Gedung ini sedang di penuhi oleh banyak orang yang ikut berbahagia atas pernikahan seorang CEO sukses yang banyak membuat orang iri akan kesuksesannya.
Sedangkan anak sang CEO ini duduk sambil menunduk, dirinya amat tak menyukai acara ini bahkan berharap untuk segera pulang.
Suara merdu dari sebuah piano yang sedang dimainkan oleh seorang pemuda tampan.
Melodi yang indah mengambil atensi anak tunggal sang CEO yang sejak tadi menunduk tak ingin menatap siapapun.
Dirinya jadi teringat saat dulu dia bermain piano dengan giat namun harus berhenti karena ayahnya yang ingin dirinya lebih fokus untuk belajar menjalankan perusahaan.
Haechan agak heran karena sang pianis beberapa kali kedapatan melirik dirinya yang sedang menikmati melodi indah tersebut.
Semua orang terpukau dengan melodi tersebut hingga melupakan kedua mempelai yang saling menyuapi kue di depan mereka.
Sampailah saat acara selesai, Haechan si anak tunggal berniat mencari sang pianis untuk di ajak mengobrol, siapa tau dia juga bisa bermain piano kembali.
Hingga dia tiba di tempat yang agak sepi.
"Maksud lo apa ha?! Tau diri dong! Lo gue undang kesini, gue bayar cuma buat mainin piano biar acara gue bagus bukan malah ambil perhatian orang-orang! Harusnya gue yang bersinar malam ini! Harusnya gue yang jadi pusat perhatian!" Sang mempelai wanita terus saja memukul-mukul pundak si pianis yang hanya bisa diam menerima semua perkataan darinya.
"Kar, aku ma--
--Stop manggil nama gue! Lo disini sebagai tukang main piano bukan kenalan gue walaupun lo mantan gue!" Karina menatap tajam pemuda itu dan ingin pergi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Haechan yang berdiri sambil menatap datar padanya.
"Eh Haechan, ngapain disini sayang? Ayo balik ke dalam ketemu daddy." Si gadis hendak menggandeng Haechan yang kini resmi menjadi anaknya juga.
"Kita kenal?" Haechan lalu berjalan melewati si gadis dengan sengaja menabrak pundaknya dengan lumayan kencang.
Dia hampiri pemuda yang sejak tadi hanya bisa diam dengan tatapan sedih.
"Ajarin gue main piano biar keren kayak lo." Ucapnya langsung sambil menatap lurus pada si pemuda.
•
•
•
•
"Katanya mau belajar main piano?" Tanya si pemuda yang heran karena dirinya malah di bawa ke taman di luar gedung.
"Nanti aja." Jawab Haechan sambil memejamkan matanya.
"Mending disini dulu. Oh ya nama gue Haechan." Lanjutnya memperkenalkan diri karena mengingat si pemuda belum mengenalnya.
"Jeno." Balasnya ikut memejamkan mata menikmati air yang bertiupan menabrak kulit mereka.
Beberapa menit mereka saling diam hingga pemuda berambut blonde kini membuka matanya dan menatap Haechan.
"Ini pertemuan kedua kita kan?" Ucapnya tiba-tiba saat teringat pernah bertemu dengan Haechan sebelumnya.
"Hm, kita pernah ketemu pas lo nguntit si Karina ke butik." Jeno menggaruk tengkuknya merasa agak malu karena kelakuannya itu ternyata di ketahui.
"Gimana perasaan lo di tinggal nikah?" Tanya Haechan yang masih setia menutup matanya.
"Sedih, apalagi ditinggalnya pas kita udah berencana mau nikah." Haechan tertawa mendengarnya.
"Gila juga tuh cewek." Haechan kini membuka matanya menatap Jeno.
"Tapi ya, kayaknya saat ini yang paling sedih itu lo, bukan gue." Haechan mengangguk setuju.
Dia tak ingin mengelak karena memang dirinya sedih sebab sang ayah menikah lagi dengan seorang gadis yang masih terbilang muda.
"Haha lucu ya, kita berdua sedih barengan di saat orang-orang ikut senang di hari ini." Ucap Jeno sambil terkekeh.
"Jodoh kali." Celetuk Haechan sembarangan membuat Jeno terdiam.
Karena tak mendapat respon, Haechan jadi khawatir perkataannya barusan membuat pemuda di sampingnya tak nyaman.
"Sorry sorry gue gak serius kok ngomongnya." Jeno malah tertawa melihat raut panik Haechan.
"Santai aja elah lucu banget lo panik gitu." Kemudian Jeno berdiri.
Haechan memperhatikan pemuda itu, badannya bagus dan wajahnya juga tampan, dia heran mengapa pemuda bertalenta ini malah ditinggalkan tapi saat mengingat siapa yang meninggalkannya ya Haechan sudah tak heran.
"Ayo, katanya mau di ajarin main piano." Haechan mengangguk dan ikut berdiri.
Keduanya berjalan bersama kembali kedalam gedung untuk bermain piano bersama, mumpung para tamu sedang pindah ke ruangan makanan yang mana berbeda dengan ruangan acara tadi.
Haechan duduk dan menatap piano di depannya, dia sangat merindukan alat musik ini.
Tangannya mulai bergerak memainkan alat musik tersebut, Jeno lumayan terkejut karena ternyata Haechan sudah bisa bermain piano tanpa diajari.
Haechan sudah selesai dengan pianonya kini dia berdiri menatap Jeno yang terpukau dengan permainan Haechan.
"Lo tau ternyata ngapain minta di ajarin?"
"Oh itu gue takut udah lupa cara mainnya."
"Alesan." Haechan terkekeh kemudian keduanya kini berjalan bersama menuju ruang makanan sebab merasa lapar tentu saja.
"Mungkin di pertemuan kelima kita beneran jodoh." Haechan menatap bingung Jeno yang malah senyam senyum menatap ke depan.
"Kenapa lima?"
"Ayah bunda gue jatuh cinta di pertemuan kelima mereka, dan sampe sekarang cinta mereka masih bertahan." Haechan mengangguk paham.
"Tapi menurut gue, cinta itu gak perlu ngitung berapa kali kita ketemu tapi rasa nyaman dan percaya masing-masing." Kini Jeno yang mengangguk.
Sampai di ruangan penuh dengan makanan, mereka masih mengobrol bersama.
Bahkan keduanya memilih berdiri di pojok ruangan bersama sambil memakan sebuah kue.
"Lo ternyata asik ya di ajak ngobrol." Jujur saja Haechan sangat senang mengobrol dengan Jeno karena pemuda itu pintar menanggapi hingga tak pernah kehabisan topik.
"Gue gitu loh." Sombongnya membuat Haechan merotasikan matanya.
"Lo mau cobain punya gue gak? Enak tau." Tawar Haechan.
"Boleh." Jeno dengan senang hati menerima.
Lantas Haechan menyuapinya dengan sedikit menjahili pemuda itu.
"Emm jail banget." Haechan tertawa melihat kumis putih di wajah jeno.
"Lucu banget Jen Pengan gue cium." Haechan masih tertawa sedangkan Jeno terdiam mendengar perkataannya barusan.
"Yaudah cium aja." Tantangnya membuat Haechan terdiam menatap wajah tampan di depannya.
Haechan sangat senang jika ada sesuatu yang menantang seperti ini, mumpung orang-orang juga tidak memperhatikan.
Haechan meletakan piringnya kemudian menarik Jeno untuk dia cium.
Terkejut? Tentu saja. Jeno menatap wajah Haechan yang sangat dekat dengannya sambil merasakan benda kenyal yang bermain dengan bibirnya.
Tak ingin mengabaikan kesempatan emas, Jeno ikut dalam permainan. Menarik pinggang yang lebih pendek kemudian membalas ciuman Haechan.
•
•
•
•
"Hey Jen." Jeno yang sudah memakai helm menoleh ke arah Haechan yang menghampirinya dengan membawa sebuah paperbag.
"Thank you, gue jadi banyak ketawa karena lo, gue harap lo terima ini ya karena kan kita mungkin gak akan ketemu lagi jadi ya biar lo inget sama gue yang pernah ciuman lama sama lo." Haechan kembali tersenyum membuat Jeno ikut tersenyum dan menerima pemberian dari Haechan.
"Makasih juga karena udah nemenin gue dan ngebuat gue lupa sama kesedihan gue, gue harap bisa selalu ketemu lo tapi gue inget kesibukan kita ada di tempat yang berbeda." Haechan mengangguk.
Kemudian sebelum Jeno benar-benar pergi, Haechan dengan cepat memberikan kecupan dan lari kembali ke dalam gedung.
Jeno tertawa melihat kelakuan menggemaskan Haechan kemudian pergi dari sana.
Jika Tuhan berkenan, dia harap dapat bertemu kembali dengan Haechan kapanpun itu.
•
•
•
•
•
FIN