Vilo Quenby, seorang gadis manis yang terjera dalam posisi kesedihan. Akrab dipanggil dengan panggilan Vilo, gadis sad girl yang bersembunyi dalam senyum sejuta watt miliknya. Bukan tampa sebab dirinya menyembunyikan hal demikan, ia hanya tidak mau jika telah dikeluarkan semua yang telah Vilo pendam saat ini akan membuat dirinya menjadi jadi.
Ayah dan Ibu Vilo berpisah karena Ibunya yang ketahuan selingkuh dengan laki laki lain, setelah cerai Sesar Ayah Vilo memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Dari sinilah Vilo menjadi gadis yang seperti sekarang pendiam.
Orang yang paling dekat dengan Vilo kini telah meninggal dirinya ke Luar Negeri. Ibu? Vilo bahkan tidak mampu memanggil Rere Ibu Vilo dengan sebutan Ibu. Rere saja tidak menganggap Vilo sebagai anaknya, dan bahkan mengusir dirinya dari rumah.
Hampir setengah tahun setelah hal tersebut kini Vilo Quenby, menjadi gadis yang sedikit nakal karena kondisi posisinya. Vilo tinggal di salah saru Indekos milik Bibinya, gratis? Tentu saja tidak, ia harus membayar dua ratus ribu per bulan.
Vilo berjalan tertatih menuju gerbang sekolah yang telah sedikit tertutup karena memang ini telah memasuki jam pelajaran. Vilo melirik jam tangan transparan nya yang telah menunjukkan pukul 07.23 WIB.
"Mang Asep, tolong bukain gerbang dong!!, " pinta Vilo pada satpam yang bernama asep tersebut.
"Aduh, eneng lagi eneng lagi, nggak capek atuh neng dihukum mulu, telat terus, " seru Mang Asep.
"Yang namanya ngejalanin hukuman mah ya capek atuh mang!, " seru kesal Vilo. Nampak mang asep tidak mendengar seruan Vilo karena ia telah diberitahu KepSek untuk mencegah Vilo.
Vilo yang kesal dengan Mang Asep mulai membuat ulah yakni menggedor gedor gerbang besi tersebut, hingga membuat para mahasiswa dan mahasiswi yang tengah mengikuti pelajaran terganggu olehnya.
"VILO!!, " teriak seseorang dari samping depan Vilo. Membuat Vilo menghentikan tindakannya.
Dirinya kini berada di salah satu ruangan yang terdapat tulisan 'Kepala Sekolah' di pintu masuk depan, yaps ruangan kepala sekolah. Ambar dwi nama Kepala Sekolah tersebut yang kini telah berada duduk di depan Vilo.
"Kamu itu nggak tau yang namanya aturan, kamu dulu padahal murid teladan lho Vilo, sekarang kenapa jadi urakan kaya gini, " tanya Bu Ambar. Vilo diam tidak menjawab.
"Mau jadi apa kamu besok, perempuan kok nggak tau tata aturan sama tata krama, " serunya lagi. Dan Vilo masih terdiam diri dengan posisi yang sama berdiri di depan Bu Ambar. Kepala Sekolah tersebut berdiri berkacak pinggang di depan Vilo
"Kamu nggak pernah dikasih tau caranya mematuhi tata krama sama orang tua kamu, apa Ayah kamu nggak pernah ngasih tau mana yang benar mana yang salah, terus ibu kamu juga ngajarin kamu apa?, " seru Ambar. Lagi dan lagi Vilo masih membeku tidaj menjawab menahan rasa sesaknya mendengar kata Oranf Tua.
"Kalo saya tanya itu JAWAB VILO, " gertak Bu Ambar.
"Saya tidak begitu dekat dengan kedua orang tua saya Bu!!," lirih Vilo.
"Mana ada anak kok nggak deket sama orang tua itu lho, VILO VILO, " tegas Bu Ambar. Vilo diam menunduk memang dirinya tidak begitu dekat dengan orang tuanya. Dulu dekat dengan Ayahnya tapi semenjak ke luar negeri ia telah putus kontak dengannya.
"Sekarang ibu mau minta nomer ponsel orang tua kamu, siniin ponsel kamu!!, " ujar Bu Ambar, lalu mengambil ponsel IPhone di tangan Vilo dan mencari kontak Ibu Vilo lalu menghubunginya.
[TERSAMBUNG]
'Halo ngapain lho nelpon gue, mau minta uang ia, lo itu sukanya minta uang terus kerja sana jadi anak nyusahin orang tua mulu, kalaupun gue harus milih, gue nggak mau nglahirin anak seperti lho,' ujar seseorang yang terdapat di ponsel Vilo. Membuat kepala sekolah perempuan itu membeku melihat ke arah Vilo.
'Gue juga nggak berharap di lahirin sama lo, ' teriak Vilo menggema di ruangan tersebut hingga beberapa guru memasuki ruangan tersebut.
[PANGGILAN TERPUTUS]
Vilo mematikan panggilan tersebut, menunduk menahan isak tangisnya, menggigit bibir bawahnya. Pak Yanto guru IPA yang baru saja masuk karena mendengar teriakan mencoba bertanya kepada Bu Ambar tapi tidak dijawab, seolah olah menjadi bisu mendadak.
Suka minta uang? Nyatanya sudah berbulan bulan ini Vilo bekerja menjadi seorang pelayan di salah satu cafe dan tidak pernah meminta uang pada Ibunya. Mulai dari sepulang sekolah sampai nanti jam sebelas malam baru saja selesai atau tidak terkadang sampai subuh, karena cafe 24 jam.
"Vilo, kalo kamu ada masalah kamu bisa bercerita sama saya atau guru BK untuk ketenangan, " lirih Bu Ambar.
Vilo menangis sesenggukan lalu terkekeh dan tertawa keras membuat kedua guru yang terdapat di ruangan tersebut saling adu tatap. Di detik berikutnya Vilo menjerit sekuat kuatnya, menumpahkan apa yang selama ini iya pendam.
Vilo berteriak dan menjambak rambunya kuat hingga ada beberapa yang rontok, tidak tinggal diam ia juga menjatuhkan meja kayu kecil yang terdapat di sampingnya, berteriak dan menangis sejadi jadinya.
"Vilo, Vilo sabar nak, semua nya pasti ada jalannya, " seru Pak Yanto. Menenangkan Vilo yang sudah berantakan.
"Vilo sudah Vilo, istifar Vilo, " seru Bu Ambar melihat Vilo ingin menyayat tangannya dengan cater.
"ASTAFIRULLOH HALAZIMM!!, " sebut Vilo melempar cater tersebut, lalu tertunduk lemah karena telah meluapkan semuanya.
Ini alasan mengapa Vilo tetap diam dan nyaman di topeng selama ini. Sebab ia tidak ingin suatu saat emosinya sudah tidak terkendali lagi dan munculnya rasa ingin mengakhiri hidup. Depresi dimulai dengan kekecewaan. Ketika kekecewaan membanjiri jiwa kita, hal itu menyebabkan keputusasaan.
#Vilo Pov
Aku bosan mendengar semua kata orang, dan mulai berfikir bahwa kepedulian mereka semua itu omong kosong, ada beberapa orang yang menasehati, tapi yang kudengar hanya sabar.
Ya memang sabar jawabannya, tapi sabar bukanlah suatu hal yang dapat mengubahku lebih baik, ada pula yang berkata diriku kurang bersyukur “hei girl, you dont know about it” aku mulai kebal dengan kata-kata tersebut, jawabannya yang terbaik kala itu hanya diam, apakah jika bicara mereka akan mengerti? Jangan harap, mereka akan menyalahkan aku sebagai pokok masalah utama yang ada, jika sudah terlanjur seperti ini, apakah aku harus mengulangi tangisan seperti kemarin, aku sudah patah semangat apakah harus dipatahkan lagi hingga tidak bisa disambung kembali? Aku mulai berhenti mendengar apa yang mereka katakan.
Dan semuanya aku menyembunyikan semua bekas luka dengan sebuah kata kata “Saya baik-baik saja, " nyatanya aku tidak baik baik saja.
"Satu-satunya hal yang lebih melelahkan daripada depresi adalah berpura-pura bahwa Kamu tidak merasakannya."
[Sekian dan END]