Hei! Kau percaya adanya hantu? Atau kau... seseorang yang punya nyali kuat untuk mencari keberadaan mereka?
Ini sedikit ceritaku, cerita nyata yang aku alami sendiri dengan seorang teman.
Apa yang pertama kali terlintas di benakmu saat mendengar kata 'Bloody Marry?'
Apa kamu sedang berpikir tentang gaun pernikahan yang berdarah? Atau pesta pernikahan yang berdarah? Atau mungkin... pengantin yang berdarah?
11 tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih menginjak bangku sekolah dasar. Karena di kotaku di adakan acara Pesantren Ramadhan selama bulan Ramadhan, jadi setiap harinya setelah pulang Pesantren aku sering bermain bersama teman-temanku.
Kita menonton film hantu bareng, main-main di genteng Mushalla, manjat-manjat pohon, dan segala macam kegiatan lainnya yang biasanya dilakukan oleh anak laki-laki. Sedangkan kami sama-sama perempuan.
Menceritakan kisah ini kembali, membuatku sedikit bernostalgia tentang hari-hari itu. Haha.
Aku tau tentang cerita hantu Bloody Marry ini adalah dari salah satu temanku itu, namanya Qila (ini nama asli) aku tidak akan menutupi cerita ini. Ini benar-benar terjadi.
Setelah shalat Zhuhur bersama di Mushalla, kami sebenarnya tidak ikut shalat Zhuhur dengan sebenar-benarnya shalat. Orang berdiri kami berdiri, orang rukuk kami rukuk, orang duduk kami duduk, tapi ketika orang sujud kami saling bergelut, di rakaat kedua kami menarik rok orang lain sampai ketawa-ketawi, di rakaat ketiga kami mengikat mukenah orang, begitu seterusnya sampai di rakaat keempat. Mengingat ini, aku berdosa banget. Masa kecil yang keji. Haha.
Lepas shalat, kami kembali ke rumah salah satu teman yang jaraknya cuman 15 langkah kaki anak-anak dari Mushalla.
Karena panas matahari yang begitu terik dan menyilaukan, teman kami yang punya rumah ini tidak dibolehkan main oleh ibunya di luar. Alhasil kami hanya rebahan bareng di atas sofa, malas-malasan sampai menunggu adzan Ashar datang lalu kembali ke rumah masing-masing.
CD film horor belum ditonton semuanya, kami juga hanya 3 orang, terlalu takut untuk melanjutkan menonton film horor. Jadi kami hanya duduk diam, tidak tidak mau membahas apa. Kecil-kecil dulu mana mungkin anak jaman kami mengenal kata ghibah, jadi kami tidak ada membicarakan orang-orang di belakangnya.
Nah, karena bosan... tiba-tiba temanku yang punya rumah ini, Qila bercerita tentang 'Bloody Marry' hantu panganten. Kami yang masih anak-anak waktu itu antusias mendengarkan.
"Kalian pernah dengar kata Bloody Marry gak?"
Aku dan temanku yang satu lagi, namanya Ani menggeleng.
"Ada sebuah cerita, aku juga dengar ini dari orang-orang, katanya ini fakta."
Kami yang sama-sama masih kecil saat itu jelas mengangguk, percaya begitu saja.
"Jadi... ada 2 orang perempuan yang mau memastikan romur tentang cara melihat hantu Bloody Marry ini. Di tengah malam mereka berdua pergi ke toilet yang ada kacanya, setelah sampai di dalam toilet mereka berdua menghidupkan lilin. Karena salah satu dari mereka takut, dia memutuskan untuk keluar dari toilet sebentar."
"Temannya yang satu mengangguk, mempersilahkan temannya keluar. Jadi, temannya yang kini sendirian di depan cermin, anggap saja namanya si A, si A ini di dalam toilet sekolah tengah malam dengan penerangan hanya lilin, karena tidak boleh membawa senter, memang beginilah ritualnya. Temannya yang diluar kita panggil saja si B."
"Si A menatap kaca, menyisir tiga kali rambutnya dengan tangan karena dia merasa rambutnya sedikit berantakan. Menyisir rambut bukan bagian dari ritual menurut rumor yang mereka dengar. Setelah rambutnya nampak rapi, si A melotot menatap kaca, menyebutkan kata Bloody Marry sebanyak tiga kali."
Aku dan Ani terdiam, merinding. Qila memasang wajah serius, dia sedang tidak mengada-ada.
"BRAAAK!"
Qila memukul meja, membuat kami berdua tersentak kaget. Qila tertawa kecil melihat reaksi kami.
"Kalian tau apa yang terjadi?"
Kami menggeleng atas pertanyaan Qila.
"Si A menghilang dari toilet. Si B yang mendengar bunyi keras di dalam toilet tadi langsung masuk. Semua lilin sudah mati. Si B menghidupkan senter di ponselnya. Betapa kagetnya si B saat melihat kaca toilet yang retak dan berdarah. Lantai juga dilumuri dengan darah. Si B mencari temannya si A di mana-mana, tidak ketemu."
Aku dan Ani saling tatap, merinding.
"Akhirnya si B memutuskan memanggil satpam sekolah yang tinggal di bangunan kecil di pojok kiri sekolah. Mereka berdua berlari ke toilet perempuan bersama. Betapa kagetnya mereka melihat si A yang tiba-tiba sudah berada di dalam toilet, terkapar dengan tubuh berdarah-darah, di tangan si A... ada robekan pakaian pengantin."
"iiiiihhhh!" Aku dan Ani berpelukan, bergidik ngeri.
"Si B berseru histeris, memeluk temannya, menyorakkan nama Bloody Marry sebanyak tiga kali. Tidak terjadi apa-apa."
Qila menghela nafas. "Cerita tamat."
Aku dan Ani melepas pelukan, sama-sama menghela nafas lega karena ceritanya telah berakhir.
"Apa si A mati?" tanya Ani.
Qila mengangguk.
"Apa yang terjadi setelah itu? Bagaimana dengan toilet di sekolah itu?" tanyaku penasaran.
Qila mengangkat bahunya. "Tidak tau."
oOo
Malamnya saat shalat tarawih, teman kami yang lain yang membahas tentang Blood Marry, saat itu Ani tidak datang.
Untuk pembahasan kedua kalinya ini, aku merasakan tubuhku merinding. Padahal habis Ashar tadi aku sudah melupakan semuanya.
Saat malam datang, aku mematikan lampu kamar, hendak tidur. Tapi entah kenapa malam ini aku merasakan hawa berat berada di sekitarku, aku merasakan kursi kosong yang ada di depanku sedang diduduki seseorang.
Aku langsung memeluk guling, seluruh tubuhku mati rasa.
Dengan ragu-ragu dan perasaan takut yang menyelimuti, aku mencoba bangun dari ranjang, melangkah ke kaca kamar, ada bayangan putih yang menghilang secepat kilat. Aku terdiam, langsung melompat ke kasur, menelungkupkan selimut.
Esoknya, aku mengatakan apa yang aku rasakan pada Qila. Qila terkejut mendengarnya, Qila juga mengatakan dia merasakan hal yang sama, dan dia tidak bisa tidur sama sekali semalam.
Kami bersumpah saat itu tidak akan menyebut nama Bloody Marry lagi.
Bagaimana menurut kalian? Percaya atau tidak?
Jika kalian tidak percaya, coba tengah malam masukilah toilet, bawa lilin, matikan lampu. Berdiri di depan kaca, dan sebutkan kata ini tiga kali.
BLOODY MARRY
BLOODY MARRY
BLOODY MARRY.