Gadis itu berdiri di depan pagar rumah panggungnya...
Banyak rumor yang beredar tentang rumah panggung di pinggir jalan setapak yang sudah sangat jarang di lewati orang-orang itu yang sering ku dengar. Katanya, dulunya sebuah keluarga kecil hidup di sana.
Rumah panggung bergaya khas sunda. Di tinggali oleh seorang kepala keluarga bernama Dadang, Istri yang tengah hamil bernama Dijah, dan seorang gadis perempuan yang katanya seumuran denganku, namanya Imas. Dan perlu diketahui bahwa umurku kini 16 tahun.
Hidup mereka baik-baik saja. Atau mungkin itu yang terlihat dari luar kurasa. Suatu hari Dijah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Acep. Anak laki-laki itu melahirkan secara normal. Dan Imas pun ikut membantu persalinan bersama beberapa warga. Juga di hari-hari berikutnya, Si bayi selalu di asuh oleh Imas ketika orang tuanya harus pergi ke ladang atau ke sawah. Dan tentu pekerjaan Imas selain mengasuh bayi juga harus mengurus rumah. Itulah keseharian mereka.
Hingga suatu hari, ketika seorang warga sekitar hendak melewati rumah itu, Ia mendengar Si Bayi menangis menjerit. Warga itu memastikan apa yang terjadi dengan mengetuk pintu rumah. Pintu pun di buka Imas dengan menggenggam pisau yang berlumuran darah.
"Oh, ini. Saya hanya memotong jari tengah Acep sama alat kelaminnya. Karena Acep sebentar lagi disunat kelaminnya. Tapi dia rewel, jadi saya sunat sekarang saja. Siapa tahu dia diam. Tapi masih saja."
Imas menatap sebuah jendela di samping kanannya, gadis itu tersenyum miring, “Sekarang sudah tidak."
Warga itu syok, begitu pun Aku yang tak sengaja mendengar cerita itu di sebuah warung kopi dari kumpulan Bapak-bapak. Apa Dia psikopat? Kenapa bisa seperti itu?
Tak sampai situ saja. Ku dengar lagi dari teman-teman baruku di kampung ini, karena aku anak pindahan dari kota. Bahwa setelah kejadian itu Acep (Si Bayi) meninggal. Dan Imas katanya di aniaya oleh orang tuanya karena (bisa dibilang) membunuh Acep. Imas dikurung di kamarnya. Dan hanya di beri makan sekali sehari. Aku merasa kasihan membayangkannya. Pasti ada yang salah dengan gadis itu. Kurasa lebih baik Imas di bawa ke tenaga profesional daripada dikurung dan di anggap gila. Tapi aku juga bisa maklum, bahwa orang-orang kampung masih tidak tahu soal kejiwaan. Mereka cenderung lebih percaya dukun.
Dan kembali lagi pada Imas, beberapa hari kemudian warga melihat gadis itu berkeliaran di ladang orang lain sedang mencabut pohon singkong. Di malam hari ketika memang beberapa dari mereka terbiasa menginap di ladang. Menurut kesaksian warga, Imas ditemukan saat itu mengenakan gaun putih yang panjangnya sampai ke tungkai kaki. Dan karena mencuri, Dia di kejar-kejar warga. Hingga di pukuli massa. Tapi tak lama, orang tuanya datang. Dan menyeret si gadis. Benar-benar diseret.
Ketika orang tuanya melihat ke kamar Imas, ternyata Imas melubangi bilik kamarnya sendiri yang memang terbuat dari anyaman kayu dengan pisau yang entah dari mana. Itu di akui sendiri oleh Imas.
Dan tak cukup sampai situ aku mendengar gosip tentang rumah Panggung di pinggir jalan setapak itu. Katanya ketika Dadang mencari benda tajam di kamar Imas, anak gadis itu menikam ayahnya sendiri di tengkuk. Dan membenturkan kepala ibunya ke tiang kayu beberapa kali hingga meninggal.
Aku menggeleng, merasa mual ketika mendengar semua itu. Cerita-cerita itu terus terngiang sebelum tidur hingga terbawa ke alam mimpi. Aku tak sanggup lagi. Tapi katanya aku harus tenang. Karena Imas sudah meninggal di rumah panggung itu.
Bunuh diri. Tiga tahun lalu.
Dan itu sama sekali tidak membuatku menjadi lebih baik.
Karena banyaknya tragedi yang terjadi di rumah panggung itu, warga sekitar banyak tak berani untuk menggunakan jalan setapak yang katanya dulu ramai di lewati orang. Mereka percaya bahwa rumah itu angker.
Tapi dengan semua cerita itu, Aku sudah beberapa kali melewati rumah panggung itu di siang hari tapi tak merasakan apa pun. Aku bahkan berani menatap rumah itu, tak melihat sesuatu yang aneh. Hanya seperti rumah kosong pada umumnya.
Aku menceritakan hal itu kepada teman-teman baruku. Keheningan menyelimuti kami bertujuh ketika masing-masing dari Kami memikirkan kejadian ini. Lalu sebuah ide tercetus dari salah satu temanku yang bernama Maman, Dia bilang, “Bagaimana kalo Kita uji nyali saja? Kita datangi rumah itu saat malam untuk membuktikan rumah itu angker atau tidak.”
Aku menggeleng sepelan siput, ”Gak mau. Takut, ah”
“’Kan ada Kita. Tidak perlu takut. Aman..., Kamu sendiri yang bilang Kalau rumah itu seperti rumah biasa ‘Kan? Jadi ayo Kita buktikan!”
Walaupun enggan tapi disinilah Aku. Setelah menunaikan ibadah salat isya. Aku dan enam temanku kini berada di menatap rumah panggung itu yang memang terkesan lebih angker saat malam. Aku cukup takut sampai rasanya berat untuk bernapas dan kakiku berat untuk di angkat.
“Hey, Kita pulang aja, yuk. Takut tau.” Ajakku pada Mereka.
“Eh, jangan begitu. Sudah kepalang tanggung.” Balas Maman yang sedari awal memang antusias atas idenya sendiri. Dan sialnya disusul persetujuan teman-teman yang lain.
Aku meneguk ludah dengan susah payah.
“Kita jalan-jalan saja. Tapi harus beda-beda arah. Kalian jalan berdua aku jalan sendiri.” Ujar Maman.
Aku patuh-patuh saja atas ide Maman. Tak berani jika harus berjalan sendirian di rumah panggung dengan banyak rumor mengerikan tentangnya.
Akhirnya Kami berpencar. Dan Aku dan temanku memilih untuk berjalan ke halaman belakang. Kami tak berniat masuk ke dalam rumah karena memang tak bisa masuk. Pintunya di kunci dari dalam.
Entah berapa lama kami berjalan-jalan. Tapi tak ada apapun. Hanya kegelapan mencekam yang mengelilingi rumah panggung itu yang tak bisa di redakan dengan cahaya senter di tangan masing-masing dari kami.
Kami menyerah. Tak melihat apapun yang aneh yang berhubungan dengan hal supernatural. Hanya memang sesekali suara hewan malam yang membuat jantungan. Kami bertujuh memutuskan untuk pulang.
Namun ketika rumah panggung itu ku tinggal di belakangku. Hawa dingin aneh menyentuh tengkukku membuatku menoleh ke arah rumah. Dan walau yang kulihat hanya kegelapan, Aku merasakan sesuatu menatapku dari sana.
°°°°°°
Setelah malam itu, Aku menjadi lebih berani untuk melewati rumah panggung itu. Walau keberanian itu hanya sampai jam tiga sore. Namun kali ini, Aku harus melewatinya lebih dari jam tiga. Aku melihat jam tanganku dan pukul 17:03 wib tertera disana. Yang kulakukan hari ini sebenarnya hanya berkumpul dengan teman-temanku dan mendapat kabar bahwa salah satu temanku yang perempuan merantau ke Jakarta untuk menjadi seorang asisten rumah tangga.
Aku agak menahan napas ketika harus melewati rumah panggung itu. Dan langkahku secara otomatis terhenti ketika melihat seseorang berdiri diam beberapa meter di depanku.
Gadis itu berdiri di depan pagar rumah panggungnya. Mengenakan gaun panjang putih hingga tungkai kaki yang sangat lusuh.
Dengan pisau yang berlumuran darah di tangannya...
Lalu perlahan, Aku mendengar suara keretek aneh ketika wajahnya yang tertutup rambut menoleh kepadaku dengan senyum miring.
Aku membeku. Benar-benar membeku. “Kamu..., Kamu Imas ‘kan?” Suaraku gemetar, namun aku heran, Dari mana Aku mendapatkan keberanian ini?
“Ikut aku...”
Aku tak bisa bernapas ketika pisau berlumuran darah itu di acungkannya dari jarak yang jauh kepadaku, gadis itu bicara dengan suara lirih, “Kamu harus mati.”
Untungnya entah kekuatan darimana kakiku punya kekuatan untuk berlari ketika Gadis itu mendekatiku. Namun Aku langsung merasakan sakit yang teramat sangat ketika rambutku di tarik ke belakang. Dan entah karena keberuntungan apa pula, Aku berhasil berkelit ketika Ia melayangkan pisau itu padaku.
Pisau dengan bau amis menyengat.
Aku menendang kakinya dan Ia mengaduh kesakitan. Tanpa membuang waktu, Aku berlari pontang-panting melewatinya. Di dorong oleh rasa takut dan adrenalin yang luar biasa. Setelah sampai ke rumah Nenekku dengan napas terengah-engah dan syok. Aku baru menyadari satu hal.
Gadis tadi itu belum mati. Imas belum mati?
°°°°°°°
Seorang warga di temukan tewas di ladangnya dengan beberapa luka tusukkan di tubuhnya. Itu berita yang menggemparkan seluruh warga di kampungku paginya. Dan intuisiku mengatakan bahwa gadis itu pembunuhnya.
Intuisiku bisa saja salah.
Tapi Imas masih hidup. Dia jelas menyerangku kemarin. Aku bergidik ngeri mengingat hal itu. Ke mana Dia selama ini? Kalau yang kemarin memang Imas lalu yang katanya bunuh diri tiga tahun yang lalu itu siapa? Dan kenapa menyerangku?
Bukankah Aku hanya orang baru yang tak tahu apa-apa?
Aku tak pernah melewati jalan itu lagi.
Aku mengambil jalan memutar yang memang sering di lalui orang-orang. Dan kematian orang yang tewas oleh luka tusukkan semakin banyak. Kalau tidak dua hari ya tiga hari sekali. Dan korbannya pun acak. Tak mengenal laki-laki atau perempuan, tua atau muda, sehat atau sakit. Yang pasti mereka mati karena di tusuk.
“Cuk, Emak pergi ke ladang dulu, ya. Mau mengantar bekal Kakekmu.”
Aku langsung waspada, “Nenek, sekarang banyak kejadian, lebih baik Kakek di suruh pulang aja. Nanti kenapa-napa.”
Nenek tersenyum lembut lalu tangannya mengusap lenganku, ”Kakekmu baik-baik saja. Kalau soal ajal siapa yang tahu. Kalau memang waktunya seberusaha apapun Kita mencegah kematian tetap bisa menjemput, Cuk. Nenek pergi dulu.”
Aku membuka mulut lalu menutupnya kembali.
Aku selalu tak bisa berkutik atas perkataan Nenek dan Kakek. Aku menghela napas dan menghembuskannya pasrah, “Semoga mereka pulang dengan selamat.”
Setelah membereskan dapur, Aku berniat membaca buku yang kubawa dari kota. Sebelum aku mendengar jendela dapur yang di ketuk beberapa kali dengan pelan. Aku mematung menatap jendela yang di tutupi gorden itu. Dan sialnya, Aku baru sadar,
Jendela itu terbuka.
Bulu kudukku meremang
“Siapa disana?”
Ketukan itu berhenti. Dan Aku tetap bergeming.
“Ikut aku...”
Aku sontak berbalik mendengar bisikkan itu tepat di telingaku. Jantungku berdegup kencang hingga seakan terasa sakit. Napasku memburu.
Tapi tak ada apa-apa.
Aku terlonjak kaget menatap ke arah jendela
Jendela tak lagi di ketuk tapi di gedor keras-keras. Aku berjalan mundur menatap jendela itu. Tak ada bayangan manusia disana.
Prang!!
“Aaaaaaahhhh!!!”
Gadis itu menaiki jendela dengan gerakan aneh. Lalu merayap di lantai. Aku langsung berlari ke pintu depan. Namun tepat saat itu juga. Semua lampu di rumah padam. gelap pekat.
Aku menjerit ketakutan dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Tak ingin melihat apapun lagi. Kakiku kini terasa lemas untuk melangkah, “Kumohon... Aku gak punya salah apa-apa. Tolong berhenti. Imas... Aku mohon...”
Aku tak mendengar apapun lagi. Hanya deru napasku dan suara jam dinding. Entah berapa lama aku mematung dengan masih menutupi wajah. Yang jelas, Aku tak mau melihat sesuatu yang mengerikan lagi.
Tok! Tok! Tok!
“Cuk, Ini kenapa pintunya di kunci? Cuk, buka, Cuk. Ini Nenek. Kata Kakekmu terjadi sesuatu sama Kamu. Cuk, Kamu baik-baik saja? Cuk, buka pintunya!”
Nenek? Nenek!
Aku langsung membuka tanganku, dan wajah tertutup rambut itu hanya beberapa inci dari wajahku, menyeringai lalu darah mengalir dari mulutnya, dua lubang yang seharusnya menjadi tempat bola mata itu kosong, bau amis menyeruak dari gadis itu membuatku mual,
”AAAAKKKHHHH!!!”
“Akh!”
Gadis itu mencekikku. Dia mendorongku hingga ke dinding. Aku berusaha melonggarkan cekikannya. Namun tak bisa. Kekuatannya tak sebanding padahal sesama perempuan.
Imas mengangkatku, Aku meronta-ronta ketika paru-paruku meminta udara, “I...kut Aku..., Ik...ut Aku..., Iku...t A...ku...”
“Ne...Nek... to..., lo...ng...”
Aku akan mati..., Aku yakin akan hal itu karena semuanya menggelap.
°°°°°°°
Aku melihat seorang gadis yang lewat di depan rumahku. Padahal tak ada yang berani lagi melewati rumah ini karena Aku. Tapi Dia terlihat tidak takut. Dia... tak akan pernah takut padaku ‘Kan? Aku hanya membutuhkan seorang teman untuk menjelaskan semua yang kulakukan. Aku tidak jahat atau gila. Aku hanya... tak bisa menjelaskan semuanya...
Tapi Dia takut. Sama seperti yang lainnya.
Gadis itu harus mati.
Kelopak mataku terbuka. Aku sontak terduduk. Aku berada di kamarku di rumah Nenek, masih bernapas dan masih hidup. Lalu apakah yang tadi itu mimpi?
“Cuk, Alhamdulillah kamu sadar, Nak.” Nenek yang datang ke kamarku tiba-tiba memelukku dan ku tahu Dia menangis,
”Maafkan Nenek yang meninggalkan kamu sendirian. Kalau Kakek tidak segera datang Nenek tidak tahu apa yang akan terjadi pada Kamu, Kaverlina...”
Aku pun ikut menitikkan air mata. Namun Aku sadar ini bukan karena Nenek, tapi karena Aku bermimpi menjadi gadis itu.
Menjadi Imas.
Aku balas memeluk Nenek lalu menangis sejadi-jadinya. Imas selama ini memendam semuanya sendiri. Dia hanya butuh di mengerti. Dia butuh seseorang yang mau mendengarkannya.
“Nenek, Imas masih hidup?”
Nenek melepaskan pelukannya, lalu menatapku dan menggeleng, ”Tidak, Nak. Gadis itu sudah meninggal di rumahnya.”
Dahiku berkerut tak mengerti.
“Gadis yang datang ke rumah ini bukan Imas. Dia anak Pak Sodik. Dia di rasuki Imas.”
Mulutku terbuka. Anak Pak Sodik, Anita. Dia yang mengatakan akan merantau ke Jakarta untuk menjadi asisten rumah tangga.
Bagaimana Anita bisa di rasuki Imas?
“Apa itu berarti...”
“Dia juga yang membunuh warga-warga disini.”
°°°°°°°°°