Melody, ya sahabat gue hingga sekarang. Gue bersyukur banget bisa kenal sama Melody. Sejak kecil, kita udah temenan dan jadi sahabat. Orangtua kita juga berteman semasa SMA. Kemanapun gue pergi, pasti Melody minta ikut. Gue sama Melody sampai dikira pacaran sama teman-teman gue, karena emang sedekat itu.
Kalo gue boleh jujur, sebenarnya gue ada rasa sama Melody. Dulu, waktu kecil, gue sama dia janji kalau udah lulus kuliah nanti, mau nikah bareng. Haha.. Emang lucu waktu gue kecil. Ada aja pikirannya.
Sejak kelas 1 SD kita juga berjanji kalau kita akan sekolah di sekolah yang sama. Hampir setiap hari kita ucapin janji tersebut. Dan terbukti, sudah 17 tahun kita bareng dan sampai saat ini kita masih bareng.
Eitss.. Tapi ga cuma itu. Gue sama Melody juga janji kalau kita udah lulus kuliah dan udah dapat kerja masing-masing, kita akan nikah dan punya 2 anak. Tapi, setelah kita berdua mengucapkan janji tersebut, orangtua gue kabarin kalau keluarga Melody mau pindah ke Korea.
Malam harinya, gue antar dia ke Bandara dan memeluk erat cewek yang selama ini selalu ada buat gue.
“Devan, lo selalu kabarin gue, kan?” tanya Melody yang masih memeluk Devan. Ia merasakan Devan mengangguk.
Devan pun melepaskan pelukan Melody. “Gue janji.”
Melody tersenyum. “Gue juga janji kalau gue udah sampai di Korea, gue akan kabarin lo.”
Sehabis antar Melody, gue langsung balik ke rumah. Gue nunggu berjam-jam buat tau kabar dari Melody. Tanpa sadar, gue ketiduran.
8 Jam Kemudian
“Devan! Ada telepon dari Melody!” teriak Raina, mama Devan.
Mendengar mama teriak dan kasih tahu kalau ada telepon dari Melody, gue langsung bangkit dan menuju ruang tamu. Tanpa menunggu lama lagi, gue langsung menerima telepon dari Melody.
“Halo.” ucap Devan.
“Halo, Van! Lo baru bangun, ya?” tanya Melody.
“Hah? Engga!” ujar Devan.
“Oh, ya? Kenapa tadi gue telepon gak diangkat?” tanya Melody kembali membuat Devan mengkerutkan dahinya.
“Lo telepon gue?” tanya Devan sedikit panik.
“Iya. Tapi lo ga angkat,” balas Melody.
Devan mengingat-ingat. “Oh, iya, tadi gue ketiduren, maaf.”
“It’s okay. By the way, besok lo harus sendiri, ya. Bisa kan?” tanya Melody membuat Devan terdiam.
“Van? Kok diem?”
“Gue gabisa,” balas Devan.
“Why? Lo harus terbiasa, Van,” balas Melody.
“Oke, gue akan usahain.”
“Okayy.. Gue tutup dulu, ya.”
Begitulah percakapan terakhir gue sama Melody.
3 Tahun Kemudian
Setelah lulus SMA, gue memutuskan untuk kuliah di Korea. Ada dua hal kenapa gue mau kuliah di Korea. Pertama, karena gue bercita-cita untuk kuliah di negeri ginseng. Kedua, karena Melody. Ya, alasan gue berkuliah di Korea karena gue mau ketemu sama teman masa kecil gue.
Ya! Dan disinilah gue berada. Di depan salah satu rumah, yang gue duga itu adalah rumah Melody. Gue mencoba untuk memencet bel rumahnya, namun sepertinya tidak ada orang. Gue mencoba untuk pergi, namun di hadapan gue ada seorang perempuan yang selama ini gue rindukan.
“Mel?” tanya Devan.
“Epan?” tanya Melody memanggil nama Devan dengan sebutan Epan.
“Mel, gue kangen banget sama lo,” ujar Devan langsung meraih Melody dan memeluknya erat.
“Gue juga kangen sama lo,” balas Melody.
Melody mempersilahkan Devan untuk masuk ke dalam rumahnya.
“So, kapan balik ke Indonesia?” tanya Devan.
“Nunggu sampe kamu lamar aku,” goda Melody.
Devan menatap Melody. Tanpa Melody ketahui, Devan ingin memberikan surprise kepadanya. Dilihatnya Melody sedang mencari suatu barang di dalam tasnya. Inilah kesempatan Devan untuk memberikan kejutan kepada Melody.
Setelah menemukan barang yang dicar-cari, Melody akhirnya membalikkan badannya. Akan tetapi, betapa terkejutnya ia melihat Devan yang sudah jongkok dengan kotak berisikan cincin yang ia pegang.
“Van?” tanya Melody. Ia pun tak bisa menahan air matanya. Air mata bahagia.
“Mel, kamu pernah janji, kan, setelah lulus kuliah nanti, kita akan nikah?” Melody mengangguk.
“Tapi, karena kita belum lulus kuliah, dan karena aku gak mau kamu jauh dari aku, ya, walaupun kita akan LDR, but aku percaya sama kamu, aku memutuskan untuk melamar kamu dengan cara aku menyusul kamu ke Korea. Huft.. Mel, kamu mau kan, nikah sama aku dan punya 2 anak?” jelas Devan.
Tanpa menunggu lama, Melody mengangguk tanda bahwa ia menerima lamaran dari Devan. Ia juga mengambil sebuah cincin yang terukir nama Devan untuk ia pakai di jari manis sebelah kiri. Ia pun memandang cincin tersebut lumayan lama.
Setelah itu, ia pun memeluk Devan dengan sangat erat. Dengan bahagia, Devan pun membalas pelukan Melody yang merupakan calon istrinya.
Beberapa tahun kemudian
Kini, hidup Devan dan Melody semakin bahagia. Apalagi, sekarang sudah ada 2 anak kecil yang selalu membuat mereka tertawa. Kenzo dan Kenzie. Mereka adalah anak dari Devan dan Melody. Jarak mereka hanya 5 menit dengan Kenzo yang lahir terlebih dahulu.
Itulah kisah hidup Melody dan Devan dengan janji mereka yang terwujud. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian memiliki janji dengan teman masa kecil kalian seperti Devan dan Melody?