Arif adalah seorang laki-laki yang terinfeksi virus V-16. Virus ini akan membuat penderitanya menjadi seperti seorang vampir. Apabila terkena cahaya, kulit Arif akan melepuh dan terbakar. Jadi, setiap hari Arif hanya meringkuk di ranjang rumah sakit.
“Halo Rif, gimana kabarmu?" tanya Nirmala.
Nirmala adalah kekasih Arif. Dia sangat mencintai Arif. Bahkan, Nirmala berjanji, bahwa dia akan merawat Arif sampai dia sembuh.
“Seperti biasa, aku tidak baik-baik saja," ucap Arif dengan lesu.
“Apa yang kau inginkan?" tanya Nirmala.
“Sembuh," jawab Arif singkat.
“Tapi kau akan sembuh Rif," ucap Nirmala.
“Tidak, aku tidak akan bisa sembuh," Arif telah putus asa.
“Dengarkan aku. Dokter mengatakan bahwa kamu masih bisa sembuh," Nirmala mencoba untuk menyemangati Arif.
“Kenapa Tuhan tidak adil padaku?" tanya Arif sambil menghela nafas.
“Percayalah Rif, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan hambanya," jelas Nirmala sambil memegang tangan Arif.
Tiba-tiba, nafas Arif menjadi tak teratur. Arif merintih kesakitan. Nirmala segera berteriak untuk memanggil dokter.
Dokter segera datang dan menangani Arif. Setelah memeriksa, dokter menjelaskan bahwa hidup Arif tidak akan lama lagi. Setelah mendengar hal itu, Nirmala menangis tak percaya dengan ucapan dokter.
“La, aku ingin kau mewujudkan keinginan terakhirku," ucap Arif.
“Gak, kamu gak boleh bilang begitu," ujar Nirmala.
“Aku mohon," pinta Arif.
“Apa yang kau inginkan?" tanya Nirmala sambil menahan tangis.
“Aku ingin melihat matahari terbit bersamamu," pinta Arif.
“Kamu gak boleh ngelakuin hal itu, nanti kulitmu akan terbakar," ujar Nirmala.
“Toh hidupku gak lama lagi," Arif telah putus asa.
“Arif," Mata Nirmala berkaca-kaca.
Arif tersenyum kepada Nirmala. Akhirnya, Nirmala membantu Arif untuk pergi ke atap rumah sakit agar bisa melihat matahari terbit.
“Rif apa kau yakin?" tanya Nirmala.
Arif hanya tersenyum sambil mengangguk. Sesampainya di atap, Arif dan Nirmala duduk berdampingan. Perlahan, bulir-bulir air mata mulai mengalir dari mata Nirmala.
“La kenapa kamu nangis?" tanya Arif.
“A... aku gak nangis," ucap Nirmala sambil mengusap air matanya.
Arif membelai rambut coklat Nirmala.
“Aku tidak ingin melihatmu menangis di saat-saat terakhirku," ucap Arif sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
Perlahan, matahari mulai terbit. Arif tersenyum senang karena dapat melihat matahari terbit. Setiap hari, Arif hanya bisa berada di ruangan gelap tanpa cahaya.
“MATAHARI TERBIT," Arif berteriak senang.
Sementara Nirmala hanya bisa menahan tangisnya. Dia tahu bahwa Arif akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Sesaat setelah berteriak, kulit Arif mulai terbakar. Tiba-tiba, Arif jatuh pingsan. Nirmala segera menghampiri Arif. Nirmala menidurkan Arif di pangkuannya.
“Terima kasih karena telah mewujudkan impianku," ucap Arif.
“Arif," Air mata mulai membasahi pipi Nirmala.
“Nir... ma... la...," Arif menghembuskan nafas terkahirnya.
Nirmala sudah tak bisa menahan tangisnya. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Arif. .
“Arif, aku akan selalu mengingatmu," ucap Nirmala.
---Tamat---