angin yang kini membelah sunyinya malam.
Sejenak Rhea penasaran akan sesuatu. Apa yang terjadi? Dengan sedikit keberanian, Rhea mengintip dari balik pohon perlahan.
"Aaaaahh ...." Teriak Rhea terkejut namun cepat dia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Rhea menemukan Seseorang dengan banyak darah di badannya. Ya, dia bisa melihatnya, Cahaya bulan di langit cukup jelas menerangi pria itu.
Rhea mendekat. "Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan anda tuan? Anda bisa melihatku?" Tanya Rhea takut namun tidak ingin membiarkan orang yang sedang sekarat dihadapannya.
Pria itu perlahan membuka mata, tangan kanannya tak lepas memegangi lengan kirinya yang terluka. Nafasnya semakin melemah.
"Tuan bisa berdiri?" Tanya Rhea yang tidak dihiraukan oleh pria itu. "Aku akan membawa tuan ke tempat yang aman." Jelas Rhea padanya.
Pergilah! Aku tidak perlu kebaikanmu. Pergilah! Aku tidak ingin mempercayaimu. Pria itu tidak bisa menyuarakan perkataannya karena terlalu lemah.
Rhea mengambil sapu tangan dari bungkusan kain yang dia bawa dan mengikatkannya pada lengan pria itu. "Apa ini terkena panah? Anda tidak perlu menekannya sekarang. Aku akan menyumbatnya."
"Anda bisa berdiri? Ikuti aku!" Perintahnya seraya melingkarkan tangan kanan pria yang tidak di kenalnya itu di lehernya lalu mengajaknya berdiri. Dengan perlahan dan beberapa kali tersungkur, Rhea bisa memindahkannya ketempat ia bersembunyi.
"Anda sudah terlalu banyak kehabisan darah. Apa Anda juga berasal dari Xlan? Tenanglah! Semua akan baik baik saja. Aku hanya bisa berharap begitu." Rhea menenangkan. "Di bagian mana lagi yang terluka?"
Pria itu tidak menjawab, namun Rhea beberapa kali memeriksa badannya dan mendapatkan darah yang masih mengalir dari perut kirinya. "Tuan, bagaimana ini bisa terjadi? Anda tertusuk? Darahnya terlalu banyak keluar." Rhea kebingungan dan segera membongkar bawaannya untuk menemukan sesuatu yang bisa menolong pria pucat di depannya.
"Maaf, aku harus membukanya. aku tidak bermaksud apapun selain menolongmu." Rhea dengan kecemasan yang melingkupi dirinya menyingkap perlahan pakaian yang di kenakan oleh pria yang baru ia kenal dan menampakkan perut rata yang sudah dipenuhi oleh banyak darah. "Mungkin ini akan sedikit sakit, tapi anda harus menahannya." Rhea berlanjut menempelkan lipatan kain rapi untuk menutupi sumber luka dan membalutnya dengan kain panjang dan menekannya. Rhea mengikatkan kain panjang dari robekan bajunya ke pinggang pria itu erat bermaksud menghentikan aliran darah yang semakin melemah.
"Bertahanlah tuan! Anda harus selamat." Pinta Rhea setelah menyelesaikan pertolongan pertamanya pada sang korban. Rhea melemas duduk dan menghela nafasnya dalam dalam di sertai rasa takut dan khawatir.
Memang sangat dingin. Bulan bersinar secerah biasanya. Dia tidak peduli dengan apa yang aku rasakan. Bulan tidak peduli dengan sakit yang aku rasakan. Bulan tetap tampak manis. Tapi Terimakasih telah menemaniku di dinginnya malam dan takutku.
Teplak teplak teplak...
Dalam heningnya malam, Suara kaki kuda menyeruak mengusik Rhea dan pria yang kini terdiam disampingnya.
"Cari sampai ketemu!" Perintah seseorang dengan suara lantang. Suara itu memang terdengar agak jauh, tapi karena heningnya hutan, suara itu jadi sangat jelas terdengar.
"Pergi!" Perintah pria dengan permata biru gelap di dahinya, permata itu akan sangat jelas terlihat jika sang tuan sedang dalam keadaan sekarat atau dalam bahaya.
"Tidak."
"Kamu pergilah!" Ucap pria itu sekali lagi dengan sisa tenaganya.
Rhea menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tertangkap jika berlari. Aku akan tetap disini."
"Jangan bodoh."
"Aku akan tetap bersamamu tuan." Rhea ketakukan.
"Tidak, pergilah!" Rintih pria disamping Rhea tidak ingin Rhea tertangkap.
"Tidak, aku tidak bisa berlari lagi."
Sring...
Terlambat, sebilah pedang yang tampak mengkilat terhunus di depan Rhea. Seluruh badan Rhea bergetar. Badannya memanas dan lemas, Tangannya meraih lengan pria disampingnya dan memalingkan wajahnya siap untuk menerima takdir yang sudah di gariskan. Ya, aku akan menerimanya. Meskipun aku sangat membenci takdir bodoh ini. Pedang itu mengalun ke udara diseratai teriakan dari mulut Rhea.
•
"Aaaahh ...." teriak Rhea bersamaan dengan dirinya yang terduduk dan terbangun dari mimpi.
Nafas Rhea menderu, telapak tangannya gemetar. Rhea mulai menempelkan tangannya ke dada mencoba mengontrol dirinya seraya memikirkan mimpi yang baru saja ia alami. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ini terasa sangat nyata? Kenapa mimpi ini sering aku alami akhir akhir ini? Rhea berulang kali menata nafanya seraya menguyak rambut sebahunya frustasi dengan tangan gemetar.
Rhea menyibakkan selimut abu abu muda hangatnya, melangkah ke arah jendela, membuka korden ringan rose pink dan membiarkan cahaya mentari pagi menguasai seluruh sudut kamar.
Rhea mendekati kulkas dan mendapatkan air dingin yang tanpa ragu ia teguk. Mata Rhea menatap hampa ke segala arah, memikirkan mimpinya yang tampak sangat nyata.
"Kenapa aku sangat ketakutan?" Gumamnya pelan dan lemas. Jantungnya masih saja berdegup tak beraturan. "Hufft... ini benar benar seperti nyata." Rhea melirik jam dinding yng tertempel tidak jauh darinya.
Uhuuukkkk...
Air yang Rhea minum muncrat ke lantai. "Aishh... kenapa aku harus telat lagi?" Rhea membanting pintu kulkas dan bersiap untuk berangkat kerja. Jam dindingnya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Rhea kelabakan, ia harus sampai ke kantornya tepat jam tujuh jika tidak ingin dicela oleh atasannya.
•
Dua hari mengambil cuti, Rhea mendapat kabar buruk dari perrusahaannya.
CEO barunya sengaja memberhentikan beberapa karyawan yang menurut data tidak layak di pertahankan. kurang menguntungkan untuk perusahaan dan bekerja terlalu lambat.
Pria muda CEO barunya itu terjun ke perusahaan karena menggantikan ayahnya yang sedang dalam perawan.
Rhea memijat keningnya perlahan. apa yang dia inginkan? belum ada seminggu sudah terlalu banyak melakukan perubahan. dan semua staffku, kenapa dengan mereka?
Rhea menerobos masuk ke ruangan tuan CEO meski di dalam masih ada beberapa orang yang melakukan pertemuan. Rhea membuka pintu paksa meski sekretarisnya sudah melarangnya untuk mengganggu tuan Allen. kemunculan Rhea cukup mengejutkan, Rhea berdiri di depan pintu di susul suara minta maaf dari sang sekretaris penuh penyesalan karena tidak bisa menghentikan Rhea.
Pria itu ... Kenapa wajahnya tidak asing?
Allen menatap Rhea dengan tatapan dingin, sangat dingin. bahkan tatapan itu bisa seketika membuat tulang Rhea merasa nyeri. Kesal mungkin. Seisi ruangan juga ikut menatapnya. ya, mereka pasti tengah menganggap Rhea tidak sopan karena telah menerobos begitu saja. Rhea tidak peduli. Rhea hanya ingin berbicara dengan bos barunya. Rhea tidak peduli siapa yang ia hadapi saat ini. tapi nyatanya sulit, bawaannya yang kaku, arogan, dominan, superior, sok berkuasa, sok memiliki segalanya membuat Rhea merasa kecil beberapa saat. Aura itu terpancar jelas dari gaya rambutnya yang disisir kebelakang memperlihatkan forehead mulus tanpa kerut.
"Kalian bisa pergi!" titahnya pada beberapa orang yang sebelumnya ia ajak biacara.
tidak memakan waktu lama setelah Allen bersuara. semua orang pergi hingga menyisakan Allen dan Rhea. bukankah orang orang itu adalah petinggi perusahaan? sebegitunya pengaruh Allen hingga mereka tanpa protes membubarkan meeting segera karena perintahnya. sungguh semakin bergidik Rhea melihatnya. semakin buruk menilai Allen yang padahal belum sekalipun mereka berbicara.
Allen yang sebelumnya berdiri di dekat jendela kaca, kini berjalan ke depan dan duduk di meja kerjanya. mengamati Rhea yang berdiri gemetar namun berusaha tetap tegar untuk melayangkan protes.
"Aku sangat tidak menyukai orang yang tidak sopan."
Aku sangat sangat tidak menyukai orang sombong sepertimu. Batin Rhea tidak mungkin membalas dengan kata kata kasarnya.
"Ada perlu apa nona Rhea?"
bahkan dia telah mengetahui namaku. jelas di name tag yang aku kenakan tidak ada nama Rhea terselip. hanya divisiku, tapi Ia dengan enteng menyebut namaku seperti aku tengah menjadi target selanjutnya.
"Apa tidak terlalu terburu buru dengan memecat semua staffku? dari delapan, hanya menyisakan aku sendiri." mengajukan protes membuat Rhea terengah. Rhea sangat membenci emosi yang meluap luap. Rhea sering kesulitan untuk menghadapi emosinya sendiri. "Saya pikir ada kesalahan."
Allen melukis smirk meremehkan. "Tidak. mereka tidak kompeten dalam bekerja. jadi aku memecatnya."
"Maaf, kita selalu mendapat penilaian baik dan tidak pernah ada kesalahan. Sepertinya anda salah menilai tim kita, dan anda belum pernah tahu kinerja kita seperti apa."
Allen lagi lagi tersenyum. Senyum yang terulas kini terkesan kasar dan merendahkan. Rhea muak dengan paras sombong dan sok berkuasa yang alami keluar dari dirinya tanpa dibuat buat. "Kita berencana untuk menyingkirkan tim A dan tim E. Kita akan menggantinya dengan tim baru."
"Lalu kenapa aku masih disini?" Sarkas Rhea perlu tahu.
Allen terkekeh. "Kau ingin di pecat juga?"
Rhea kau bodoh. Sungguh. Pertanyaan apa itu?
Rhea sukses tertembak dengan ucapan Allen dan membuatnya tidak bisa berkata. Hanya menelan ludah kasar dan kembali mengernyit. Ayah, bisakah Ayah membukakanku toko bunga hingga aku tak perlu kerja seperti ini? pria ini sangat menyebalkan.
Satu kosong Rhea. "Aku suka wanita ambisius sepertimu. kau bahkan berani protes ketika yang lain hanya menerima dengan diam. kau cukup menarik."
Helaan nafas Rhea bercampur amarah. berbicara dengannya tidak akan menemui titik terang. Ya, sudah pasti dia akan menang. aku bukan apa apa jika di sejajarkan dengannya. "Memang bukan kehendakku untuk memperkerjakan mereka terus atau tidak. tapi aku cukup aneh kenapa anda memilih untuk menghapus tim ku dari pada tim lain. kurasa bukan karena penilaian atau semacamnya. aku sangat penasaran, aku akan mencari tahu sendiri alasannya jika anda tidak ingin memberitahuku. permisi." Rhea menyerah dan keluar dari ruangan terkutuk itu.
"Silahkan. jika kau tidak punya kerjaan." Allen cukup melihatnya keluar dan berpindah merebahkan dirinya di kursi putar nyaman yang ia miliki. "Kau sangat berbeda." gumamnya setelah merenggangkan dasi hitam yang mencekat di bagian pangkal leher.
Rhea meninggalkan ruangan Allen dengan kacau, kembali ke kursinya dan mengacak rambutnya asal. Rhea sungguh tidak ingin di ganggu untuk saat ini.
Benar benar memuakkan.
•
Klik
Lampu yang menyinari rumah Rhea menyala. Rumah yang terbilang cukup besar ini ia tinggali sendiri. Setelah melempar sling bangnya ke meja, Rhea membanting badannya di sofa empuk di depan TV. Lelah seharian bekerja dan berdebat dengan atasan barunya, ia kemuadian memejamkan mata, mencoba untuk tertidur. "Ya, aku akan beristirahat sebentar."
Beberapa saat tertidur, Rhea mulai terbangun. Matanya terasa sangat berat dan agak gelap. Rhea berusaha duduk dan berjalan pelan ke arah dapur untuk mendapatkan segelas air.
"Aku." Jerit Rhea terbelalak heran ketika melihat dirinya masih tertidur di sofa. Matanya membulat sempurna menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Rhea memundurkan langkahnya karena merasa terlalu aneh. "Kenapa ada aku disana?" Rhea mengucek matanya dan berkali kali berkedip supaya penglihatannya jelas.
Dan benar, sangat jelas. Perlahan ruang TV Rhea berubah menjadi hutan yang ada di mimpinya. Meskipun gelap, hutan ini tampak sangat jelas di mata Rhea. Bukan di rumah, tapi di sebuah hutan yang dingin dan gelap. Hanya pohon pohon besar dan dedaunan gugur menutupi tanah yang tampak di mata Rhea. Rhea juga tengah mengenakan pakaian kuno, rambut terkepang persis seperti di mimpinya kala itu.
"Apa yang terjadi?" Rhea sangat ketakukan, bola matanya menagkap bayangan seseorang yang kini menatap pria di sampingnya.
Aku kembali ke mimpiku, mimpi yang sangat nyata. Mimpi yang sangat mengganguku akhir akhir ini. Rhea mulai bingung karena ini sangat menyeramkan. Sangat.
Alunan pedang tajam di depan Rhea melemah. Ada cahaya keunguan tiba tiba menyeruak disekitar Rhea dan pria yang terluka. Pria berpedang itu mengurungkan niatnya untuk membunuh kita dan pergi dengan menundukkan kepalanya seperti memberi hormat pada pria yang terluka di samping Rhea.
Oniox ... Perpaduan permata biru tua dan merah, memancarkan cahaya keunguan yang kuat dan tidak bisa di kalahkan oleh apapun. Oniox adalah kekuatan terbesar penguasa di dunia Xlan. Semua orang yang melihatnya akan tunduk, dan mundur tanpa harus melawan. Hanya akan tercipta satu oniox dalam satu abad sekali, dan pemilik oniox adalah anggota kerajaan dan salah satunya manusia beruntung pelindung pewaris kerajaan.
"Cari di sebelah sana, aku tidak menemukan apapun disini." Ucapan pria berpedang itu terdengar jelas dan semakin menjauh. Pria itu berusaha menyembunyikan Rhea dan pria disampingnya.
"Tuan tak apa?"
Deggg ....
Dada Rhea seperti ingin runtuh ketika dengan jelas Rhea melihat wajah pria yang sebelumnya telah mendapatkan perawatan darinya. "Allen." Ucapnya lirih disusul dengan kedua telapak tangannya yang menutup mulut sempurna berusaha meredam suaranya yang penuh keputus asaan. "Bagaimana bisa?"
Ya, aku melihatnya disini. Dia yang sangat familiar, ternyata aku melihatnya disini.
Kamu mengenaliku? Ya Rhea ... ini aku namun di tempat berbeda. "Kau telah menyelamatkanku, kau pemilik oniox yang sangat berharga. Semua akan segera berakhir, Mari bertemu di kehidupan nyata."
Aku bisa gila. Aku sungguh tidak mengerti dengan kejadian yang berusaha memadati hidupku. Benar, aku bisa gila jika aku terus berada dalam situasi ini.
Aku harus terbangun.
•
"Auuu ...." Rhea terjatuh dari sofa abu abu yang ia tiduri.
Ia terbangun, meraba wajah dan badannya. Menyentuh kursi, meja, remot TV dan perabotan lain di dekatnya. Ini juga nyata. tidak tidak, ini memang keadaan yang nyata. Tapi apa tadi? Aku bermimpi tentang sesuatu yang aku mimpikan sebelumnya.
"Jam berapa sekarang?" Rhea mengecek jam dan tanggal di handphonenya. Ini baru jam 8 dan di hari yang sama. Aku baru saja tertidur sekitar empat puluh lima menit. "Mimpi apa ini?"
"Mari bertemu di kehidupan nyata." Rhea merinding mendengar kata kata yang Allen ucapkan. Bukan, bukan Allen ... Mungkin seseorang yang mirip dengannya.
Rhea meraih gadget dan ingin mencari tahu sesuatu. Ia penasaran tentang sesuatu yang Rhea ucapkan di dalam mimpi. "Xlan, oniox ... Ap itu?"
'Xlan, kastil termegah sepanjang sejarah kepemimpinan raja Ors.'
Rhea membungkam mulutnya ketika membaca ciri ciri pemimpin ors, yaitu satu satunya pemilik tanda permata biru gelap di xlan. pria itu ...
Oniox ... Cahaya kunguan yang muncul dari perpaduan tanda permata biru gelap penerus Xlan dengan pemilik warna permata terpilih.
Beberapa warna permata menunjukkan jati diri tuannya. Biru tua, penerus kerajaan. Biru adalah jati diri dari keluarga inti kerajaan, merah dari keturunan kerajaan dan saudara saudaranya. Merah jambu dari bangsawan, dan hijau dari rakyat biasa.
"Wah ... Ini benar benar ada?"
Beberapa saat didera kebingungan, Rhea mendengar suara ketukan dari arah pintu depan. "Aku tidak memesan paket delivery," gumamnya karena tidak ada seorangpun yang pernah bertamu kecuali pengantar paket.
Rhea membuka pintu dan jantungnya seperti runtuh ke lantai. "Allen."
Pria itu tanpa sungkan memeluk Rhea erat. Rhea ingin melepas pelukannya namun terlalu erat. Ia tak kuasa lagi memberontak.
"Terimakasih karena telah menyelamatkanku," bisik pra itu membuat Rhea melemas tiba tiba. Ia tidak lagi melawan di dalam pelukan.
"Bagaimana bisa?"
Pria itu melepas pelukannya. "Aku juga tidak tahu."
Rhea membungkam mulutnya. "Kau benar pria yang terluka itu?"
Allen mengangguk, "masih ada bekas luka jika kamu mau memastikan."
"Bagaimana bisa?"
"Aku hanya perlu seseorang yang tulus untuk menolongku dan terbebas dari mimpi itu."
"Kau bukan Sir Lancelot yang muncul dari danau kan?"
Allen menggeleng. "Aku akan melakukan apapun untukmu, katakan apapun yang kamu inginkan."
"Kau akan mengabulkannya seperti jin teko aldin?"
Allen tertawa menampakkan gigi rapinya.
Sangat tampan, batin Rhea merasa ia sangat berbeda dengan Allen arogan atasannya.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu sebagai manusia biasa, bukan jin teko. Tapi aku tidak bisa mencarikanmu kekasih,"
"Kenapa?"
"Karena sepertinya, kau akan jatuh cinta padaku."
-End