"Kau mau membelinya?" tanya Diana padaku, kami sedang berada di toko aksesoris yang menjual berbagai barang-barang lucu. Diana suka sekali membeli barang itu yang menurutku tak ada gunanya, ayolah kami bahkan sudah berumur 25 tahun, masa remaja sudah lewat, atau hanya aku saj yang tak suka benda-benda imut itu?
"untuk apa?" aku berbalik bertanya padanya yang sedang memilah-milih barang, "ini namanya Dream Catcher. Orang bilang, jika kau memajangnya di kamarmu kau pasti akan mimpi indah," jawabnya dengan nada riang. Aku memutar bola mata jenuh, "itu mitos!" sergahku berbalik, "cepat selesaikan belanjamu, ayo kita pulang. sudah sore dan besok hari senin, ku harap kau tak lupa." aku meninggalkan Diana yang masih memilih Dream Catcher dan mengabaikan ucapanku.
***
Paginya di kantor, Diana menghampiriku dengan senyum cerahnya seperti biasa, lalu memberikanku sebuah kado berwarna merah muda dengan tali berwarna merah mencolok, aku menatapnya heran. "ini bukan hari ulang tahunku, kau tahu?"
ia tersenyum dan menjawab, "tentu. Aku sengaja membelimu ini, bukalah." desaknya, aku pun menerima kado itu dan membukanya. Aku mengernyit menatap isi kado tersebut lalu menatap sahabatku, Diana. "apa maksudmu?"
lagi-lagi ia tersenyum, "kau kan sering mimpi buruk dan berakhir tak tidur, maka dari itu kemarin aku memilih Dream Catcher yang bagus untukmu, agar kau bisa mimpi indah. pasang di kamarmu dan JANGAN DI BUANG." ia memperingatiku lalu pergi begitu saja.
Aku memandang Dream Catcher pemberian Diana, membuatku tersenyum geli, "dasar. Zaman sekarang kau masih percaya mitos." aku menggelengkan kepala mengingat Diana yang menurutku aneh, lalu menyimpan hadiah darinya dan lanjut mengerjakan pekerjaanku.
***
Malam tiba, aku berbaring di ranjang empukku berselancar di jejaring sosial demi mencari hiburan guna menyingkirkan rasa lelah dan penat seharian bekerja, lantas aku mengingat kado dari Diana. Aku bangkit lalu mengambil Dream Catcher itu dari dalam kado, menatapnya dan kemudian memasangnya di dinding kamarku, Dream Catcher itu menyala dengan indahnya membuat kamarku sedikit lebih indah.
"baiklah, kita lihat apa ini bekerja?" ucapku pada Dream Catcher di hadapanku, kemudian mulai berbaring dan pergi tidur.
***
Di kantor, aku menghampiri meja Diana yang sedang mengerjakan pekerjaannya. "hey Diana, kau bilang itu bekerja. Mana? Aku tak mimpi apapun," protesku. Sesaat aku melihat raut bingung pada wajahnya, kemudian ia menatapku seakan mengerti dan menjawab, "setidaknya kau tak mimpi buruk kan?" jawabnya dengan cengiran bodoh di wajahnya. Ingin rasanya ku gampar wajah sok manisnya itu, dan bodohnya aku mempercayai mitos yang disampaikan Diana. Aku kembali ke mejaku dengan sebal, lalu beraktivitas seperti biasa.
***
Malam pun tiba, aku memandang Dream Catcher itu dengan sebal, juga merutuki kebodohan ku yang begitu saja percaya ucapan Diana, menyebalkan.
Aku kemudian pergi tidur, lagi. aku tak bermimpi apapun.
aku semakin percaya bahwa itu hanyalah omong kosong, ini pemberian Diana, aku tak tega membuangnya meski ingin. Bagaimana pun, kami bersama sejak lama, dan mulai dekat satu sama lain, jadi aku terbiasa dengam benda itu di kamarku pada akhirnya, meski katanya aku akan mimpi indah hanyalah omong kosong, aku tetap menyimpannya.
Hari-hari berlalu dengan baik bagiku, tak ada masalah apapun kecuali masalah keuangan yang sering sekali membuat stress terlebih aku tinggal sendiri di sebuah apartemen kecil, akhir bulan memang menyebalkan.
Malam hari hujan turun, aku menyelimuti tubuhku sambil meminum coklat hangat dan menonton drama di televisi, benar-benar sempurna menurutku. Aku menonton sampai aku mengantuk, mematikan televisi dan pergi tidur, karena di luar hujan, suasana di kamar begitu hangat dan nyaman. Aku mencari posisi yang nyaman untukku berpetialang ke alam mimpi, ketika aku menemukannya aku tertidur.
***
Aku membuka mataku, lalu terkejut. 'dimana aku?' batinku, menelisik tatapanku ke seluruh penjuru tempat ini. Seperti di negeri dongeng, banyak hamparan bunga yang indah sedang bermekaran juga bukit-bukit yang berwarna hijau menyegarkan pandanganku.
'indah,' batinku, "apa aku bermimpi?" ucapku pada diriku sendiri, masih dengan menatap indah pemandangan di hadapanku.
"menurutmu ini mimpi bukan?" seseorang menyahuti ucapanku membuatku terkejut. Aku menoleh kesana kemari mencari siapa pemilik suara itu. "aku di belakangmu," ucapnya, aku berbalik dan semakin terkejut.
'ya Tuhan, makhluk tampan' batinku, menatap pria yang berada di hadapanku. Pria tinggi dengan wajah yang sangat tampan, hidung tinggi, mata yang sedikit sipit serta tubuhnya yang atletis membuat dirinya terlihat proporsional. Aku masih menatapnya dengan takjub, ia menggerakkan tangannya di hadapanku, kemudian aku tersadar. Dengan malu aku menjawab, "aku merasa ini mimpi," ia tersenyum "bagaimana kalau ini adalah nyata?" ia menatapku dengan tatapan lembut yang sukses membuat degupan pada jantungku menguat.
"tidak mungkin!" bantahku
"mungkin saja," ia berbalik meninggalkanku dan kemudian aku terbangun. Aku masih terkejut dan bertanya-tanya, apa itu mimpi? mengapa seperti nyata? Aku menatap jam si dinding, lalu bergegas berangkat kerja, aku tak boleh terlambat.
Sampai disana, aku tak menceritakannya pada Diana, meski sebenarnya ingin tapi aku belum siap, jadi aku berusaha seolah-olah tak terjadi apapun. Aku meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah mimpi, meski hatiku berkata itu nyata, mungkin itu pengaruh Dream Catcher.
***
Hari berlalu dengan cepat, mimpi itu terus berlanjut, dimana aku mengetahui bahwa pria itu bernama Rio, dan entah sejak kapan kami mulai menjadi dekat. Rio sering sekali datang di mimpiku, dan mimpiku terus berlanjut seperti aku menjalani hariku dengan biasanya.
Malam ini Rio mengatakan bahwa aku akan menemuinya dengan nyata, bukan dari mimpi. Tentu hal itu membuatku menjadi sangat penasaran, aku menunggu saat itu tiba, dengan senang aku bertanya kapan aku akan bertemu dengannya, lalu ia menjawab di hari minggu, ia menyuruhku datang ke caffe dekat apartemenku di jam 7 malam, dan aku senang mendengarnya. Hari ini hari jumat, itu artinya aku akan semakin cepat bertemu dengan Rio yang sesungguhnya. Mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa aku gila karena mempercayai orang yang selalu datang di mimpiku, tapi aku tak peduli. Aku menyukainya.
***
Hari berlalu, dan tepat di hari ini adalah hari minggu malam. Aku menatap pantulan diriku di cermin, berputar kesana kemari melihat penampilanku, sejujurnya ini kali pertama aku berkencan lagi, aku sudah lama tidak berkencan, terakhir ketika aku masih duduk di bangku kuliah saat berumur 20 tahun, sekarang aku sudah 25 tahun, lama sekali kan?
Tunggu dulu? Apa aku tadi bilang kencan?
Aku pergi keluar apartemen menuju caffe, tepat di jam 7 aku sampai di caffe itu, kebetulan caffe itu sedikit pengunjung, aku mengedarkan pandanganku menelisik apakah Rio sudah sampai, ternyata tidak ada Rio. Aku berfikir bahwa ia belum sampai, jadi aku memesan makanan juga minuman sebagai teman menunggu. Aku duduk dengan manis di salah satu kursi disana, menatap ke jalan yang kebetulan dindingnya terbuat dari kaca, jadi aku bisa memandangi orang yang tengah berlalu-lalang sembari menyesap coffe latte ku, menikmati manisnya coffe di setiap tegukkan membuat hariku semakin indah.
Entah sudah berapa lama aku menunggu, hingga membuatku jenuh. Aku menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangan kiriku, sudah pukul 10. Sebentar lagi caffe nya akan tutup, aku sudah menghabiskan uang ku untuk membeli makanan, berharap Rio datang.
Aku menunduk, menyadari kebodohanku. Rio hanyalah makhluk mimpi, tak mungkin ia nyata dan menemuiku. Bisa jadi ia menemuiku di caffe dalam mimpi? Tapi aku malah menuju caffe di dunia nyata, aku tersenyum bodoh. Aku benar-benar bodoh!
Aku beranjak dari dudukku meninggalkan caffe itu, sebelum pegawainya menegurku karena aku belum pulang. Aku kesal dengan diriku yang bodoh, aku berjalan dengan langkah kecewa, menunduk memandang flatshoes yang ku gunakan, berkali-kali aku menghela nafas berat. Hari yang buruk dan bodoh bagiku.
"Kau benar-benar Bodoh!" ucapku sedikit berteriak.
"siapa yang bodoh?" seseorang menyahut, membuatku terkejut. Ya ampun, apa yang sudah ku perbuat? pasti orang itu menganggap aku gila? atau menganggapku tak sopan karena tiba-tiba mengatakan "bodoh"
Suara itu berada di hadapanku, aku memandang sepatunya, ia memajukan langkahnya hingga berdekatan denganku. Aku tak berani menatapnya, karena aku malu.
"Siapa yang bodoh, Arin?" tanya pria itu lagi. Aku terkejut, masih diam mematung memandang trotoar dengan gugup, aku mengenal suaranya. Apa aku sedang berhalusinasi? Aku menggeleng kepalaku, ya aku pasti berhalusinasi.
"hey, hentikan. Kau akan pusing," ucapnya. aku menurutinya, terdiam masih dengan diriku yang terkejut. Dengan memberanikan diriku, aku menatap pria itu. Saat manik mata kami bertemu, aku menganga seakan tak percaya dengan apa yang ku lihat. Aku mencubit kedua pipiku dengan keras.
"Awhh" rintihku, sakit. Ini nyata?
Pria itu tertawa memandangku, "ini nyata. Berhenti merutuki dirimu, kau tidak bodoh. Maaf aku terlambat, ada sedikit drama di perjalanan aku menuju caffe," ucapnya
"kau benar-benar Rio?" tanyaku masih tak percaya. Ia menundukan sedikit kepalanya sejajar dengan wajahku, "coba pegang wajahku," pintanya, aku menuruti perkataannya, 'nyata' pikirku.
"masih tak percaya? bahkan tadi kau mencubit pipimu sendiri," aku menatapnya mematung,
"bagaimana bisa, kau di mengenalku di mimpi, kemudian kita bertemu di dunia nyata?" tanyaku
"entahlag, mungkin takdir. Mau kuantar pulang? sudah malam." lagi-lagi aku menurut dan berjalan sejajar dengannya menuju rumahku.
***
Waktu berlalu dengan cepat, hubungan kami semakin dekat, bahkan saat ini aku duduk di samping Rio, menatap senang kepada tamu undangan, ya benar. Aku sudah menikah dengan Rio, pria yang ku temui di mimpi, aku menatap kagum padanya, ia semakin tampan dengan balutan tuxedo putih yang melekat pada tubuhnya, benar-benar tampan.
Diana, sahabatku menghampiriku. Memeluk dan mengucapkan selamat atas pernikahanku, aku berterimakasih padanya kemudian berbisik. "Aku percaya sekarang. Dream Catcher bisa membuat kita bermimpi dengan sangat indah. Bahkan saking indahnya, mimpi itu sekarang menjadi nyata."
Diana terkejut, menatapku dan Rio. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu aku menceritakan padanya selesai pesta. Ia tertawa, bahkan sejujurnya ia pun tak mempercayai hal itu tapi sekarang ia mulai percaya ketika aku menikah dengan seseorang yang berada di mimpiku.
Aku menatao Dream Catcher yang ku pasang di dinding kamarku dan Rio, memegangnya kemudian tersenyum, "terimakasih Dream Catcher, mimpi itu menjadi nyata bagiku, dengan segala kebodohan yang ku percaya pada mitos tentangmu,"
"siapa yang bodoh?" tanya Rio yang berada di belakangku, aku menoleh, "tidak ada yang bodoh, yang ada hanya kau, aku dan Dream Catcher ini," ujarku, Rio memelukku "katanya, itu bisa membuatmu mimpi indah," bisiknya. "tentu." aku tersenyum menatapnya, dan kemudian kami berpaut, menyalurkan rasa cinta yang berada di hati masing-masing.
Kisah cintaku malam itu, yang di saksikan oleh Dream Catcher pemberian Diana, yang sudah mempertemukanku dengan Rio, suamiku.
- TAMAT -