Aku sedang fokus mendengarkan instruski Mr. Jang ketika dia datang pagi itu bersama pemilik pabrik. Dia lewat di belakang Mr. Kim, yang tengah berdiri di depan kantornya yang menghadap ke area produksi. Penampilannya yang menarik dan wajahnya yang tampan langsung membuatku terpikat. Ini wajar, aku perempuan normal. Aku memang mudah terpikat oleh laki-laki yang memiliki visual indah, sepertinya. Hanya terpesona, nggak lebih.
"Dinara, kamu cepat bilang ke orang cutting. Saya nggak mau nunggu-nunggu lagi. Minggu ini juga harus mulai produksi. Mengerti?"
Aku mengerjab. "Mengerti, Mister." kataku.
Mr. Jang lalu meninggalkanku. Aku berpaling ke kerumunan orang-orang yang tengah mengerumuni meja mbak Dwi, ia asistennya bawahan Mr. Jang. Kerjaanya banyak, sering disuruh ini itu, tapi atasannya selalu saja mengeluh nggak puas. Pokoknya atasan mbak Dwi ini rewelnya minta ampun, melebihi Mr. jang yang sudah terkenal rewel di kalangan orang-orang produksi.
"Eh, itu siapa yang lagi sama Mr. Choi? Ya ampuunnn! Ganteng banget."
"Iya, mirip Verrel nggak sih?"
"Bener. Mirip Verrel."
"Ganteng banget. Apa semua cowok korea itu ganteng-ganteng ya?"
Aku menggeleng.
"Kenapa?" Prita tahu-tahu menegurku.
"Nggak, cuman lucu aja."
"Siapa?"
"Mereka." Aku menunjuk kerumunan itu dengan dagu. "Aku mau ke cutting, ikut nggak?"
"Boleh." Katanya. Lalu kami pergi berdua ke cutting yang berada di gedung sebelah.
"Din,itu yang lagi sama Mr. Choi ganteng banget ya?" Kata Prita.
"Iya."
"Deketin, Din. Siapa tahu jomblo. kayak gue."
"Nggak."
"Kenapa?"
"Nggak papa."
"Nggak tertarik? Masa sih?"
"Nggak juga."
"Takut ketahuan Iqbal?"
"Hmmm."
"Dia nggak bakal tahu, lah, Din. Diakan nun jauh di sana."
"Nggak ah, gue nggak mau selingkuh."
"Enak tahu selingkuh itu." Prita mulai melantur.
"Apa enaknya." cibirku.
"Seru pokoknya." Katanya menyakinkan. "Makanya lo harus coba."
"Nggak mau gue kayak lo. Nanti kena karma malah berabe."
"Lagian siapa sih gue ini?" tambahku.
Obrolan kami terhenti karena kami sudah sampai di depan ruangan Mr. Park.
Aku menemui pria tua yang masih gagah diumurnya yang lebih setengah abad. Aku langsung menyampaikan maksudku. Kami berbicara sebentar, Mr. Park langsung menginstruksi bawahannya.
"Kenapa lo langsung ngomong ke dia." tegur Prita begitu aku keluar dari ruangan Mr. Park.
"Bawahannya nggak bisa diajak kerja sama. Lo tahukan pak Ucup itu kerjanya gimana?"
"Eh, mas ganteng lewat. Ganteng, tinggi, mana putih lagi. Yakin nih lo nggak minat."
"Minat, sih nggak."
"Terpesonakan tapi?"
Aku mengaku. "Iya, lah. Mata gue masih normal."
Satu minggu kemudian aku baru tahu ia siapa?
"Namanya Kim Seon ho." Bisik Prita di telingaku. Karena kami sedang berada di ruang meeting produksi. Tadi Mr. Jang marah-marah gara-gara ketemu masalah waktu final alhasil harus bongkar karton. Sekarang juga masih marah-marah gara-gara itu. Ini kami lagi nontonin dia ngamuk sama orang QC.
"Dia yang gantiin Mr. Lee." jelas Prita masih berbisik di telingaku.
"Oh," Aku ngangguk. Nggak tertarik. "Ini jadi meeting nhgak sih dia?"
Prita mengedik bahu, acuh tak acuh.
Esoknya. (orang yang nggak aku duga-duga nyamperin)
Di gudang aku lagi mau menyiapkan mockup benang yang diminta sama Mr. Jang, ditemani sama Prita dong. soalnya benang yang bersangkutan di gudang habis dan masih minggu depang datengnya, tapi nggak mungkin untuk menghentikan produksi sementar. Mr. Jang kan yah, begitulah orangnya.
"Produksi harus tetap jalan! Saya nggak mau tahu." Itu perintahnya tadi siang, waktu aku lapor ke dia soal benang yang habis itu. Yah, begitulah kalau dia sudah berkehendak.
"Aishh! Orang gudang kenapa kerjanya nggak becus, yak!" dumelnya tadi sambil petentang-petenteng kayak mandor bangunan.
"Untung stock benang warna beginian banyak." kataku pada Prita. "Ini udah yang paling mirip, nggak sih, Prit."
Prita mengambil benang dari tanganku. Melihatnya sekilas. "Mirip, sih." katanya. "Gue cek kerjaan Juni bentar ya. Dia masih baru soalnya. Gue takut dia ada masalah."
"Ok."
Prita langsung pergi.
Tiba-tiba aja si Kim Seon ho itu dateng nyamperin.
"Ya," Aku masih berusah menenagkan diri dari keterkejutan.
"Kamu kan yang pegang style Kohls xxx"
"Ya." Aku ngangguk.
Kim Seon ho itu ngomong banyak banget, tapi aku nggak ngerti soalnya bahasa indonesianya masih belepotan. Daripada pusing aku iya-in dia.
"Apa cutting sudah selesai potongnya."
"Belum."
"Kapan mereka bakal selesain potong?"
"Saya belum tahu." Aku ya mana tahu, kan bukan orang cutting, Mas e.
Dia nanya-nanya lagi. Tapi semua pertanyaannya itu aku nggak ngeri, soalnya dia nanya hal-hal diluar tanggung jawab dan job deskku. Auto aku kesel dibuatnya. Aku tinggalin aja tuh dia. Bodo amat dibilang nggak sopan. Lagian suruh siapa nanya-nanya yang diluar pengetahuanku.
Semenjak kejadian itu. Aku nggak mau lagi ngomong sama dia dan sepertinya dia juga gitu.
Setahun berlalu. Aku putus sama iqbal. Kita udah lama pacaran tapi karena LDR, mungkin dia nggak betah dan selingkuh. Ketika aku tahu hal itu, anehnya aku nggak marah tapi aku minta putus sama dia. Kita putus dan ya, udah Bye iqbal!
Sore itu aku lagi jalan sendirian dari gudang, Prita nggak masuk karena adiknya nikah. Kalau sore aku emang suka ke gudang buat ngumpet aja. Leha-leha maksudnya. Berpapasan lah aku sama si Kim Seon ho yang selama setahun ini aku abaikan. Dia sih nggak ngapa-ngapin lewat aja kayak lagi nggak papasan sama siapa pun. Kayaknya aku tuh invisible di mata dia. Ya, nggak masalah sih. Emang siapa aku?
Nggak tahu kenapa jantung aku deg-degan kayak ABG lagi papasan sama gebetan. Apa karena dia ganteng jadi aku nervous? Biasakan kalau upik abu macam aku ini suka gugup kalau ketemu cowok yang cakep.
Nggak tahu kenapa setelah kejadian papasan sore itu kita jadi sering papasan. Nggak di ruangan Mr. Jang, di ruang sample, di cutting, di area produksi, dan di finishing. Aku selalu lihat dia.
Akhirnya pun aku terjerat sama dia. Mampus nggak tuh! Mungkinkah ini yang dimaksud dengan witing tresno jalaraniing saka kulino? Kulino ketemu mesti nggak ada interaksi lebih.
Tapi aku ini mana berani deketin dia. Sadar dirilah. Nggak cantik juga cuman karyawan biasa yang gajinya UMR lebih dikit. Sedangkan dia Manager.
Hingga suatu pagi, di tempat parkir. Aku duduk santai di atas motorku, sambil menikmati sarapanku yang hanya sebuah pisang dan sekotak susu. Aku menggigit pisang sambil membalasi pesan dari adik sepupuku.
"Dinara!"
Aku mendongak dan membatu seketika mendapati dia berdiri di hadapanku. Rambutnya yang agak panjang berantakan seperti orang baru bangun tidur. Tapi tetap aja dia ganteng. Dia seperti biasanya, memakai kaus putih polos yang pas dibadannya yang kekar hasil olah raga.
Dia tahu nama gue, toh!
"Selamat pagi, Mr. Kim." sapaku gagap.
Dan itulah terakhir kalinya aku melihat di pabrik.
"Dia mengundurkan diri." cerita Prita pada suatu sore.