Hai, ini sebuah isi hati yang tak bisa aku ceritakan namun mungkin bisa aku rangkai menjadi satu dua bilah kata yang indah.
Aku tidak tau ini akan menjadi puisi atau bukan, namun aku akan mengungkapnkan-nya disini.
Masih untuk seseorang yang sama, sama seperti cerita-cerita sebelumnya.
Aku ingin bertanya padanya, banyak sekali. (Bisa kah Tuan?)
Aku ingin berbicara hanya berdua tanpa ada siapapun dan tanpa gangguan dari apapun. (Bisakah Tuan?)
Aku ingin sekali bertemu, tapi tidak.
Aku belum siap untuk bertemu karena aku takut. Bukan!
Bukan aku takut akan hal lain, hanya saja aku takut jatuh cinta lagi padamu.
Wahai Tuan yang ku tanam dalam hati.
Mengapa engkau seperti ini? Dimana kau sekarang? Kau menghindar? Atau kau sudah memiliki seseorang pengantiku?
Tuan? Apa yang membuatmu seperti ini? Mengapa kau sangat jauh berbeda dari yang aku kenal? Apa itu semua karena aku Tuan? Kau jadi berbeda.
Tuan terlalu jahat jika kenyataannya kau akan bahagia dengan wanita lain di waktu yang begitu cepat setelah kau meninggalkan trauma yang begitu berat.
Apa kau sudah bahagia Tuan?
Aku disini menantikan jawaban itu. Banyak hal yang ingin aku tanya tapi aku tidak tau harus bagaimana, banyak yang ingin sampaikan kepadamu namun kau menghindar.
Hahaha.
Apa semua laki-laki seperti itu?!
Hahaha.
Apa karena sekarang aku terlalu seperti ini?
Hahaha.
Apa karena sampah yang kau buang tak akan pernah kau ambil lagi?
Atau
Karena semua sudah habis?
Aku mengira kau berbeda karena ucapanmu yang dulu selalu berulang dan aku PERCAYA!
Bodohnya diri ini.
Tuan, sekarang kau menganggap aku sebuah sampah kan? Seperti layaknya permen karet.
"Ketika manisnya masih ada kau terus mempertahankannya namun setelah manisnya hilang dan menjadi hambar kau membuangnya ke sembarang tempat."
•
•
Aku kecewa Tuan.
Namun aku tidak dendam apalagi membencimu, entah mengapa.
Mungkin Tuhan mentakdirkan hatiku yang begitu tulus untuk dirimu sehingga aku tidak bisa membencimu apalagi sampai dendam denganmu.
Aku hanya TRAUMA.
Tapi tenang saja Tuan, aku tau bukan diriku yang kau mau? Bukan aku yang akan menjadi pilihanmu, bukan aku yang akan menjadi takdir cintamu.
Aku hanya mengingatkan ucapanmu yang lalu, "Takdir karma itu berlaku, saya takut itu terjadi ke keluarga saya."
Berhati-hatilah Tuan karena kau telah melangkah jauh dari apa yang kau genggam dan dari apa yang kau ucapkan.
Aku berharap takdir baik menyertaimu dan aku hanya ingin memberi tahu kalau setelahmu tidak ada lagi orang baru.
"Cintaku telah habis di kamu dan hanya kamu, jika di kehidupan selanjutnya aku masih bertahan dan aku menemukan seseorang, aku hanya melanjutkan kehidupanku saja."
"Karena sesuai janjiku, cintaku akan aku habiskan untukmu."
Terkesan bodoh, tapi aku tidak peduli dengan sesiapapun yang memperdulikan aku.
Aku terlalu hitam untuk langit biru dan aku terlalu abu-abu untuk putih. (Kotor)
Mana janjimu TUAN? Kau tidak menepatinya. Hahaha bodohnya aku masih menanti janjimu, lagi dan lagi.
Sudahlah, aku kan melepasmu. Tidak. Berbahagialah Tuan karena aku tau kamu tidak menginginkan sampah seperti aku.
Berkelanalah Tuan, biar aku. Biar aku yang jatuh ke jurang terdalam itu dan mengubur semua ekspetasi yang pernah aku buat.
Terima kasih Tuan.
Tapi bolehkah aku menjeda dulu baru melepaskan? Aku ingin menjeda perasaan ini hingga aku dapat kabar darimu kalau kau telah bahagia bersama pilihanmu.
Tuan, berhati-hatilah dalam langkahmu saat ini. Kecewanya hati ini tidak main-main dan tunggulah saja permainan dari tuhanku untuk mu Tuan.
Berbahagialah tanpa aku, karena perempuan gila seperti ini tak pantas mendapatkan cintamu.
Aku mencintaimu, namun aku tidak lagi menggenggam tanganmu biarkan aku menunggu di belakangmu.
Bisakah kau membaca ini?
-[untuk Tuan yang terkubur dalam hati]-
-[Dari aku sampah yang tak bersih]-