Jika aku bilang akan mencintainya dengan sepenuh jiwaku, Lalu ia meninggalkanku dalam damai, bukankah saat itu pula cintaku telah pergi?
Ya, cintaku dibawa olehnya, cintaku menghilang karenanya, menyisakan hati yang hampa, hati yang sepi, hati yang tidak bisa menuntut apapun kecuali hanya bisa merindunya.
Kamar ini sangat berisik. Suara alarm yang lantang mengisi seluruh ruangan, mungkin terdengar hingga ke dalam sudut tersembunyi manapun, termasuk di ruang rahasia semut yang tak terlihat.
“Berisik,” keluh pemilik kamar berdinding offwhite dengan kasur hangat berlapis cover polos abu muda. Tangannya meraba raba handphone yang mungkin terselip di bawah selimut atau bantal dan tak lama akhirnya ia dapat. “Arghhh ...” Erang Ares ketika suara alarm itu semakin kencang karena handphone tipis sumber bunyi itu lolos dari tumpukan selimut dan bantal hingga tidak lagi terhalangi apapun di genggamannya.
Menghentikan suara berisik itu adalah tujuan pertama Ares pagi ini, Ia merasa malamnya berjalan terlalu cepat. Ares ingin tidur lebih lama. Ia menarik guling di sampingnya, menyamankan dirinya kembali dan membenarkan selimut hangat yang sudah lolos dari tubuhnya ntah dari kapan.
Nyaman, namun tidak bertahan lama. Alarm malaikatnya berbunyi kembali dan membuat Ares ingin mengumpat. Namun tidak, Ares harus terbiasa sekarang, dia malah harusnya berterimakasih pada alarm malaikatnya yang selalu memaksanya bangun di pagi buta, berulangkali. Ya… Bangun pagi, dia sedang berusaha membiasakan diri sekarang.
Piyama salur yang berantakan, wajah lesu, rambut teracak, langkah gontai dan mata yang masih lengket. Ares menghampiri dapur dan membuka lemari gantung di atasnya. Mendapatkan sereal, roti tawar, beberapa selai dan butter lalu tak luput memanaskan air dengan mesin pemanas.
Ares mulai mengolesi sisi roti tawar dengan butter lalu menjejalkannya ke mesin pemanggang. Ares tak lupa menumpahkan sereal ke mangkuk kecil dan menunggu air menghangat untuk menyeduh susu.
“Yah ...”
“O Hanie ... anak ayah sudah bangun?”
Gadis kecil umur empat tahunan berjalan gontai menghampiri Ares dengan menenteng boneka karakter rabbit di winnie the pooh yang tingginya hampir seukurannya. Menggenggam erat bagian telinga kirinya hingga boneka manis itu terseret menyentuh lantai yang dingin, mungkin boneka itu akan protes karena diperlakukan tidak sopan jika ia bisa berbicara.
“Ini masih terlalu pagi sayang.” Ares menghampiri Hanie, mengecup dahi Hanie dan menuntut balasan dari perlakuannya, meminta Hanie untuk mencium pipinya kembali seperti biasa. Ares membopongnya karena tahu Hanie pasti masih sangat mengantuk, membiarkan wajah Hanie terbenam di antara leher dan bahu bidang Ares yang nyaman sambil ia menyiapkan sarapan.
“Hanie ... apa masih ngantuk? Huh?” Ares perlahan mengelus rambut halus Hanie mencoba membangunkannya dari dekapan yang hangat. “Waktunya kita sarapan, apa perlu ayah suapi?”
“Emmm ...” Hanie menggeliat menginginkan kenyamanan yang lebih panjang.
“Hanie ...” panggil Ares lirih sekali lagi.
“Emmm ... Hanie akan makan sendiri,” ujar Hanie dengan mata tertutup masih dikuasai oleh kantuk.
Ares mendudukkan Hanie d kursi tinggi sebelahnya. “Anak ayah sangat pintar.” Ares menguyak rambut Hanie pelan. “Makan yang banyak, Hanie harus tumbuh tinggi seperti ayah.”
“Ya … dan cantik seperti mama.” Sahut Hanie dengan suara serak melukis senyum irisan semangka.
Ares tersenyum canggung. Ya, cantik seperti ibumu. Sesaat Hati Ares rasanya runtuh ke lantai yang dingin, membekukan hatinya dan membuatnya merasakan nyeri yang menjalar melumpuhkan syaraf hingga berakhir lemas.
Rasanya sangat berbeda. Hanya aku dan Hanie, tanpanya rasanya sangat berbeda. Setiap hari Ares harus terbiasa untuk mengurus segalanya. Menyiapkan sarapan, mengurus Hanie, memandikan Hanie, membantunya berpakaian, menemaninya berkemas dan mengantarnya ke taman kanak kanak bersamaan ia berangkat kerja. Pagi yang selalu sama kecuali di hari minggu.
Ares akan sangat lega ketika Hanie sudah sampai ke sekolahnya dengan wajah ceria dan gembira sebelum ia meninggalkannya berangkat kerja.
Ares sengaja memasukkan Hanie di yayasan pra sekolah sekalian menitipkannya ketika sepupu Ares tidak bisa dititipi untuk menjaganya.
“Ayah aku mencintaimu …” Hanie melambaikan tangan bersemangat di samping guru pengasuhnya membiarkan sang ayah pergi bekerja.
“Ya, ayah jugs mencintaimu …” balas Ares membentuk lambang hati dengan kedua lengannya melengkung di atas kepala membuat ujung ujung jari menyatu.
Senyum yang merekah di awal pagi seringkali cepat memudar. Ares terlalu menghawatirkan Hanie dan takut membuatnya tidak nyaman berada di yayasan seharian penuh. Ares akan menjemputnya segera setelah ia pulang kerja. Ares selalu berharap bisa pulang tepat pada waktunya.
Pekerja kantoran seperti Ares memang hanya harus menuruti jam kerja perusahaan dan mengikutinya tanpa banyak alasan. Mengerjakan laporan tepat waktu dan segera pulang tanpa sempat berkumpul atau mengikuti rencana makan bersama dengan rekan rekannya.
“Kau pikir aku harus menjabarkan total pengeluaran itu tanpa data? Bagaimana bisa kau melewatkan data penting itu dan membuatnya sesimple ini.” Protes kepala divisi Ares yang kurang puas dengan kinerjanya.
Belum sempat menyuarakan isi pikirannya, Kepala divisinya berlanjut mencecar Ares yang hanya diam.
“Res, Aku tidak mau tahu. Kamu harus membuat laporan ini lebih detail dan mudah di mengerti. Aku ingin laporan itu selesai sekarang juga.”
“Tapi pak, saya harus ...”
“Selesaikan laporan ini dulu sebelum kamu pulang. Kau semakin mengecewakan Res.”
Panik, Ares berulang kali menelfon sepupunya untuk menjemput Hanie namun ia sedang ada perjalanan ke luar kota. Satu satunya jalan adalah kembali merepotkan guru pengasuh Hanie untuk menemani Hanie bererapa jam lagi menunggu Ares menyelesaikan pekerjaannya. Seperti kebiasaan di beberapa bulan terakhir ini, pekerjaan Ares semakin kacau dan sering kali mendapat komplain dari atasan karena kinerja yang kurang memuaskan.
Dan terlambat lagi.
Ares segera berlari setelah keluar dari Bus umum di halte dekat yayasan tempat Hanie dititipkan. Langit mulai menggelap, udara hangat sore tadi telah berubah dan mendekati 75,2 derajat fahrenheit.
“Hanie.”
“Ayah …” Hanie menghambur kepelukan Ares yang berjongkok membuka lebar kedua lengannya. “Maafkan ayah terlambat menjemputmu.”
“Tak apa ayah … ibu guru Anne telah menemani Hanie bermain,” sahut Hanie riang setelah menangkap pelukan sang ayah.
“Maaf karena selalu merepotkan. Terima kasih telah menemani Hanie. Saya sangat malu karena sering merepotkan ibu guru.”
“Tidak apa Pak, anak anda sangat pintar dan penurut. Hanie anak yang sangat manis.” Guru pengasuh Hanie tidak pernah keberatan setiap kali Ares memintanya untuk menemani Hanie ketika Ares telat untuk menjemputnya.
Selalu seperti itu, mengantar Hanie ke yayasan sebelum berangkat kerja dan menjemputnya di sore hari ketika Ares telah terbebas dari pekerjaan.
Ares adalah pekerja yang ulet dan cerdas. Semua teman teman Ares sangat menyukainya karena bawaaannya yang selalu santun dan baik hati. Ares tipe orang yang bisa di andalkan.
Namun pagi ini berbeda. Setelah menyiapkan sarapan, Ares menghampiri kamar Hanie, Mencoba membangunkannya dengan meloloskan cahaya mentari pagi masuk memenuhi kamar Hanie dengan menyingkap gorden dusty pink penutup jendela. “Hanie .... bangun.”
Ares merapikan beberapa boneka dan barang barang yang tergeletak di lantai, menarik selimut Hanie perlahan dan melipatnya. Kali ini Hanie tidak protes karena selimut yang lolos darinya, biasanya ia akan merengek jika dingin datang mengusik.
“Hanie ... ayo kita sarapan sayang. Hanie masih mengantuk? Huh?” Ares berbaring di samping Hanie dan memeluknya.
“Hanie, kau demam?” Ares terkejut ketika menyentuh kulit anaknya yang cukup panas. Seokjn menempelkan telapak tangannya di dahi Hanie dan mendapati temperatur badannya di atas normal. Ares segera bangkit dan meraih pengecek suhu badan di laci sebelahnya lalu menyelipkannya di tekukan lengan Hanie. Benar saja, suhu badannya sangat tinggi.
“Hanie, ayah akan membawamu ke rumah sakit.” Ares menggendong Hanie dan membuatnya menempel senyaman mungkin di pelukannya. Masih mengenakan setelan pakaian tidur midnight blue polos, Ares buru buru membawa Hanie ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Ares benar benar khawatir.
Di ruang IGD yang sejuk, Ares terduduk lemas menunggui Hanie di sampingnya, membiarka dirinya terbiasa dengan aroma obat dan decitan roda bangsal yang di dorong. Pilu, ketika ia mengingat seseorang yang ia cintai terbaring lemah di hadapannya, dan kini saat yang paling ia benci itu terulang lagi.
Ares merangkum tangan kecil Hanie dengan kedua telapaknya tanpa peduli handphone d sakunya yang berulang kali bergetar. Ares tahu seorang atasan sedang menghubunginya tidak terima Ares mengajukan cuti terlalu mendadak, namun Ares tidak peduli. Hanie adalah prioritasnya saat ini. Fokus Ares hanya untuk anaknya tercinta.
“Mama ...” suara lirih Hanie membuat hati Ares Mencelos. “Mama ...” ulangnya sekali lagi.
Ares membelai rambut Hanie lembut sekaligus mengecek suhu tubuhnya yang sudah mendingan tidak sepanas beberapa jam lalu. “Sayang ... sudah bangun.”
“Ayah ... Hanie ingin bertemu mama, Hanie rindu mama.”
Mungkin jika air mata Ares bisa jatuh saat ini juga, Ares akan lebih baik. Bagaimanapun ia hanya harus menahan tangisnya di depan Hanie, Ares tidak boleh meneteskan sebulir air pun. Hati Ares hancur ketika anak kesayangannya merindukan sang ibu.
“Segera baikan sayang. Nanti kita kunjungi mama bersama.”
“Ayah akan berjanji?”
“Emm ... Janji, ayah tidak pernah ingkar.” Ucapnya mantap dengan ibu jarinya mengusap pipi hangat Hanie.
Senyum Hanie membuat Ares merasa sangat lega. Ditengah kekacauan dan kekhawatirannya, senyum itu menyulap hitam menjadi pelangi seperti yang biasa mamanya lakukan padanya.
“Hanie harus sembuh, mama akan marah jika melihat Hanie masih sakit.”
•
Sore itu, Ares mengajak Hanie untuk menemui Ibunya. Di sebuah bukit dengan cahaya matahari langsung yang membuatnya hangat dan terang, sebuah pusara di atas bukit di pinggiran kota. Ares hampir setiap minggu datang kesini, Ares sengaja sendirian mengunjungi almarhum Hera karena ia tidak ingin Hanie terlalu rindu dengan sang Ibu.
Hera, aku kesini bersama malaikat kita, batin Ares dengan kaca mata hitam tersemat menutupi mata sayu yang sarat akan rindu. Hanie melepas gandengan tangan ayahnya dan cepat berlari mendekati pusara.
“Mama, Hanie datang bersama ayah. Hanie tahu mama pasti merindukan kita. Hanie sangat rindu, sangat sangat rindu mama.” Hanie meletakkan sebuket bunga berwarna putih di pusara dengan batu granit abu tua. “Hanie membawakan bunga lily kesukaan mama, semoga mama suka. Aku mencintaimu mama.”
“Mama juga mencintaimu sayang,” Ares menjawab ucapan Hanie seraya menguyak rambut Hanie pelan dan memeluknya dari belakang.
“Ayah ingin berbicara dengan mama?” Hanie menoleh kebelakang dan mendapatkan sebuah kecupan manis dipipinya. Hanie akan menunggu disana,” ia menunjuk sebuah bangku di bawah pohon hijau yang rindang. “Hanie tidak akan mengganggu.”
“Baiklah sayang, hati hati turun! Rumputnya licin.”
“Ya ayah.” Balas Hanie meyakinkan.
Beberapa saat Ares terdiam, menanggalkan kaca mata hitamnya dan mulai bicara. “Kamu merindukannya?”
“Aku merawatnya dengan baik kan? Malaikat kita telah tumbuh dengan cepat. Dia sangat mirip denganku, semuanya. yang mirip denganmu hanya bola mata coklatnya.” Ares melukis senyum. “Tapi dia cantik sepertimu. Sangat cantik dan manis. Dia juga kadang cerewet dan bawel, sama persis sepertimu.”
“Ra...” Ares menjeda ucapannya. “Aku merindukanmu, sungguh!” seketika darah Ares memanas, matanya mulai berair memikirkan kenangan mereka yang sangat manis ketika bersama dulu.
Ares buru buru menghela nafas berat mencegah air bening di matanya lolos ke pipi. menengadah ke langit dan membiarkan udara hangat menerpa wajahnya. Terdiam sejenak lalu melanjutkan perkataannya. "Apa kamu bahagia disana?” Fokus Ares kini beralih ke cincin yang terlalu nyaman melingkar di jari manisnya, sama sekali tidak ingin berpindah kemana pun. Sangat setia.
“Ya, kurasa kamu sangat bahagia disana. Kamu lebih memilih disana dan meninggalkanku disini. Kita bahagia ra, meskipun sangat kurang tanpa hadirmu. Tapi kita bahagia, aku akan menepati janjiku untuk hidup bahagia seperti yang kamu inginkan. Kuharap kamu juga bahagia disana, jangan memikirkan kita. Aku akan bekerja dengan giat untuk Hanie. Aku akan membuka toko bunga seperti cita citamu. Kamu sangat beruntung memiliki suami Sepertiku.” Ares membanggakan diri dan terdiam lagi. Lidahnya kelu setiap kali berbicara di depan pusara sang istri. Selalu menganggapnya ada, selalu menganggapnya belum pergi jauh.
“Ra, Aku mencintaimu ... aku ingin menjemput dan membawamu kembali kesini ... Jika bisa.” Kali ini sebulir air meluncur bebas disertai hembusan nafas tertahan. Ares menjadi sangat lemah dihadapkan dengan Hera. Hatinya melembut ketika mengingat nama yang sulit ia lupakan, dan memang tidak ada niatan untuk melupakannya meski pemilik nama itu telah tiada, Kembali lebih dulu ke pencipta. “Hera, terimakasih karena telah menjadi hangat di hatiku yang beku, terima kasih karena telah menjadi terang di gelapnya hatiku yang terlalu kelam. Hangat dan terang ini tidak akan hilang meski kamu tak ada lagi di sisiku. Meski sulit bagi kita untuk bertemu, aku berharap kita akan dipertemukan takdir suatu saat nanti. Benar, waktu cukup kejam padaku. Tidak ada yang lebih kejam dari memisahkanku denganmu, membuatku tidak bisa menemuimu, membuatku hanya semakin merindu dan semakin merindu.”
“Ahhh ... kamu selalu merubahku menjadi pria lemah dan cengeng.” Ares menoleh Hanie di bawah bukit yang ternyata telah tertidur di bangku kayu. “Hanie sangat nyaman di sampingmu, aku pasti akan kembali kesini. Langit sudah berubah menjadi jingga. Aku tahu kamu menyukainya, meski kamu lebih menyukai langit di awal pagi. Aku masih sangat mengingat semuanya tentangmu. Aku sudah janji tidak akan melupakannya. Kecuali otakku memang sudah tidak bisa lagi bekerja.”
“Aku terlalu nyaman di sampingmu. Aku harus kembali, Hanie tertidur dan perlu istirahat. Tidak ada habisnya jika berada di sampingmu seperti ini. Aku akan lebih sering datang dan membawakan bunga untukmu. Aku mencintaimu, sangat. Selamat tinggal sayang," pamit Ares pada akhirnya mengusap halus batu granit abu tua pusara Hera sebelum akhirnya melangkah pergi menyusul Hanie yang tengah tertidur.
“Hanie ... Hanie lelah?” bisik Ares memelankan suaranya. “Tetaplah tidur, ayah akan menggendongmu.” Seperti biasa, Hanie berlanjut tidur di gendongan Ares. Menempatkan nyamannya memeluk Ares mengalungkan tangan mungilnya di leher sang ayah dan membenamkan wajah manisnya di bahu kiri Ares. “Waktunya kita pulang, kita akan kembali lain kali.” Ares mengelus lembut rambut hitam Hanie penuh sayang dan kasih. Berjalan menuruni bukit yang terbuka dan beratapkan langit jingga. Berjalan setapak demi setapak berharap bahagia selalu bersamanya.
Sederhana, nyaman tidak harus mengharap lebih, cinta tidak harus mengharap lebih, sayang tidak harus mengharap lebih. Cukup aku tahu kamu juga menyayangiku aku sudah tidak perlu apapun. Naif, tapi tidak ... hanya menginginkan kamu ada, melihatmu tersenyum, melihatmu tertawa, membuatmu bahagia, memastikanmu tidak kekurangan apapun, aku cukup bahagia. Aku akan menitipkan cintaku padamu lalu kembalikan jika kamu sudah tak lagi menginginkanku.
Berapa banyak pagi lagi yang akan aku lalui tanpamu? Berapa banyak malam lagi yang aku lalui tanpa hadirmu? Semuanya serasa kosong dan sepi.
Jika aku seekor kupu kupu yang bisa terbang meski hanya dengan sayap rapuh, aku akan mengajakmu menangkap indah nya langit jingga di pagi dan sore hari. Aku akan membuatmu bahagia dengan caraku.
Daun daun di musim semi perlahan memudar, perlahan berubah warna, dan perlahan gugur terterpa angin. Gugur meninggalkan ranting ranting ringkih, gugur meninggalkan pohon yang sudah tidak mampu untuk menahannya, dan gugur menyisakan kenangan yang akan terulang di musim yang sama.
Namun tidak dengan cintaku, cintaku betahan meski berulang kali berganti musim, cintaku bertahan karena aku akan mengikat erat pada diriku. Aku tidak akan membiarkannya pergi, aku tidak akan membiarkannya menghilang. Aku akan terus bersama cintaku, hingga tubuh ini tumbang, hingga nyawa ini tak lagi kuat di raga yang telah menua.
“Aku mencintaimu Hera.”
Seperti orang bodoh, begitulah aku mencintainya. Seperti orang bodoh begitulah aku merindunya. -Ares
end ...